Liputan6.com, Jakarta Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan momen sakral bagi umat Islam di seluruh dunia. Setiap tanggal 12 Rabiul Awal, umat Muslim merayakan hari kelahiran Rasulullah sebagai bentuk penghormatan mendalam. Perayaan ini mengingatkan akan kebesaran dan keteladanan beliau yang tak lekang oleh waktu.
Namun, tahukah Anda bagaimana tradisi ini bermula dan mengapa ia menjadi bagian integral dari praktik keagamaan? Artikel ini akan mengupas tuntas sejarah maulid Nabi Muhammad SAW lengkap, menelusuri akar kemunculannya yang beragam. Kita akan melihat bagaimana perayaan ini berkembang dari masa ke masa.
Dari perdebatan asal-usulnya di Mesir hingga peran strategisnya dalam semangat jihad, serta akulturasi budaya di Indonesia, Maulid Nabi memiliki perjalanan panjang. Mari selami lebih dalam mengenai kontroversi yang menyertainya dan ragam tradisi unik yang mewarnai perayaannya di Nusantara, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Rabu (27/8/2029).
Advertisement
Asal-Usul Sejarah Maulid Nabi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4588921/original/076033400_1695712009-muhammad-7571024_1280.jpg)
Sejarah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW memiliki jejak sejarah yang beragam, dengan dua teori utama yang mencoba menjelaskan awal mulanya. Perbedaan pandangan ini menunjukkan kompleksitas perkembangan tradisi keagamaan dalam Islam. Memahami kedua teori ini penting untuk melihat gambaran utuh.
Teori Pertama: Dinasti Fatimiyah di Mesir
Salah satu teori menyebutkan bahwa perayaan Maulid pertama kali dicetuskan oleh Dinasti Fatimiyah di Mesir pada abad ke-10 Masehi. Dinasti ini, yang beraliran Syiah Ismailiyah, memulai tradisi merayakan hari kelahiran Rasulullah sebagai bagian dari perayaan keagamaan mereka. Ini menunjukkan adanya inisiatif dari penguasa pada masa itu.
Menurut Al-Maqrizi dalam kitabnya Al-Khathat, perayaan Maulid dimulai pada zaman Daulah Fatimiyah yang berkuasa pada abad ke-4 Hijriah. Mereka tidak hanya merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW, tetapi juga Maulid Ali bin Abi Thalib, Maulid Fatimah, hingga Maulid Hasan bin Ali dan Husain bin Ali. Raja al-Muiz Li Dinillah, yang memerintah antara tahun 341-365 Hijriah (952-975 Masehi), disebut sebagai orang pertama yang merayakan Maulid Nabi.
Peringatan ini pada awalnya bersifat lokal dan tidak menyebar luas di kalangan umat Islam lainnya pada masa itu. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi ini belum menjadi praktik umum di seluruh dunia Muslim. Perkembangan selanjutnya akan mengubah cakupan perayaan ini.
Teori Kedua: Sultan Salahuddin Al-Ayyubi dan Semangat Jihad
Tradisi Maulid Nabi mulai berkembang pesat dan menyebar ke berbagai wilayah ketika Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (1137-1193 M) mempopulerkannya. Sebagai seorang pemimpin Sunni, ia memiliki tujuan mulia untuk memperkuat semangat keagamaan dan persatuan umat Islam. Ini terjadi di tengah gejolak Perang Salib yang mengancam.
Pada masa itu, umat Islam sedang berjuang keras mempertahankan diri dari serangan tentara salib Eropa, yang berasal dari Prancis, Jerman, dan Inggris. Semangat juang umat Islam melemah dan persaudaraan terpecah belah secara politis. Sultan Salahuddin melihat Maulid Nabi sebagai cara efektif untuk menginspirasi dan memotivasi umat Islam dengan mengenang teladan dan keberanian Rasulullah.
Beliau mengimbau umat Islam di seluruh dunia agar hari lahir Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal, yang setiap tahun berlalu begitu saja, kini dirayakan secara massal. Gagasan ini sebenarnya berasal dari usulan iparnya, Muzaffaruddin Gekburi, yang menjabat sebagai atabeg di Irbil, Suriah Utara.
Salah satu kegiatan yang diadakan oleh Sultan Salahuddin pada peringatan Maulid Nabi pertama kali tahun 1184 M (580 Hijriah) adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi. Sayembara ini juga meliputi puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa seindah mungkin. Pemenang pertama adalah Syaikh Ja`far al-Barzanji, yang karyanya dikenal sebagai Kitab Barzanji dan sering dibaca masyarakat pada peringatan Maulid Nabi hingga kini. Peringatan Maulid Nabi yang diselenggarakan Sultan Salahuddin ini membuahkan hasil positif. Semangat umat Islam menghadapi Perang Salib bergelora kembali, dan Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan sehingga pada tahun 1187 M (583 Hijriah) Yerusalem direbut kembali dari tangan bangsa Eropa.
Advertisement
Pro dan Kontra: Memahami Kontroversi Hukum Maulid Nabi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5328545/original/025056100_1756259632-ChatGPT_Image_27_Agu_2025__08.43.48.jpg)
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW telah menjadi tradisi yang sangat umum di banyak negara Muslim, namun perayaan ini tidak lepas dari kontroversi. Perdebatan panjang di kalangan ulama dan umat Islam tentang status Maulid Nabi masih terus berlangsung. Pertanyaan utamanya adalah apakah ia termasuk tradisi yang sah dalam Islam atau justru tergolong bid'ah (inovasi dalam agama) yang sebaiknya dihindari.
Pandangan yang Melarang (Bid'ah)
Sebagian ulama menganggap perayaan ini sebagai bid’ah, karena tidak dilakukan oleh Nabi atau para sahabat. Mereka berpendapat bahwa praktik ini tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW maupun para sahabatnya. Hal ini menjadi dasar utama penolakan mereka.
Ulama seperti Ibn Taymiyyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab adalah tokoh yang berpendirian keras terhadap perayaan ini. Mereka berargumen bahwa Islam telah sempurna di masa Rasulullah. Oleh karena itu, menambahkan perayaan atau ritual baru yang tidak ada dasarnya dalam Al-Qur’an dan Sunnah dianggap sebagai penyimpangan dari ajaran Islam.
Mereka berpendapat bahwa setiap hal baru dalam agama (bid'ah) adalah sesat. Pandangan ini didasarkan pada hadis yang berbunyi: "Berhati-hatilah kalian dari sesuatu yang baru, karena setiap hal yang baru adalah bid`ah dan setiap bid`ah adalah sesat." Ini menunjukkan kekhawatiran akan penambahan yang tidak berdasar dalam syariat.
Pandangan yang Membolehkan (Bid'ah Hasanah)
Bagi ulama yang membolehkan, seperti Imam Jalaluddin as-Suyuti dan Imam Ibn Hajar al-Asqalani, perayaan Maulid Nabi adalah bid'ah hasanah, atau inovasi yang baik. Mereka melihatnya sebagai bentuk ekspresi kecintaan kepada Nabi. Pandangan ini menawarkan perspektif yang lebih fleksibel.
Mereka berpendapat bahwa selama perayaan ini diisi dengan kegiatan yang sesuai syariat, seperti pembacaan Al-Qur'an, shalawat, pengajian, dan sedekah, maka hal tersebut diperbolehkan. Bahkan, mereka meyakini bahwa kegiatan semacam ini dapat mendatangkan pahala. Esensi dari Maulid adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.
Menurut al-Suyuthi dalam karyanya Husn al-Maqsid fi Amal al-Maulid, Maulid merupakan bentuk syukur atas kelahiran Nabi. Di dalamnya terdapat amal shalih seperti pembacaan Al-Qur'an, dzikir, shalawat, dan sedekah. Ini menunjukkan bahwa perayaan Maulid dapat menjadi wadah untuk melakukan kebaikan.
Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia: Akulturasi Islam dan Budaya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1093685/original/094753700_1450950796-20151224-Perayaan-sekaten-Boy-Harjanto-2.jpg)
Di Indonesia, peringatan Maulid Nabi telah menjadi tradisi yang sangat melekat dalam kehidupan umat Islam. Perayaan ini tidak hanya berfungsi sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai ajang akulturasi budaya yang kaya. Ini menunjukkan bagaimana Islam berinteraksi dengan kearifan lokal.
Perayaan Maulid di Nusantara dibawa oleh Wali Songo sebagai sarana dakwah yang efektif. Sejak tahun 1404 M, Wali Songo menggunakan peringatan Maulid Nabi untuk menarik hati masyarakat setempat agar terpanggil memeluk agama Islam. Mereka memperkenalkan tradisi ini dengan nama lain Syahadatain, mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan budaya lokal.
Pemerintah Indonesia bahkan menetapkan Maulid Nabi sebagai hari libur nasional. Hal ini dilakukan untuk menghormati dan memberikan kesempatan bagi umat Muslim untuk merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Penetapan ini menunjukkan pengakuan negara terhadap pentingnya tradisi ini bagi masyarakat.
Advertisement
Ragam Tradisi Maulid Nusantara yang Unik
Di Indonesia, umat Islam di berbagai daerah memiliki cara khas dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tradisi-tradisi ini sarat makna dan simbol kebersamaan, mencerminkan kekayaan budaya lokal yang berpadu dengan nilai-nilai Islam. Berikut adalah beberapa contoh tradisi unik tersebut:
- Sekaten dan Grebeg Mulud (Yogyakarta & Surakarta): Tradisi ini melibatkan prosesi gunungan, yaitu arak-arakan hasil bumi yang disusun menyerupai gunung. Gunungan tersebut kemudian diperebutkan oleh masyarakat sebagai bentuk keberkahan. Sekaten sendiri merupakan upacara pendahuluan dari peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang secara turun temurun merupakan transformasi dari kalimat "Syahadatain".
- Endhog-endhogan (Banyuwangi): Tradisi ini melibatkan arak-arakan ribuan telur itik yang ditancapkan dalam pelepah pohon pisang. Endhog-endhogan memiliki makna filosofis yang tinggi. Telur dengan tiga lapisannya (kulit, putih, kuning) dianalogikan sebagai lambang keislaman, keimanan, dan keihsanan, merefleksikan ajaran agama.
- Ancak Agung (Situbondo):Â Di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, tradisi ini dikenal dengan "ANCAK AGUNG", yaitu kirab budaya dengan menggiring ancak. Ancak adalah nama dari tempat atau talam yang terbuat dari bambu, lidi, atau daun yang dianyam. Ancak tersebut diisi dengan berbagai buah-buahan, sayuran, camilan, dan sebagainya, yang kemudian dibagikan kepada masyarakat.
- Bungo Lado (Padang Pariaman):Â Bungo Lado adalah tradisi warga Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, dalam merayakan Maulid Nabi. Bungo Lado sendiri memiliki arti pohon uang. Dalam tradisi ini, warga membuat pohon buatan yang dihiasi dengan uang kertas asli, mulai dari pecahan terkecil hingga terbesar, sebagai bentuk sedekah dan berbagi rezeki.
- Maudu Lampoa (Sulawesi Selatan):Â Perayaan hari lahir Nabi Muhammad SAW oleh masyarakat Takalar, Sulawesi Selatan, dilakukan di atas perahu. Sejumlah warga menghiasi perahu menggunakan selendang warna-warni dan telur hias. Perahu dihiasi dengan ribuan telur serta bahan makanan tradisional yang disusun seperti gunungan, kemudian diperebutkan oleh warga setelah pembacaan kitab Barzanji.
- Keresan (Mojokerto):Â Dalam tradisi Keresan ini, warga akan menggantung sejumlah hasil bumi seperti nanas, kelapa muda, terong, jagung, dan nangka di pohon kersen atau talok/Malici. Selain hasil bumi, warga juga menggantung kebutuhan pokok lainnya seperti pakaian, topi, sandal, sepatu, hingga jas hujan. Barang-barang ini kemudian dapat diambil oleh masyarakat setelah doa bersama, menunjukkan semangat berbagi.
- Nasi Kebuli (DKI Jakarta & Jawa Timur):Â DKI Jakarta memiliki tradisi Nasi Kebuli sebagai hidangan utama dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Nasi kebuli dihidangkan dalam nampan besar kemudian disantap dengan beramai-ramai. Tradisi ini sangat populer di kalangan masyarakat Betawi Jakarta dan masyarakat Arab di Indonesia, menjadi simbol kebersamaan dan syukuran.
Makna dan Nilai-Nilai dalam Peringatan Maulid Nabi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1093391/original/031074700_1450935295-20151224-usuf-Kalla-Hadir-Dalam-Peringatan-Maulid-Nabi-Di-Mesjid-Istiqlal-Fanani-5.jpg)
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW memiliki makna yang mendalam serta banyak hikmah yang dapat diambil oleh umat Islam. Terdapat berbagai nilai dan makna yang terkandung dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Momen ini menjadi refleksi penting bagi setiap individu Muslim.
- Nilai Spiritual:Â Setiap insan muslim akan mampu menumbuhkan dan menambah rasa cinta pada beliau SAW dengan adanya acara maulid. Luapan kegembiraan terhadap kelahiran Nabi SAW merupakan bentuk cerminan rasa cinta dan penghormatan umat Islam terhadap Nabi pembawa rahmat bagi seluruh alam. Peringatan Maulid Nabi juga mendorong umat Islam untuk senantiasa menghadirkan dan memperbanyak shalawat untuk Rasulullah SAW.
- Nilai Moral:Â Hal ini dapat dipetik dengan menyimak akhlak terpuji dan nasab mulia dalam kisah teladan Nabi Muhammad SAW. Mempraktikkan sifat-sifat terpuji yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW adalah salah satu tujuan dari diutusnya Nabi SAW. Peringatan Maulid Nabi menjadi momentum untuk memperbaiki akhlak dengan meniru perilaku Nabi Muhammad dan juga menambah keimanan serta ketakwaan kepada Allah SWT.
- Nilai Sosial:Â Memuliakan dan memberikan jamuan makanan kepada para tamu, terutama dari golongan fakir miskin, dalam acara peringatan Maulid Nabi merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Hal ini sangat dianjurkan oleh agama karena memiliki nilai sosial yang tinggi. Selain itu, acara tersebut bisa dijadikan sebagai wadah untuk bersedekah di antara sesama dengan cara menyumbangkan sebagian harta secara swadaya untuk dihidangkan dalam acara Maulid.
- Nilai Persatuan:Â Dengan berkumpul bersama dalam rangka bermaulid dan bershalawat maupun berdzikir, hal ini secara tidak langsung dapat menumbuhkan rasa solidaritas sosial yang tinggi. Solidaritas ini bisa mempererat dan mengokohkan ukhuwah, baik ukhuwah islamiyah, basyariyah, maupun wathoniyah. Peringatan Maulid Nabi dapat menjadi sarana untuk menyadarkan seluruh umat Islam tentang pentingnya mengulik kembali literatur perjuangan dakwah Rasulullah.
Sejarah maulid Nabi Muhammad SAW lengkap menunjukkan perjalanan panjang sebuah tradisi yang kaya makna. Dari perdebatan asal-usulnya di Mesir, peran strategis Sultan Salahuddin Al-Ayyubi dalam membangkitkan semangat jihad, hingga akulturasi budaya yang unik di Indonesia, Maulid Nabi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan umat Muslim.
Meskipun terdapat perbedaan pandangan mengenai keabsahannya, esensi utama dari peringatan ini adalah untuk meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW, meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, dan memperkuat tali persaudaraan sesama Muslim. Dengan memahami sejarah maulid Nabi Muhammad SAW lengkap, kita diajak untuk mengisi momentum ini dengan kegiatan yang bermanfaat, memperbanyak shalawat, dan terus meneladani suri tauladan terbaik bagi umat manusia.
Advertisement
FAQ
Q: Kapan pertama kali Maulid Nabi diperingati?
A: Maulid Nabi diperkirakan mulai dirayakan setelah 300 tahun kematian Rasulullah, dengan dua teori utama: abad ke-10 M oleh Dinasti Fatimiyah atau abad ke-12 M oleh Sultan Salahuddin Al-Ayyubi.
Q: Apa tujuan awal peringatan Maulid Nabi?
A: Tujuan awalnya adalah membangkitkan semangat jihad dan persatuan umat Islam, terutama saat Perang Salib, serta sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.
Q: Mengapa peringatan Maulid Nabi kontroversial?
A: Peringatan Maulid kontroversial karena tidak dicontohkan Nabi dan sahabat; sebagian ulama menganggapnya bid'ah, sementara yang lain membolehkan sebagai bid'ah hasanah.
Q: Kapan Maulid Nabi ditetapkan sebagai hari libur nasional di Indonesia?
A: Maulid Nabi ditetapkan sebagai hari libur nasional di Indonesia pada tahun 1967 melalui Ketetapan MPRS No. XXXIII/MPRS/1967.
Q: Apa saja kitab yang biasa dibaca pada peringatan Maulid?
A: Kitab yang biasa dibaca antara lain Kitab Maulid Barzanji, Maulid Ad Diba'i, Maulid Simtuddurar, Syair Burdah, dan Saroful Anam.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5226996/original/003118400_1747799527-Putin.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528276/original/060137100_1782459682-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-26T143742.924.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259258/original/056986600_1781493541-3549582318816429688.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3051591/original/000650000_1657289366-IMG_20220526_150737_149.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5327723/original/011445700_1756187507-banner_maulid_nabi_1.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1860530/original/010220100_1777609466-pp.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260726/original/045162900_1781650279-Mohammad_Mohebi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260101/original/022902800_1781568480-063_2281783911.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8456333/original/005196400_1782354547-063_2282682114.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560764/original/057361200_1782508647-000_B8GJ8DG.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560483/original/094482200_1782508278-000_B8GH2KY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264052/original/051981800_1782069590-Spain_s_Lamine.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5476731/original/083749300_1768796381-000_936R8YN.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261470/original/080593900_1781707583-haaland.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260720/original/014464000_1781645481-HK9wcDqXAAAOMgO.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389795/original/062452300_1782269925-inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8309678/original/024525200_1782176074-AP26174009363435-Prancis.jpg)