Cara Menanam Pare dari Biji di Rumah, Panduan Lengkap hingga Panen Berbuah Lebat

Cara menanam pare dari biji di rumah mulai dari skarifikasi, penyemaian, perawatan, pemasangan ajir, hingga panen agar pare tumbuh subur dan berbuah lebat.

Diterbitkan 11 Oktober 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Cara menanam pare dari biji sebenarnya cukup mudah dan bisa dilakukan di pekarangan maupun dalam polybag. Kuncinya terletak pada pemilihan biji berkualitas, perlakuan biji sebelum tanam, serta perawatan rutin hingga panen.

Pare merupakan tanaman merambat yang menyukai iklim hangat dan sinar matahari penuh. Dengan media tanam subur dan penopang untuk merambat, menanam pare dari biji dapat menghasilkan buah hanya dalam beberapa bulan.

Biji pare memiliki cangkang luar yang keras dan kedap air sehingga sering lambat berkecambah bila langsung ditanam. Mengacu pada laporan OMAFRA, perendaman dan skarifikasi atau pelukaan ringan pada kulit biji diperlukan agar perkecambahan pare berlangsung optimal.

Selain praktis, pare menyimpan beragam manfaat buah pare untuk kesehatan sehingga membudidayakannya sendiri terasa lebih menguntungkan. Buahnya yang kaya serat dan vitamin bisa diolah menjadi tumisan maupun jus.

Persiapan Biji dan Media Tanam Pare

Langkah pertama dalam cara menanam pare dari biji adalah menyiapkan benih dan media tanam yang tepat. Persiapan yang matang sangat menentukan kecepatan perkecambahan dan kesehatan bibit.

Sebagaimana dikutip dari UIC Heritage Garden, dikenal dua jenis pare, yakni varietas India yang berkulit kasar dengan gerigi tajam serta varietas Cina yang permukaannya lebih halus dan rasanya tidak terlalu pahit. Keduanya ditanam dengan cara yang serupa.

  1. Pilih buah pare matang sempurna: Ambil biji dari buah pare yang sudah matang sepenuhnya di pohon, ditandai dengan warna kulit kuning tua cerah atau oranye dan tekstur yang melunak hingga pecah sendiri. Biji yang berkualitas unggul untuk benih dicirikan dengan selaput pembungkus yang berwarna merah darah dan terasa berisi saat ditekan.
  2. Lakukan skarifikasi biji: Kikir atau gores tipis ujung biji yang keras menggunakan amplas halus, kikir kuku, atau gunting kuku. Lakukan dengan hati-hati agar bagian dalam atau embrio biji tidak ikut rusak.
  3. Rendat biji dalam air hangat: Karena kulit biji sudah digores (skarifikasi), cukup rendam biji dalam air hangat selama 3 hingga 6 jam (maksimal 12 jam) agar air cepat menembus embrio tanpa risiko membuat biji membusuk akibat kekurangan oksigen. Buang biji yang mengapung karena biasanya kosong dan tidak akan tumbuh.
  4. Racik media tanam subur: Campurkan tanah gembur, pupuk kompos, dan arang sekam dengan perbandingan seimbang; panduan membuat media tanam di polybag bisa menjadi acuan. Anda juga dapat mengikuti cara membuat media tanam untuk sayuran dalam pot atau menyiapkan pupuk kompos sendiri.
  5. Siapkan wadah atau polybag: Gunakan pot atau polybag berukuran besar, idealnya berdiameter minimal sekitar 38 cm, dan pastikan terdapat lubang drainase agar air tidak menggenang.

Baca juga: Cara Membuat Kompos dari Daun Kering yang Mudah

Baca juga: Cara Membuat Pupuk Organik dari Sisa Dapur untuk Menyuburkan Tanaman

Langkah Menanam Pare dari Biji di Polybag

Setelah biji dan media siap, proses menanam pare dari biji dilanjutkan dengan tahap penyemaian. Pare sebaiknya langsung ditanam pada wadah akhir (polybag besar) karena sistem perakarannya sangat sensitif dan kurang tahan terhadap gangguan saat dipindahkan (transplantasi).

Biji pare biasanya berkecambah dalam 7–14 hari apabila suhu media hangat, yaitu sekitar 25–32 derajat Celsius. Pada tanah yang terlalu dingin atau lembap berlebih, biji justru berisiko membusuk sebelum sempat tumbuh.

  1. Isi polybag dengan media tanam: Masukkan media hingga hampir penuh (sisakan sekitar 5 cm dari bibir polybag) dan ratakan permukaannya. Media tidak perlu dipadatkan secara berlebihan agar akar muda dan tunas baru mudah menembusnya.
  2. Buat lubang dan masukkan biji: Buat lubang sedalam kurang lebih 1–2 cm di bagian tengah polybag. Letakkan 2–3 biji pada lubang tersebut untuk meningkatkan peluang tumbuh. Setelah bibit tumbuh dan memiliki daun sejati, pilih 1 tanaman yang paling kuat dan cabut sisanya agar nutrisi dalam polybag tidak berebut.
  3. Tutup dan siram perlahan: Tutup biji dengan lapisan tipis media, kemudian siram lembut hingga lembap merata. Hindari siraman deras yang dapat mengikis tanah atau menggeser posisi biji.
  4. Atur penempatan antar-polybag: Jika Anda menanam lebih dari satu pot, beri jarak sekitar 50–60 cm antar-polybag di pekarangan Anda. Jarak yang lega ini penting agar sulur dari polybag berbeda tidak saling melilit, sirkulasi udara lancar, dan tanaman mendapat sinar matahari penuh.
  5. Letakkan di tempat hangat dan terang: Simpan polybag di lokasi terbuka yang hangat serta mendapat cahaya matahari cukup. Jaga kelembapan media dengan menyiramnya sedikit demi sedikit setiap hari hingga tunas muncul ke permukaan.

Pola tanam langsung ke wadah akhir ini mirip dengan cara menanam mentimun atau melon, sehingga sangat praktis bagi pemula yang tidak ingin repot melakukan proses pindah tanam.

Perawatan Tanaman Pare hingga Berbuah

Perawatan rutin menjadi penentu keberhasilan cara menanam pare dari biji hingga masa panen. Tanaman ini membutuhkan air yang cukup, cahaya penuh, penopang untuk merambat, serta pengendalian hama yang tepat.

Sebagaimana disampaikan Bonnie Plants, pare menghasilkan bunga jantan dan betina; bunga jantan mekar lebih dulu, sedangkan bunga betina memiliki bakal buah kecil di pangkalnya yang akan membesar setelah diserbuki lebah.

  1. Siram secara konsisten: Pada minggu pertama pertumbuhan tunas, jaga media tanam tetap lembap merata agar akar muda tidak kekeringan. Setelah tanaman aktif memanjang (setinggi 15 cm), lakukan penyiraman rutin setiap hari, terutama saat cuaca panas. Pastikan air meresap dengan baik tetapi tidak menggenang agar akar tidak membusuk, dan pilih waktu terbaik seperti pagi atau sore hari.
  2. Pastikan sinar matahari cukup: Tempatkan pot di lokasi terbuka yang menerima sinar matahari penuh selama 6–8 jam sehari, sebagaimana pentingnya memenuhi kebutuhan sinar matahari pada tanaman buah lain, agar proses fotosintesis dan pembentukan bunga berjalan optimal.
  3. Pasang ajir atau para-para: Ketika batang mulai memanjang sekitar 25 cm, segera pasang penopang dari bambu, kayu, atau kawat besi. Mengutip Gardening Know How, pare sebaiknya dirambatkan pada penopang setinggi minimal sekitar 1,8 meter agar sulur leluasa memanjat, sirkulasi udara lancar, dan buah tidak menyentuh tanah yang bisa memicu pembusukan.
  4. Lakukan pemupukan berkala: Setelah tanaman memiliki sekitar enam helai daun sejati, berikan pupuk susulan (seperti kompos matang atau pupuk organik cair) setiap dua minggu sekali untuk mendukung pertumbuhan vegetatif sulur dan merangsang pembentukan bakal buah.
  5. Bantu penyerbukan di pagi hari: Sebagaimana diungkapkan UF/IFAS, pare adalah tanaman menyerbuk silang yang mengandalkan serangga seperti lebah. Jika tanaman ditanam di area yang minim serangga (seperti balkon lantai atas), lakukan penyerbukan manual dengan memetik bunga jantan, membuang kelopaknya, lalu menggosokkan serbuk sarinya ke kepala putik bunga betina. Waktu terbaik untuk melakukan ini adalah pada pagi hari (pukul 06.00–09.00) saat bunga mekar sempurna.
  6. Kendalikan hama (terutama lalat buah): Meskipun pare memiliki rasa pahit yang membuatnya cenderung dihindari beberapa hama pengunyah daun, Anda tetap harus mewaspadai serangan lalat buah saat tanaman mulai berbunga. Lalat buah bisa merusak buah dari dalam hingga membusuk. Lakukan pencegahan alami dengan membungkus buah pare muda menggunakan kertas koran, kain tile, atau plastik transparan berlubang segera setelah bunga betina berhasil diserbuki.

     

Tips agar Pare Cepat Berbuah dan Panen Melimpah

Agar hasil menanam pare dari biji maksimal, terapkan sejumlah tips berikut sejak masa tanam hingga panen. Perawatan kecil yang konsisten akan membuat tanaman jauh lebih produktif.

Dilansir dari UC Master Gardeners, pare umumnya matang dalam 50 hingga 70 hari setelah penyemaian. Buah paling baik dipetik ketika masih muda, berukuran ideal, teksturnya keras, serta kulitnya berwarna hijau segar sebelum berubah menjadi kuning atau oranye.

  1. Dorong pembentukan bunga betina: Hindari pemberian pupuk dengan kandungan nitrogen tinggi secara berlebihan saat tanaman sudah besar, karena hanya akan memicu daun menjadi terlalu rimbun. Jaga penyiraman tetap konsisten dan pastikan tanaman mendapat cahaya matahari penuh untuk merangsang tanaman cepat berbunga dan berbuah.
  2. Panen secara rutin: Petik buah setiap 2–3 hari sekali saat musim panen tiba. Pemetikan buah muda secara berkala justru akan memicu tanaman untuk terus memproduksi bakal buah baru. Sebaliknya, membiarkan buah terlalu tua di pohon akan menghabiskan energi tanaman dan menghentikan produksi buah baru.
  3. Gunakan ajir yang kokoh: Karena ditanam di dalam polybag, tanaman pare mutlak membutuhkan ajir atau tiang rambat. Saat berbuah lebat, beban tanaman akan menjadi sangat berat. Pastikan struktur penopang terikat kuat agar tidak roboh saat diterpa angin kencang atau hujan deras.
  4. Cegah penyakit jamur: Untuk menekan serangan embun tepung (powdery mildew) dan virus, beri jarak yang cukup antar-polybag, siram air langsung pada pangkal tanah alih-alih membasahi daunnya, serta pangkas daun-daun tua di bagian bawah untuk memperlancar sirkulasi udara.
  5. Manfaatkan tanaman pendamping: Anda bisa meletakkan pot tanaman pengusir hama (seperti marigold atau kemangi) di sekitar polybag pare untuk membantu menekan serangan serangga secara alami.
  6. Pangkas sulur untuk merangsang buah: Potong ujung sulur utama atau tunas air yang tidak produktif untuk merangsang percabangan baru. Cabang-cabang baru inilah yang biasanya memicu munculnya lebih banyak bunga betina dan bakal buah.
  7. Terapkan pola perawatan sayuran buah: Prinsip merawat pare dalam wadah mirip dengan merawat terong maupun jagung dalam pot, yakni mengandalkan kombinasi cahaya matahari penuh, penyiraman yang stabil, serta kecukupan nutrisi makro-mikro yang seimbang.

Dengan perlakuan biji yang tepat, media subur, dan penopang yang kuat, cara menanam pare dari biji bisa memberikan panen berkali-kali dari sekali tanam. Buah pertama umumnya siap dipetik sekitar dua hingga tiga bulan, kemudian tanaman akan terus produktif selama cuaca mendukung.

Hasil panen segar dapat langsung diolah menjadi beragam hidangan. Agar tidak terlalu pahit, Anda bisa meremas pare dengan garam sebelum dimasak, atau merebusnya sebagai minuman kesehatan, mengingat manfaat pare bagi penderita diabetes sudah dikenal luas.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Cara Menanam Pare dari Biji

Apakah biji pare harus direndam dan dikikir sebelum ditanam?

Sebaiknya iya, karena biji pare memiliki cangkang luar yang sangat keras. Kikir atau gores tipis ujung biji (skarifikasi) secara hati-hati, lalu rendam dalam air hangat selama 3 hingga 6 jam (maksimal 12 jam) agar air cepat menembus embrio tanpa risiko membuat biji membusuk. Jangan lupa buang biji yang mengapung karena biasanya kosong dan tidak akan tumbuh.

Berapa lama biji pare berkecambah?

Pada kondisi lingkungan yang hangat dengan suhu media tanah sekitar 25–32 derajat Celsius, biji pare umumnya akan mulai berkecambah dalam waktu 7 hingga 14 hari. Menjaga media tanam tetap lembap secara konsisten (tidak becek) sangat membantu proses perkecambahan berlangsung lebih cepat dan seragam.

Berapa lama pare mulai berbuah setelah ditanam?

Tanaman pare biasanya mulai memunculkan bunga sekitar 4–6 minggu setelah tanam. Buah pertamanya sudah dapat dipanen kurang lebih 50 hingga 70 hari (atau sekitar dua hingga tiga bulan) setelah penyemaian, tergantung pada varietas benih yang digunakan serta kondisi cuaca di area tanam.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6