Liputan6.com, Jakarta - Hari Pangan Sedunia: isu ketahanan pangan menjadi perhatian global setiap 16 Oktober. Peringatan ini mengajak masyarakat memahami pentingnya akses terhadap pangan bergizi, aman, dan terjangkau bagi semua orang di tengah meningkatnya tantangan pangan dunia.
Ketahanan pangan menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim, konflik, kenaikan harga, hingga distribusi yang tidak merata. Di Indonesia, alih fungsi lahan, ketergantungan pada beras, serta tingginya limbah makanan turut memengaruhi ketersediaan pangan.
Upaya menjaga ketahanan pangan dapat dilakukan melalui diversifikasi makanan, penerapan teknologi pertanian berkelanjutan, pengurangan limbah makanan, dan dukungan terhadap petani lokal. Langkah ini penting untuk membangun sistem pangan yang lebih kuat dan berkelanjutan. Berikut penjelasannya tentang Hari Pangan Sedunia 2026, Liputan6.com, Kamis (15/10/2026).
Advertisement
Memahami Isu Ketahanan Pangan Global
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5574809/original/094769300_1777980786-Daun_Kecipir__Tanpa_Maintenance__Tahan_Lama.jpg)
Ketahanan pangan merupakan kondisi ketika setiap orang memiliki akses fisik dan ekonomi terhadap pangan yang cukup, aman, serta bergizi untuk memenuhi kebutuhan hidup aktif dan sehat. Konsep ini mencakup empat aspek utama, yaitu ketersediaan pangan, akses terhadap pangan, pemanfaatan pangan secara tepat, serta stabilitas pasokan dari waktu ke waktu.
Ketersediaan pangan berkaitan dengan kemampuan produksi pertanian dan pasokan bahan makanan. Sementara itu, akses pangan ditentukan oleh berbagai faktor, termasuk pendapatan, harga bahan pokok, dan distribusi. Makanan yang tersedia di pasar belum tentu dapat dijangkau oleh semua keluarga, terutama ketika harga meningkat atau penghasilan tidak mencukupi.
Di sisi lain, pemenuhan kebutuhan kalori saja belum menjamin masyarakat memperoleh gizi yang memadai. Pola makan yang sehat juga membutuhkan protein, vitamin, mineral, serta zat gizi lain dalam jumlah seimbang. Oleh karena itu, persoalan ketahanan pangan berkaitan erat dengan kualitas gizi dan kesejahteraan masyarakat.
Advertisement
Penyebab Kerawanan Pangan di Berbagai Negara
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5020071/original/046518200_1732505552-20241125-Pengungsi_Palestina-AFP_6.jpg)
Salah satu faktor yang memengaruhi ketahanan pangan adalah perubahan iklim. Kekeringan berkepanjangan, banjir, perubahan pola hujan, dan cuaca ekstrem dapat mengganggu kegiatan pertanian serta menurunkan hasil panen. Kondisi tersebut juga berpotensi menghambat pasokan bahan makanan dan meningkatkan harga di pasar.
Konflik dan ketidakstabilan politik turut memperburuk kerawanan pangan. Konflik dapat mengganggu distribusi, merusak lahan pertanian, serta membatasi akses masyarakat terhadap pasar dan sumber penghidupan. Akibatnya, kelompok rentan semakin kesulitan memperoleh makanan yang cukup.
Faktor ekonomi juga berperan besar. Kenaikan harga pangan, biaya produksi pertanian, dan pupuk dapat meningkatkan beban petani maupun konsumen. Ketika harga makanan bergizi melampaui kemampuan belanja rumah tangga, masyarakat berisiko mengurangi kualitas dan keragaman makanan yang dikonsumsi.
Selain itu, ketimpangan distribusi dan pemborosan pangan membuat persoalan semakin kompleks. Sebagian wilayah menghadapi kekurangan pasokan, sedangkan makanan di wilayah lain terbuang selama proses produksi, penyimpanan, distribusi, maupun konsumsi.
Tantangan Ketahanan Pangan di Indonesia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5575407/original/018502700_1778047630-bgr2.jpg)
Di Indonesia, ketahanan pangan menghadapi tantangan berupa ketergantungan pada komoditas pangan tertentu, perubahan iklim, alih fungsi lahan pertanian, serta kesejahteraan petani yang perlu terus diperkuat.
Beras masih menjadi makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat. Ketergantungan yang tinggi terhadap satu komoditas membuat kebutuhan pangan lebih rentan ketika produksi terganggu oleh cuaca ekstrem, serangan hama, atau kendala distribusi. Karena itu, diversifikasi pangan menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.
Indonesia juga menghadapi persoalan kehilangan dan pemborosan pangan atau food loss and waste. Kajian yang dirujuk dalam dokumen perencanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Indonesia memperkirakan timbulan kehilangan dan pemborosan pangan pada periode 2000–2019 mencapai sekitar 23–48 juta ton per tahun. Angka tersebut merupakan estimasi historis, bukan pengukuran khusus untuk kondisi 2026.
Persoalan lainnya adalah menjaga produktivitas pertanian di tengah berkurangnya lahan dan meningkatnya kebutuhan pangan. Petani membutuhkan akses terhadap teknologi, infrastruktur, pembiayaan, dan pasar yang memadai agar kegiatan produksi dapat berjalan secara berkelanjutan.
Advertisement
Solusi untuk Memperkuat Ketahanan Pangan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342864/original/788835184-Cara_membuat_kolam_lele_hemat_tempat_dengan_memanfaatkan_kandang_bekas_yang_bisa_bantu_ketahanan_pangan_keluarga_di_masa_krisis_model_menggunakan_kandang_bertingkat_untuk_menghemat_ruang.jpg)
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi tantangan ketahanan pangan, baik melalui kebijakan pemerintah maupun partisipasi masyarakat.
1. Mendorong diversifikasi pangan
Diversifikasi pangan dapat mengurangi ketergantungan terhadap satu jenis makanan pokok. Indonesia memiliki beragam sumber karbohidrat lokal, seperti singkong, ubi jalar, jagung, sagu, dan sorgum. Pemanfaatan bahan pangan tersebut dapat memperkaya pilihan makanan sekaligus mendukung potensi pertanian di berbagai daerah.
2. Mengembangkan teknologi pertanian berkelanjutan
Pemanfaatan teknologi dapat membantu meningkatkan produktivitas dan efisiensi pertanian. Sistem irigasi yang lebih hemat air, pemantauan cuaca, penggunaan benih yang sesuai dengan kondisi lingkungan, serta pengelolaan lahan yang tepat dapat membantu petani menghadapi perubahan iklim. Inovasi juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan petani kecil agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas.
3. Memperbaiki distribusi dan mengurangi pemborosan pangan
Pengelolaan pascapanen, penyimpanan, pengemasan, dan distribusi yang lebih baik dapat membantu mengurangi kehilangan pangan. Di tingkat rumah tangga, masyarakat dapat mengambil makanan sesuai kebutuhan, menyimpan bahan makanan dengan benar, dan mengolah sisa makanan yang masih layak dikonsumsi.
4. Mendukung petani lokal
Membeli hasil panen petani lokal, memperkuat pasar bagi produk pertanian, dan meningkatkan akses petani terhadap sarana produksi dapat membantu menjaga keberlanjutan usaha tani. Dukungan ini juga berpotensi memperpendek rantai distribusi dan memperkuat ekonomi masyarakat setempat.
5. Mengembangkan pertanian perkotaan
Urban farming atau pertanian perkotaan dapat menjadi alternatif untuk memanfaatkan lahan terbatas. Masyarakat bisa menanam sayuran, cabai, dan tanaman pangan lain di pekarangan, pot, atau wadah tanam. Meski tidak menggantikan produksi pangan berskala besar, kegiatan ini dapat membantu memenuhi sebagian kebutuhan rumah tangga sekaligus meningkatkan kesadaran tentang proses produksi makanan.
Sejarah dan Tema Hari Pangan Sedunia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4611874/original/037838400_1697429200-_fpdl.in__flat-world-food-day-concept_23-2148642753_normal.jpg)
Hari Pangan Sedunia ditetapkan pada konferensi umum FAO ke-20 pada November 1979. Gagasan peringatan ini diajukan oleh delegasi Hungaria yang dipimpin Menteri Pertanian dan Pangan, Dr. Pal Romany. Tanggal 16 Oktober dipilih karena bertepatan dengan hari berdirinya FAO pada 16 Oktober 1945.
Sejak saat itu, Hari Pangan Sedunia diperingati setiap tahun untuk mengajak masyarakat internasional meningkatkan perhatian terhadap persoalan kelaparan, gizi, dan sistem pangan berkelanjutan. Berbagai kegiatan diselenggarakan untuk mendorong kolaborasi antara pemerintah, organisasi internasional, pelaku usaha, petani, dan masyarakat.
Pada 2026, FAO mengusung tema "Innovate today. Nourish tomorrow"Â atau "Berinovasi Hari Ini, Memberi Pangan untuk Esok". Tema ini menekankan pentingnya inovasi yang menggabungkan pengetahuan tradisional, pendekatan inklusif, dan solusi baru untuk memastikan ketersediaan pangan yang cukup, beragam, aman, serta bergizi bagi generasi mendatang.
Advertisement
Menjadikan Hari Pangan Sedunia sebagai Momentum Perubahan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342863/original/080756500_1788835184-Cara_membuat_kolam_lele_hemat_tempat_dengan_memanfaatkan_kandang_bekas_yang_bisa_bantu_ketahanan_pangan_keluarga_di_masa_krisis_model_membuat_kolam_memanjang_di_sisi_rumah.jpg)
Hari Pangan Sedunia bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan kesempatan untuk memahami bahwa ketahanan pangan merupakan tanggung jawab bersama. Ketersediaan makanan perlu didukung oleh akses yang adil, kualitas gizi yang memadai, dan sistem produksi yang mampu menghadapi perubahan lingkungan.
Pemerintah, pelaku industri, petani, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam mewujudkan sistem pangan yang lebih berkelanjutan. Mulai dari memperkuat pertanian lokal hingga mengurangi makanan yang terbuang, setiap langkah dapat berkontribusi pada upaya tersebut.
Dengan meningkatkan kesadaran dan memperkuat kerja sama, peringatan Hari Pangan Sedunia diharapkan dapat mendorong tindakan nyata agar pangan yang cukup, aman, dan bergizi dapat dijangkau oleh semua orang, sekarang maupun pada masa mendatang.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Hari Pangan Sedunia
Kapan Hari Pangan Sedunia diperingati?
Hari Pangan Sedunia diperingati setiap tahun pada tanggal 16 Oktober.
Apa tujuan utama Hari Pangan Sedunia?
Tujuan utamanya adalah meningkatkan kesadaran global tentang penanganan masalah pangan, kelaparan, malnutrisi, keamanan pangan, dan sistem pangan berkelanjutan, serta memastikan setiap orang memiliki akses terhadap pangan yang cukup, aman, bergizi, dan terjangkau.
Apa saja penyebab utama kerawanan pangan global?
Penyebab utama meliputi perubahan iklim, konflik geopolitik dan krisis ekonomi, pertumbuhan populasi, ketergantungan pada komoditas tertentu, degradasi lahan, serta pemborosan pangan.
Bagaimana Indonesia berupaya mencapai ketahanan pangan?
Pemerintah Indonesia berkomitmen mewujudkan ketahanan pangan melalui program diversifikasi pangan dan swasembada dari desa, yang diatur dalam Undang-Undang Pangan Nomor 18 Tahun 2012.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4057548/original/020107600_1655630991-daftar_makanan_berbahaya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334225/original/010172500_1787825621-demo_motor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5152114/original/020170500_1741235399-cek_fakta_bank_mandiri.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4588612/original/076171200_1695698562-20230926-Bansos-Beras-Arbas-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374227/original/098647200_1792040583-bec1668d-5b8d-43f2-8ba4-3854aa62a969.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4837316/original/032422300_1716188746-haidan-mWpohLLWJg4-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374160/original/040840100_1792038709-gedung2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374161/original/034898300_1792038715-Ide_rak_gantung_tanpa_bor_di_kamar_yang_hemat_ruang_dan_kokoh_HL.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5431279/original/027037000_1764734489-Model_Rumah_Minimalis_Kecil_dengan_Mezzanine_yang_Estetik_dan_Fungsional_Gaya_Tropis.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374053/original/096324200_1792033254-ww.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373998/original/046315700_1792029255-3ce29b47-c007-4a20-96d2-43e9e35b95df.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5520044/original/063454300_1772604818-Gemini_Generated_Image_3ijivf3ijivf3iji.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373984/original/058443400_1792028040-Hl__2_.jpg)