Survei: Prabowo Diprediksi Menang Pilpres Satu Putaran

Selain itu, dalam survei itu juga diungkapkan 3 alasan Prabowo dan cawapresnya akan jadi juara pada pilpres nanti.

Diterbitkan 10 Mei 2014, 01:19 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Usai pileg digelar, sejumlah capres bergerilya membangun koalisi dan menentukan cawapres dalam menghadapi Pilpres 9 Juli 2014. Penentuan cawapres yang tepat dianggap menjadi rumus politik yang dapat mempertahankan elektabiltas capres tertentu.

Meski begitu, menurut Lembaga Survei dan Polling Indonesia (SPIN), siapa pun cawapres yang akan mendampingi capres Prabowo Subianto, akan tetap mengantarkannya ke Istana.

"Siapa pun cawapres pendamping Prabowo Subianto sebagai capres nanti dalam Pilpres 9 Juli 2014 diprediksi bisa menang satu putaran," ungkap Direktur Eksekutif SPIN, Igor Dirgantara dalam paparannya di Jakarta, Jumat (9/5/2014).

Igor menjelaskan, dalam hasil surveinya tersebut menunjukkan bila Prabowo berpasangan dengan Ketua Umum PAN Hatta Rajasa (Prabowo-Hatta) akan mendapat persentase tertinggi sebesar  20,1%, disusul oleh Prabowo-Aburizal (Prabu) 19,2%, Prabowo-Kalla (Prala) 18,3%, Prabowo-Mahfud (Pramah) 16,9%. Sedangkan Prabowo-Dahlan Iskan (Pradis) 14,5%, dan Prabowo-Aher (Praher) 11%.

"Pasangan 3 teratas, yakni Prabowo-Hatta (Prahatta), Prabowo-Aburizal (Prabu), dan Prabowo-Kalla (Prala), memenuhi syarat komposisi ideal dari aspek Jawa-non Jawa, sipil-militer, dan eligibilitas presidential threshold," ungkapnya.

Menurut Igor, ada 3 alasan kenapa Prabowo dan cawapresnya akan juara pada Pilpres nanti. Pertama, perolehan suara Gerindra melonjak drastis (12 %) dibanding hasil Pemilu 2009 (4,4%).  PDIP yang pada 2009 mendapat 14 % suara, sekarang diprediksi mendapat 19% suara berdasarkan hasil hitung cepat beberapa lembaga survei.

"Perolehan suara Partai Gerindra melonjak mendekati 170 persen, sedangkan PDIP cuma naik 35 persen bila dibandingkan dengan hasil Pemilu 2009. Artinya, Prabowo dianggap lebih mampu mendongkrak perolehan suara Gerindra, dibanding efek jokowi terhadap PDIP pada Pileg 9 April 2014," tuturnya.

Sekarang ini lanjut Igor, Jokowi mengalami penurunan elektabilitas. Sementara Prabowo merambat naik, dan ARB cenderung stagnan.

Sedangkan alasan kedua, kata Igor, salah satu alasan parpol berkoalisi adalah kalkulasi dari kemenangan yang mungkin diraih dari komposisi jitu pasangan capres-cawapres yang diusung, effektivitas strategi komunikasi, pilihan isu dan program yang tepat, serta bekerjanya mesin parpol pendukung secara maksimal.

"Prabowo dinilai unggul pada sisi elektabilitas yang terus meningkat, tingginya soliditas Partai Gerindra, isu dan program pro-rakyat, serta efektivitas tim komunikasinya," jelasnya.

Untuk alasan ketiga karena menurutnya, semakin luasnya dukungan (deklarasi) terhadap pencapresan mantan Danjen Kopassus itu, mulai dari pengusaha, buruh, mahasiswa, akademisi sampai pengusaha. "Bahkan ada sejumlah relawan dari kompetitornya yang sekarang beralih menjadi pendukung Prabowo," imbuhnya.

Survei ini dilakukan pasca-pileg tanggal 15-30 April 2014, melibatkan 1.070 responden berusia 17 tahun ke atas yang tersebar di 33 provinsi dengan metode multistage random sampling. Margin of error 3 persen disertai tingkat kepercayaan 95 persen. Survei SPIN didanai secara mandiri dan bukan hasil resmi dari KPU. (Rinaldo)