Surat An-Nazi’at dan Terjemahan, Lengkap dengan Asbabun Nuzulnya

Surat An Naziat merupakan surat ke-79 dalam Al-Qur'an yang membahas tentang hari kiamat, kebangkitan, dan balasan di akhirat.

Diterbitkan 01 Juli 2025, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Surat An-Nazi’at merupakan surah ke-79 dalam Al-Qur’an yang terdiri dari 46 ayat dan termasuk dalam golongan surah Makkiyah. Surah ini dibuka dengan sumpah Allah SWT atas malaikat-malaikat yang mencabut nyawa, baik dengan kekerasan terhadap orang kafir maupun dengan kelembutan terhadap orang beriman. An-Nazi’at menggambarkan secara dramatis peristiwa kiamat, kebangkitan manusia dari kubur, dan nasib akhir para pendurhaka. Bahasa yang digunakan dalam surah ini bersifat retoris dan penuh tekanan, bertujuan menggugah hati dan kesadaran akan akhirat. 

Kandungan Surat An-Nazi’at terbagi dalam beberapa bagian penting, yakni tentang tugas malaikat pencabut nyawa, peristiwa kiamat dan kebangkitan, nasib orang durhaka seperti Fir’aun, serta penguatan terhadap keesaan dan kekuasaan Allah SWT. Dalam Tafsir Fi Zilalil Qur’an karya Sayyid Qutb dijelaskan bahwa An-Nazi’at adalah surah yang menghentak kesadaran manusia dengan suasana kiamat dan memperlihatkan kekuasaan Allah atas kehidupan dan kematian. Penekanan terhadap kehidupan setelah mati menjadi inti pesan yang disampaikan dalam surah ini. 

Sementara itu, dalam buku Tafsir Tematik-Sosial karya M. Dawam Rahardjo disebutkan bahwa An-Nazi’at merupakan salah satu surah yang secara sosial menegaskan bahwa kekuasaan otoriter seperti Fir’aun akan hancur di bawah keadilan Tuhan, dan hanya nilai-nilai tauhid serta keadilan yang akan bertahan. Hal ini memperlihatkan bahwa kandungan surat ini tidak hanya bersifat eskatologis (tentang akhirat), tapi juga relevan dalam membentuk kesadaran sosial dan keadilan. 

Berikut ini Liputan6.com ulas selengkapnya, Selasa (1/7/2025).  

Bacaan Surat An-Nazi’at dan Artinya

Berikut ini bacaan surat An-Nazi’at dalam Bahasa Arab, Latin, dan Artinya yang bisa anda hafalkan, yakni: 

وَالنّٰزِعٰتِ غَرْقًاۙ 

Arab Latin: wan-nāzi'āti garqā 

Artinya: “Demi (malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras.” 

وَّالنّٰشِطٰتِ نَشْطًاۙ 

Arab Latin: wan-nāsyiṭāti nasyṭā 

Artinya: “Demi (malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah lembut.” 

وَّالسّٰبِحٰتِ سَبْحًاۙ 

Arab Latin: was-sābiḥāti sab-ḥā 

Artinya: “Demi (malaikat) yang turun dari langit dengan cepat,” 

فَالسّٰبِقٰتِ سَبْقًاۙ 

Arab Latin: fas-sābiqāti sabqā 

Artinya: “dan (malaikat) yang mendahului dengan kencang,” 

فَالْمُدَبِّرٰتِ اَمْرًاۘ 

Arab Latin: fal-mudabbirāti amrā 

Artinya: “dan (malaikat) yang mengatur urusan (dunia).” 

يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُۙ 

Arab Latin: yauma tarjufur-rājifah 

Artinya: “ (Sungguh, kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama mengguncangkan alam,” 

تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ ۗ 

Arab Latin: tatba'uhar-rādifah 

Artinya: “ (tiupan pertama) itu diiringi oleh tiupan kedua.” 

قُلُوْبٌ يَّوْمَىِٕذٍ وَّاجِفَةٌۙ 

Arab Latin: qulụbuy yauma`iżiw wājifah 

Artinya: “Hati manusia pada waktu itu merasa sangat takut,” 

اَبْصَارُهَا خَاشِعَةٌ ۘ 

Arab Latin: abṣāruhā khāsyi'ah 

Artinya: “pandangannya tunduk.” 

يَقُوْلُوْنَ ءَاِنَّا لَمَرْدُوْدُوْنَ فِى الْحَافِرَةِۗ 

Arab Latin: yaqụlụna a innā lamardụdụna fil-ḥāfirah 

Artinya: “ (Orang-orang kafir) berkata, ‘Apakah kita benar-benar akan dikembalikan kepada kehidupan yang semula?’” 

ءَاِذَا كُنَّا عِظَامًا نَّخِرَةً ۗ 

Arab Latin: a iżā kunnā 'iẓāman nakhirah 

Artinya: “Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kita telah menjadi tulang belulang yang hancur?” 

قَالُوْا تِلْكَ اِذًا كَرَّةٌ خَاسِرَةٌ ۘ 

Arab Latin: qālụ tilka iżang karratun khāsirah 

Artinya: “Mereka berkata, ‘Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan.’” 

فَاِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَّاحِدَةٌۙ 

Arab Latin: fa innamā hiya zajratuw wāḥidah 

Artinya: “Maka pengembalian itu hanyalah dengan sekali tiupan saja.” 

فَاِذَا هُمْ بِالسَّاهِرَةِۗ 

Arab Latin: fa iżā hum bis-sāhirah 

Artinya: “Maka seketika itu mereka hidup kembali di bumi (yang baru).” 

هَلْ اَتٰىكَ حَدِيْثُ مُوْسٰىۘ 

Arab Latin: hal atāka ḥadīṡu mụsā 

Artinya: “Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) kisah Musa?” 

اِذْ نَادٰىهُ رَبُّهٗ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًىۚ 

Arab Latin: iż nādāhu rabbuhụ bil-wādil-muqaddasi ṭuwā 

Artinya: “Ketika Tuhan memanggilnya (Musa) di lembah suci yaitu Lembah Tuwa” 

اِذْهَبْ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰىۖ 

Arab Latin: iż-hab ilā fir'auna innahụ ṭagā 

Artinya: “Pergilah engkau kepada Fir‘aun! Sesungguhnya dia telah melampaui batas,” 

فَقُلْ هَلْ لَّكَ اِلٰٓى اَنْ تَزَكّٰىۙ 

Arab Latin: fa qul hal laka ilā an tazakkā 

Artinya: “Maka katakanlah (kepada Fir‘aun), ‘Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri (dari kesesatan),’” 

وَاَهْدِيَكَ اِلٰى رَبِّكَ فَتَخْشٰىۚ 

Arab Latin: wa ahdiyaka ilā rabbika fa takhsyā 

Artinya: “dan engkau akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar engkau takut kepada-Nya?” 

فَاَرٰىهُ الْاٰيَةَ الْكُبْرٰىۖ 

Arab Latin: fa arāhul-āyatal-kubrā 

Artinya: “Lalu (Musa) memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar.” 

فَكَذَّبَ وَعَصٰىۖ 

Arab Latin: fa każżaba wa 'aṣā 

Artinya: “Tetapi dia (Fir‘aun) mendustakan dan mendurhakai.” 

ثُمَّ اَدْبَرَ يَسْعٰىۖ 

Arab Latin: ṡumma adbara yas'ā 

Artinya: “Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa).” 

فَحَشَرَ فَنَادٰىۖ 

Arab Latin: fa ḥasyara fa nādā 

Artinya: “Kemudian dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru (memanggil kaumnya).” 

فَقَالَ اَنَا۠ رَبُّكُمُ الْاَعْلٰىۖ 

Arab Latin: fa qāla ana rabbukumul-a'lā 

Artinya: “ (Seraya) berkata, ‘Akulah tuhanmu yang paling tinggi.’” 

فَاَخَذَهُ اللّٰهُ نَكَالَ الْاٰخِرَةِ وَالْاُوْلٰىۗ 

Arab Latin: fa akhażahullāhu nakālal-ākhirati wal-ụlā 

Artinya: “Maka Allah menghukumnya dengan azab di akhirat dan siksaan di dunia.” 

اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّمَنْ يَّخْشٰى ۗ 

Arab Latin: inna fī żālika la'ibratal limay yakhsyā 

Artinya: “Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Allah).” 

ءَاَنْتُمْ اَشَدُّ خَلْقًا اَمِ السَّمَاۤءُ ۚ بَنٰىهَاۗ 

Arab Latin: a antum asyaddu khalqan amis-samā`, banāhā 

Artinya: “Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya?” 

رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوّٰىهَاۙ 

Arab Latin: rafa'a samkahā fa sawwāhā 

Artinya: “Dia telah meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya,” 

وَاَغْطَشَ لَيْلَهَا وَاَخْرَجَ ضُحٰىهَاۖ 

Arab Latin: wa agṭasya lailahā wa akhraja ḍuḥāhā 

Artinya: “dan Dia menjadikan malamnya (gelap gulita), dan menjadikan siangnya (terang benderang).” 

وَالْاَرْضَ بَعْدَ ذٰلِكَ دَحٰىهَاۗ 

Arab Latin: wal-arḍa ba'da żālika daḥāhā 

Artinya: “Dan setelah itu bumi Dia hamparkan.” 

اَخْرَجَ مِنْهَا مَاۤءَهَا وَمَرْعٰىهَاۖ 

Arab Latin: akhraja min-hā mā`ahā wa mar'āhā 

Artinya: “Darinya Dia pancarkan mata air, dan (ditumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya.” 

وَالْجِبَالَ اَرْسٰىهَاۙ 

Arab Latin: wal-jibāla arsāhā 

Artinya: “Dan gunung-gunung Dia pancangkan dengan teguh.” 

مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْۗ 

Arab Latin: matā'al lakum wa li`an'āmikum 

Artinya: “ (Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu.” 

فَاِذَا جَاۤءَتِ الطَّاۤمَّةُ الْكُبْرٰىۖ 

Arab Latin: fa iżā jā`atiṭ-ṭāmmatul-kubrā 

Artinya: “Maka apabila malapetaka besar (hari Kiamat) telah datang,” 

يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْاِنْسَانُ مَا سَعٰىۙ 

Arab Latin: yauma yatażakkarul-insānu mā sa'ā 

Artinya: “yaitu pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya,” 

وَبُرِّزَتِ الْجَحِيْمُ لِمَنْ يَّرٰى 

Arab Latin: wa burrizatil-jaḥīmu limay yarā 

Artinya: “dan neraka diperlihatkan dengan jelas kepada setiap orang yang melihat.” 

فَاَمَّا مَنْ طَغٰىۖ 

Arab Latin: fa ammā man ṭagā 

Artinya: “Maka adapun orang yang melampaui batas,” 

وَاٰثَرَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَاۙ 

Arab Latin: wa āṡaral-ḥayātad-dun-yā 

Artinya: “dan lebih mengutamakan kehidupan dunia,” 

فَاِنَّ الْجَحِيْمَ هِيَ الْمَأْوٰىۗ 

Arab Latin: fa innal-jaḥīma hiyal-ma`wā 

Artinya: “maka sungguh, nerakalah tempat tinggalnya.” 

وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰىۙ 

Arab Latin: wa ammā man khāfa maqāma rabbihī wa nahan-nafsa 'anil-hawā 

Artinya: “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya,” 

فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوٰىۗ 

Arab Latin: fa innal-jannata hiyal-ma`wā 

Artinya: “maka sungguh, surgalah tempat tinggal(nya).” 

يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ السَّاعَةِ اَيَّانَ مُرْسٰىهَاۗ 

Arab Latin: yas`alụnaka 'anis-sā'ati ayyāna mursāhā 

Artinya: “Mereka (orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari Kiamat, “Kapankah terjadinya?” 

فِيْمَ اَنْتَ مِنْ ذِكْرٰىهَاۗ 

Arab Latin: fīma anta min żikrāhā 

Artinya: “Untuk apa engkau perlu menyebutkannya (waktunya)?” 

اِلٰى رَبِّكَ مُنْتَهٰىهَاۗ 

Arab Latin: ilā rabbika muntahāhā 

Artinya: “Kepada Tuhanmulah (dikembalikan) kesudahannya (ketentuan waktunya).” 

اِنَّمَآ اَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَّخْشٰىهَاۗ 

Arab Latin: innamā anta munżiru may yakhsyāhā 

Artinya: “Engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari Kiamat).” 

كَاَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوْٓا اِلَّا عَشِيَّةً اَوْ ضُحٰىهَا 

Arab Latin: ka`annahum yauma yaraunahā lam yalbaṡū illā 'asyiyyatan au ḍuḥāhā 

Artinya: “Pada hari ketika mereka melihat hari Kiamat itu (karena suasananya hebat), mereka merasa seakan-akan hanya (sebentar saja) tinggal (di dunia) pada waktu sore atau pagi hari.”  

Asbabun Nuzul Surat An-Nazi’at 

Surat An-Nazi’at termasuk surat Makkiyah yang diturunkan pada masa awal kenabian, ketika Rasulullah SAW menghadapi gelombang penolakan keras dari kaum musyrik Quraisy. Ababun nuzul atau sebab diturunkannya surat An Naziat adalah keraguan dan ejekan mereka terhadap konsep hari kebangkitan. Mereka mempertanyakan, bahkan mencemooh, bagaimana mungkin manusia yang telah menjadi tulang-belulang dan hancur di dalam kubur bisa dihidupkan kembali. Mereka menolak ajaran akhirat karena tidak sesuai dengan nalar duniawi mereka yang terbatas. 

Dalam riwayat yang dikutip dari Asbabun Nuzul oleh Imam Al-Wahidi, disebutkan bahwa orang-orang Quraisy seperti Al-Walid bin Al-Mughirah dan Abu Jahl pernah berkata kepada Rasulullah SAW dengan nada mengejek: "Apakah engkau mengira kami akan dibangkitkan lagi setelah kami mati dan menjadi tanah serta tulang-belulang?" Sebagai tanggapan atas pertanyaan yang penuh penghinaan tersebut, Allah menurunkan Surat An-Nazi’at. Surat ini menjadi jawaban sekaligus peringatan, mengingatkan bahwa hari kiamat benar-benar akan terjadi, dan kebangkitan adalah bagian dari kuasa Allah yang mutlak. 

Allah memulai surat ini dengan sumpah menggunakan aktivitas para malaikat, seperti mencabut nyawa dengan keras maupun lembut. Ini memberikan isyarat kuat bahwa proses kematian dan kehidupan kembali adalah sistem yang berjalan atas kehendak-Nya. Gambaran kiamat yang menggetarkan, penciptaan alam semesta sebagai bukti kuasa Allah, serta contoh kehancuran Fir’aun karena kesombongannya menjadi penguat pesan utama surat ini. Ayat demi ayat menyentak kesadaran manusia bahwa kehidupan ini bukanlah akhir dari segalanya. 

Sedangkan dalam buku Tafsir Tematik-Sosial (2021) karya Faris Maulana Akbar dijelaskan bahwa Surat An-Nazi’at tidak hanya berbicara tentang realitas metafisis seperti kiamat dan kebangkitan, tetapi juga memuat pesan moral dan sosial yang kuat. Salah satunya adalah bahwa kekuasaan duniawi seperti milik Fir’aun yang ditopang oleh kezaliman dan arogansi tidak akan bisa melindungi seseorang dari azab Allah. Fir’aun dijadikan simbol tirani kekuasaan yang akhirnya hancur karena menolak kebenaran. Maka, surat ini mengandung peringatan agar manusia tidak tertipu oleh kemegahan dunia. 

Dengan demikian, Asbabun Nuzul Surat An-Nazi’at merupakan respons langsung terhadap kaum musyrik Quraisy yang meremehkan wahyu tentang hari kebangkitan. Allah menjelaskan bahwa kehidupan dunia sangatlah singkat jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat.  

QnA Seputar Surat An-Nazi’at 

Q: Apa itu Surat An-Nazi’at dan termasuk golongan surah apa? 

A: Surat An-Nazi’at adalah surah ke-79 dalam Al-Qur’an yang terdiri dari 46 ayat. Termasuk dalam golongan Makkiyah, karena diturunkan di Makkah sebelum hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Surah ini membahas hari kiamat, kebangkitan, kekuasaan Allah, dan kisah Fir’aun. 

Q: Apa arti kata "An-Nazi’at"? 

A: "An-Nazi’at" berarti “(para malaikat) yang mencabut dengan keras”, merujuk pada malaikat yang mencabut nyawa orang kafir. Kata ini diambil dari ayat pertama surat tersebut dan menggambarkan kekuatan serta tugas malaikat dalam menjalankan perintah Allah. 

Q: Apa pesan moral dari kisah Fir’aun dalam Surat An-Nazi’at? 

A: Kisah Fir’aun dalam surat ini mengajarkan bahwa kesombongan, kekuasaan, dan penolakan terhadap kebenaran akan berakhir dengan kehancuran. Fir’aun yang mengklaim dirinya sebagai tuhan ditenggelamkan oleh Allah sebagai bukti kehinaan orang-orang yang durhaka. 

Q: Apa makna sumpah malaikat di awal Surat An-Nazi’at? 

A: Sumpah tersebut menekankan tugas para malaikat dalam mencabut nyawa dengan keras (untuk orang kafir) dan lembut (untuk orang beriman), serta menggambarkan urgensi dan keseriusan hari kiamat. Ini menunjukkan bahwa setiap kehidupan akan menuju kematian, dan kematian adalah awal perjalanan menuju akhirat. 

Q: Mengapa Surat An-Nazi’at diturunkan? 

A: Surat ini diturunkan sebagai jawaban terhadap ejekan dan pengingkaran kaum musyrik Quraisy terhadap kebangkitan dan hari kiamat. Mereka meremehkan ajaran Rasulullah SAW tentang hari akhir, dan surat ini datang sebagai peringatan tegas dari Allah SWT. 

Q: Apa yang membedakan orang beriman dan orang durhaka dalam surah ini? 

A: Orang durhaka lebih mencintai dunia dan mendustakan akhirat, maka tempatnya adalah neraka. Sedangkan orang yang takut kepada Allah dan menahan hawa nafsunya, maka ia akan mendapat tempat di surga. Ini ditegaskan dalam ayat 40–41. 

Q: Apa hubungan Surat An-Nazi’at dengan kehidupan manusia saat ini? 

A: Surat ini mengingatkan bahwa hidup bukan sekadar dunia, tapi akan ada pertanggungjawaban setelah mati. Ia juga memperingatkan manusia agar tidak sombong, tidak mengabaikan kebenaran, serta lebih mendekat kepada Allah dengan penuh ketundukan. 

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6