Liputan6.com, Jakarta - Bulan Ramadan sejatinya adalah madrasah spiritual untuk menempa kualitas diri. Salah satunya adalah berusaha meneladani akhlak Rasulullah SAW, yang merupakan manifestasi hidup dari nilai-nilai Al-Qur'an. Ceramah subuh di bulan Ramadan tentang meneladani akhlak rasul menjadi sarana yang efektif membekali jemaah dengan keilmuan untuk mengarungi ibadah di di bulan suci.
Dalam QS. Al-Ahzab ayat 21 disebutkan, Rasulullah adalah uswatun hasanah bagi siapa saja yang mengharap perjumpaan dengan Allah. Momentum subuh menjadi kesempatan menanamkan nilai-nilai keteladanan ini ke dalam hati umat. Harapannya, kesalehan ritual menjadi kesalehan sosial yang nyata melalui refleksi perjalanan hidup Sang Nabi.
Syekh Ibnu Ruslan dalam kitab Matan Az-Zubad menegaskan sebuah kaidah fiqih yang masyhur, "Wakullu man bighairi ‘ilmin ya’malu, a’maluhu mardudatun la tuqbalu" (Setiap orang yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya tertolak dan tidak diterima). Oleh sebab itu, rangkaian ceramah subuh ini hadir sebagai pelita ilmu untuk meluruskan niat dan tata cara ibadah, agar setiap sujud dan puasa kita bernilai dan diterima di sisi Allah SWT.
Advertisement
Berikut ini adalah 7 ceramah subuh di bulan Ramadan tentang meneladani akhlak rasul.
Ceramah Subuh Tema 1: Kesabaran Rasulullah sebagai Fondasi Puasa
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil 'alamin, wabihi nasta'inu 'ala umuriddunya waddin. Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa shahbihi ajma'in. Amma ba'du.
Hadirin jamaah salat Subuh yang dirahmati Allah SWT. Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah yang telah membangunkan kita dalam keadaan beriman dan memberikan kesempatan untuk menikmati ibadah di bulan Ramadan yang mulia ini.
Pada kesempatan subuh kali ini, mari kita merenungi satu sifat utama Baginda Nabi Muhammad SAW yang sangat relevan dengan ibadah puasa kita, yaitu sifat Sabar. Rasulullah adalah manusia paling sabar dalam menghadapi ujian, baik dari kaumnya maupun dalam kehidupan pribadinya.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Ahzab ayat 21 yang menjadi landasan utama kita meneladani beliau:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya: "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah."
Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini adalah dalil pokok yang paling besar anjurannya bagi setiap Muslim untuk meniru Rasulullah SAW dalam segala keadaan, baik dalam kesabaran, ibadah, maupun akhlak beliau sehari-hari.
Mengenai hakikat sabar yang dicontohkan Nabi, Imam Al-Ghazali dalam kitab monumental beliau, Ihya Ulumuddin, menjelaskan bahwa sabar adalah keteguhan dorongan agama dalam melawan dorongan hawa nafsu. Rasulullah SAW mencontohkan sabar bukan hanya diam, tetapi tetap taat meski dalam kondisi berat.
Dalam kitab Ihya Ulumuddin tersebut, Al-Ghazali membagi sabar menjadi beberapa tingkatan, dan sabar yang paling tinggi adalah sabarnya para Siddiqin (orang-orang yang benar), yaitu sabar dalam menahan diri dari hal-hal yang dilarang dan sabar dalam menjalankan ketaatan, persis seperti esensi puasa.
Kita bisa melihat contoh nyata kesabaran Rasulullah SAW ketika beliau berdakwah ke Thaif. Beliau dilempari batu hingga berdarah kakinya. Malaikat penjaga gunung menawarkan untuk menimpakan gunung kepada penduduk Thaif, namun Nabi menolak dengan sabar dan justru mendoakan agar kelak dari keturunan mereka lahir orang-orang yang menyembah Allah.
Bagaimana kita menerapkan ini di bulan Ramadan? Puasa adalah separuh dari kesabaran. Saat kita merasa lapar, dahaga, atau emosi mulai terpancing di siang hari, ingatlah kesabaran Nabi. Beliau sering kali menahan lapar bukan hanya saat puasa, tetapi karena memang tidak ada makanan, namun beliau tetap tersenyum dan rida.
Maka, jadikan Ramadan ini sebagai kawah candradimuka untuk melatih otot kesabaran kita. Jangan biarkan amarah merusak pahala puasa. Tahan lisan dari mengeluh, tahan hati dari berburuk sangka, sebagaimana Nabi menahan diri dari membalas keburukan dengan keburukan.
Sebagai penutup, mari kita jadikan sabar sebagai pakaian kita sehari-hari. Jika Rasulullah yang maksum (terjaga dari dosa) saja begitu sabar menjalani ujian hidup, maka kita yang penuh dosa ini seharusnya lebih sabar lagi dalam menjalani ketaatan kepada Allah SWT.
Rabbana afrigh 'alaina shabran wa tsabbit aqdamana wansurna 'alal qaumil kafirin. Ya Allah, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kokohkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir. Semoga puasa kita diterima oleh Allah SWT.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Advertisement
Ceramah Subuh Tema 2: Kedermawanan Nabi di Bulan Ramadan
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Bismillah, alhamdulillah, wash-sholatu was-salamu ‘ala Rasulillah, sayyidina Muhammadin ibni Abdillah, wa ‘ala alihi wa sahbihi wa mawalah. La haula wa la quwwata illa billah. Amma ba’du.
Jamaah subuh yang dimuliakan Allah. Bulan Ramadan sering disebut sebagai Syahrul Jud atau bulannya kedermawanan. Hal ini bukan tanpa alasan, melainkan karena mencontoh perilaku Nabi Muhammad SAW yang berubah menjadi sangat dermawan ketika memasuki bulan suci ini.
Akhlak Rasulullah SAW dalam hal memberi (sedekah) sangatlah luar biasa. Beliau tidak pernah mengatakan "tidak" jika diminta, dan beliau selalu mendahulukan orang lain daripada dirinya sendiri, meskipun beliau sendiri sedang membutuhkan.
Mari kita simak sebuah hadis riwayat Imam Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ... فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ
Artinya: "Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadan saat beliau bertemu Jibril... Sungguh Rasulullah SAW lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus."
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab syarahnya, Fathul Baari, menjelaskan makna "angin yang berhembus" (Ar-Rih Al-Mursalah) adalah kedermawanan Nabi yang sangat cepat, merata kepada siapa saja, dan tanpa beban, sebagaimana angin yang membawa kesejukan dan manfaat bagi semua makhluk tanpa pilih kasih.
Ulama besar Ibnu Rajab Al-Hambali dalam kitabnya Lathaif al-Ma’arif secara khusus membahas keutamaan sedekah di bulan Ramadan. Beliau mengutip ucapan Imam Syafi'i yang berkata: "Aku menyukai seseorang yang bertambah kedermawanannya di bulan Ramadan karena meneladani Rasulullah SAW."
Dalam Lathaif al-Ma’arif juga dijelaskan bahwa menggabungkan puasa dengan memberi makan (sedekah) adalah salah satu sebab dijaminnya surga dan dijauhkannya dari neraka. Kedermawanan Nabi bukan hanya materi, tapi juga tenaga, ilmu, dan kebaikan hati.
Contoh nyata kedermawanan Nabi adalah beliau tidak pernah menyimpan harta untuk esok hari jika ada sahabat yang kelaparan. Bahkan pakaian yang beliau kenakan pun, jika ada sahabat yang memuji dan memintanya, beliau akan masuk ke rumah, melepasnya, dan memberikannya.
Di bulan Ramadan ini, mari kita teladani sifat ini sesuai kemampuan kita. Tidak harus menunggu kaya untuk bersedekah. Memberi takjil berupa seteguk air atau sebutir kurma kepada orang yang berpuasa pun nilainya sangat besar di sisi Allah.
Jangan sampai kita menahan harta kita, padahal Allah telah menjamin rezeki kita. Sifat kikir adalah sifat yang dibenci Allah dan Rasul-Nya. Ingatlah, harta yang kita makan akan jadi kotoran, harta yang kita simpan akan jadi rebutan, tapi harta yang disedekahkan akan jadi penolong di masa depan (akhirat).
Semoga Allah melembutkan hati kita agar ringan tangan dalam membantu sesama, terutama fakir miskin dan anak yatim di bulan yang penuh berkah ini. Kedermawanan adalah bukti keimanan dan kecintaan kita kepada sunnah Nabi.
Allahumma inna nas'aluka 'ilman nafi'an wa rizqan thayyiban wa 'amalan mutaqabbalan. Ya Allah, kami memohon ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal, dan amal yang diterima. Jadikanlah kami hamba-Mu yang dermawan.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Ceramah Subuh Tema 3: Pemaaf dan Menahan Amarah
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillahilladzi hadana lihadza wama kunna linahtadiya laula an hadanallah. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli wa sallim 'ala nabiyyina Muhammad. Amma ba'du.
Kaum muslimin wal muslimat rahimakumullah. Salah satu akhlak Rasulullah SAW yang paling sulit ditiru namun memiliki derajat sangat tinggi adalah sifat pemaaf. Beliau memaafkan di saat beliau mampu untuk membalas dendam.
Seringkali di bulan Ramadan, ujian emosi datang silih berganti. Mungkin ada perkataan tetangga yang menyakitkan atau kesalahan teman yang menjengkelkan. Di sinilah kita dituntut meneladani sifat Al-'Afuw (Pemaaf) dari Rasulullah.
Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk memaafkan dalam Surah Al-A'raf ayat 199:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
Artinya: "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh."
Imam Al-Qurtubi dalam Tafsir Al-Qurtubi (Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an) menjelaskan bahwa ayat ini adalah prinsip dasar akhlak mulia. Kata Khudzil 'Afwa bermakna menerima apa yang mudah dari perilaku orang lain tanpa menuntut lebih, dan memaafkan kesalahan mereka.
Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam An-Nawawi menempatkan bab khusus tentang memaafkan dan berpaling dari orang jahil. Beliau mengutip kejadian Fathu Makkah (Penaklukan Mekah), di mana Nabi memiliki kekuasaan penuh untuk menghukum kaum Quraisy yang dulu menyiksa beliau.
Namun, apa yang beliau katakan? Beliau mengutip ucapan Nabi Yusuf kepada saudara-saudaranya: "Tidak ada celaan atas kalian hari ini. Pergilah, kalian semua bebas." Ini adalah puncak dari sifat pemaaf yang dijelaskan oleh para ulama sebagai Hilm (kelembutan hati).
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dalam tafsirnya menambahkan bahwa memaafkan orang yang berbuat salah kepadamu adalah sebab terbukanya pintu maaf Allah kepadamu. "Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu?" tanya Allah dalam Al-Quran. Maka maafkanlah hamba-Nya.
Di bulan Ramadan ini, mari kita bersihkan hati. Tidak ada gunanya menahan lapar dan dahaga jika hati masih menyimpan dendam kesumat. Dendam hanya akan mengotori pahala puasa kita dan membuat hati menjadi keras dan gelap.
Jika Rasulullah bisa memaafkan Hindun yang telah merusak jasad paman beliau, Hamzah, maka apalah arti kesalahan kecil teman atau keluarga kita? Maafkanlah mereka sebelum mereka meminta maaf.
Mari kita jadikan momen sahur dan berbuka tidak hanya untuk mengisi perut, tapi juga untuk melepaskan beban hati dengan memaafkan semua orang yang pernah menyakiti kita. Itulah akhlak Rasul yang sejati.
Rabbana faghfirlana dzunubana wakaffir 'anna sayyi-atina watawaffana ma'al abrar. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Advertisement
Ceramah Subuh Tema 4: Tawadhu (Rendah Hati) Sang Pemimpin
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Innal hamdalillah, nahmaduhu wa nasta'inuhu wa nastaghfiruh. Wa na'udzubillahi min syururi anfusina wa min sayyiati a'malina. Mayyahdihillahu fala mudhillalah, wa mayyudhlil fala hadiyalah. Amma ba'du.
Jamaah Salat Subuh yang berbahagia. Hari ini kita akan membahas sifat Rasulullah SAW yang membuat beliau dicintai kawan maupun lawan, yaitu Tawadhu atau rendah hati. Meski beliau adalah pemimpin tertinggi umat Islam dan kekasih Allah, beliau tidak pernah sombong.
Sifat sombong adalah selendang Allah yang tidak boleh dipakai oleh manusia. Rasulullah sangat menjauhi sifat ini dan selalu tampil bersahaja di hadapan para sahabatnya, tidak membedakan dirinya dengan mereka.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
Artinya: "Dan tidaklah seseorang merendahkan hati karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya." (HR. Muslim).
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa "diangkat derajatnya" memiliki dua makna: pertama, Allah akan memuliakan kedudukannya di hati manusia di dunia; kedua, Allah akan memberikan pahala yang agung dan kedudukan tinggi di surga.
Dalam kitab Syamail Muhammadiyah karya Imam At-Tirmidzi, digambarkan betapa tawadhunya Nabi. Beliau biasa menjahit bajunya sendiri yang robek, memerah susu kambingnya sendiri, dan duduk di lantai bersama orang-orang miskin tanpa merasa canggung.
Ulama tasawuf, Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Sirrul Asrar menekankan bahwa tawadhu adalah pintu makrifat. Seseorang tidak akan bisa dekat dengan Allah selama masih ada sebiji sawi kesombongan di dalam hatinya. Rasulullah adalah teladan sempurna dalam meniadakan ego.
Pernah suatu ketika ada seorang wanita tua yang sedikit gangguan akalnya meminta Nabi untuk pergi bersamanya memenuhi keperluannya. Nabi tidak menolak, beliau berdiri dan mengikuti wanita itu sampai keperluannya selesai. Bayangkan, seorang Nabi mengikuti rakyat jelata.
Bagaimana dengan kita di bulan Ramadan ini? Terkadang, merasa sudah banyak beribadah, tarawih tidak putus, dan tilawah banyak, muncul rasa ujub (bangga diri) dan meremehkan orang lain yang ibadahnya kurang. Ini adalah penyakit hati.
Puasa seharusnya mengikis kesombongan. Rasa lapar mengingatkan kita bahwa kita adalah makhluk lemah yang butuh makan. Kita sama dengan orang miskin yang kelaparan. Tidak ada yang pantas disombongkan di hadapan Allah SWT.
Marilah kita belajar untuk lebih rendah hati. Hormati yang lebih tua, sayangi yang lebih muda. Jangan gila hormat atau ingin selalu dilayani. Jadilah hamba yang membumi, niscaya namamu akan melangit di sisi Allah.
Allahumma ahyiina mutawadhi'ina wa amitna mutawadhi'ina wahsyurna fi zumratil mutawadhi'in. Ya Allah, hidupkanlah kami dalam keadaan tawadhu, wafatkanlah kami dalam keadaan tawadhu, dan kumpulkanlah kami bersama orang-orang yang tawadhu.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Ceramah Subuh Tema 5: Kejujuran (Shiddiq) dan Amanah
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillahil qawiyyil matin. Asyhadu alla ilaha illallahul malikul haqqul mubin, wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluhush shadiqul wa'dil amin. Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala alihi wasahbihi ajma'in. Amma ba'du.
Hadirin jamaah yang dirahmati Allah. Gelar pertama yang disematkan penduduk Mekah kepada Nabi Muhammad SAW bahkan sebelum beliau diangkat menjadi Rasul adalah Al-Amin (Orang yang Terpercaya). Ini menunjukkan bahwa pondasi akhlak beliau adalah kejujuran dan amanah.
Kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana saja dan kapan saja. Di bulan Ramadan, kejujuran kita diuji. Tidak ada yang tahu kita berpuasa atau tidak kecuali Allah. Kita bisa saja minum diam-diam, tapi kita tidak melakukannya karena iman.
Allah SWT memerintahkan orang beriman untuk jujur dan bersama orang jujur dalam Surah At-Taubah ayat 119:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar (jujur)."
Imam Al-Mawardi dalam kitab Adabud Dunya wad Din menjelaskan bahwa kejujuran (Ash-Shidqu) adalah tiang agama dan sendi kehidupan bermasyarakat. Tanpa kejujuran, tatanan masyarakat akan rusak. Beliau menyebutkan bahwa kebohongan adalah pangkal dari segala kejahatan.
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya kejujuran membimbing kepada kebaikan, dan kebaikan membimbing ke surga." Para ulama menjelaskan bahwa "kebaikan" (Al-Birr) di sini mencakup seluruh pintu amal saleh.
Imam Al-Ghazali menambahkan bahwa tingkatan jujur itu ada banyak: jujur dalam lisan (tidak bohong), jujur dalam niat (ikhlas), dan jujur dalam azam (tekad). Puasa melatih ketiga aspek kejujuran ini secara bersamaan.
Contoh amanah Nabi terlihat saat beliau hijrah. Meski kaum Quraisy memusuhi beliau, mereka tetap menitipkan barang berharga kepada Nabi. Sebelum hijrah, Nabi memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk mengembalikan barang-barang titipan itu kepada pemiliknya, padahal mereka adalah musuh.
Di bulan Ramadan ini, mari kita evaluasi kejujuran kita. Apakah kita jujur dalam bekerja meski sedang berpuasa? Apakah kita jujur dalam berdagang? Apakah kita amanah dalam memegang tanggung jawab jabatan atau keluarga?
Jangan kotori puasa dengan dusta. Rasulullah bersabda: "Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan melakukannya, maka Allah tidak butuh dari ia meninggalkan makan dan minumnya." (HR. Bukhari).
Jadilah pribadi yang Shiddiq dan Amanah. Kepercayaan orang lain adalah aset yang sangat mahal yang harus dijaga. Orang yang berpuasa tapi suka berbohong, ibarat membawa ember bocor, lelah membawa tapi tak ada isinya.
Allahumma thahhir qulubana minan nifaq, wa a'malana minar riya', wa alsinatana minal kadzib. Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kemunafikan, amal kami dari riya, dan lisan kami dari kebohongan.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Advertisement
Ceramah Subuh Tema 6: Kasih Sayang Terhadap Keluarga
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillahi wash-sholatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala alihi wa ashabihi. Amma ba'du.
Jamaah subuh rahimakumullah. Seringkali kita bersikap sangat baik dan ramah kepada orang luar, teman kantor, atau tamu, tetapi justru kasar dan kaku kepada keluarga di rumah. Padahal, Rasulullah SAW mengajarkan bahwa ukuran kebaikan seseorang dilihat dari perlakuannya kepada keluarganya.
Ramadan adalah momen berkumpul keluarga. Saat sahur dan berbuka adalah waktu emas untuk meneladani kelembutan dan kasih sayang Rasulullah kepada istri, anak, dan cucu beliau.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
Artinya: "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku."
Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi (Syarah Sunan Tirmidzi), Syaikh Al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa "berbuat baik kepada keluarga" mencakup bergaul dengan ma'ruf, tidak menyakiti, memberikan nafkah dengan ikhlas, dan bersabar atas kekurangan mereka.
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Baari juga menukil bahwa akhlak mulia Nabi di rumah adalah beliau sering membantu pekerjaan rumah tangga, bersenda gurau dengan istri, dan tidak pernah memukul pembantu maupun istrinya sekalipun.
Ulama menekankan bahwa kesibukan dakwah dan mengurus umat tidak membuat Nabi menelantarkan perhatian kepada keluarga. Beliau tetap romantis kepada Aisyah r.a., bahkan berlomba lari dan minum dari gelas di tempat bibir Aisyah menempel.
Kita lihat hari ini, banyak kepala keluarga yang pulang kerja marah-marah karena lelah dan lapar saat puasa. Istri dibentak karena masakan kurang garam, anak dimarahi karena ribut. Ini bukan akhlak Rasulullah.
Justru di bulan Ramadan, pereratlah bonding dengan keluarga. Bangunkan sahur dengan lembut, bukan dengan teriakan. Pimpin doa bersama. Jadikan rumah sebagai Baiti Jannati (Rumahku Surgaku).
Rasulullah sangat menyayangi cucunya, Hasan dan Husain. Beliau pernah membiarkan cucunya menaiki punggungnya saat beliau sedang sujud dalam salat. Beliau tidak marah, tapi menunggu cucunya turun. Sebuah pelajaran sabar dan kasih sayang yang luar biasa.
Mari kita perbaiki hubungan dengan orang tua, pasangan, dan anak-anak di bulan suci ini. Muliakanlah mereka, karena rida Allah seringkali terletak pada rida orang tua dan kebahagiaan keluarga adalah kunci ketenangan ibadah.
Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a'yun waj'alna lil muttaqina imama. Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Ceramah Subuh Tema 7: Pola Hidup Sederhana (Zuhud)
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillahilladzi ja'ala dunya daral imtihan wal akhirata daral qarar. Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli wa sallim 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa shahbihi. Amma ba'du.
Hadirin jamaah sekalian yang dimuliakan Allah. Di penghujung seri kultum ini, mari kita meneladani gaya hidup Rasulullah SAW, yaitu kesederhanaan atau Zuhud. Di zaman sekarang yang penuh dengan hedonisme dan pamer kemewahan, sifat ini menjadi sangat langka.
Seringkali Ramadan dan Lebaran justru menjadi ajang pamer baju baru, makanan mewah, dan perabotan baru. Padahal, Rasulullah mengajarkan kita untuk hidup sederhana dan merasa cukup (Qana'ah).
Dalam sebuah hadis riwayat Tirmidzi, Rasulullah SAW berdoa:
اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا ، وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا ، وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ
Artinya: "Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku (pada hari kiamat) dalam rombongan orang-orang miskin." (HR. Tirmidzi & Ibnu Majah).
Imam Baihaqi dalam Syu’abul Iman menjelaskan bahwa "miskin" di sini bukan berarti meminta-minta atau kekurangan harta hingga sengsara, melainkan sikap tawadhu, rendah hati, dan tidak melampaui batas dalam menikmati dunia, serta selalu merasa butuh kepada Allah.
Dalam kitab Minhajul Abidin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa Zuhud adalah mengosongkan hati dari kecintaan berlebihan pada dunia. Bukan berarti tidak boleh kaya, tapi harta itu diletakkan di tangan, bukan di hati. Jika harta hilang, hati tidak ikut hancur.
Umar bin Khattab pernah menangis melihat Rasulullah tidur di atas tikar kasar hingga membekas di punggung beliau. Umar berkata, "Raja Romawi dan Persia tidur di kasur sutra, sedangkan Engkau utusan Allah tidur di tikar?" Nabi menjawab, "Tidakkah engkau rida dunia untuk mereka dan akhirat untuk kita?"
Kisah ini diriwayatkan dalam kitab-kitab Sirah dan Hadis, mengajarkan kita bahwa kemuliaan bukan terletak pada kemewahan fasilitas hidup, tapi pada kedekatan dengan Allah.
Di bulan Ramadan, mari kita kontrol hawa nafsu belanja kita. Jangan sampai pahala puasa tergerus karena kita sibuk memikirkan menu berbuka yang berlebihan atau baju lebaran yang mahal, sementara tetangga kita kesulitan makan.
Kesederhanaan akan melahirkan ketenangan. Hidup yang simple membuat ibadah lebih fokus. Rasulullah mengajarkan makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Ini adalah pola hidup sehat dan sederhana yang sejati.
Mari jadikan Ramadan ini momentum untuk mengerem gaya hidup konsumtif. Gunakan harta lebih banyak untuk sedekah daripada untuk menumpuk barang yang tidak perlu. Itulah cara kita mencintai Rasulullah dengan meniru gaya hidup beliau.
Allahumma ij'alna minaz zahidina fid dunya war raghibina fil akhirah. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang zuhud di dunia dan orang-orang yang mencintai akhirat.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Advertisement
People also Ask:
Bagaimana contoh akhlak kepada Rasulullah saw dalam kehidupan sehari-hari?
Quran Cordoba - Inspiring people to Love and Live with QuranAkhlak kepada Rasulullah SAW dengan mengikuti perintahnya. Taat kepada Rasul bukti mentaati perintah Allah SWT. sebagaimana firman Allah dalam surah An-Nisa ayat 59.
Bagaimana cara memperbaiki akhlak selama bulan Ramadan?
Cara Menghiasi Ramadhan dengan Akhlak MuliaMenjaga Lisan dari Perkataan yang Buruk. Hindari ghibah, fitnah, dan perkataan sia-sia.Menebar Senyum dan Kebaikan kepada Sesama. ...Memaafkan Kesalahan Orang Lain. ...Meningkatkan Kesabaran dan Keikhlasan. ...Bersedekah dan Membantu Sesama.
Bagaimana cara meneladani akhlak rasul?
5 Cara Meneladani Rasul dalam Kehidupan Sehari-HariMeneladani akhlak mulia para rasul. ...Menjalankan syariat yang mereka bawa. ...3. Berdakwah dengan hikmah. ...4. Sabar dalam menghadapi ujian. ...Mencintai Rasulullah SAW melebihi cinta kepada diri sendiri. ...Iman kepada rasul merupakan salah satu pilar utama dalam akidah Islam.
Apa saja tema ceramah di bulan Ramadhan?
Jadwal Kultum Tarawih Ramadhan 1444H – MD Al-KautsarJudul ceramah Ramadhan mencakup berbagai topik seperti keutamaan puasa dan hikmahnya, membangun karakter takwa, meraih Lailatul Qadar, pentingnya Al-Qur'an, memperkuat iman, keikhlasan, kesabaran, serta peran sosial seperti sedekah dan peduli sesama. Beberapa judul populer meliputi "Puasa Sebagai Benteng Diri," "Ramadan: Bulan Ampunan," "Makna Sejati Puasa," "Meraih Rahmat dan Ampunan di Bulan Suci," dan "Menjadi Manusia Terbaik di Bulan Ramadan".
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329037/original/095568800_1787217508-Screenshot_2026-08-20_160444.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316905/original/064384100_1785995980-cek_fakta_luhut.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309638/original/028473800_1785232963-cek_fakta_-_bansos_balita.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5526386/original/065611600_1773119349-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-03-10T120535.465.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5408327/original/086578800_1762770478-Ceramah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1607368/original/074451200_1496028031-LIP6_LOGO2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3428249/original/078718400_1618374148-053339400_1559536727-iStock-1134972492.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1619105/original/061499300_1496997418-ramadan-main.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3977835/original/066021800_1648524608-pexels-ahmed-aqtai-2233416_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1619105/original/061499300_1496997418-ramadan-main.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3977835/original/066021800_1648524608-pexels-ahmed-aqtai-2233416_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3381462/original/019627800_1613720800-wooden-spoon-fork-as-clock-hands-white-plate_49149-1007.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5534796/original/005967200_1773893358-unnamed__8_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/804918/original/013227900_1422934136-Ilustrasi-Pajak-150203-2-andri.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5531528/original/007916600_1773619112-unnamed__10_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5427523/original/002823900_1764393481-1000100028.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5314592/original/032084300_1755096405-shiona-das-16eeXVh8od8-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3243886/original/008227900_1600662631-20200921-Pertalite-Harga-Premium-7.jpg)