Sukses

Pentingnya Tetap Jaga Kesehatan Kulit saat Ramadhan, Simak Tipsnya Ala Dokter Rayendra

Liputan6.com, Jakarta - Saat Ramadhan, penting juga bagi kita untuk tetap merawat kulit. Dokter Raendi Rayendra pun mengajak warga untuk dapat melakukan hidup sehat.

Menurut dia, menjaga asupan di bulan Ramadhan menjadi kunci membuat kulit tampak lebih cerah saat Lebaran nanti. Kata Rayendra, pada prinsipnya jumlah cairan yang dibutuhkan tubuh saat Ramadhan sama seperti hari-hari lainnya.

"Kita harus minum air kurang lebih 2 liter per hari. Artinya, kurang lebih 8 gelas per hari. Saat sahur dan berbuka kita harus mencukupi asupan air terlebih dahulu," ujar Rayendra melalui keterangan tertulis, Jumat (31/3/2023).

Owner Rayendra Dermatology & Aesthetic Center itu mengatakan, selain mempertahankan asupan cairan, masyarakat disarankan mengonsumsi buah-buahan dan sayuran. Kedua makanan ini penting karena memberikan nutrisi yang cukup dan bisa melembabkan kulit.

Namun, ada beberapa tips lain yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan kulit selama Ramadan. Dokter Rayendra menyarankan untuk menghindari mandi menggunakan air terlalu hangat dan sabun mandi antiseptik yang dapat membuat kulit kering.

"Selain itu, selalu gunakan pelembab atau moisturizer yang tidak wangi dan mengandung ceramide agar kulit tetap terjaga kelembabannya," papar alumni Universitas Padjajaran (Unpad) ini.

"Dengan menjaga asupan cairan dan merawat kulit dengan benar selama Ramadan, diharapkan kulit bisa tetap terjaga kelembabannya dan tampak lebih glowing serta sehat menjelang Idul Fitri nanti," jelas Rayendra.

Sebelumnya, selain faktor lingkungan seperti paparan sinar matahari dan polusi, kebiasaan makan kita juga berdampak signifikan pada penampilan dan kulit kita.

Perubahan pola makan dapat mencegah jerawat, kanker kulit, atau bahkan penuaan kulit dan puasa Ramadhan untuk meningkatkan kesehatan kulit menjadi tren saat ini.

Lantas apakah berpuasa memengaruhi kulit kita?

Penelitian pun telah dilakukan tentang cara kerja puasa dan apa yang dikatakan para praktisi dan profesional tentang tren baru yang berkembang ini.

Dilansir dari Brightside, berikut ini deretan hal yang akan terjadi pada kulit ketika Anda berpuasa:

2 dari 4 halaman

Puasa Mengurangi Asupan Kalori dan Mendetoksifikasi Tubuh Anda

Gagasan yang mendasari praktik puasa menunjukkan bahwa tubuh mendetoksifikasi dirinya sendiri karena ada penurunan konsumsi kalori harian Anda. Ini, pada gilirannya, menyebabkan penurunan kadar kolesterol dan trigliserida dalam tubuh Anda.

Studi terbaru mengeksplorasi manfaat metode ini pada pasien dengan penyakit radang (seperti dermatitis atopik) dengan hasil yang sangat positif dan peningkatan yang cukup besar setelah melakukan berbagai jenis diet, termasuk puasa.

Puasa Bisa Menurunkan Risiko Kanker Kulit

Studi lain mengenai efek puasa tampaknya menunjukkan bahwa puasa dapat membantu mengurangi risiko kanker kulit atau jenis kanker lainnya.

Ternyata, puasa juga bisa membantu mengurangi penyebaran sel kanker. Namun, penelitian ini baru dilakukan pada tikus saat ini. Tapi itu memberikan hasil yang menggembirakan karena para ilmuwan melihat jumlah sel induk hematopoietik (HSC) tumbuh.

Sel-sel inilah yang bertanggung jawab untuk menciptakan sel-sel darah baru. Fakta bahwa terdapat lebih banyak HSC dan sel darah secara umum berarti, dalam jangka panjang, sistem kekebalan dapat melawan kanker dengan lebih efisien.

Upaya telah dilakukan untuk mengekstrapolasi hasil penelitian ini ke manusia, namun sejauh ini belum ada yang mencapai kesimpulan yang didukung oleh komunitas ilmiah.

 

3 dari 4 halaman

Menjaga Kesehatan Kulit dengan Skin Fasting

Skin fasting atau puasa kulit adalah tren baru yang mendapatkan lebih banyak pengikut dalam beberapa waktu belakangan. Praktik ini tidak banyak berhubungan dengan diet atau makanan, selain berbagi nama.

Sebaliknya, ini dilakukan dengan berhenti menggunakan begitu banyak produk dengan bahan kimia dalam rutinitas perawatan kulit harian Anda dan diamkan selama beberapa hari atau minggu. Ini bisa dibilang semacam detoksifikasi untuk kulit.

Teori yang mendukung metode pembersihan ini adalah kulit menghasilkan lemaknya sendiri, yang mencegah hilangnya kelembapan alami. Meski tidak ada bukti ilmiah yang mendukung praktik ini, banyak orang yang menganutnya.

Namun, ada sesuatu yang harus kita perjelas. Satu-satunya hal yang tidak boleh kita hentikan selama periode detoksifikasi ini atau bahkan dalam hal ini adalah sunscreen atau tabir surya.

 

4 dari 4 halaman

Dehidrasi Selama Puasa Bisa Timbulkan Masalah Kulit Lainnya, Apa Kiat Mengatasinya?

Berbagai masalah kulit bisa terjadi saat sedang berpuasa, mayoritas orang biasanya mengalami dehidrasi atau kulit terasa kering yang efeknya bisa membawa permasalahan lain. Sementara kondisi kulit tersebut bisa ikut memengaruhi kepercayaan diri seseorang, maka harus dicari solusinya.

Cissylia Stefani Van Leeuwen, Brand Director BASE, mengungkapkan bahwa puasa memiliki efek pada kesehatan fisik dan kesehatan kulit. Menurutnya, kesehatan kulit penting sekali tapi sering terabaikan.

"Kita udah survei ke BFF kita, ke komunitas kita, ke media sosial kita juga, apa sih nomor satu masalah kalau kesehatan kulit? Ketika Ramadhan tuh pasti 85 persen lebih itu jawabnya dehidrasi," kata Cissylia saat Intimate Gathering yang digelar pada Rabu, 15 Maret 2023 di Silk Bistro, Jakarta Pusat.

Ia menyambung, saat dehidrasi terjadi biasanya terjadi rentetan problem lain misalnya kulit ikut kusam, gatal-gatal, menjadi mudah teriritasi, jerawatan, sehingga menjadi tidak nyaman. Ratih Permata Sari, Co-Founder BASE, mengonfirmasi bahwa kulit kering adalah masalah utama saat berpuasa.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.