Liputan6.com, Jakarta - Dalam tarikh Islam, para sahabat Nabi SAW dikenal sebagai pribadi yang takqwa dengan keluhuran budi luar biasa. Namun, sedikit figur yang mampu menyatukan kekayaan luar biasa dan ketakwaan mendalam seperti Abdurrahman bin Auf RA.
Abdurrahman bin Auf RA dikenal sebagai saudagar sukses sekaligus dermawan agung dalam sejarah Islam. Sejak hijrah ke Madinah, ia menunjukkan kemandirian luar biasa dengan menolak bantuan harta dari kaum Anshar dan memilih membangun usahanya sendiri.
Dari usaha kecil di pasar Madinah, Abdurrahman berkembang menjadi pemilik kafilah besar yang menggerakkan perekonomian umat. Namun di balik kekayaannya yang melimpah, beliau tetap rendah hati dan zuhud.
Advertisement
Seperti ditulis Ustadz Abu Faiz Sholahuddin bin Mudasim dalam Buku Abdurrahman bin Auf: Saudagar Shalih yang Dermawan, kekayaan tidak membuatnya sombong, dan kedermawanan tidak membuatnya miskin. Abdurrahman memahami bahwa harta hanyalah titipan Allah yang harus dikelola dengan amanah dan disalurkan di jalan kebaikan.
Dari Pedagang Muda ke Dermawan Agung
Abdurrahman bin Auf adalah sosok yang dipuji Rasulullah karena kekayaannya yang tidak membuatnya sombong, dan kedermawanannya yang tidak membuatnya miskin.
Abdurrahman bin Auf termasuk dalam sepuluh sahabat yang dijamin surga dan merupakan salah satu dari delapan orang pertama yang masuk Islam. Ia berhijrah ke Madinah dan segera memulai kehidupan baru sebagai pedagang mandiri.
Tatkala tiba di Madinah (Yatsrib), Abdurrahman diperkenalkan dengan sahabat-sahabat dari kaum Anshar. Salah satunya adalah Sa'ad bin Rab'i.
Sa'ad menawarkan harta dan bahkan istrinya untuk dinikahi oleh Abdurrahman sebagai bentuk solidaritas mengingat kondisi kaum muhajirin yang memprihantinkan di awal kedatangannya. Namun, Abdurrahman menolak, dia justru minta ditunjukkan di mana lokasi pasar.
Ustadz Abu Faiz menulis, “Saat dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’, Abdurrahman menolak tawaran harta dan istri. Ia hanya berkata: ‘Tunjukkan aku di mana pasar.’” (hlm. 19).
Kisah ini menjadi titik balik abdurrahman bin Auf sekaligus teladan keberanian memulai usaha tanpa ketergantungan.
Lantas, tumbuhlah kemandirian ekonomi yang dilandasi iman. Tak heran, beberapa riwayat menyebut ia memiliki kafilah hingga 700 unta, tetapi seluruhnya disedekahkan “di jalan Allah” menjelang wafatnya.
Advertisement
Prinsip Bisnis Abdurrahman bin Auf
Merujuk jurnal Konsep Bisnis Abdurrahman bin ‘Auf r.a. Ditinjau dari Fiqih Muamalah dan Sejarah karya Haryono & Rivai Yusuf (UIN Sultan Syarif Kasim Riau, 2020) ada lima prinsip inti bisnis Abdurrahman bin Auf yang selaras dengan fiqih muamalah:
1. Berilmu dan Memiliki Keahlian
Keahlian dalam berdagang harus disertai pemahaman fiqih muamalah agar tidak terjerumus dalam transaksi yang dilarang syariat.
Abdurrahman memahami setiap akad jual-beli, menghindari gharar dan riba, serta memastikan setiap transaksi bernilai halal. Inilah fondasi profesionalisme syariah.
2. Menjual Tunai, Menghindari Riba
Abdurrahman bin Auf lebih memilih jual beli tunai (yadan bi yadin), karena transaksi kredit berpotensi melahirkan ketidakjelasan dan riba.
Ia menegakkan prinsip perputaran uang yang sehat, sekaligus menolak praktik utang berbunga yang menzalimi pihak lemah.
3. Tidak Mengejar Untung Besar
Abdurrahman bin Auf berprinsip bahwa keuntungan kecil tapi terus berputar lebih baik daripada keuntungan besar namun menimbulkan kesulitan.
Strategi ini mencerminkan bisnis berorientasi keberlanjutan, bukan keserakahan.
4. Menjaga Kualitas dan Kejujuran
Abdurrahman tidak pernah menjual barang cacat tanpa penjelasan. Sebagaimana dicatat Haryono dan Rivai,
Ia sangat berhati-hati terhadap kualitas produk; bagi beliau, kejujuran dalam barang adalah jalan menjaga keberkahan.
4. Mencari Berkah, Bukan Sekadar Laba
Tujuan utama berdagang bagi Abdurrahman bukan akumulasi harta, tetapi mencari keberkahan Allah.
Kedermawanan, Jiwa Ekonomi Islam
Konsep barakah economy ala Abdurrahman bin Auf inilah yang menjadi jiwa ekonomi Islam: bisnis yang menghidupi, bukan menindas. Ebook Ustadz Abu Faiz menggambarkan betapa luas dan tulusnya sedekah Abdurrahman bin Auf.
Selain sedekah sosial, Abdurrahman bin Auf adalah salah satu saudagar yang paling besar membiayai pasukan Islam. Hal ini terekam dari berbagai ekspedisi militer Rasulullah SAW yang disokong oleh Abdurrahman.
Salah satunya adalah saat Perang Tabuk. Ketika pasukan Islam berangkat ke Tabuk, Abdurrahman menyumbangkan dua ratus uqiyah emas, sementara sebagian sahabat belum punya bekal
Dalam riwayat lain disebutkan, dia pernah membawa 700 unta penuh barang dagangan, lalu seluruh hasilnya disedekahkan. Penduduk Madinah mendengar gemuruh kafilahnya, tapi Abdurrahman tersenyum, ‘Semoga ini menjadi kendaraan menuju surga,'.
Bagi beliau, harta bukan alat pamer, tetapi alat amal. Hartanya didedikasikan untuk Islam dan umat.
Advertisement
Teladan untuk Pebisnis Modern
Kisah Abdurrahman bin Auf menghadirkan kisah moral, spiritual, dan keteladanan hidup. Haryono & Rivai menawarkan analisis konseptual fiqih muamalah yang menjelaskan mengapa nilai-nilai itu relevan dalam sistem ekonomi modern.
Abdurrahman adalah model keseimbangan antara iman dan ekonomi. “Beliau bukan hanya sukses secara materi, tetapi juga spiritual. Kekayaannya menjadi bukti nyata bahwa Islam tidak menolak kemakmuran, selama dijalankan dengan niat yang benar.” demikian ditulis oleh Haryono dan Rivai.
Dari prinsip dan kisah hidup Abdurrahman bin Auf, dapat disarikan enam nilai aplikatif bagi dunia bisnis hari ini:
- Ilmu adalah modal pertama. Pebisnis muslim wajib memahami fiqih muamalah agar tidak tergelincir dalam praktik haram.
- Bangun integritas dan profesionalisme. Kejujuran adalah branding yang paling kuat.
- Utamakan transaksi tunai dan transparan.
- Kurangi ketergantungan pada utang berbunga.
- Ambil margin wajar.
- Utamakan perputaran cepat dan kepuasan pelanggan.
- Jaga kualitas produk dan layanan. Keberkahan tumbuh dari amanah.
- Gunakan kekayaan untuk umat.
Seperti Abdurrahman, jadikan harta sebagai sarana ibadah sosial.Ustadz Abu Faiz menulis, “Kaya bukanlah dosa; dosa adalah ketika kekayaan menjauhkanmu dari Allah.” (hlm. 40).
Hikmah Kisah Abdurrahman bin Auf
Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu termasuk sahabat yang dipuji langsung oleh Rasulullah SAW karena keimanan, kedermawanan, dan peran besarnya dalam Islam. Dalam hadits sahih riwayat At-Tirmidzi, Rasulullah bersabda:
عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي الْجَنَّةِ
Artinya: “Abdurrahman bin Auf berada di surga.” (HR. At-Tirmidzi, no. 3747 – dinilai hasan sahih oleh Al-Albani).
Hadits ini menunjukkan kedudukan tinggi beliau di sisi Allah. Pujian ini tidak hanya karena kekayaan atau status sosialnya, tetapi karena ketulusan niat dan amalnya yang ikhlas dalam menggunakan harta untuk menolong agama.
Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah menjelaskan bahwa Abdurrahman bin Auf termasuk sahabat yang “teruji dengan kekayaan, namun kekayaannya tidak pernah memalingkannya dari jalan zuhud dan jihad.” Artinya, beliau mampu menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat secara sempurna.
Kekayaan yang halal dan kedermawanan yang tulus menjadikan Abdurrahman bin Auf simbol “wealth with purpose”. Ia membuktikan bahwa Islam tidak anti-kaya, tetapi menuntun agar kekayaan berorientasi keberkahan, keadilan, dan kemanusiaan.
Abdurrahman bin Auf mengajarkan bahwa bisnis bukan sekadar mencari laba, melainkan sarana mendekatkan diri kepada Allah.
“Barangsiapa meneladani keikhlasan Abdurrahman, maka ia akan menemukan bahwa keberkahan adalah laba yang paling tinggi.” tulis Abu Faiz.
Advertisement
People Also Ask
1. Abdurrahman bin Auf terkenal karena apa?
Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu anhu adalah salah satu Sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang dikenal sebagai sosok kaya raya sekaligus Dermawan. Beliau sering menyisihkan sebagian hartanya untuk kepentingan kaum muslimin serta membantu perjuangan dakwah Islam.
2. Kenapa Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak?
Kisah Abdurrahman bin Auf Merangkak Masuk Surga karena Abdurrahman bin Auf RA tidak pernah menikmati hartanya sendirian, namun ia gunakan kekayaan itu untuk keluarga, kerabat, teman, rasulnya, agama, dan Allah SWT.
Kisah tentang Abdurrahman bin Auf RA yang masuk surga dengan merangkak karena banyaknya harta yang ia miliki ini bersumber dari hadits yang lemah.
3. Bagaimana Abdurrahman bin Auf bisa kaya?
Ringkasan AIAbdurrahman bin Auf menjadi kaya melalui kerja keras, kejujuran, dan prinsip bisnis yang kuat, seperti fokus pada penjualan tunai dengan margin kecil namun volume besar, menjalin relasi bisnis yang luas (termasuk ekspor-impor), menjual barang berkualitas, dan mengutamakan keberkahan dari Allah daripada sekadar keuntungan duniawi. Ia juga dikenal sebagai pebisnis yang dermawan dan memanfaatkan setiap kesempatan, seperti saat membeli kurma busuk dengan harga tinggi untuk membantu petani yang kemudian justru membuat hartanya berlipat ganda.
4. Mengapa Abdurrahman bin Auf Lama dihisab?
Suatu ketika Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam berkata, Abdurrahman bin Auf akan masuk surga terakhir karena terlalu kaya, sehingga dihisabnya paling lama. Mendengar hal tersebut, Abdurrahman bin Auf pun berpikir keras, bagaimana caranya agar ia kembali menjadi miskin supaya dapat memasuki surga lebih awal.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8672103/original/092674300_1782711428-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-29T123620.816.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292785/original/068110200_1783657736-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-10T112807.834.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296369/original/030425400_1784012720-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T140419.763.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296249/original/006576900_1784009127-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T124739.847.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3437811/original/014080000_1619164786-20210423-Mengunjungi-Pameran-Artefak-Nabi-Muhammad-SAW-di-JIC-IQBAL-8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776139/original/033566400_1782846347-000_B8UG2YZ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4824750/original/024298400_1715077989-Mu_vs_Crystal_Palace_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9238160/original/090232600_1783129383-mes4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296658/original/081223500_1784019662-000_B9YV49G.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292116/original/017292800_1783585765-inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294053/original/082906500_1783778628-Jayden_Adams.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296024/original/097611600_1784000800-000_B9FB274.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294052/original/078184700_1783778533-adams_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293767/original/045633200_1783749356-Alexander_Sorloth.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260364/original/000638100_1781588460-spanyol_2.jpg)