Liputan6.com, Jakarta - Gen alpha asbun menjadi label yang kerap terdengar ketika orang tua atau guru membicarakan anak-anak kelahiran 2010 ke atas. Mereka dinilai terlalu berani, spontan, bahkan dianggap kurang sopan saat menyampaikan pendapat. Fenomena ini memunculkan perdebatan: apakah ini tanda kemunduran etika atau justru perubahan pola komunikasi?
Istilah Generation Alpha pertama kali diperkenalkan oleh demografer Australia, Mark McCrindle, untuk menyebut anak-anak yang lahir sejak 2010 hingga pertengahan 2020-an. Generasi ini tumbuh sepenuhnya di era digital, bersamaan dengan hadirnya iPad dan Instagram, serta derasnya arus informasi global.
Sejumlah laman parenting seperti Parents menyebut Gen Alpha bukan generasi yang uniknya tidak sopan, melainkan generasi yang sering disalahpahami. Lalu, mengapa mereka kerap dicap “asal bunyi”? Berikut ulasan Liputan6.com, Rabu (25/2/2026).
Advertisement
Siapa Itu Generation Alpha?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4923950/original/007626800_1724219790-medium-shot-happy-children-outside.jpg)
Berdasarkan laporan Understanding Generation Alpha dari McCrindle Research, Generation Alpha adalah generasi yang:
- Lahir antara 2010–2024
- Anak dari generasi Milenial
- Tumbuh dalam lingkungan serba digital
- Diprediksi menjadi generasi terbesar dalam sejarah (lebih dari 2 miliar orang secara global)
Mereka dijuluki Generation Glass karena sangat akrab dengan layar—tablet, smartphone, hingga smart speaker—sejak usia dini. Akses informasi yang luas membentuk cara berpikir mereka yang kritis, cepat, dan terbuka terhadap banyak sudut pandang.
Namun di sisi lain, paparan teknologi sejak dini juga memengaruhi gaya komunikasi mereka: lebih langsung, spontan, dan kadang tanpa filter sosial yang matang.
Mengapa Gen Alpha “Asbun”?
Fenomena gen alpha asbun sering muncul dalam konteks berikut:
1. Berani Mengkritik Otoritas
Dalam artikel di Parents, psikolog Catherine Nobile, PsyD menjelaskan bahwa Gen Alpha tumbuh dalam budaya yang merayakan ekspresi diri dan kecerdasan emosional. Mereka tidak terbiasa menerima instruksi tanpa penjelasan.
Jika generasi sebelumnya cenderung menjawab, “Iya, Bu” atau “Baik, Pak,” Gen Alpha lebih mungkin bertanya, “Kenapa harus begitu?” atau “Bisa dijelaskan alasannya?”
Bagi sebagian orang tua atau guru, respons ini terdengar seperti pembangkangan. Padahal, bisa jadi itu bentuk critical thinking.
2. Terbiasa dengan “Kepastian Instan”
Menurut artikel di Psychology Today, Gen Alpha tumbuh dalam dunia yang penuh “mesin kepastian”: GPS, aplikasi jadwal, asisten digital, notifikasi otomatis. Ketika setiap pertanyaan bisa dijawab cepat oleh teknologi, mereka terbiasa berbicara dan bertindak cepat pula.
Akibatnya, jeda berpikir atau pertimbangan sosial terkadang terlewat. Spontanitas ini kemudian ditafsirkan sebagai “asal bunyi”.
3. Bahasa dan Slang Digital
Profesor komunikasi Gail Fairhurst dari University of Cincinnati menjelaskan bahwa setiap generasi menciptakan bahasa sendiri sebagai identitas budaya.
Istilah seperti “no cap”, “rizz”, “sigma”, atau “skibidi” bukan sekadar tren, melainkan simbol komunitas. Namun, ketika digunakan tanpa memahami konteks atau audiens, bahasa ini bisa dianggap tidak sopan.
Pilihan kata sangat menentukan kesan pertama. Maka ketika Gen Alpha berbicara dengan gaya kasual kepada orang yang lebih tua, benturan nilai pun terjadi.
Advertisement
Krisis Kesopanan atau Evolusi Pola Pikir?
![Gen Alpha: Dari iPad Kids hingga Obsesi Skincare, Begini Cara Mereka Tumbuh [Dok/freepik.com]](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/JKyIzi_MdrOYFrjupydTJCF-ufU=/640x360/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5354553/original/033988500_1758257065-medium-shot-kids-with-devices-indoors.jpg)
Pertanyaannya: apakah ini benar-benar krisis kesopanan?
Perspektif Krisis
Beberapa kekhawatiran muncul karena:
- Paparan layar tinggi mengurangi interaksi tatap muka
- Kemampuan membaca bahasa tubuh bisa lebih lemah
- Toleransi terhadap ambiguitas lebih rendah
- Empati belum terasah optimal
Laporan McCrindle juga mencatat bahwa meski lebih terdidik secara formal, sebagian Gen Alpha dinilai kurang terampil dalam life skills praktis dan pengelolaan risiko.
Jika tidak diarahkan, kepercayaan diri bisa berubah menjadi arogansi.
Perspektif Evolusi
Namun di sisi lain, para ahli menilai ini sebagai evolusi.
Gen Alpha:
- Lebih sadar isu global
- Lebih inklusif terhadap keberagaman
- Lebih nyaman menyuarakan pendapat
- Lebih terbiasa dengan diskusi dua arah
Dalam artikel Parents disebutkan bahwa ketegasan mereka bukan bentuk tidak hormat, melainkan refleksi rasa aman untuk berbicara.
Setiap generasi pernah dianggap “kurang ajar” oleh generasi sebelumnya. Baby Boomers disebut pemberontak. Milenial dianggap manja. Kini giliran Alpha mendapat label asbun.
Bisa jadi, ini bukan kemerosotan etika, melainkan pergeseran definisi sopan santun.
Bagaimana Orang Tua Menyikapinya?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4918295/original/041942000_1723638570-Ketut_Subiyanto_Pexels.jpg)
Alih-alih melabeli, orang tua bisa melakukan pendekatan berikut:
1. Ajarkan Batas antara Tegas dan Tidak Sopan
Anak perlu belajar bahwa menyampaikan pendapat itu baik, tetapi cara penyampaiannya harus menghargai orang lain.
Latih kalimat seperti:
- “Saya kurang setuju karena…”
- “Boleh saya tahu alasannya?”
2. Latih Empati dan Mendengar Aktif
Kemampuan mendengar sama pentingnya dengan berbicara. Ajak anak memahami perspektif orang lain sebelum merespons.
3. Kurangi “Certainty Trap”
Berdasarkan analisis di Psychology Today, orang tua perlu memberi ruang anak menghadapi ketidakpastian kecil agar mereka belajar mengelola emosi dan berpikir sebelum berbicara.
Biarkan anak mencari solusi sendiri sesekali.
4. Modelkan Komunikasi yang Respek
Anak belajar dari contoh. Jika orang tua mampu berbeda pendapat tanpa emosi berlebihan, anak akan meniru pola itu.
5. Seimbangkan Teknologi dan Interaksi Nyata
Interaksi tatap muka melatih kepekaan sosial. Aktivitas keluarga tanpa gawai membantu anak memahami ekspresi, nada suara, dan etika sosial.
Advertisement
FAQ Seputar Gen Alpha Asbun
1. Apa itu gen alpha asbun?
Istilah ini merujuk pada anggapan bahwa Gen Alpha sering berbicara spontan tanpa mempertimbangkan norma sosial.
2. Apakah Gen Alpha memang lebih tidak sopan dari generasi sebelumnya?
Belum tentu. Banyak ahli menilai mereka hanya lebih terbuka dan kritis.
3. Mengapa Gen Alpha lebih berani membantah?
Karena mereka tumbuh dalam budaya yang mendorong ekspresi diri dan akses informasi luas.
4. Apakah teknologi membuat mereka kurang sopan?
Teknologi memengaruhi gaya komunikasi, tetapi faktor pola asuh tetap sangat menentukan.
5. Bagaimana agar Gen Alpha tetap percaya diri tanpa menjadi arogan?
Ajarkan keseimbangan antara keberanian berbicara dan kemampuan mendengar serta berempati.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262299/original/014349800_1781777647-Tugas__37_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5226996/original/003118400_1747799527-Putin.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528276/original/060137100_1782459682-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-26T143742.924.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3235896/original/046311000_1777366243-pp.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4918289/original/010585500_1723638549-pixabay_family.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1812235/original/087792300_1550019778-1709255D-BDFF-4E25-B45D-78CC996796BF.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8574835/original/057277000_1782531340-AP26177858339524.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560483/original/094482200_1782508278-000_B8GH2KY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263769/original/046217200_1782009540-Jeremy_Doku.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264183/original/033782000_1782097869-063_2282689980-Timnas_Mesir_vs_Selandia_Baru.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8571890/original/029692900_1782526551-000_B8H338Y.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8571665/original/074668100_1782526250-063_2283504461.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560764/original/057361200_1782508647-000_B8GJ8DG.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8362045/original/070572100_1782237587-AP26174619862047.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264303/original/054619900_1782106281-AP26172737361128.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260726/original/045162900_1781650279-Mohammad_Mohebi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260101/original/022902800_1781568480-063_2281783911.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8396914/original/067259300_1782278056-obe.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262161/original/019844500_1781773154-11244512687103417298.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8270081/original/065529300_1782120556-13086905657809859094.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8269617/original/097207700_1782120022-v.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8268288/original/079498100_1782117805-koridor.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5516724/original/086331000_1772341976-turkish-chig-kofte-with-meat-herbs.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8265643/original/085179000_1782113461-11425184806389624689.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8265451/original/068960400_1782112485-hl2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8269132/original/081921700_1782119254-ok.jpeg)