Kisah Uwais Al Qarni yang Sangat Menginspirasi, Bakti Seorang Anak Kepada Ibunya

Simak kisah inspiratif pengabdian seorang anak kepada ibunya, Uwais Al Qarni yang cukup melegenda.

Diterbitkan 18 Agustus 2025, 21:07 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Kisah Uwais Al Qarni menjadi salah satu teladan paling mulia tentang bakti seorang anak kepada orang tua dalam sejarah Islam. Sosok pemuda miskin dari Yaman ini diabadikan sebagai figur yang sangat dicintai Allah SWT, karena ketulusannya mengabdi kepada ibunya yang sudah tua dan memiliki keterbatasan fisik.

Menurut catatan dalam kitab Hilyah al-Awliya karya Abu Nu'aim al-Asfahani, kisah bakti Uwais telah menginspirasi banyak generasi muslim hingga saat ini. Meski tak pernah bertemu langsung dengan Rasulullah SAW, namun beliau sangat memuji sosok Uwais dan menyebutnya sebagai penghuni langit yang doanya sangat makbul.

Pengorbanan luar biasa yang dilakukan Uwais untuk mengantarkan ibunya berhaji menjadi pelajaran berharga bagi seluruh umat manusia tentang pentingnya berbakti kepada orang tua.  Berikut Liputan6.com ulas lengkapnya melansir dari berbagai sumber, Senin (18/8/2025).

Siapa Itu Uwais Al Qarni?

Uwais Al Qarni adalah seorang pemuda miskin yang hidup di daerah Qarn, Yaman, bersama ibunya yang sudah tua, lumpuh, dan buta. Dia lahir dan dibesarkan dalam kemiskinan setelah ditinggal ayahnya sejak kecil. Meski hidup dalam keterbatasan, Uwais dikenal sebagai sosok yang sangat berbakti kepada ibunya dan memiliki akhlak mulia.

Hal yang membuat sosok Uwais istimewa adalah pengakuan langsung dari Rasulullah SAW saat memujinya meski belum pernah bertemu secara langsung. Dalam sebuah majelis, Rasulullah pernah berwasiat kepada para sahabat untuk meminta doa kepada Uwais jika suatu saat bertemu dengannya, karena Uwais memiliki kedudukan yang tinggi di langit.

Uwais memiliki penyakit sopak yang membuat kulitnya belang-belang, namun hal ini tidak membuatnya putus asa dalam menjalani hidup. Sehari-hari ia bekerja sebagai pedagang dan penggembala kambing milik orang lain untuk menafkahi dirinya dan ibunya. Kesederhanaannya dalam hidup justru membuatnya semakin dekat dengan Allah SWT.

Berdasarkan riwayat dalam kitab Tabaqat Ibn Sa'd, Uwais masuk Islam setelah beberapa sahabat yang diutus Rasulullah datang berdakwah di Yaman. Keislamannya semakin memperkuat tekadnya untuk berbakti kepada ibunya dengan sepenuh hati.

Kisah Heroik Perjalanan Haji Uwais dan Ibunya

Kisah paling terkenal dari Uwais Al Qarni adalah pengorbanannya untuk mengantarkan ibunya menunaikan ibadah haji. Pada suatu malam, ibu Uwais menyampaikan keinginannya untuk berhaji karena merasa usianya sudah semakin tua. Mendengar permintaan sang ibu, Uwais termenung memikirkan cara untuk mewujudkan keinginan tersebut.

Perjalanan dari Yaman ke Makkah sangatlah jauh dan berat, melewati padang gurun yang tandus dengan cuaca yang sangat panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Namun, Uwais yang sangat miskin tidak memiliki kendaraan atau modal yang cukup untuk melakukan perjalanan tersebut.

Dengan tekad yang bulat, Uwais memiliki ide cemerlang untuk mempersiapkan dirinya secara fisik. Ia membeli seekor anak lembu dan membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap hari selama 8 bulan, Uwais berlatih dengan menggendong anak lembu tersebut naik turun bukit. Semakin hari lembu tersebut semakin besar dan berat, namun kekuatan Uwais juga semakin bertambah.

Ketika musim haji tiba, lembu tersebut sudah mencapai berat 100 kilogram, begitu juga dengan otot Uwais yang sudah terbentuk kuat. Latihan rutin selama 8 bulan tersebut ternyata adalah persiapannya untuk menggendong sang ibu dalam perjalanan menuju Tanah Suci. Uwais akhirnya menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Makkah, menunjukkan bakti dan cinta yang luar biasa.

Menurut catatan dalam kitab Siyar A'lam an-Nubala karya Imam adh-Dhahabi, perjalanan heroik Uwais ini menjadi salah satu kisah paling mengharukan dalam sejarah Islam tentang bakti anak kepada orang tua.

Momen Haru di Baitullah dan Kesembuhan Uwais

Sesampainya di Makkah, Uwais dengan penuh semangat menggendong ibunya untuk melakukan tawaf mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh putaran. Pemandangan seorang anak yang menggendong ibunya dengan penuh kasih sayang di hadapan Baitullah menjadi momen yang sangat mengharukan bagi siapa saja yang menyaksikannya.

Di hadapan Ka'bah yang suci, Uwais berdoa dengan penuh ketulusan, "Ya Allah, ampuni semua dosa ibu." Mendengar doa anaknya, sang ibu merasa heran dan bertanya, "Bagaimana dengan dosamu, anakku?" Dengan hati yang tulus dan penuh cinta, Uwais menjawab, "Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari ibu yang akan membawaku ke surga."

Ketulusan dan bakti Uwais yang luar biasa tersebut tidak luput dari perhatian Allah SWT. Seketika itu juga, Allah memberikan karunia yang menakjubkan kepada Uwais berupa kesembuhan dari penyakit sopak yang telah ia derita sejak kecil. Penyakitnya hilang total, hanya tersisa bulatan putih kecil di tengkuknya sebagai tanda.

Bulatan putih di tengkuk inilah yang kemudian menjadi ciri khusus Uwais Al Qarni seperti yang pernah diceritakan Rasulullah kepada para sahabatnya. Melalui tanda ini pula, Sahabat Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib berhasil menemukan Uwais ketika mereka mencarinya atas wasiat Rasulullah.

Pujian Rasulullah terhadap Uwais Al Qarni

Meskipun tidak pernah bertemu secara langsung, Rasulullah SAW sangat memuji sosok Uwais Al Qarni di hadapan para sahabatnya. Dalam sebuah hadis, Rasulullah pernah bersabda, "Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kalian berdua, pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman."

Rasulullah juga pernah mengatakan kepada para sahabat, "Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya. Dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi." Pernyataan ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan Uwais di sisi Allah SWT berkat baktinya kepada ibunya.

Pengakuan Rasulullah terhadap kemuliaan Uwais ini dicatat dalam berbagai kitab hadis, termasuk Sahih Muslim dan Musnad Ahmad yang menunjukkan otentisitas kisah ini dalam literatur Islam klasik.

Hikmah dan Pelajaran dari Kisah Uwais Al Qarni

Kisah Uwais Al Qarni mengandung hikmah mendalam yang dapat diambil sebagai pelajaran hidup. Pertama, kisah ini menunjukkan bahwa cinta sejati kepada orang tua tidak mengenal batas dan pengorbanan. Uwais rela melakukan latihan fisik selama berbulan-bulan dan menempuh perjalanan yang sangat berat demi memenuhi keinginan ibunya.

Kedua, kisah ini mengajarkan bahwa ketulusan dan keikhlasan dalam berbuat baik akan selalu mendapat balasan dari Allah SWT. Kesembuhan Uwais dari penyakit sopak merupakan bukti nyata bahwa Allah tidak akan pernah mengabaikan hamba-Nya yang berbuat baik dengan tulus.

Ketiga, kisah ini membuktikan bahwa popularitas dan kekayaan duniawi bukanlah ukuran kemuliaan seseorang di sisi Allah. Uwais yang miskin dan tidak terkenal justru mendapat pengakuan dari Rasulullah sebagai orang yang doanya makbul dan berkedudukan tinggi di langit.

Keempat, kisah ini menginspirasi bahwa setiap Muslim harus berusaha menjadi anak yang berbakti karena ridha Allah sangat tergantung pada ridha orang tua. Seperti yang disebutkan dalam berbagai riwayat, "Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua."

Kisah Serupa: Bakti Anak kepada Orang Tua dalam Sejarah

Sepanjang sejarah Islam, terdapat banyak kisah serupa tentang bakti luar biasa anak kepada orang tua yang bisa menjadi inspirasi. Salah satunya adalah kisah Imam Ahmad bin Hanbal yang sangat berbakti kepada ibunya. Beliau selalu meminta izin ibunya sebelum melakukan perjalanan dan tidak pernah mengambil keputusan penting tanpa berkonsultasi dengannya.

Ada pula kisah Abu Hurairah yang meninggalkan majelis ilmu ketika ibunya memanggilnya untuk makan. Ketika ditanya mengapa, ia menjawab bahwa mematuhi panggilan ibu lebih utama daripada menuntut ilmu karena ridha Allah tergantung pada ridha orang tua.

Kisah lain adalah tentang Imam Malik yang tidak pernah menyampaikan hadis dalam posisi selain duduk dengan sopan sebagai bentuk penghormatan kepada ibunya yang sering hadir dalam majelisnya. Beliau menganggap kehadiran ibu sebagai berkah yang harus dihormati dengan sikap yang paling baik.

Dalam literatur Islam klasik, seperti kitab Birr al-Walidayn karya Ibn al-Jawzi, disebutkan banyak kisah serupa yang menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua merupakan salah satu jalan tercepat untuk meraih ridha Allah SWT.

Implementasi Nilai-nilai Bakti di Era Modern

Di era modern saat ini, nilai-nilai bakti yang diajarkan dalam kisah Uwais Al Qarni tetap relevan dan perlu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Berbakti kepada orang tua bisa dilakukan dengan berbagai cara sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing-masing.

  1. Meluangkan waktu berkualitas dengan orang tua, mendengarkan cerita mereka, dan memberikan perhatian penuh ketika bersama mereka.
  2. Membantu kebutuhan sehari-hari seperti berbelanja, mengurus administrasi, atau menemani ke dokter, terutama bagi orang tua yang sudah lanjut usia.
  3. Berbicara dengan lemah lembut dan tidak pernah membentak atau berkata kasar, sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-Isra ayat 23.
  4. Mendoakan orang tua secara rutin, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, karena doa anak yang saleh tetap mengalir pahalanya.
  5. Melanjutkan kebaikan mereka dengan berbuat baik kepada teman-teman dan kerabat orang tua sebagai bentuk birrul walidayn.

Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Islamic Ethics, berbakti kepada orang tua terbukti memberikan dampak positif baik secara psikologis maupun spiritual bagi sang anak.

Daftar Sumber

  • Abu Nu'aim al-Asfahani, Hilyah al-Awliya wa Tabaqat al-Asfiya
  • Ibn Sa'd, Kitab at-Tabaqat al-Kabir
  • Imam adh-Dhahabi, Siyar A'lam an-Nubala
  • Sahih Muslim - Kitab Fada'il as-Sahabah
  • Musnad Ahmad bin Hanbal
  • Ibn al-Jawzi, Birr al-Walidayn
  • Journal of Islamic Ethics - Research on Parental Devotion

FAQ

1. Siapa itu Uwais Al Qarni? Uwais Al Qarni adalah seorang pemuda miskin dari Yaman yang sangat berbakti kepada ibunya dan dikenal karena kisah heroiknya menggendong ibu untuk berhaji.

2. Mengapa Rasulullah memuji Uwais padahal tidak pernah bertemu? Rasulullah memuji Uwais karena baktinya kepada ibu yang luar biasa sehingga Allah mengangkat derajatnya dan menjadikannya penghuni langit.

3. Bagaimana Uwais bisa menggendong ibunya ke Makkah? Uwais berlatih selama 8 bulan dengan menggendong anak lembu naik turun bukit untuk memperkuat fisiknya sebelum menggendong ibunya.

4. Apa tanda khusus yang dimiliki Uwais? Uwais memiliki bulatan putih di tengkuknya sebagai bekas penyakit sopak yang disembuhkan Allah setelah ia berdoa untuk ibunya di Ka'bah.

5. Siapa yang berhasil menemukan Uwais setelah Rasulullah wafat? Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib berhasil menemukan Uwais berdasarkan petunjuk yang diberikan Rasulullah tentang ciri-ciri fisiknya.

6. Apa hikmah utama dari kisah Uwais Al Qarni? Hikmah utamanya adalah pentingnya berbakti kepada orang tua dengan tulus dan ikhlas karena ridha Allah tergantung pada ridha orang tua.

7. Bagaimana cara menerapkan nilai bakti seperti Uwais di zaman modern? Bisa dengan meluangkan waktu berkualitas, membantu kebutuhan orang tua, berbicara sopan, mendoakan, dan melanjutkan kebaikan mereka.