Liputan6.com, Jakarta - Hari Pangan Sedunia (World Food Day): food waste di Indonesia kembali menjadi sorotan setiap 16 Oktober. Kajian Kementerian PPN/Bappenas mencatat susut dan sisa pangan di Indonesia mencapai 23-48 juta ton per tahun pada periode 2000-2019.
Jumlah itu setara dengan 115-184 kilogram per orang per tahun dan menimbulkan kerugian ekonomi Rp 213 triliun-Rp 551 triliun. Melansir dari laporan Food Waste Index Report 2024 milik Program Lingkungan PBB (UNEP), dunia membuang 1,05 miliar ton makanan pada 2022, sementara 783 juta orang masih kelaparan.
Tahun ini, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mengusung tema "Innovate Today. Nourish Tomorrow." untuk mendorong inovasi sistem pangan. Di dalam negeri, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menggencarkan Gerakan Selamatkan Pangan dan Stop Boros Pangan.
Advertisement
Berikut Hari Pangan Sedunia (World Food Day): food waste di Indonesia dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Kamis (15/10/2026).
Apa Itu Hari Pangan Sedunia dan Mengapa Diperingati?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3604401/original/054908300_1634379441-WhatsApp_Image_2021-10-16_at_5.13.06_PM.jpeg)
Hari Pangan Sedunia diperingati setiap 16 Oktober. Tanggal ini dipilih untuk mengenang berdirinya FAO pada 1945. Peringatan tersebut ditetapkan negara-negara anggota FAO pada 1979 dan kini diperingati di lebih dari 150 negara.
Setiap tahun, FAO memilih satu tema untuk menyoroti persoalan pangan tertentu. Pada 2026, temanya adalah "Innovate Today. Nourish Tomorrow." atau "Berinovasi Hari Ini, Menyehatkan Hari Esok". Melansir dari laman resmi FAO, peringatan tahun ini mengajak pemerintah, pelaku usaha, dan peneliti mempercepat inovasi yang terbukti bisa diterapkan luas.
Alasannya jelas. Laporan The State of Food Security and Nutrition in the World 2026 (FAO, IFAD, UNICEF, WFP, dan WHO, 2026) memperkirakan 645 juta orang atau 7,8 persen penduduk dunia mengalami kelaparan pada 2025. Laporan yang sama menyebut sekitar 2,7 miliar orang di dunia belum mampu membeli makanan sehat.
Advertisement
Apa Itu Food Waste dan Bedanya dengan Food Loss?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5498237/original/032294900_1770701057-pexels-ron-lach-8466654.jpg)
Food waste adalah sisa pangan, yakni makanan yang masih layak dimakan tetapi akhirnya terbuang. Makanan ini biasanya dibuang oleh pengecer, penyedia layanan makanan seperti restoran dan katering, serta konsumen di rumah.
Adapun food loss atau susut pangan adalah berkurangnya jumlah pangan di tahap awal rantai pasok. Susut terjadi saat produksi, panen dan penyimpanan, serta pengolahan dan pengemasan. Contohnya padi yang tercecer saat dipanen atau sayuran yang busuk karena disimpan tidak tepat.
Dalam kajian Food Loss and Waste di Indonesia (Kementerian PPN/Bappenas bersama Waste4Change, Low Carbon Development Indonesia, dan WRI Indonesia, 2021), keduanya digabung menjadi satu istilah, yaitu food loss and waste (FLW). Di Indonesia, istilah ini dikenal sebagai susut dan sisa pangan (SSP).
Seberapa Besar Food Waste di Indonesia?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2930946/original/066305900_1570241245-black-bean-close-up-cooked-1640774.jpg)
Angka paling sering dikutip berasal dari kajian Bappenas tahun 2021 tadi. Pemerintah memakai data ini sebagai rujukan, termasuk dalam surat edaran Pemerintah Kabupaten Demak tentang pencegahan pemborosan pangan pada 2023. Ringkasannya sebagai berikut.
| Indikator | Temuan Bappenas (2000-2019) |
|---|---|
| Timbulan FLW | 23-48 juta ton per tahun |
| Per orang | 115-184 kg per tahun |
| Kerugian ekonomi | Rp213 triliun-Rp551 triliun per tahun (4-5 persen PDB) |
| Emisi gas rumah kaca | 1.702,9 juta ton CO2e selama 2000-2019 (rata-rata 7,29 persen emisi nasional per tahun) |
| Potensi untuk memberi makan | 61-125 juta orang (29-47 persen penduduk) |
Dari sisi rumah tangga, UNEP dalam Food Waste Index Report 2024 (UNEP dan WRAP, 2024) memperkirakan sisa makanan rumah tangga di Indonesia sekitar 14,73 juta ton per tahun atau 53 kilogram per orang. UNEP juga mengingatkan bahwa Indonesia baru memiliki data tingkat daerah, belum data nasional yang representatif. Karena itu, angka ini sebaiknya dibaca sebagai perkiraan.
Perbedaan angka di atas wajar. Bappenas menghitung seluruh rantai pangan dari hulu ke hilir, sedangkan UNEP hanya menghitung sisa makanan di tingkat rumah tangga. Intinya sama: jumlah pangan yang terbuang di Indonesia masih sangat besar dan datanya perlu diperkuat.
Advertisement
Dari Mana Sampah Pangan Berasal?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303863/original/007706600_1784696558-ChatGPT_Image_22_Jul_2026__12.02.10.jpg)
Bappenas menemukan timbulan terbesar terjadi pada tahap konsumsi, yaitu saat makanan sudah sampai di meja makan, restoran, atau hajatan. Artinya, kebiasaan sehari-hari ikut menentukan banyaknya makanan yang terbuang.
Berdasarkan jenisnya, timbulan terbesar berasal dari tanaman pangan, terutama kelompok padi-padian. Pada tanaman hortikultura, kelompok sayur-sayuran menjadi penyumbang terbesar. Dua kelompok ini sangat dekat dengan menu harian masyarakat Indonesia, yakni nasi dan sayur.
Penyebabnya beragam, mulai dari membeli dan memasak terlalu banyak, porsi berlebihan, penyimpanan yang kurang tepat, hingga bahan pangan yang tidak sempat dimasak dan keburu rusak.
Dampak Food Waste bagi Ekonomi, Lingkungan, dan Sosial
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5545258/original/041857100_1775149107-2.jpg)
Dari sisi ekonomi, kerugian hingga Rp551 triliun per tahun setara 4-5 persen PDB. Uang dan sumber daya yang dipakai untuk menanam, mengangkut, dan mengolah pangan ikut terbuang bersama makanannya.
Dari sisi lingkungan, makanan yang membusuk di tempat pembuangan menghasilkan gas rumah kaca. Bappenas mencatat emisi dari FLW Indonesia mencapai 1.702,9 juta ton CO2e selama 2000-2019. Secara global, UNEP memperkirakan sampah makanan menyumbang sekitar 8-10 persen emisi gas rumah kaca dunia.
Dari sisi sosial, pangan yang terbuang sebenarnya bisa menolong banyak orang. Menurut Bapanas, pangan layak konsumsi yang terbuang berpotensi memberi makan 61-125 juta orang. Padahal, berdasarkan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (FSVA) 2023, masih ada 68 kabupaten/kota di Indonesia yang rentan rawan pangan.
Apa yang Dilakukan Pemerintah?
Pemerintah menyusun Peta Jalan Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan dalam Mendukung Pencapaian Ketahanan Pangan menuju Indonesia Emas 2045. Dokumen ini menargetkan pengelolaan SSP sebesar 50 persen pada 2030 dan 75 persen pada 2045.
Bapanas juga menyebut penanganan SSP telah masuk prioritas nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. Salah satu langkahnya adalah Gerakan Selamatkan Pangan yang dimulai sejak 2022, yaitu menyalurkan pangan berlebih yang masih layak kepada masyarakat yang membutuhkan.
Pada 1 Oktober 2025, Bapanas meluncurkan platform Stop Boros Pangan bersama pedoman redistribusi pangan, dalam rangkaian peringatan Hari Kesadaran Internasional tentang Susut dan Sisa Pangan. Platform ini juga dipakai untuk melaporkan kegiatan penyelamatan pangan agar datanya lebih terukur. Hingga Juni 2026, Bapanas mencatat 17 provinsi dan 54 kabupaten/kota telah memiliki instruksi atau surat edaran kepala daerah untuk mendukung gerakan ini.
Advertisement
Cara Mengurangi Food Waste dari Rumah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8061279/original/032723200_1780905353-pexels-cottonbro-7428213.jpg)
Pengurangan food waste tidak harus rumit. Langkah kecil di dapur punya dampak nyata, terutama karena tahap konsumsi menjadi penyumbang terbesar.
| Langkah | Contoh Praktis |
|---|---|
| Rencanakan belanja | Buat daftar menu mingguan dan beli sesuai kebutuhan |
| Simpan dengan benar | Simpan sayur dan lauk sesuai sifatnya, pakai wadah tertutup |
| Gunakan yang lama dulu | Letakkan bahan yang lebih dulu dibeli di bagian depan |
| Atur porsi | Ambil nasi dan lauk secukupnya, tambah jika masih lapar |
| Olah sisa makanan | Nasi sisa jadi nasi goreng, sayur layu jadi sup |
| Bagikan kelebihan | Salurkan makanan layak dan aman ke tetangga atau komunitas penyelamat pangan |
Jika makanan akan dibagikan, pastikan masih segar dan aman dikonsumsi. Makanan yang sudah basi atau berbau tidak boleh disalurkan.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Hari Pangan Sedunia (World Food Day)
1. Kapan Hari Pangan Sedunia diperingati?
Setiap 16 Oktober untuk mengenang berdirinya FAO pada 1945. Pada 2026, 16 Oktober jatuh pada Jumat.
2. Apa tema Hari Pangan Sedunia 2026?
Temanya "Innovate Today. Nourish Tomorrow." yang mengajak semua pihak mempercepat inovasi pangan.
3. Berapa banyak makanan yang terbuang di Indonesia?
Menurut Bappenas, 23-48 juta ton per tahun atau 115-184 kilogram per orang pada 2000-2019.
4. Apa beda food loss dan food waste?
Food loss terjadi di awal rantai pasok, seperti panen dan penyimpanan. Food waste terjadi di ritel, restoran, dan rumah tangga.
5. Apa yang bisa dilakukan masyarakat?
Belanja sesuai kebutuhan, atur porsi, simpan makanan dengan benar, olah sisa makanan, dan salurkan kelebihan pangan yang layak.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4057548/original/020107600_1655630991-daftar_makanan_berbahaya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334225/original/010172500_1787825621-demo_motor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5152114/original/020170500_1741235399-cek_fakta_bank_mandiri.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4588612/original/076171200_1695698562-20230926-Bansos-Beras-Arbas-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5394616/original/033809800_1761636627-Depositphotos_675812236_XL.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5431279/original/027037000_1764734489-Model_Rumah_Minimalis_Kecil_dengan_Mezzanine_yang_Estetik_dan_Fungsional_Gaya_Tropis.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374053/original/096324200_1792033254-ww.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373998/original/046315700_1792029255-3ce29b47-c007-4a20-96d2-43e9e35b95df.jpg)