Bacaan Al-Fajr Ayat 1-30: Tafsir Lengkap, Nama Surat, dan Cara Meneladani

Pelajari bacaan Al-Fajr ayat 1-30 lengkap dengan tafsir nama surat, makna ayat, hingga cara meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari.

Diterbitkan 01 Juli 2025, 16:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Al-Qur'an adalah pedoman hidup bagi umat Muslim. Di dalamnya terdapat surat-surat yang mengandung pesan mendalam, salah satunya adalah Surat Al-Fajr

Surah Al Fajr dibuka dengan lima sumpah, di antaranya “فَجْرٍ” (fajar/dawn) dan “وَلَيَالٍ عَشْرٍ” (lima atau sepuluh malam). Menurut Al Tafsir al Muyassar, disusun oleh para ulama di bawah arahan Syaikh Saalih Aal al Syaikh (Arab Saudi, 2023), sumpah ini mengajak manusia untuk merenung: apakah ada nilai pelajaran bagi orang yang berakal?

Mereka menjelaskan bahwa “al fajr” merepresentasikan kilatan cahaya yang menembus kegelapan, sama seperti awal kehidupan spiritual yang harus dimulai dengan kesadaran ilahi.

Berikut Liputan6.com ulas lengkapnya, Selasa (1/7/2025).

Bacaan Al-Fajr Ayat 1-30: Arab, Latin, dan Terjemahan

Sebelum membahas lebih jauh tentang tafsir dan cara meneladani Surat Al-Fajr, penting untuk mengetahui bacaan lengkap ayat 1-30. Melansir dari Al-Qur’an Online Kementerian Agama Republik Indonesia atau Kemenag RI, berikut adalah bacaan Surat Al-Fajr:

Surat Al-Fajr adalah surat ke-89 dalam Al-Qur'an dan terdiri dari 30 ayat. Surat ini termasuk dalam golongan surat Makkiyah, yang berarti diturunkan di Mekkah sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah.

Membaca dan memahami surat ini memiliki banyak keutamaan, salah satunya adalah dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, melansir dari Kemenag RI.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

وَالْفَجْرِۙ

wal-fajr

Artinya : "Demi fajar,"

وَلَيَالٍ عَشْرٍۙ

wa layālin 'asyr

Artinya : "demi malam yang sepuluh,"

وَّالشَّفْعِ وَالْوَتْرِۙ

wasy-syaf'i wal-watr

Artinya : "demi yang genap dan yang ganjil,"

وَالَّيْلِ اِذَا يَسْرِۚ

wal-laili iżā yasr

Artinya : "demi malam apabila berlalu."

هَلْ فِيْ ذٰلِكَ قَسَمٌ لِّذِيْ حِجْرٍۗ

hal fī żālika qasamul liżī ḥijr

Artinya : "Adakah pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) bagi orang-orang yang berakal?"

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍۖ

a lam tara kaifa fa'ala rabbuka bi'ād

Artinya : "Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap (kaum) ‘Ad?"

اِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِۖ

irama żātil-'imād

Artinya : "(yaitu) penduduk Iram (ibukota kaum ‘Ad) yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi,"

الَّتِيْ لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِى الْبِلَادِۖ

allatī lam yukhlaq miṡluhā fil-bilād

Artinya : "yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain,"

وَثَمُوْدَ الَّذِيْنَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِۖ

wa ṡamụdallażīna jābuṣ-ṣakhra bil-wād

Artinya : "dan (terhadap) kaum samud yang memotong batu-batu besar di lembah,"

وَفِرْعَوْنَ ذِى الْاَوْتَادِۖ

wa fir'auna żil-autād

Artinya : "dan (terhadap) Fir‘aun yang mempunyai pasak-pasak (bangunan yang besar),"

الَّذِيْنَ طَغَوْا فِى الْبِلَادِۖ

allażīna ṭagau fil-bilād

Artinya : "yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri,"

فَاَكْثَرُوْا فِيْهَا الْفَسَادَۖ

fa akṡarụ fīhal-fasād

Artinya : "lalu mereka banyak berbuat kerusakan dalam negeri itu,"

فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍۖ

fa ṣabba 'alaihim rabbuka sauṭa 'ażāb

Artinya : "karena itu Tuhanmu menimpakan cemeti azab kepada mereka,"

اِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِۗ

inna rabbaka labil-mirṣād

Artinya : "sungguh, Tuhanmu benar-benar mengawasi."

فَاَمَّا الْاِنْسَانُ اِذَا مَا ابْتَلٰىهُ رَبُّهٗ فَاَكْرَمَهٗ وَنَعَّمَهٗۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْٓ اَكْرَمَنِۗ

fa ammal-insānu iżā mabtalāhu rabbuhụ fa akramahụ wa na''amahụ fa yaqụlu rabbī akraman

Artinya : "Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, "Tuhanku telah memuliakanku."

وَاَمَّآ اِذَا مَا ابْتَلٰىهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهٗ ەۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْٓ اَهَانَنِۚ

wa ammā iżā mabtalāhu fa qadara 'alaihi rizqahụ fa yaqụlu rabbī ahānan

Artinya : "Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Tuhanku telah menghinaku."

كَلَّا بَلْ لَّا تُكْرِمُوْنَ الْيَتِيْمَۙ

kallā bal lā tukrimụnal-yatīm

Artinya : "Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim,"

وَلَا تَحٰۤضُّوْنَ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۙ

wa lā tahāḍḍụna 'alā ṭa'āmil-miskīn

Artinya : "dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin,"

وَتَأْكُلُوْنَ التُّرَاثَ اَكْلًا لَّمًّاۙ

wa ta`kulụnat-turāṡa aklal lammā

Artinya : "sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang haram),"

وَّتُحِبُّوْنَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّاۗ

wa tuḥibbụnal-māla ḥubban jammā

Artinya : "dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan."

كَلَّآ اِذَا دُكَّتِ الْاَرْضُ دَكًّا دَكًّاۙ

kallā iżā dukkatil-arḍu dakkan dakkā

Artinya : "Sekali-kali tidak! Apabila bumi diguncangkan berturut-turut (berbenturan),"

وَّجَآءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّاۚ

wa jā`a rabbuka wal-malaku ṣaffan ṣaffā

Artinya : "dan datanglah Tuhanmu; dan malaikat berbaris-baris,"

وَجِايْۤءَ يَوْمَىِٕذٍۢ بِجَهَنَّمَۙ يَوْمَىِٕذٍ يَّتَذَكَّرُ الْاِنْسَانُ وَاَنّٰى لَهُ الذِّكْرٰىۗ

wa jī`a yauma`iżim bijahannama yauma`iżiy yatażakkarul-insānu wa annā lahuż-żikrā

Artinya : "dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahanam; pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu."

يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِيْ قَدَّمْتُ لِحَيَاتِيْۚ

yaqụlu yā laitanī qaddamtu liḥayātī

Artinya : "Dia berkata, "Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini."

فَيَوْمَىِٕذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهٗٓ اَحَدٌ ۙ

fa yauma`iżil lā yu'ażżibu 'ażābahū aḥad

Artinya : "Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang mengazab seperti azab-Nya (yang adil),"

وَّلَا يُوْثِقُ وَثَاقَهٗٓ اَحَدٌ ۗ

wa lā yụṡiqu waṡāqahū aḥad

Artinya : "dan tidak ada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya."

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ

yā ayyatuhan-nafsul-muṭma`innah

Artinya : "Wahai jiwa yang tenang!"

ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ

irji'ī ilā rabbiki rāḍiyatam marḍiyyah

Artinya : "Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya."

فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ

fadkhulī fī 'ibādī

Artinya : "Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku,"

وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْࣖ

wadkhulī jannatī

Artinya : "dan masuklah ke dalam surga-Ku."

Tafsir Nama Surat Al-Fajr: Makna Mendalam di Balik Fajar

Surat Al Fajr memiliki arti Fajar yang diambil dari ayat pertama. Hal tersebut dijelaskan dalam buku Tafsir Juz Amma yang ditulis oleh Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi (2019:699). Diambil dari buku tersebut, perhatian Al-Quran Al-Karim terhadap zaman atau waktu terlihat dengan adanya sumpah dengan waktu fajar dalam surat Al Fajr.

Fajar sendiri merupakan waktu yang istimewa dalam Islam. Ini adalah waktu dimulainya ibadah shalat Subuh, waktu di mana Allah SWT memberikan keberkahan dan kesempatan bagi hamba-Nya untuk memulai hari dengan kebaikan.

Nama Al-Fajr mengingatkan kita akan pentingnya memulai segala sesuatu dengan niat yang baik dan mengharapkan ridha Allah SWT.

Al Fajr merupakan surat ke-89 dan juz 30 dalam Al-Quran. Surat Al Fajr termasuk dalam golongan ayat Makkiyah yang turun di kota Mekkah setelah surat Al Lail. Inilah bacaan surat Al Fajr ayat 1-30 Arab, tulisan latin dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Dengan memahami makna nama surat Al-Fajr, diharapkan kita semakin termotivasi untuk memanfaatkan waktu fajar dengan sebaik-baiknya. Mengisi waktu fajar dengan ibadah, dzikir, dan kegiatan positif lainnya akan membawa keberkahan dalam hidup kita.

Tafsir Surat Al-Fajr: Peringatan dan Kabar Gembira

Surat Al-Fajr mengandung berbagai macam tafsir yang mendalam. Banyak mufassir klasik menafsirkan “لَيَالٍ عَشْرٍ” sebagai rujukan pada sepuluh malam besar, entah itu sepuluh hari pertama Dzulhijjah maupun sepuluh malam terakhir Ramadan.

Tafsir Ibn Kathir menyebut bahwa para sahabat seperti Ibn Abbas, Ibn Zubayr, dan Mujahid menafsirkan lima malam ini sebagai sepuluh hari pertama Dzulhijjah—masa utama amalan haji dan qurban.

Surat ini memberikan peringatan kepada manusia tentang azab Allah SWT yang sangat pedih. Allah SWT menceritakan kisah kaum-kaum terdahulu yang durhaka kepada-Nya, seperti kaum 'Ad, kaum Tsamud, dan Fir'aun. Mereka adalah kaum yang diberi kekuatan dan kemewahan, tetapi mereka justru menggunakan nikmat tersebut untuk berbuat kerusakan di muka bumi.

Surah ini melanjutkan peringatan terhadap umat umat terdahulu (ʿĀd, Tsamud, dan Fir‘aun) yang hancur karena kesombongan dan korupsi. Tafsir ayat 27–30 oleh Imam Reza (Ahlul Bait) menegaskan bahwa pada hari kiamat roh yang damai (“رَاضِيَةً مَرْضِيَةً”) akan masuk ke syurga; ini menunjukkan hubungan antara narasi Al Fajr dan konsep maqam ruhani setelah mati .

Selain memberikan peringatan, Surat Al-Fajr juga memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa.

Di akhir surat, Allah SWT menjanjikan surga bagi mereka yang memiliki jiwa yang tenang dan kembali kepada-Nya dengan hati yang ridha dan diridhai. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa beriman kepada Allah SWT, beramal saleh, dan menjauhi segala larangan-Nya.

Dengan memahami tafsir Surat Al-Fajr, diharapkan muslim semakin takut kepada azab Allah SWT dan semakin termotivasi untuk beriman dan bertakwa kepada-Nya. 

Cara Meneladani Surat Al-Fajr dalam Kehidupan Sehari-hari

Setelah memahami makna dan tafsir Surat Al-Fajr, langkah selanjutnya adalah mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari.

Meneladani Surat Al-Fajr berarti berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik, yang senantiasa beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, serta bermanfaat bagi sesama.

Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk meneladani Surat Al-Fajr. Beberapa di antaranya adalah dengan bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah SWT, bersabar dalam menghadapi ujian, memuliakan anak yatim, berbagi kepada orang miskin, menghindari perilaku zalim, menjaga diri dari cinta harta yang berlebihan, bertaubat dan memohon ampun, serta menjaga keimanan dan ketakwaan.

Dengan meneladani Surat Al-Fajr, diharapkan dapat meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Muslim akan menjadi pribadi yang dicintai oleh Allah SWT dan sesama manusia, serta mendapatkan tempat yang mulia di sisi-Nya.

  1. Bersyukur atas nikmat Allah SWT
  2. Bersabar dalam menghadapi ujian
  3. Memuliakan anak yatim
  4. Berbagi kepada orang miskin
  5. Menghindari perilaku zalim
  6. Menjaga diri dari cinta harta yang berlebihan
  7. Bertaubat dan memohon ampun
  8. Menjaga keimanan dan ketakwaan
  9. Membaca Al-Quran secara rutin
  10. Mendirikan shalat
  11. Berpuasa
  12. Membayar zakat
  13. Menunaikan ibadah haji (bagi yang mampu)
  14. Berbuat baik kepada kedua orang tua
  15. Menjalin silaturahmi
  16. Menjaga lisan dari perkataan yang buruk
  17. Menjaga pandangan dari hal-hal yang haram

FAQ

Berikut adalah beberapa pertanyaan umum seputar surat Al-Fajr yang sering diajukan:

1. Apa arti dari nama surat Al-Fajr?

"Al-Fajr" berarti "waktu fajar" atau "subuh", merujuk pada sumpah Allah di awal surat.

2. Mengapa surat Al-Fajr disebut sebagai surat Makkiyah?

Karena diturunkan di Makkah sebelum hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah.

3. Apa saja kisah kaum-kaum terdahulu yang diceritakan dalam surat Al-Fajr?

Kaum ‘Ād, Tsamūd, dan Fir‘aun disebut sebagai contoh umat yang dibinasakan karena kesombongan.

4. Apa pesan utama yang terkandung dalam surat Al-Fajr?

Peringatan agar tidak lalai terhadap kekayaan dan kekuasaan, serta ajakan kembali pada jiwa yang tenang.

5. Bagaimana cara mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam surat Al-Fajr dalam kehidupan sehari-hari?

Dengan rendah hati, bersyukur atas nikmat, adil terhadap sesama, dan menjaga hubungan spiritual dengan Allah.

6. Apa keutamaan membaca surat Al-Fajr?

Mendapat pelajaran tentang sikap hidup yang benar dan janji surga bagi jiwa yang tenang di akhir ayat.

7. Di mana saya dapat menemukan tafsir surat Al-Fajr yang lengkap dan terpercaya?

Bisa di situs resmi tafsirweb.com, quran.kemenag.go.id, atau buku Tafsir Al-Muyassar dan Tafsir Ibn Katsir.