Hukum Mad dałam Ilmu Tajwid; Pengertian, Pembagian dan Contoh Bacaannya

Memahami hukum mad bukan hanya meningkatkan kefasihan dalam membaca Al-Qur’an, tetapi juga menjaga makna ayat agar tidak berubah.

Diperbarui 07 Agustus 2025, 21:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Cilacap - Di antara cabang utama dalam ilmu tajwid terdapat satu kaidah yang sangat penting dan sering muncul dalam setiap ayat Al-Qur’an, yaitu hukum mad. Istilah mad dalam bahasa Arab berasal dari kata "مَدَّ" yang berarti "memanjangkan".

Memahami hukum mad bukan hanya meningkatkan kefasihan dalam membaca Al-Qur’an, tetapi juga menjaga makna ayat agar tidak berubah.  

Oleh sebab itu menurut Zulkarnaini Umar dalam bukunya yang berjudul ‘Panduan Ilmu Tajwid Praktis’ menjelaskan bahwa ilmu Tajwid merupakan ilmu yang sangat penting dipelajari saat kita sedang belajar membaca Al-Qur’an.

Dalam artikel ini, kita akan mengulas secara rinci mengenai pengertian hukum mad, pembagiannya, disertai contoh-contoh bacaan seperti Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Kamis (07/08/25).

 

Pengertian Hukum Mad dałam Ilmu Tajwid

Secara bahasa, kata mad (مدّ) berarti "panjang" atau "meluaskan". Dalam istilah ilmu tajwid, mad adalah memanjangkan suara huruf mad ketika huruf tersebut bertemu dengan sebab-sebab tertentu, seperti hamzah (ء) atau sukun ( ْ ).

Huruf-huruf yang menjadi huruf mad ada tiga:

  • Alif (ا), apabila sebelumnya ada huruf berharakat fathah (ــَــ)
  • Waw (و), apabila sebelumnya ada huruf berharakat dhammah (ــُــ)
  • Ya (ي), apabila sebelumnya ada huruf berharakat kasrah (ــِــ)Contoh:

Dalam kata قَالَ, terdapat huruf mad alif karena huruf qaf sebelumnya berharakat fathah. Dalam kata يَقُولُ, terdapat huruf mad waw karena huruf qaf berharakat dhammah.Dalam kata فِي, terdapat huruf mad ya karena huruf fa berharakat kasrah.Huruf-huruf ini hanya menjadi huruf mad jika tidak berharakat, dan sebelumnya terdapat harakat yang sesuai.

Pembagian Mad dan Contohnya

Melansir Sayuti dalam bukunya yang berjudul Ilmju Tajwid Lengkap  Tim Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. Pedoman Tajwid Warna. Kemenag RI (2010) berikut ini akan diuraikan macam-macam mad:

1. Mad Thabi’i (Mad Asli)

Mad thabi’i adalah jenis mad yang paling dasar dan paling sering ditemukan dalam Al-Qur’an. Ia disebut "thabi’i" karena panjang bacaannya merupakan sifat alami dari huruf mad, tanpa adanya sebab lain seperti hamzah atau sukun.

Mad thabi’i dibaca sepanjang dua harakat (dua ketukan).

Contoh:

قَالَ  (qāla) → terdapat mad alif setelah qaf yang berharakat fathah.يُقِيمُونَ  (yuqīmūna) → terdapat mad ya setelah qaf berharakat kasrah.فُوزٌ  (fūzun) → terdapat mad waw setelah fa berharakat dhammah.Mad thabi’i harus dibaca dua harakat, tidak boleh dipendekkan karena termasuk kesalahan dalam tajwid.

2. Mad Far’i (Mad Cabang)

Mad far’i adalah mad yang terjadi karena adanya sebab tambahan, yaitu hamzah atau sukun setelah huruf mad. Mad ini memiliki jenis-jenis yang lebih banyak dan panjang bacaannya bisa mencapai hingga 6 harakat, tergantung pada jenis dan letaknya.

a. Mad Wajib Muttasil

Mad ini terjadi jika huruf mad bertemu hamzah dalam satu kata. Dinamakan "wajib" karena para qari’ sepakat bahwa mad ini dibaca panjang, dan "muttasil" karena kedua huruf (mad dan hamzah) bersambung dalam satu kata.

Panjang bacaan: 4 sampai 5 harakat.

Contoh:

جَاءَ  (jā’a) → huruf alif bertemu hamzah dalam satu kata.سَوَاءً  (sawā’an) → huruf alif bertemu hamzah dalam kata yang sama.

b. Mad Jaiz Munfasil

Mad ini terjadi apabila huruf mad berada di akhir suatu kata dan hamzah berada di awal kata berikutnya. Dinamakan "jaiz" karena terdapat perbedaan pendapat tentang panjang bacaannya, dan "munfasil" karena huruf mad dan hamzah berada di kata yang berbeda.

Panjang bacaan: 2 sampai 5 harakat.

Contoh:

يَا أَيُّهَا  (yā ayyuhā) → huruf mad ya bertemu hamzah di awal kata selanjutnya.إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ  (innā a‘ṭaināka) → mad alif bertemu hamzah di kata kedua.

c. Mad ‘Aridh Lissukun

Mad ini terjadi apabila huruf mad berada di akhir kalimat dan huruf setelahnya disukunkan karena berhenti (waqaf). Karena sukun tersebut hanya terjadi karena waqaf, maka dinamakan mad ‘aridh (yang bersifat sementara).

Panjang bacaan: 2, 4, atau 6 harakat, dan semuanya sah menurut tajwid.

Contoh:

نَسْتَعِينُ → jika dibaca sambung: nasta‘īnu (mad thabi’i), tapi jika berhenti: nasta‘īn (mad ‘aridh lissukun)الرَّحِيمِ → jika dibaca waqaf: ar-raḥīm (mad ‘aridh lissukun)

d. Mad Badal

Mad badal terjadi apabila huruf hamzah diikuti oleh huruf mad dalam satu kata. Biasanya huruf mad ini menggantikan hamzah kedua yang seharusnya bertemu hamzah pertama.

Panjang bacaan: 2 harakat.

Contoh:

آمَنَ  (āmana) → hamzah diikuti oleh alif.إِيمَانًا  (īmānan) → hamzah diikuti oleh ya.

e. Mad Lazim

Mad lazim terjadi jika huruf mad diikuti oleh huruf bersukun asli, baik dalam satu kata atau dalam bentuk huruf-huruf muqatha‘ah (huruf potong) di awal surat.

Panjang bacaan: 6 harakat wajib.

Jenis mad lazim:

Mad Lazim Mutsaqqal Kilmi: Contoh: وَلَا الضَّالِّينَ  (wa-lā aḍ-ḍāllīn). 

Mad Lazim Mukhaffaf Kilmi: Contoh:اَثُمَّ اِذَا مَا وَقَعَ اٰمَنۡتُمۡ بِهٖؕ اٰۤلْــٴٰـنَ وَقَدۡ كُنۡتُمۡ بِهٖ تَسۡتَعۡجِلُوۡنَ‏ dengan mad 6 harakat pada huruf lām.

People Also Ask

1. Apakah semua huruf mad selalu dibaca panjang?

Tidak. Huruf mad hanya dibaca panjang jika memenuhi syarat, seperti didahului harakat yang sesuai, dan dalam beberapa kondisi tertentu (seperti bertemu hamzah atau sukun).

2. Apa akibat jika mad tidak dibaca panjang?

Bisa menyebabkan kesalahan tajwid dan dalam beberapa kasus, mengubah arti kata. Ini termasuk kesalahan lahn jali jika parah.

3. Apa perbedaan antara Mad Wajib Muttasil dan Mad Jaiz Munfasil?

Jawaban: Perbedaan utamanya terletak pada posisi huruf mad dan hamzah: Mad Wajib Muttasil terjadi jika huruf mad dan hamzah berada dalam satu kata, dan wajib dibaca 4–5 harakat. Mad Jaiz Munfasil terjadi jika huruf mad berada di akhir kata dan hamzah di awal kata berikutnya, serta boleh dibaca 2–5 harakat.

4. Apakah panjang bacaan mad boleh sembarangan selama terdengar indah?

Jawaban: Tidak. Panjang bacaan mad tidak boleh asal-asalan atau sekadar mengikuti selera. Setiap jenis mad memiliki aturan panjang baca tertentu (2, 4, 6 harakat), dan harus diikuti agar bacaan sesuai tajwid. Membaca mad lebih pendek atau lebih panjang dari semestinya bisa menyebabkan kesalahan bacaan (lahn).

Penulis: Khazim Mahrur

Daftar Sumber

  • Sayuti dalam bukunya yang berjudul Ilmju Tajwid Lengkap Tim Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. Pedoman Tajwid Warna. Kemenag RI (2010).
  • Zulkarnaini Umar, Panduan Ilmu Tajwid Praktis, Universitas Islam Riau 2020.
  • Kemenag RI, Al-Qur'an dan Terjemahnya.