Cara Membuat Pakan Ternak dari Singkong, Lebih Murah dan Kambing Cepat Gemuk

Tak hanya untuk manusia, singkong ternyata bisa menjadi pakan hewan ternak, termasuk kambing. Namun, jangan langsung memberikannya! Olah singkong dengan cara berikut agar menjadi pakan ternak yang bergizi

Diterbitkan 29 Januari 2026, 06:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketersediaan bahan pakan sering menjadi tantangan utama bagi peternak skala kecil hingga menengah. Salah satu solusi yang banyak diterapkan adalah memanfaatkan bahan lokal, termasuk singkong. Melalui cara membuat pakan ternak dari singkong, Anda bisa menekan biaya produksi tanpa mengorbankan kebutuhan nutrisi hewan ternak.

Singkong dikenal mudah didapat, harganya relatif stabil, dan bisa diolah menjadi berbagai bentuk pakan. Selain itu, pakan ternak dari singkong dapat digunakan untuk sapi, kambing, domba, hingga unggas dengan pengolahan yang tepat.

Jika Anda tertarik membuat pakan ternak sendiri dari singkong, coba ikuti cara yang telah dirangkum Liputan6.com, Rabu (28/1/2026) berikut.

Cara Membuat Pakan Ternak dari Singkong

1. Pemilihan singkong yang tepat

Bahan utama dalam cara membuat pakan ternak dari singkong sebaiknya berasal dari umbi yang sudah tua, idealnya berusia 8–12 bulan. Pada usia ini, kandungan pati singkong bisa mencapai 60–70 persen dari bahan kering, sehingga nilai energinya lebih tinggi untuk ternak. Singkong yang terlalu muda cenderung berair dan kandungan nutrisinya belum optimal, sedangkan singkong yang terlalu tua bisa terlalu keras dan sulit diolah.

Ciri singkong yang baik antara lain kulit luar tidak terlalu lembek, daging umbi berwarna putih bersih atau krem, serta tidak berbau asam. Untuk produksi skala kecil, Anda bisa menggunakan 20–50 kg singkong segar per proses. 

2. Pembersihan dan pengupasan singkong

Menurut laman Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Bandung, kulit singkong mengandung senyawa hidrogen sianida (HCN) dengan kadar yang bisa mencapai 50–400 mg/kg bahan segar, tergantung varietas. Karena itu, pengupasan harus dilakukan hingga bersih sampai lapisan kulit ari terangkat seluruhnya. Dari setiap 10 kg singkong segar, rata-rata kulit yang terbuang sekitar 1–1,5 kg.

Setelah dikupas, singkong dicuci menggunakan air mengalir selama 2–3 menit atau direndam 30–60 menit dengan perbandingan air 2:1 dari berat singkong. Air rendaman wajib dibuang seluruhnya. Proses ini dapat menurunkan kadar HCN hingga 30–50 persen sebelum singkong masuk ke tahap pengolahan lanjutan.

3. Pemotongan singkong

Singkong yang sudah bersih kemudian dipotong kecil agar proses pengolahan berjalan lebih efisien. Ukuran potongan ideal berkisar 1–3 cm untuk fermentasi atau 0,5–1 cm jika akan dikeringkan. Pemotongan ini bertujuan memperluas permukaan sehingga penguapan sisa sianida dan penyerapan mikroba fermentasi lebih optimal.

Untuk kapasitas rumahan, pemotongan bisa dilakukan manual menggunakan pisau atau alat pemotong sederhana. Dari 10 kg singkong utuh, waktu pemotongan rata-rata sekitar 15–20 menit. 

4. Proses fermentasi singkong

Fermentasi dilakukan untuk meningkatkan kecernaan dan menurunkan kadar racun alami. Larutan fermentasi biasanya terdiri dari 1–2 ml EM4 per kg singkong, ditambah 5–10 ml molase atau gula cair yang dilarutkan dalam air secukupnya. Campuran ini disiramkan secara merata hingga singkong terasa lembap, tetapi tidak tergenang air.

Singkong difermentasi dalam wadah tertutup seperti drum plastik atau karung selama 3–5 hari. Suhu ideal fermentasi berkisar 25–35 derajat Celsius, dengan pH akhir di kisaran 4–5. Bau hasil fermentasi segar dan sedikit asam, menandakan proses berjalan dengan baik dan aman untuk ternak.

5. Pengeringan singkong

Jika pakan tidak langsung digunakan, singkong hasil fermentasi atau singkong segar bisa dikeringkan. Pengeringan bertujuan menurunkan kadar air hingga di bawah 12 persen agar pakan lebih awet. Penjemuran dilakukan selama 2–3 hari di bawah sinar matahari langsung, dengan singkong dibalik minimal 2 kali sehari.

Alternatif lain adalah menggunakan oven atau pengering buatan dengan suhu 60–70 derajat Celsius selama 6–8 jam. Dari 10 kg singkong basah, biasanya akan dihasilkan sekitar 3–4 kg bahan kering.

6. Pencampuran dengan bahan tambahan

Agar nutrisi lebih seimbang, singkong perlu dicampur dengan bahan lain seperti dedak, bungkil kelapa, atau tepung ikan. Komposisi umum yang sering digunakan adalah 40–50 persen singkong, 30 persen dedak, dan 10–20 persen sumber protein. Perbandingan ini bisa disesuaikan dengan jenis ternak dan fase pertumbuhan.

Proses pencampuran dilakukan hingga homogen, baik secara manual maupun menggunakan mixer pakan sederhana. Untuk skala kecil, pencampuran 20 kg bahan biasanya memerlukan waktu sekitar 10–15 menit. Campuran yang merata membantu ternak mendapatkan nutrisi yang konsisten di setiap porsi pakan.

7. Penyimpanan pakan singkong

Pakan ternak dari singkong yang sudah jadi sebaiknya disimpan di tempat kering, bersih, dan memiliki sirkulasi udara baik. Gunakan karung plastik tebal atau wadah tertutup dengan alas kayu agar tidak bersentuhan langsung dengan lantai. Kelembapan ruangan ideal berada di bawah 70 persen.

Dalam kondisi penyimpanan yang baik, pakan kering dapat bertahan 2–3 bulan tanpa menurunkan kualitas. Pakan fermentasi basah sebaiknya digunakan dalam 7–14 hari. Lakukan pengecekan rutin untuk memastikan tidak ada jamur, bau menyengat, atau perubahan warna yang menandakan pakan sudah tidak layak diberikan ke ternak.

Manfaat Singkong sebagai Pakan Ternak

Penggunaan singkong sebagai bahan pakan memberikan banyak keuntungan, terutama bagi peternak yang ingin menekan biaya produksi tanpa mengorbankan kebutuhan nutrisi ternak. Selain mudah diolah, singkong juga fleksibel digunakan untuk berbagai skala usaha peternakan.

Sumber energi tinggi

Singkong kaya akan karbohidrat sehingga mampu menjadi sumber energi utama bagi ternak ruminansia maupun unggas. Kandungan pati yang tinggi membantu memenuhi kebutuhan energi harian ternak, terutama pada fase pertumbuhan dan penggemukan.

Bahan mudah didapat

Singkong tersedia hampir sepanjang tahun di berbagai daerah, sehingga pasokannya relatif stabil untuk kebutuhan pakan. Peternak juga dapat memanfaatkan hasil panen lokal atau singkong afkir yang masih layak diolah.

Biaya pakan lebih murah

Dibanding pakan pabrikan, pakan ternak dari singkong jauh lebih ekonomis dan cocok untuk usaha peternakan kecil. Biaya produksi bisa ditekan karena bahan baku murah dan proses pengolahannya sederhana.

Bisa diolah dalam berbagai bentuk

Singkong dapat dijadikan pakan kering, fermentasi, hingga pelet sesuai kebutuhan ternak. Fleksibilitas ini memudahkan penyesuaian dengan jenis ternak dan sistem pemeliharaan.

Mendukung pakan alternatif lokal

Pemanfaatan singkong membantu mengurangi ketergantungan pada bahan pakan impor dan mendukung pertanian lokal. Hal ini juga membuka peluang integrasi antara sektor pertanian dan peternakan di daerah.

Pertanyaan Seputar Singkong jadi Pakan Ternak

Apa saja hewan ternak yang boleh makan singkong?

Singkong dapat diberikan pada sapi, kambing, domba, kerbau, ayam, bebek, dan babi. Umbi singkong cocok sebagai sumber energi, sedangkan daun singkong lebih sering dimanfaatkan untuk ternak ruminansia karena kandungan proteinnya lebih tinggi.

Berapa lama proses fermentasi daun singkong?

Fermentasi daun singkong umumnya berlangsung selama 5–7 hari. Pada kondisi suhu hangat dan wadah tertutup rapat, proses ini cukup untuk menurunkan kadar senyawa antinutrisi dan membuat daun lebih aman dikonsumsi ternak.

Mana yang lebih bergizi, daun atau singkongnya?

Daun singkong lebih tinggi protein, sedangkan umbi singkong lebih kaya karbohidrat. Keduanya memiliki fungsi berbeda dan akan lebih optimal jika dikombinasikan dalam ransum pakan ternak.

Apa pakan yang bagus untuk hewan ternak?

Pakan yang baik adalah pakan seimbang yang mengandung sumber energi, protein, serat, vitamin, dan mineral. Kombinasi hijauan, konsentrat, dan pakan fermentasi biasanya memberikan hasil pertumbuhan ternak yang lebih optimal.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6