Takbiran Idul Adha, Amalan Sunnah Penuh Syiar di Bulan Dzulhijjah

Takbiran Idul Adha adalah amalan sunnah yang sangat dianjurkan, menjadi bentuk pengagungan kepada Allah SWT dan syiar Islam.

Diterbitkan 28 Agustus 2025, 12:41 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Suasana takbiran Idul Adha selalu membawa rasa syukur dan kebahagiaan. Lantunan takbir yang berkumandang menjadi tanda datangnya hari raya penuh makna bagi umat Muslim.

Makna takbiran Idul Adha tidak sekadar tradisi, tetapi juga wujud pengingat akan keteguhan iman Nabi Ibrahim serta keikhlasan Nabi Ismail. Suasana ini menghadirkan rasa haru dan kebersamaan.

Takbiran Idul Adha sering diramaikan dengan pawai obor atau tabuhan bedug di berbagai daerah Indonesia. Tradisi tersebut menambah semarak malam raya dan mempererat silaturahmi antar masyarakat.

Berikut Liputan6.com merangkum dari berbagai sumber tentang penjelasan lengkap takbiran Idul Adha.

Makna Takbiran Idul Adha

Takbiran adalah kegiatan mengumandangkan kalimat takbir, yaitu 'Allahu Akbar', baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri. Ini adalah bentuk pengagungan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya dan rasa syukur atas selesainya ibadah haji bagi jemaah. Takbir juga menjadi ekspresi kegembiraan yang mendalam atas datangnya hari raya kurban.

Tradisi takbiran telah ada sejak zaman Rasulullah SAW dan terus berkembang, menjadi bagian integral dari budaya Islam di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Sejarahnya bermula pada tahun kedua Hijriyah, setelah disyariatkannya Idul Fitri dan Idul Adha. Rasulullah SAW mengajarkan umat Islam untuk mengumandangkan takbir pada malam sebelum hari raya sebagai bentuk syukur dan pengagungan.

Mengutip kajian yang dipublikasikan di Gunung Djati Conference Series, Volume 24 (2023), takbir keliling adalah takbiran yang dilakukan sejumlah orang baik jalan kaki maupun naik kendaraan pada malam hari untuk menyambut hari raya besar umat Islam sebelum melaksanakan salat Idul Fitri maupun Idul Adha.

Menurut Hidayati, Laely (2016) sebagaimana dikutip dari sumber yang sama, pada konsep mengenai takbiran atau takbir keliling masyarakat akan terjun langsung ke jalan raya bahkan ada yang jalan kaki bahkan adapun membawa kendaraan atau transportasi, pandangan ini termasuk ke dalam tampilan yang selalu dirayakan oleh sekelompok maupun masing-masing peserta perwakilan mushala atau masjid yang ada di sekitar desa maupun kota.

Hukum dan Jenis Takbir Idul Adha

Idul Adha disambut dengan penuh bahagia oleh umat Muslim, salah satunya dengan takbiran. Mengutip buku berjudul Hidup Tenang dan Dikejar-kejar Rezeki (2017) oleh Zainal Abidin, keutamaan hari kesepuluh bulan Dzulhijjah yaitu Idul Adha yang disebut juga yaumun nahr.

Dalil yang menunjukkan keutamaan dan keagungan hari Idul Adha ialah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Qurth RA dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda, "Hari teragung di sisi Allah adalah hari Idul Adha (Yaumun Nahr), kemudian hari setelahnya." (HR. Abu Dawud).

Hukum takbiran pada Hari Raya Idul Adha adalah sunnah muakkadah, yakni sunnah yang sangat dianjurkan untuk diamalkan. Landasan disyariatkannya takbir ini merujuk pada firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 dan Surah Al-Hajj ayat 28, yang memerintahkan umat Islam untuk mengagungkan nama Allah atas petunjuk-Nya.

Surah Al-Baqarah ayat 185

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Latin: Wa litukmilul ‘iddata wa litukabbirullāha ‘alā mā hadākum wa la‘allakum tasykurūn

Artinya: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

Surah Al-Hajj ayat 28

لِيَشْهَدُوْا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْلُوْمٰتٍ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِ

Latin: Liyasy-hadū manāfi‘a lahum wa yadzkurusmallāhi fī ayyāmin ma‘lūmātin ‘alā mā razaqahum min bahīmatil-an‘ām

Artinya: “Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah berikan kepada mereka berupa hewan ternak.”

Takbir Idul Adha terbagi menjadi dua, yaitu Takbir Muthlaq dan Takbir Muqayyad. Takbir Muthlaq dibaca secara bebas, tidak terikat waktu maupun tempat, dan dapat dilantunkan sejak awal bulan Dzulhijjah hingga sebelum magrib tanggal 13 Dzulhijjah.

Sementara itu, Takbir Muqayyad dilaksanakan setelah salat, baik fardhu maupun sunnah. Menurut jumhur ulama, takbir ini dimulai sejak salat Subuh Hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga salat Asar pada Hari Tasyrik terakhir (13 Dzulhijjah).

Adapun menurut pandangan Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, takbir dimulai sejak terbenamnya matahari pada malam Idul Adha hingga sebelum salat Idul Adha dilaksanakan. Dengan demikian, takbir menjadi salah satu syiar yang memperkuat rasa syukur dan pengagungan kepada Allah SWT di momen penuh berkah ini.

Lafazh dan Cara Pelaksanaan Takbiran Idul Adha

Mengutip buku berjudul Menjadi Haji Tanpa Berhaji (2009) oleh Agus Mustofa, kebesaran Idul Adha diantaranya bisa dilihat dari perintah untuk bertakbir, bertahmid, dan bertahlil sebanyak-banyaknya. pada Hari Raya Idul Fitri, takbiran hanya dilakukan sehari.

Bandingkan dengan Idul Adha yang bertakbir selama 4 hari terus menerus. Yaitu, sehabis puasa Arafah - seiring datangnya maghrib di tanggal 9 Dzulhijjah, maka kita pun mengumandangkan kalimat-kalimat takbir, tahmid, dan tahlil, menyongsong 10 Dzulhijjah. Dilanjurkan berturut-turut tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah.

Versi Pendek Takbiran

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, Allāhu Akbar. Lā ilāha illallāhu wallāhu Akbar. Allāhu Akbar wa lillāhil-ḥamd.

Arti: "Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada Tuhan selain Allah. Allah Maha Besar dan segala puji hanya milik Allah."

 

Versi Panjang Takbiran

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, Allāhu Akbar. Lā ilāha illallāhu wallāhu Akbar. Allāhu Akbar wa lillāhil-ḥamd. Allāhu Akbar kabīrā, walḥamdu lillāhi kathīrā, wa subḥānallāhi bukratan wa aṣīlā. Lā ilāha illallāhu wa lā na‘budu illā iyyāhu, mukhliṣīna lahuddīn walau karihal kāfirūn. Lā ilāha illallāhu waḥdahu, ṣadaqa wa‘dahu, wa naṣara ‘abdahu, wa a‘azza jundahu, wa hazamal-aḥzāba waḥdahu. Lā ilāha illallāhu, wallāhu Akbar, Allāhu Akbar wa lillāhil-ḥamd.

Arti: "Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada Tuhan selain Allah. Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah. Allah Maha Besar dengan kebesaran yang agung, segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya, dan Maha Suci Allah sepanjang pagi dan sore. Tiada Tuhan selain Allah dan kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya, dengan memurnikan agama bagi-Nya meski orang kafir membencinya. Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, yang menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, menguatkan pasukan-Nya, dan mengalahkan musuh-musuh-Nya seorang diri. Tiada Tuhan selain Allah. Allah Maha Besar. Segala puji hanya milik Allah."

Biasanya, takbiran ini dilantunkan secara berjamaah dengan suara lantang sebagai syiar Islam, meski boleh juga dibaca sendiri dengan lirih. Di Indonesia, tradisi takbiran sering dirayakan dengan pawai, beduk, dan obor, sehingga menambah semarak Idul Adha.

 

 

 

Sumber:

- Kajian berjudul Takbiran Keliling dalam Pandangan Max Weber sebagai Teori Tindakan dipublikasikan di Gunung Djati Conference Series, Volume 24 (2023)

- Buku berjudul Hidup Tenang dan Dikejar-kejar Rezeki (2017) oleh Zainal Abidin

- Buku berjudul Menjadi Haji Tanpa Berhaji (2009) oleh Agus Mustofa

Q & A Seputar Topik

Apa hukum melaksanakan takbiran pada Hari Raya Idul Adha?

Takbiran Idul Adha hukumnya sunnah muakkadah, yaitu amalan sunnah yang sangat dianjurkan untuk dilakukan oleh setiap Muslim sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT.

Kapan waktu takbiran Idul Adha dimulai? 

Waktu takbiran dimulai sejak malam Idul Adha setelah matahari terbenam, hingga berakhir pada sore hari tanggal 13 Dzulhijjah (akhir hari Tasyrik).

Apa perbedaan takbir muthlaq dan takbir muqayyad? 

Takbir muthlaq adalah takbir yang bisa dibaca kapan saja selama 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, baik di luar maupun setelah salat. Sedangkan takbir muqayyad adalah takbir yang dibaca khusus setelah salat fardhu, dimulai sejak Subuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) sampai Asar tanggal 13 Dzulhijjah.

Bagaimana lafal takbiran Idul Adha? 

Lafal takbiran umumnya berbunyi: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illallahu wallahu akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd. Umat Islam bisa melantunkannya secara berjamaah maupun sendiri.

Apa hikmah dari pelaksanaan takbiran Idul Adha?

Hikmahnya adalah sebagai bentuk syiar Islam, memperbanyak dzikir, menumbuhkan rasa syukur, mempererat ukhuwah antar sesama Muslim, serta menegaskan bahwa hanya Allah SWT yang berhak diagungkan.