Tuntunan Shalat Idul Fitri, Ibadah Puncak Hari Kemenangan Umat Islam

Pelajari tata cara shalat Idul Fitri lengkap dengan niat, amalan sunnah, dan waktu pelaksanaannya agar ibadah di hari kemenangan semakin bermakna.

Diterbitkan 04 Juli 2025, 11:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Hari Raya Idul Fitri adalah momen istimewa yang ditunggu-tunggu oleh seluruh umat Islam setelah menunaikan ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadan. Di hari yang penuh sukacita ini, umat Muslim merayakannya dengan berbagai tradisi yang khas, mulai dari berkumpul bersama keluarga, berbagi hidangan, hingga melaksanakan shalat Idul Fitri secara berjamaah.

Shalat Idul Fitri merupakan bagian dari rangkaian ibadah yang sangat dianjurkan dan menjadi simbol syukur atas kemenangan spiritual. Umat Muslim dari berbagai kalangan berkumpul di masjid maupun lapangan terbuka, mengenakan pakaian terbaik, dan menyambut hari yang fitri dengan penuh suka cita. Suasana kebersamaan dan semangat saling memaafkan terasa begitu kuat dalam pelaksanaan ibadah ini.

Namun, agar pelaksanaannya semakin bermakna dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW, penting bagi kita untuk memahami secara utuh apa itu shalat Idul Fitri, bagaimana hukumnya, tata cara pelaksanaannya, serta sunnah-sunnah yang dianjurkan pada hari tersebut. Berikut ulasan Liputan6.com, Jumat (4/7/2025).

Pengertian Shalat Idul Fitri

Shalat Idul Fitri adalah shalat sunnah dua rakaat yang dilaksanakan pada pagi hari tanggal 1 Syawal, setelah umat Islam menunaikan puasa Ramadan selama sebulan penuh. Shalat ini biasanya dilakukan secara berjamaah di masjid atau lapangan terbuka.

Menurut buku Panduan Muslim Sehari-hari oleh Dr. KH. M. Hamdan Rasyid, MA., dan Saiful Hadi El-Sutha (2016), shalat Idul Fitri bukan sekadar ritual, melainkan lambang keberhasilan spiritual umat Islam dalam menyelesaikan ibadah puasa dan bentuk syukur kepada Allah SWT. Ibadah ini juga menjadi momen penting untuk mempererat ukhuwah dan saling memaafkan.

Hukum Shalat Idul Fitri

Shalat Idul Fitri memiliki hukum sunnah muakkadah, yaitu sangat dianjurkan. Ini berdasarkan banyak hadis dan praktik Rasulullah SAW yang secara rutin melaksanakannya. Dalam riwayat HR. Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa Rasulullah SAW keluar ke tempat terbuka untuk melaksanakan shalat Id, diikuti oleh para sahabat dan seluruh kaum Muslimin, termasuk perempuan dan anak-anak.

Imam Syafi’i dan mayoritas ulama fiqih juga menyebutkan bahwa hukum shalat Idul Fitri adalah sunnah muakkadah bagi laki-laki dan perempuan, baik muda, tua, maupun musafir.

Tata Cara Shalat Idul Fitri

1. Membaca Niat Salat Idul Fitri

أُصَلِّي سُنَّةً لعِيْدِ اْلفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) لِلّٰهِ تَعَــالَى

Ushallî sunnatan li 'îdil fithri rak'ataini (imâman/ma'mûman) lillahi ta'ala

Artinya: "Saya niat shalat sunnah Idul Fitri dua rakaat (menjadi makmum/imam) karena Allah ta'ala"

Apabila menjadi imam, detikers melafalkan "imâman" dalam niat dan "ma'mûman" jika menjadi makmum.

2. Melakukan Takbiratul Ihram

3. Membaca Doa Iftitah

4. Takbir Sebanyak 7 kali (Rakaat Pertama)

Setelah takbiratul ihram dan membaca doa iftitah, selanjutnya melakukan takbir sebanyak tujuh kali. Di sela-sela setiap takbir dianjurkan untuk membaca:

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Allaahu akbar kabiraa walhamdulillaahi katsiiraa, wa subhaanallaahi bukratan wa'ashiilaa"

Artinya: "Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Maha Suci Allah, baik waktu pagi dan petang"

Atau bisa juga membaca tasbih berikut ini:

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَلاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

Subhanallah walhamdulillah wala ilaaha illallahu wallahu akbar wala haulawala quwwata illa billahil 'aliyyil 'adzim

Artinya: "Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, Allah maha besar."

5. Membaca Al-Fatihah dan Surat Pendek

Setelah takbir sebanyak tujuh kali, rukun selanjutnya adalah membaca Al-Fatihah dilanjutkan dengan bacaan surat pendek seperti salat fardhu dan sunah umumnya. Pada solat Id rakaat pertama dianjurkan untuk membaca Surat Al-A'la.

6. Ruku' Hingga Berdiri Lagi

Rukun selanjutnya setelah selesai membaca surat pendek sama seperti pelaksanaan salat fardhu dan sunah lainnya. Salat dilanjutkan dengan ruku', sujud, duduk di antara dua sujud, dan seterusnya hingga berdiri untuk rakaat kedua. Untuk bacaannya pun sama seperti bacaan salat biasanya.

7. Takbir Lima Kali (Rakaat Kedua)

Pada rakaat kedua, melakukan takbir sebanyak lima kali. Bacaan yang dilafalkan di sela-sela takbir sama seperti pada rakaat pertama.

8. Mengulangi Rukun Seperti Rakaat Pertama

Setelah melakukan takbir sebanyak lima kali, rukun salat Id selanjutnya sama seperti pada rakaat pertama mulai dari membaca al-Fatihah, ruku', sujud, hingga salam. Pada rakaat kedua, disarankan untuk membaca Surat urat al-Ghâsyiyah.

 

Sunah Saat Idul Fitri

Idul Fitri bukan sekadar momen untuk bergembira setelah sebulan berpuasa, namun juga kesempatan untuk menghidupkan sunnah-sunnah Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk rasa syukur dan pengagungan kepada Allah SWT. Berbagai amalan sunnah yang dilakukan pada hari raya ini bertujuan untuk menyempurnakan ibadah serta menghidupkan syiar Islam dalam suasana penuh suka cita.

Berikut adalah sunnah-sunnah yang dianjurkan saat Idul Fitri.

1. Mandi dan Menyucikan Diri

Disunnahkan bagi setiap Muslim untuk mandi sebelum berangkat shalat Idul Fitri, sebagaimana riwayat dari Ibnu Abbas RA:

"Rasulullah SAW biasa mandi pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha." (HR. Ibnu Hibban)

Hal ini menunjukkan pentingnya menjaga kebersihan dan tampil dalam keadaan suci untuk menyambut hari raya. Mandi ini dianjurkan dilakukan setelah fajar dan sebelum berangkat ke tempat shalat.

2. Berhias dan Memakai Pakaian Terbaik

Memakai pakaian terbaik adalah bagian dari sunnah Rasulullah SAW saat Idul Fitri. Ini termasuk memakai baju terbaik (tidak harus baru), memakai wewangian, dan merapikan diri.

Imam Ibnul Qayyim berkata: "Nabi SAW keluar untuk shalat Idul Fitri dan Idul Adha dengan memakai pakaian terbaiknya."

Namun perlu diingat, khusus bagi perempuan, berhias tetap harus sesuai syariat: tidak menampakkan aurat dan tidak memikat perhatian laki-laki yang bukan mahramnya. (Lihat: Asna al-Mathalib, Juz 1, hal. 281 oleh Syekh Zakariyya al-Anshari)

3. Makan Sebelum Shalat Idul Fitri

Berbeda dari Idul Adha, di hari Idul Fitri disunnahkan makan terlebih dahulu sebelum berangkat shalat, agar jelas bahwa puasa Ramadhan telah berakhir.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA:

"Rasulullah SAW tidak keluar (untuk shalat Idul Fitri) sebelum beliau makan beberapa butir kurma, dan beliau memakannya dalam jumlah ganjil." (HR. Bukhari dan Ahmad)

Ini menjadi tanda kebahagiaan karena telah selesai menunaikan puasa, dan menunjukkan bahwa pada hari tersebut diharamkan berpuasa.

4. Bertakbir di Malam dan Pagi Hari Raya

Takbir adalah syiar khas Idul Fitri. Dianjurkan mulai dari malam terakhir Ramadhan hingga shalat Id dimulai, berdasarkan firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 185:

"Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangan (puasa Ramadhan) dan hendaklah kamu bertakbir memuji Allah atas petunjuk-Nya..."

Ada dua jenis takbir:

  • Takbir mursal (bebas): sejak malam 1 Syawal hingga sebelum shalat.
  • Takbir muqayyad (terikat): biasanya dilakukan setelah shalat (meski dalam Idul Fitri pendapat paling kuat menyebut tidak dilakukan setelah shalat Id, kecuali di Idul Adha).

5. Berjalan Kaki Menuju Tempat Shalat

Disunnahkan untuk berjalan kaki ke tempat pelaksanaan shalat Id, apabila mampu. Hal ini menunjukkan kerendahan hati dan semangat menyambut hari kemenangan.

Dari Jabir bin Abdullah RA:

"Nabi SAW jika hari raya Id, beliau melewati jalan yang berbeda saat pergi dan pulang." (HR. Bukhari)

Tujuannya adalah untuk memperbanyak silaturahmi dan menebarkan salam serta syiar Islam kepada lebih banyak orang.

6. Mengambil Jalan yang Berbeda Saat Pergi dan Pulang

Sebagaimana disebutkan dalam hadits sebelumnya, disunnahkan mengambil jalan berbeda saat berangkat dan pulang dari tempat shalat Id. Hal ini mengandung makna:

  • Menampakkan syiar Islam.
  • Menambah pahala dengan menyaksikan lebih banyak orang.
  • Menyebarkan salam kepada lebih banyak umat.

7. Mendengarkan Khutbah Idul Fitri

Meskipun tidak wajib, disunnahkan untuk tetap mendengarkan khutbah Idul Fitri setelah shalat, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW.

Dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah:

"Sunnahnya adalah seorang imam berkhutbah dua kali pada shalat Hari Raya, dan memisahkan antara keduanya dengan duduk." (HR. Asy-Syafi’i)

Khutbah ini biasanya berisi pesan-pesan tentang makna hari raya, pentingnya silaturahmi, serta menjaga semangat ibadah pasca-Ramadhan.

8. Memberi Ucapan Selamat (Tahniah)

Memberikan ucapan selamat seperti "Taqabbalallahu minna wa minkum" atau "Minal Aidin wal Faizin" adalah kebiasaan yang dilakukan sejak zaman sahabat, dan diperbolehkan bahkan disunnahkan menurut banyak ulama.

Dalam kitab Sunan al-Baihaqi, Imam Baihaqi mencantumkan beberapa riwayat tentang ucapan tahniah hari raya. Meskipun sanadnya lemah, kumpulan riwayat itu bisa dijadikan dalil dalam masalah fadhailul a'mal (keutamaan amal).

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami menyimpulkan bahwa tahniah hukumnya syar’i dan tidak bid’ah.

9. Mengunjungi Sahabat dan Sanak Keluarga

Menjaga silaturahmi adalah bagian dari sunnah Rasulullah SAW di hari raya. Beliau mengunjungi sahabat-sahabatnya dan saling mendoakan.

Bahkan Aisyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW menemaninya menyaksikan pertunjukan tombak dan tameng, menunjukkan bolehnya bergembira dan menikmati hiburan yang tidak melanggar syariat saat hari raya. (HR. Ahmad, Bukhari, Muslim)

10. Menampakkan Kebahagiaan dan Keceriaan

Hari raya adalah hari gembira. Maka, menampakkan kegembiraan, saling berbagi hadiah, saling memberi makanan, dan menghiasi rumah termasuk bagian dari sunnah.

Sebagaimana disebutkan dalam buku How Did the Prophet & His Companions Celebrate Eid?, Rasulullah SAW dan para sahabat merayakan Idul Fitri dengan penuh suka cita, namun tetap dalam koridor syariat.

FAQ Seputar Shalat Idul Fitri

1. Apakah shalat Idul Fitri bisa dilakukan sendiri di rumah?

Ya, jika tidak memungkinkan berjamaah di masjid atau lapangan, shalat Idul Fitri bisa dilakukan sendiri dengan tetap mengikuti tata cara yang disunnahkan.

2. Bolehkah perempuan menghadiri shalat Idul Fitri di lapangan?

Boleh. Dalam banyak hadis disebutkan bahwa perempuan juga dianjurkan hadir dalam shalat Id, dengan tetap menjaga syariat.

3. Bagaimana jika tidak sempat mendengar khutbah?

Khutbah bukan rukun shalat, tetapi sunnah yang sangat dianjurkan. Jika tidak sempat, shalatnya tetap sah.

4. Apa waktu terbaik melaksanakan shalat Idul Fitri?

Setelah matahari naik setinggi tombak (+3 meter dalam pandangan mata), sekitar pukul 07.00–08.00 pagi.

5. Apakah wajib membaca Surah Al-A’la dan Al-Ghasiyah saat shalat Id?

Tidak wajib, tetapi disunnahkan berdasarkan kebiasaan Rasulullah SAW.