Liputan6.com, Jakarta - Menghadapi Gen Alpha yang ‘asbun’ sering kali menjadi keluhan baru para orang tua masa kini. Anak-anak yang lahir setelah 2010 ini tumbuh di era digital, terbiasa menyuarakan pendapat, dan tidak segan bertanya “kenapa?” pada aturan yang dianggap tak masuk akal. Bagi sebagian orang tua, sikap ini terasa seperti kurang ajar atau terlalu berani.
Gen Alpha adalah generasi yang lahir sekitar 2010 hingga pertengahan 2020-an. Mereka adalah anak-anak para milenial dan menjadi generasi pertama yang sepenuhnya tumbuh bersama internet, gawai, dan kelas virtual. Tak heran jika mereka memiliki akses informasi luas dan cara berpikir yang lebih kritis sejak dini.
Sifat “asbun” (asal bunyi) yang dilekatkan pada mereka sering kali muncul karena keberanian berbicara, membantah, atau mengomentari sesuatu tanpa ragu. Namun, benarkah mereka sekadar tidak sopan? Atau justru kita yang perlu memahami konteks zaman mereka? Berikut ulasan Liputan6.com, Sabtu (21/3/2026).
Advertisement
1. Pahami Bahwa Mereka Bukan Tidak Sopan, Tapi Lebih Asertif
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5177418/original/083128600_1743169447-Bicaralah_dengan_Bersemangat.jpg)
Menurut artikel di Parents.com oleh Lauren Brown West-Rosenthal, banyak orang tua mengira Gen Alpha lebih tidak sopan dibanding generasi sebelumnya. Namun, psikolog Catherine Nobile, PsyD, menjelaskan bahwa mereka tumbuh di dunia yang mendorong ekspresi diri, kecerdasan emosional, dan keberanian mempertanyakan norma.
Gen Alpha lebih mungkin berkata, “Kenapa harus begitu?” dibanding sekadar menjawab “Ya, Bu” atau “Baik, Pak.” Ini bukan selalu bentuk pembangkangan, melainkan tanda bahwa mereka nyaman berpikir kritis.
Dalam menghadapi gen alpha yang 'asbun', orang tua perlu membedakan antara sikap tidak sopan dan kemampuan asertif. Asertif berarti mampu menyampaikan pendapat dengan percaya diri tanpa merendahkan orang lain. Itu keterampilan hidup yang penting.
2. Ajarkan Batas antara Percaya Diri dan Kurang Ajar
Dr. Nobile menekankan pentingnya membantu Gen Alpha menemukan keseimbangan antara percaya diri dan empati. Anak perlu tahu bahwa berbicara boleh, tetapi cara menyampaikannya tetap harus menghargai orang lain.
Alih-alih langsung memotong dengan, “Kamu kok melawan?”, cobalah, “Mama senang kamu punya pendapat. Tapi yuk kita sampaikan dengan cara yang lebih sopan.”
Dengan begitu, orang tua tidak mematikan keberanian anak, tetapi mengarahkannya.
3. Modelkan Komunikasi yang Respek
Profesor komunikasi Gail Fairhurst dari University of Cincinnati menjelaskan bahwa bahasa membentuk identitas dan relasi. Anak belajar dari interaksi sehari-hari. Jika orang tua sering membentak, menyindir, atau meremehkan, anak pun akan meniru pola itu.
Tunjukkan bagaimana menyampaikan ketidaksetujuan tanpa merendahkan. Misalnya, “Mama kurang setuju, tapi boleh kamu jelaskan alasanmu?” Model komunikasi ini jauh lebih efektif dibanding ceramah panjang.
Advertisement
4. Jangan Terlalu Cepat “Menolong” Mereka
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5403364/original/069446600_1762325396-side-view-father-daughter-eating-together-home.jpg)
Menurut Ryan Jenkins di Psychology Today, Gen Alpha tumbuh dalam dunia penuh “mesin kepastian”: GPS, aplikasi jadwal, notifikasi instan. Semua serba jelas dan cepat. Akibatnya, mereka kurang terlatih menghadapi ketidakpastian.
Orang tua sering tanpa sadar menjadi “SmartPlow Parent” — orang tua yang menyingkirkan semua rintangan sebelum anak mengalaminya.
Cobalah sesekali menahan diri. Ketika anak bingung mencari lokasi latihan, jangan langsung buka aplikasi. Tanyakan, “Menurutmu harus bagaimana?” Ini melatih daya juang dan mengurangi kecemasan jangka panjang.
5. Latih Mereka Menghadapi Ketidakpastian
Kecemasan sering lahir dari ketidakmampuan menghadapi hal yang tidak pasti. Biasakan anak pada “micro-challenges”:
- Biarkan mereka memesan makanan sendiri.
- Suruh mereka menyiapkan tas sekolah.
- Minta mereka mencari informasi dengan bimbingan minimal.
Ketika mereka berhasil, rasa percaya diri tumbuh dari pengalaman, bukan sekadar pujian.
6. Pahami Bahasa dan Slang Mereka
Gen Alpha punya bahasa khas seperti “no cap”, “rizz”, atau “slay.” Bahasa ini adalah cara mereka membangun identitas kelompok.
Daripada mencibir, lebih baik pahami konteksnya. Bahasa selalu berkembang. Seperti dijelaskan Gail Fairhurst, setiap generasi menciptakan kosakatanya sendiri sebagai bentuk identitas budaya. Memahami bahasa mereka membuka pintu komunikasi yang lebih hangat.
7. Ubah Perspektif: Dari “Anak Kurang Ajar” ke “Anak Kritis”
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5490460/original/056307300_1770012146-jcomp.jpg)
Salah satu perubahan besar yang perlu dilakukan orang tua dalam menghadapi gen alpha yang 'asbun' adalah menggeser sudut pandang.
Jika dulu anak yang diam dianggap baik, kini anak yang aktif bertanya justru bisa menjadi pemimpin yang tangguh di masa depan. Keberanian menyampaikan pendapat adalah modal besar di dunia kerja modern yang menghargai kolaborasi dan inovasi.
Tugas orang tua bukan membungkam, tetapi membimbing.
8. Bangun Empati, Bukan Hanya Aturan
Keberanian tanpa empati bisa berubah menjadi arogan. Karena itu, ajarkan anak untuk mendengar sebelum berbicara.
Biasakan kalimat seperti:
- “Coba kamu bayangkan kalau kamu di posisi dia.”
- “Menurutmu perasaan temanmu bagaimana?”
Empati membuat keberanian mereka tetap manusiawi.
9. Perkuat Koneksi, Bukan Kontrol
Hubungan yang hangat lebih efektif daripada kontrol ketat. Anak yang merasa didengar cenderung lebih kooperatif.
Luangkan waktu tanpa distraksi gawai. Dengarkan cerita mereka, bahkan yang terdengar remeh. Koneksi emosional adalah fondasi disiplin yang sehat.
Advertisement
Perspektif Orang Tua yang Perlu Diubah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5515950/original/079536600_1772241479-WhatsApp_Image_2026-02-28_at_08.08.51.jpeg)
Banyak orang tua membandingkan Gen Alpha dengan masa kecil mereka sendiri. Padahal konteks sosialnya berbeda jauh. Dulu, akses informasi terbatas. Kini, anak bisa tahu isu global hanya lewat satu klik.
Pandemi COVID-19 juga membentuk pengalaman sosial mereka sejak dini. Interaksi digital menjadi normal.
Alih-alih berkata, “Zaman Mama nggak begitu,” lebih bijak mengatakan, “Zaman kamu memang beda. Yuk kita cari cara yang tetap sopan dan baik.”
Perubahan terbesar bukan pada anak, melainkan pada kesiapan orang tua untuk belajar ulang.
FAQ Seputar Gen Alpha
1. Apa itu Gen Alpha?
Gen Alpha adalah generasi yang lahir sekitar 2010 hingga pertengahan 2020-an dan tumbuh sepenuhnya di era digital.
2. Mengapa Gen Alpha dianggap ‘asbun’?
Karena mereka lebih berani berbicara, mempertanyakan aturan, dan mengekspresikan pendapat dibanding generasi sebelumnya.
3. Apakah Gen Alpha lebih tidak sopan?
Tidak selalu. Banyak ahli menilai mereka lebih asertif dan kritis, bukan semata-mata tidak sopan.
4. Bagaimana cara mendisiplinkan Gen Alpha tanpa mematikan keberanian mereka?
Dengan mengajarkan batasan komunikasi, empati, serta memberi ruang berdiskusi, bukan hanya perintah satu arah.
5. Apakah teknologi membuat Gen Alpha lebih cemas?
Bukan hanya teknologinya, tetapi lingkungan yang terlalu serba pasti dan minim tantangan yang bisa mengurangi daya tahan mental mereka.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5463779/original/049305200_1767670885-Screenshot_2026-01-06_103951.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4919749/original/034086800_1723781524-000_36EC7XK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2892802/original/045596000_1566805482-20190826-Jokowi-sebut-kaltim-jadi-ibu-kota-baru-ANGGA-8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8208033/original/056349800_1781066890-063_2280813255.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3235896/original/046311000_1777366243-pp.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4923951/original/063322000_1724219791-medium-shot-kids-laying-together.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1812277/original/052062800_1684314288-Beach_life.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260379/original/084688000_1781589230-tj_verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259296/original/035877100_1781495343-_____________FIFAWorldCup.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8621898/original/023575700_1782614127-063_2283622576.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540345/original/069396100_1774710516-jerman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560764/original/057361200_1782508647-000_B8GJ8DG.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8618866/original/035352900_1782607831-063_2283624619.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5243047/original/051478600_1749093312-AP25155771563061.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3529388/original/056973400_1627972342-000_9767F7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260382/original/054470700_1781590662-063_2281748273.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261539/original/051141200_1781743137-IMG-20260618-WA0008.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8625922/original/005183100_1782620553-063_2283651686.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8625483/original/070181900_1782619556-000_B8K37NR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8460074/original/088908600_1782359300-15021055947514109969.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8396914/original/067259300_1782278056-obe.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262161/original/019844500_1781773154-11244512687103417298.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8270081/original/065529300_1782120556-13086905657809859094.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8269617/original/097207700_1782120022-v.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8268288/original/079498100_1782117805-koridor.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5516724/original/086331000_1772341976-turkish-chig-kofte-with-meat-herbs.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8265643/original/085179000_1782113461-11425184806389624689.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8265451/original/068960400_1782112485-hl2.jpg)