Liputan6.com, Jakarta Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW setiap tahun menjadi momen penting bagi umat Islam di seluruh dunia. Tidak hanya di Indonesia, perayaan ini telah menjadi bagian dari tradisi umat Islam sejak berabad-abad lalu. Tujuannya adalah mengenang kelahiran Rasulullah SAW, sosok yang membawa ajaran Islam sebagai pedoman hidup bagi seluruh manusia.
Di tengah suasana penuh syukur, Maulid Nabi 1447 H/2025 M kembali menjadi perhatian. Selain sebagai wujud kecintaan kepada Rasulullah, peringatan ini juga sarat dengan nilai spiritual, sosial, dan budaya. Umat Islam memanfaatkannya untuk memperkuat ukhuwah serta memperdalam pemahaman terhadap ajaran Nabi.
Namun, di balik meriahnya peringatan ini, pertanyaan yang kerap muncul adalah: Siapa yang pertama kali merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H/2025 M? Untuk menjawabnya, kita perlu menelusuri jejak sejarah dari berbagai sumber, baik dari kitab klasik, sejarawan Islam, maupun penjelasan resmi lembaga keagamaan. Berikut ulasan Liputan6.com, Rabu (3/9/2025).
Advertisement
Siapa yang Pertama Kali Merayakan Maulid Nabi?
Terdapat beberapa versi tentang siapa yang pertama kali memulai tradisi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
1. Versi Khaizuran (170 H/786 M)
Menurut kitab Wafa’ul Wafa bi Akhbar Darul Mustafa karya Nuruddin Ali, sebagaimana dikutip Ahmad Tsauri dalam Sejarah Maulid Nabi (2015), disebutkan bahwa Khaizuran binti ‘Atha, istri Khalifah al-Mahdi bin Mansur al-Abbas, pernah memerintahkan penduduk Madinah untuk merayakan Maulid Nabi di Masjid Nabawi. Tidak hanya itu, ia juga memerintahkan masyarakat Mekah untuk memperingatinya di rumah-rumah. Dari sini muncul pendapat bahwa Khaizuran adalah tokoh pertama yang menggagas perayaan Maulid.
2. Versi Dinasti Fathimiyah (362 H/973 M)
Al-Maqrizi dalam bukunya Al-Khutath menyebutkan bahwa peringatan Maulid Nabi dimulai oleh Dinasti Fathimiyah di Mesir pada abad ke-4 Hijriyah. Dinasti ini mengadakan enam peringatan kelahiran sekaligus: Nabi Muhammad SAW, Ali bin Abi Thalib, Fatimah az-Zahra, Hasan, Husein, dan penguasa saat itu.
3. Versi Shalahuddin Al-Ayyubi (abad ke-6 H/12 M)
Menurut keterangan dari laman resmi Kementerian Agama Jawa Timur (jatim.kemenag.go.id), peringatan Maulid Nabi digagas oleh Shalahuddin Al-Ayyubi pada abad ke-12 Masehi. Tujuan utamanya adalah membangkitkan semangat umat Islam yang mulai melemah dalam menghadapi Perang Salib.
Dari ketiga versi tersebut, dapat disimpulkan bahwa sejarah awal peringatan Maulid Nabi memiliki keragaman pandangan. Ada yang menisbatkan pada masa Abbasiyah melalui Khaizuran, ada yang menekankan peran Dinasti Fathimiyah, dan ada pula yang menyebutkan Shalahuddin Al-Ayyubi sebagai tokoh penggagas utama.
Advertisement
Sejarah Lengkap Maulid Nabi
Sejarah peringatan Maulid Nabi memang tidak sederhana. Ada perbedaan pandangan di kalangan sejarawan dan ulama:
- Masa Nabi dan Khulafaur Rasyidin
Pada masa Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin, peringatan Maulid belum dikenal. Umat Islam kala itu lebih fokus pada ibadah dan perjuangan menyebarkan Islam.
- Masa Abbasiyah
Sebagian sejarawan berpendapat peringatan ini dimulai pada era Abbasiyah. Peran Khaizuran sangat menonjol dalam mendorong masyarakat memperingati kelahiran Nabi.
- Dinasti Fathimiyah
Dinasti ini memperkenalkan perayaan Maulid secara resmi dan besar-besaran di Mesir. Namun, praktiknya sering dikritik karena bercampur dengan kepentingan politik dan aliran tertentu.
- Shalahuddin Al-Ayyubi
Sejarah populer menyebut Shalahuddin sebagai tokoh yang menghidupkan kembali perayaan Maulid dengan tujuan membangkitkan semangat jihad melawan tentara Salib. Ia mengarahkan agar peringatan ini dijadikan momentum meneladani perjuangan Rasulullah.
- Penyebaran ke Dunia Islam
Seiring waktu, perayaan Maulid menyebar ke berbagai wilayah, termasuk Nusantara. Di Indonesia, peringatan ini berkembang dalam berbagai bentuk, seperti Grebeg Mulud di Jawa, Maudu Lompoa di Sulawesi Selatan, hingga pembacaan kitab Barzanji dan Simthud Durar di majelis-majelis.
Hukum Perayaan Maulid Nabi
Hukum merayakan Maulid Nabi menjadi perdebatan di kalangan ulama:
- Ulama yang Membolehkan
Sebagian ulama, seperti Imam Jalaluddin as-Suyuthi, membolehkan Maulid selama isinya berupa dzikir, shalawat, dan pengajian. Menurut mereka, Maulid adalah bentuk ta’zhim (pengagungan) kepada Rasulullah.
- Ulama yang Mengharamkan
Sebagian ulama lain, terutama dari kalangan salafiyah, menilai Maulid sebagai bid’ah yang tidak dicontohkan Nabi dan sahabat. Mereka merujuk pada hadits: “Setiap bid’ah adalah sesat” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
- Pandangan Moderat
Banyak ulama kontemporer mengambil jalan tengah. Mereka menilai Maulid sah-sah saja jika diisi dengan amalan baik seperti pembacaan Al-Qur’an, shalawat, dan kajian sirah Nabi. Namun jika bercampur dengan kemungkaran, maka hukumnya bisa berubah menjadi makruh atau haram.
Di Indonesia, Kementerian Agama RI menjelaskan bahwa Maulid Nabi adalah momentum edukatif untuk meneladani akhlak Rasulullah. Hal ini sejalan dengan praktik masyarakat Muslim yang menjadikan Maulid sebagai ajang syiar Islam, penguatan ukhuwah, serta rasa syukur kepada Allah SWT.
Apa Saja yang Dilakukan dalam Perayaan Maulid?
Tradisi Maulid berbeda-beda di setiap daerah, namun umumnya meliputi:
- Pembacaan Shalawat dan Kitab Maulid: Seperti Barzanji, Simthud Durar, Diba’, atau Burdah.
- Pengajian dan Ceramah: Ulama memberikan tausiyah tentang sejarah dan teladan Nabi.
- Doa Bersama dan Dzikir: Sebagai wujud syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.
- Sedekah dan Gotong Royong: Masyarakat menyiapkan makanan bersama untuk disantap secara kolektif.
- Tradisi Lokal: Seperti Grebeg Mulud di Jawa atau Maudu Lompoa di Sulawesi Selatan.
FAQ Seputar Maulid Nabi
1. Kapan Nabi Muhammad SAW lahir?
Beliau lahir pada 12 Rabiul Awwal, Tahun Gajah (570 M).
2. Apakah Nabi Muhammad SAW pernah merayakan Maulid?
Tidak, perayaan Maulid baru muncul setelah beliau wafat.
3. Siapa tokoh pertama yang merayakan Maulid Nabi?
Ada perbedaan pendapat: Khaizuran (abad ke-2 H), Dinasti Fathimiyah (abad ke-4 H), atau Shalahuddin Al-Ayyubi (abad ke-6 H).
4. Apa hukum merayakan Maulid?
Ulama berbeda pendapat: ada yang membolehkan, ada yang mengharamkan. Umumnya dibolehkan jika diisi dengan kegiatan positif.
5. Bagaimana Maulid Nabi dirayakan di Indonesia?
Dengan pembacaan kitab maulid, pengajian, doa bersama, serta tradisi lokal seperti Grebeg Mulud dan Maudu Lompoa.
Sumber Rujukan
- BAZNAS. Sejarah Singkat Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. baznas.go.id
- Kementerian Agama Jawa Timur. Shalahuddin Al Ayyubi, Penggagas Pertama Peringatan Maulid Nabi. jatim.kemenag.go.id
- Almanhaj. Sejarah Peringatan Maulid Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. almanhaj.or.id
- Tsauri, Ahmad. Sejarah Maulid Nabi. 2015
- Nuruddin Ali. Wafa’ul Wafa bi Akhbar Darul Mustafa
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8668432/original/066093000_1782703201-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-29T101610.906.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471519/original/070085400_1782374653-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5463779/original/049305200_1767670885-Screenshot_2026-01-06_103951.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4919749/original/034086800_1723781524-000_36EC7XK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3235896/original/046311000_1777366243-pp.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5328548/original/028446100_1756259633-ChatGPT_Image_27_Agu_2025__08.45.25.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1812256/original/019737900_1776314232-pexels-beyzaa-yurtkuran-279977530-17071110.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259253/original/099827400_1781493084-AP26165774269127.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4864218/original/041026400_1718404435-AP24166759629724.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263966/original/082388400_1782038241-000_B7RC3ZV.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5415752/original/060786800_1763419826-000_84BP8PA.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8525155/original/017274300_1782455154-AP26176798846634.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8452334/original/003376600_1782349228-ney.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259033/original/064642600_1781436681-000_B6Z637Y.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8668326/original/051794500_1782703035-AP26179791541483.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259121/original/085743200_1781464083-063_2281573951.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540213/original/078998400_1774689981-AP26086742238879.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5241643/original/000306500_1749004088-AP25154539148672.jpg)