Liputan6.com, Jakarta - Masalah sampah organik rumah tangga saat ini semakin mengkhawatirkan, terutama di daerah-daerah yang mengalami darurat sampah akibat penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Padahal, data menunjukkan bahwa sekitar 70% sampah rumah tangga merupakan material organik yang sebenarnya memiliki potensi besar jika diolah menjadi kompos yang bernilai guna bagi tanaman dan lingkungan.
Ketergantungan berlebihan pada TPA dan kurangnya kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah dari sumbernya menjadi pemicu utama penumpukan limbah. Padahal, solusi paling praktis, ekonomis, dan efisien ada di depan mata Anda sendiri, yaitu memanfaatkan barang bekas yang ada di rumah.
Metode pembuatan ide komposter dari galon bekas menjadi pilihan utama karena selain murah dan sangat mudah dibuat, pendekatan ini secara nyata mengadopsi prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Dengan langkah sederhana, Anda tidak hanya mengurangi beban TPA tetapi juga menghasilkan pupuk berkualitas tinggi untuk menyuburkan pekarangan rumah.
Advertisement
Untuk tahu lebih lanjut cara membuatnya, simak pembahasan selengkapnya berikut ini, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Rabu (15/7/2026).
1. Komposter Dua Galon Sistem Tumpuk
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297141/original/068915100_1784081280-1.jpg)
Model komposter tumpuk ini menjadi favorit banyak pegiat lingkungan karena kemampuannya menghasilkan kompos padat dan pupuk organik cair (POC) atau lindi secara bersamaan. Desain dua galon ini memungkinkan proses dekomposisi berjalan lebih efektif dengan pemisahan cairan lindi secara otomatis.
Untuk membuatnya, pada galon bawah, Anda perlu memotong bagian atasnya dan memasang kran kecil di sisi bawah untuk memanen lindi. Sementara itu, untuk galon atas, potong bagian bawahnya dan buat banyak lubang kecil di sekeliling badan galon menggunakan solder atau paku panas agar air lindi bisa menetes lancar ke galon bawah. Setelah itu, cukup tumpuk galon atas ke dalam galon bawah.
Keunggulan utama dari sistem ini adalah kemudahan akses. Anda bisa memanen pupuk organik cair kapan saja tanpa perlu membongkar tumpukan sampah di galon atas, menjadikannya solusi paling praktis untuk pemakaian rutin di rumah.
Advertisement
2. Komposter Satu Galon Model 'Engsel'
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297142/original/078706200_1784081280-2.jpg)
Jika Anda mencari cara paling hemat biaya, komposter satu galon model 'engsel' adalah jawabannya. Cukup menggunakan satu galon 15 liter yang dimodifikasi sedemikian rupa, Anda sudah memiliki alat pengolah sampah dapur yang sangat fungsional.
Proses pembuatannya dimulai dengan memotong galon melingkar menjadi dua bagian, di mana bagian bawah berfungsi sebagai penampung lindi. Untuk bagian atasnya, potong hampir seluruh bagian bawah galon, namun sisakan sedikit plastik sebagai "engsel" sehingga bisa dibuka-tutup layaknya penutup wadah. Jangan lupa membuat banyak lubang kecil di bagian penampung sampah sebagai jalur rembesan lindi agar sirkulasi tetap terjaga.
Model ini memiliki keunggulan berupa biaya yang super murah, pengerjaan yang sangat simpel, namun tetap mampu menghasilkan kompos padat dan lindi berkualitas. Ini adalah bukti bahwa mengelola sampah tidak harus mahal.
3. Komposter Sistem Biopori Galon
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297143/original/087987600_1784081280-3.jpg)
Bagi Anda yang memiliki pekarangan rumah, sistem biopori menggunakan galon bekas sangat disarankan. Model ini memungkinkan nutrisi dari kompos langsung terserap oleh tanah di sekitar lubang tanam.
Cara membuatnya sangat mudah. Pertama, potong bagian bawah galon dan buang tutupnya, kemudian beri banyak lubang di seluruh dinding galon agar organisme tanah dapat masuk. Gali tanah sedalam tinggi galon, lalu tanam galon ke dalam lubang tersebut. Masukkan sampah organik ke dalam galon dan tutup rapat agar tidak dihinggapi lalat.
Keunggulan metode ini adalah kompos langsung menyatu dengan tanah di sekitarnya, sehingga sangat efektif untuk menyuburkan tanah taman secara berkelanjutan dan memperbaiki struktur tanah pekarangan.
Advertisement
4. Komposter Gantung
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297144/original/097685600_1784081280-4.jpg)
Tinggal di apartemen atau rumah dengan lahan terbatas bukan halangan untuk mengolah sampah organik. Komposter gantung adalah solusi cerdas untuk konsep vertikultur yang tidak memakan tempat.
Anda hanya perlu melubangi bagian bawah dan dinding galon untuk sirkulasi udara serta jalur tetesan air. Gantung galon tersebut menggunakan kawat atau tali di area balkon atau teras yang mendapat sedikit sinar matahari. Letakkan wadah atau nampan di bawahnya untuk menampung air lindi yang menetes.
Model ini sangat ideal untuk hunian mungil karena memanfaatkan ruang vertikal. Dengan sedikit kreativitas, teras yang sempit pun bisa menjadi pusat produksi pupuk organik sendiri.
Â
5. Komposter Kombinasi Galon dan Baskom Bekas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297145/original/005975800_1784081281-5.jpg)
Inovasi ini terinspirasi dari praktik warga RW 12 Kelurahan Mojo, Surabaya, yang sukses meraih Juara I Surabaya Smart City 2022. Model ini terbukti efektif di tingkat komunitas dan rumah tangga.
Konsepnya adalah mengombinasikan galon bekas dengan baskom plastik dan kaleng cat bekas sebagai wadah tambahan. Sama seperti sistem tumpuk, kuncinya terletak pada pelubangan bagian bawah galon dan baskom sebagai jalur pelaluan air lindi agar sampah tidak membusuk dan menimbulkan bau yang menyengat.
Keunggulan model ini telah teruji di lapangan. Dengan lebih dari 150 unit yang tersebar di beberapa RT, metode ini terbukti berhasil memberdayakan warga dalam mengelola sampah organik secara mandiri dan masif.
Advertisement
Panduan Praktis Pengomposan dari Galon
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297146/original/013524300_1784081281-6.jpg)
Agar proses pengomposan berjalan optimal dan menghasilkan pupuk berkualitas, Anda perlu memperhatikan beberapa langkah teknis dasar. Kesabaran dan ketelatenan dalam mengikuti proses adalah kunci utama keberhasilan. Berikut adalah panduan langkah demi langkah untuk mengolah sampah organik di rumah:
- Pilah Sampah: Kumpulkan sampah dapur organik seperti kulit buah, sisa sayuran, nasi basi, cangkang telur, dan daun kering. Hindari sisa masakan atau minuman yang berminyak dan berbumbu kuat karena dapat memicu bau dan mengundang hama.
- Potong Kecil-kecil: Ukuran sampah yang kecil secara signifikan mempercepat proses dekomposisi oleh bakteri. Semakin kecil potongannya, semakin cepat sampah berubah menjadi kompos.
- Atur Lapisan: Masukkan sampah organik berselang-seling dengan material kering seperti daun kering, sekam, atau tanah. Langkah ini sangat penting untuk mencegah bau dan menjaga kelembaban di dalam komposter.
- Tambahkan Bioaktivator: Semprot dengan larutan EM4 atau air cucian beras yang dicampur sedikit gula merah (molase). Ini berfungsi sebagai pemicu (starter) untuk mempercepat pertumbuhan bakteri pengurai.
- Tutup Rapat dan Tunggu: Proses pengomposan biasanya memakan waktu 2 minggu hingga 3 bulan, tergantung jenis bahan dan ukuran potongan. Tanda kompos matang adalah warna yang menjadi hitam, tekstur gembur seperti tanah, dan tidak berbau menyengat.
Pertanyaan Seputar Ide Komposter dari Galon Bekas
Q: Berapa kapasitas galon yang ideal?
A: Galon ukuran 15 liter atau 19 liter adalah yang paling umum dan ideal untuk kebutuhan komposter rumah tangga sehari-hari.
Q: Di mana sebaiknya meletakkan komposter galon?
A: Letakkan di tempat yang teduh namun memiliki sirkulasi udara baik. Untuk model gantung, pastikan posisi galon tetap mendapatkan sedikit sinar matahari pagi.
Q: Bagaimana cara memanen air lindi?
A: Untuk model tumpuk, cukup buka kran di galon bawah. Untuk model sederhana, angkat galon atas dan tuangkan lindi ke wadah. Lindi tidak bisa langsung digunakan; harus diproses dulu dengan didiamkan selama 2 minggu atau dijemur (fotolisis) hingga warna gelap dan bau berkurang.
Q: Apakah kompos dari galon aman untuk tanaman?
A: Sangat aman! Kompos ini kaya akan nutrisi esensial dan merupakan pupuk organik alami yang sangat efektif menyuburkan tanaman.
Q: Berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai kompos siap pakai?
A: Sekitar 1-3 bulan untuk kompos padat, tergantung pada penggunaan aktivator dan seberapa kecil ukuran potongan sampah yang dimasukkan.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297255/original/001962300_1784085160-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-15T101147.650.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5361116/original/013557700_1758776921-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__74_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8672103/original/092674300_1782711428-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-29T123620.816.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292785/original/068110200_1783657736-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-10T112807.834.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297140/original/058389000_1784081280-Gemini_Generated_Image_n5ab7pn5ab7pn5ab.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5936533/original/005039500_1778833892-063_2276293040.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297036/original/087342800_1784067028-fran2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3082774/original/037721700_1584860118-Pelatih_Jebolan_Serie_A_05.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297029/original/052747100_1784066633-Spain_s_Pedro_Porro_celebrates_scoring_their_second_goal_with_Pau_Cubarsi__22_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297082/original/028669700_1784076848-000_C27U6KD.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297076/original/040450300_1784075378-barton_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297070/original/029757400_1784071679-Players_of_France_and_Spain.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297047/original/067992000_1784067138-fran6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297065/original/007044100_1784070064-Spain_goalkeeper_Unai_Simon_and_defender_Pau_Cubarsi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297060/original/000844200_1784067788-Spain_s_Mikel_Oyarzabal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297031/original/089698500_1784066707-Spain_s_Borja_Iglesias__26__celebrates_with_Rodri.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297028/original/097743500_1784066595-000_C27T8XW.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6201293/original/096459900_1779080337-Kutu_beras_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297124/original/003713300_1784080871-Tanaman_yang_Cocok_Ditanam_di_Pot_Tanpa_Lubang_sebagai_Solusi_untuk_Balkon_Minimalis.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7815191/original/094682700_1780632905-ini_ajaaa.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5464779/original/063723900_1767744873-Bilas_Sisa_Sabun_dan_Jaga_Drainase.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297118/original/093921600_1784080744-448fb6bb-8c61-47f8-a689-6d3957545a9d.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297326/original/027264000_1784087994-1516ba83-7eb2-4398-8068-48f1e7a23196.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297161/original/013026000_1784081959-ChatGPT_Image_15_Jul_2026__09.10.23.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297114/original/053599900_1784080308-0b07072d-5537-4a64-8d98-8ce138584a38.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297152/original/033831100_1784081850-Gemini_Generated_Image_vmt6y6vmt6y6vmt6.jpg)