Liputan6.com, Jakarta - Sulawesi Utara merupakan wilayah yang telah lama terkenal dengan kekayaan budaya dan tradisinya, sehingga tidak mengherankan jika ragam pakaian adat Sulawesi Utara yang ada memiliki banyak variasi yang sangat beragam dan menarik.
Setiap etnis di provinsi ini menghadirkan busana tradisional yang unik, baik dari warna, bahan, maupun makna filosofisnya. Dengan mengenal berbagai pakaian adat Sulawesi Utara, masyarakat turut menjaga tradisi yang telah ada sejak zaman kerajaan hingga kini.
Selain sebagai bentuk identitas suku, pakaian adat Sulawesi Utara juga menjadi simbol kehormatan yang hanya digunakan dalam acara adat besar, seperti pernikahan, atau ritual-ritual tertentu. Keunikan bentuk dan motifnya juga telah membuat pakaian tradisional ini banyak dipelajari dalam konteks sejarah dan antropologi budaya. Karena itu, mempelajari pakaian adat Sulawesi Utara bukan hanya soal penampilan, namun juga pemahaman terhadap perjalanan kebudayaan yang panjang.
Advertisement
Untungnya, sekarang banyak generasi muda yang mulai kembali mengenakan dan mengenal pakaian adat Sulawesi Utara sebagai bentuk kembanggaan daerah dan identitasnya. Untuk itu, berikut ini telah Liputan6 rangkum penjelasan lengkapnya, pada Rabu (10/12).
1. Makuta dan Biliu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5439232/original/043323500_1765352917-Makuta_dan_Biliu.png)
Makuta dan Biliu merupakan pakaian adat Sulawesi Utara yang menjadi ciri khas dari Gorontalo. Meskipun Gorontalo kini menjadi provinsi tersendiri, secara historis wilayah ini memiliki keterkaitan budaya dengan Sulawesi Utara. Busana adatnya pun kerap masuk dalam pembahasan pakaian tradisional di kawasan ini.
Pakaian Makuta untuk pria dan Biliu atau Paluwala untuk wanita biasanya dikenakan pada upacara pernikahan adat. Busana ini identik dengan warna-warna cerah seperti kuning keemasan, hijau, dan ungu yang memiliki makna tersendiri, mulai dari kemuliaan, kesuburan, hingga keanggunan.
Makuta dipakai dengan atasan lengan panjang, celana panjang, serta tudung kepala yang juga disebut Makuta. Sementara Biliu tampil elegan dengan blus dan kain panjang berbahan satin atau beludru, dilengkapi mahkota Tuhi-tuhi yang membawa simbol tujuh kerajaan.
Advertisement
2. Pakaian Adat Minahasa Bajang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5439233/original/082560000_1765352917-Pakaian_Adat_Minahasa_Bajang.png)
Pakaian adat Sulawesi Utara yang selanjutnya dikenal dengan nama baju Minahasa Bajang. Minahasa sendiri dikenal memiliki ragam busana adat, salah satunya Minahasa Bajang yang sering dipakai dalam acara resmi dan pesta adat. Busana ini dibuat dari bahan yang cukup unik, seperti serat daun nanas atau daun kalung nanasi yang diolah menjadi tekstur kain sederhana.
Untuk pria, pakaian ini terdiri dari kemeja, bawahan sarung, selendang pinggang, serta topi segitiga. Sementara wanita mengenakan kebaya yang dipadukan dengan kain yapon yang panjangnya jatuh hingga bawah lutut. Walaupun terlihat sederhana, pakaian Minahasa Bajang memiliki nilai estetika tersendiri dan menunjukkan perkembangan budaya Minahasa dari masa ke masa.
3. Tonaas Wangko dan Walian Wangko
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5439234/original/021324200_1765352918-Tonaas_Wangko_dan_Walian_Wangko.png)
Selanjutnya ada pakaian adat Sulawesi Utara yang khusus untuk busana para pemuka adat di Minahasa. Jadi selain Minahasa Bajang, terdapat juga pakaian Tonaas Wangko dan Walian Wangko yang khusus diperuntukkan bagi tokoh adat. Busana ini memiliki gaya dan simbol yang lebih sakral karena digunakan untuk upacara adat penting.
Tonaas Wangko, busana pria, biasanya berwarna hitam dengan sentuhan emas sebagai simbol kekuatan dan kesejahteraan. Motif bunga padi menjadi hiasan khas di leher, bagian depan, dan ujung lengan.
Penutup kepala merah bermotif kuning menjadi ciri utama pakaian ini. Sementara Walian Wangko, untuk wanita, berupa kebaya panjang berwarna putih atau uungu sebagai lambang kesucian. Kebaya ini dipadukan dengan sarung batik gelap dan mahkota kepala bernama kronci.
Advertisement
4. Pakaian Adat Sangihe Talaud, Laku Tepu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5439235/original/059473500_1765352918-Pakaian_Adat_Sangihe_Talaud__Laku_Tepu.png)
Berikutnya ada Sangihe dan Talaud yang memiliki busana adat khas yang dikenal dengan Laku Tepu. Pakaian ini lazim digunakan dalam upacara adat besar seperti Tulude, yaitu ritual syukur yang menjadi bagian penting kebudayaan masyarakat di kepulauan tersebut.
Keunikan Laku Teepu terletak pada bahan dasarnya, yakni serat pohon pisang atau serat kofo. Serat ini diproses secara tradisional dengan teknik memukul, mengeringkan, dan menenun hingga menjadi lembaran kain yang kuat. Karena prosesnya yang rumit, pakaian ini memiliki nilai budaya tinggi.
Busana Laku Tepu dibuat dalam bentuk baju lengan panjang dengan ukuran yang cukup panjang hingga menyentuh tumit. Bagian lehernya dibuat sempit sebagai ciri khas. Aksesori yang digunakan dalam Laku Tepu sangat beragam, seperti Popehe (ikat pinggang), Paporong (penutup kepala), Bandang (selendang bahu), serta Kahiwu (rok rumbai). Pada masa kerajaan, warna Laku Tepu menunjukkan status pemakainya: ungu, biru, kuning, dan putih memiliki makna yang berbeda dalam tatanan pemerintahan.
5. Lanut, Baniang, dan Salu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5439236/original/097687700_1765352918-Lanut__Baniang__dan_Salu.png)
Terakhir ada pakaian adat Sulawesi Utara yang berasal dari suku Bolaang Mongondow, yang juga memiliki busana adat khusus bernama Lanut. Pada masa lampau, kain Lanut dibuat dari bahan alami seperti kulit kayu atau serat pelepah nanas. Serat tersebut ditenun hingga menghasilkan kain bertekstur unik yang menjadi ciri khas masyarakat Mongondow.
Pakaian pria disebut Baniang, berupa atasan seperti kemeja yang dipadukan dengan celana dan sarung yang diikat di pinggang dengan nama Pomerus. Penutup kepala berupa Destar menjadi salah satu penanda pakaian adatnya. Secara keseluruhan, busana Baniang memberikan kesan gagah sekaligus sederhana.
Untuk wanita, pakaian adat disebut Salu. Bentuknya menyerupai kebaya tradisional yang dipadukan dengan sarung songket atau kain Sanket Pelekat. Pada bagian dada terdapat hiasan emas bernama Hamunse yang mempercantik tampilan. Ciri khas pakaian ini adalah desainnya yang tertutup rapat, menampilkan nilai kesopanan yang dijunjung tinggi masyarakat Bolaang Mongondow.
Sebagai salah satu bentuk warisan budaya, pakaian adat Sulawesi Utara tidak hanya menjadi simbol identitas, namun juga menjadi pengingat akan nilai-nilai luhur yang dijaga secara turun temurun.
Â
QnA: Seputar Pakaian Adat Sulawesi Utara
1. Apa saja pakaian adat paling terkenal dari Sulawesi Utara?
Beberapa yang paling dikenal adalah Minahasa Bajang, Tonaas Wangko, Walian Wangko, Laku Tepu dari Sangihe Talaud, serta Lanut, Baniang, dan Salu dari Bolaang Mongondow.
2. Mengapa banyak warna cerah digunakan dalam pakaian adat Sulawesi Utara?
Karena setiap warna memiliki makna tertentu seperti kemuliaan, kesuburan, kesejahteraan, hingga kekuatan.
3. Apakah pakaian adat ini masih digunakan di acara modern?
Ya, masih digunakan dalam upacara adat, festival budaya, penyambutan tamu, hingga acara resmi pemerintahan.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5481724/original/069742900_1769143528-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-01-23T110013.385.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3267613/original/079814300_1602679710-Kejahatan_Siber.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7503211/original/044195200_1780275516-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-01T075745.914.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262299/original/014349800_1781777647-Tugas__37_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3051584/original/034158100_1776315691-3972.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5439231/original/003685200_1765352917-Pakaiana_Adat_Sulawesi_Utara.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1860530/original/010220100_1777609466-pp.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8293308/original/041888100_1782155517-AP26173640031261.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8317670/original/089667300_1782185621-AP26174019661970.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260107/original/053673600_1781571207-Preskon_Prancis-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5455280/original/047575700_1766643618-000_88YV4YQ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8315631/original/085066700_1782183105-AP26173665939735.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8312896/original/014782800_1782180155-000_B7XU3U2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8312895/original/060240200_1782180154-000_B7XU3W8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8303531/original/058987900_1782168483-AP26173793551298-Mbappe.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8309790/original/022314100_1782176318-000_B7XQ8ZR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7562358/original/065768500_1780339879-norwegia_swedia_uj_coba.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8306243/original/097675000_1782171964-000_B7XN2AD.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260724/original/073509600_1781647690-PRANCIS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5558880/original/022626900_1776491334-ide_kostum_karnaval_hari_kartini.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4249991/original/039375100_1670224832-4.jpg)