Mengenal Tradisi Nafar di Maroko, Penjaga Sahur yang Bertahan di Tengah Modernisasi

Apa yang dilakukan oleh Nafar di Maroko dan mengapa ini menjadi tradisi?

Diterbitkan 22 Februari 2026, 07:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Rabat - Ramadan di Maroko bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga momentum pelestarian tradisi turun-temurun yang masih bertahan hingga kini.

Di berbagai kota seperti Rabat dan Fez, masyarakat menyambut waktu sahur dengan kehadiran Nafar, sosok pria berpakaian tradisional yang berkeliling permukiman sambil meniup terompet panjang untuk membangunkan warga.

Tradisi Nafar telah berlangsung selama berabad-abad dan menjadi bagian tak terpisahkan dari suasana Ramadan di Maroko. Biasanya, Nafar mengenakan jubah panjang (djellaba), sandal tradisional, serta penutup kepala khas Maroko. Ia berjalan kaki menyusuri gang-gang sempit kota tua, meniup alat musik tiup tradisional sambil melantunkan doa atau zikir singkat.

Selain Nafar, hidangan berbuka puasa juga mencerminkan kekayaan budaya lokal. Sup harira menjadi menu wajib di hampir setiap rumah. Hidangan berbahan dasar tomat, kacang-kacangan, dan daging ini disajikan bersama kurma dan roti tradisional sebagai pembuka puasa.

Pemerintah daerah setempat turut menjaga kelestarian tradisi ini dengan melibatkan generasi muda dalam berbagai kegiatan budaya Ramadan. Di tengah modernisasi dan penggunaan alarm digital, keberadaan Nafar tetap dipertahankan sebagai simbol identitas dan warisan spiritual masyarakat Maroko selama bulan suci.  

  • Ramadan adalah bulan suci umat Islam yang dirayakan dengan cara melaksanakan puasa selama satu bulan penuh.
    Bulan Ramadan adalah periode suci bagi umat Muslim di seluruh dunia untuk berpuasa, meningkatkan ibadah, dan mempererat tali silaturahmi, dengan panduan lengkap mencakup jadwal, fiqih, gaya hidup, ekonomi, dan kesehatan.
    Ramadan
  • Tradisi
  • Maroko
  • Rabat
  • Nafar