Contoh Kata Ulang dalam Bahasa Indonesia dan Jenisnya, Pahami Makna dan Fungsinya

Contoh kata ulang semu antara lain adalah "agar-agar", "layang-layang", "cumi-cumi", "biri-biri", dan "laba-laba."

Diperbarui 24 Juni 2025, 15:16 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Kata ulang dalam bahasa Indonesia merupakan bagian penting dalam pembentukan kata. Kata ulang adalah pembentukan kata yang dilakukan dengan mengulang suatu bentuk kata atau morfem.

Dalam bahasa Indonesia, kata ulang dapat dibentuk dengan mengulang satu suku kata atau dua suku kata. Menurut Makna Reduplikasi dalam Buku Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas X SMA, reduplikasi kata kerja salah satunya berfungsi mengubah kerja menjadi objek atau perangkat tindakan, sehingga menjadi kata benda.

Kata ulang dasar dapat ditemukan dalam kata seperti "kucing" (kucing-kucing), "buku" (buku-buku), dan "rumah" (rumah-rumah). Sedangkan kata ulang berimbuhan dapat ditemukan dalam kata seperti "bersama-sama", "contoh-contohnya", "berulang-ulang", dan sebagainya. 

Contoh kata ulang dalam bahasa Indonesia dapat dibedakan menjadi beberapa jenis. Untuk memahami lebih dalam kata ulang dalam bahasa Indonesia, simak penjelasan selengkapnya berikut ini seperti yang telah dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Selasa (24/6/2025).

 

Apa Itu Kata Ulang?

Kata ulang atau reduplikasi merupakan sebuah proses pembentukan kata dalam bahasa Indonesia dengan mengulang bagian dari suku kata atau kata secara keseluruhan. Fungsinya adalah untuk memberikan penegasan atau penguatan makna, menyatakan tindakan berulang, atau memberikan nuansa emosional.

Dengan begitu, pemahaman tentang kata ulang dalam bahasa Indonesia dapat membantu dalam memahami makna kata serta nuansa yang ingin disampaikan dalam percakapan sehari-hari. Secara umum, manfaat dan fungsi kata ulang dalam bahasa Indonesia dapat diuraikansebagai berikut:

1. Perulangan mengubah kata kerja menjadi kata benda

Perulangan mengubah kata kerja menjadi kata benda adalah proses yang umum dilakukan dalam bahasa Indonesia. Contohnya bisa dilihat dari kata kerja injak, undur, karang, dan tulis yang diubah menjadi bentuk benda ulang injak-injak, undur-undur, karang-karang, dan tulis-tulis.

Jurnal Kata Ulang dalam Bahasa Indonesia (Kemdikbud, 2000) menyatakan bahwa reduplikasi membuat verba bertransformasi menjadi nomina, contohnya undur-undur, bantu-bantu

Bentuk ulang ini merupakan jenis kata benda yang dibentuk dari bentuk dasar berupa kata kerja. Dalam kalimat-kalimat tertentu, bentuk ulang ini memberikan keteranga lebih jelas tentang objek atau tindakan yang sedang dilakukan.

Selain itu, terdapat pula perulangan untuk mengubah bentuk tunggal menjadi jamak. Misalnya, kata ibu diubah menjadi ibu-ibu, makanan menjadi makan-makanan, minuman menjadi minum-minuman, lauk menjadi lauk-pauk, sayur menjadi sayur-sayur, dan buah menjadi buah-buahan. Perulangan ini memberikan penegasan bahwa objek yang dimaksud memiliki sifat jamak atau

 

2. Perulangan mengubah bentuk tunggal menjadi jamak

Dalam bahasa Indonesia, terdapat sebuah peraturan untuk mengubah bentuk tunggal menjadi jamak dengan menggunakan kata ulang. Dalam hal ini, beberapa kata yang sering digunakan adalah ibu, makanan, minuman, lauk, sayur, dan buah.

Dilansir dari buku Kata Ulang: Macam, Makna, Fungsi, Bentuk, dan Contoh (Penerbit Deepublish, 2023), kata ulang seperti ibu-ibu, sayur-sayur, buah‑buahan menunjukkan bentuk jamak dari benda tunggal

Contohnya adalah kata "ibu" yang jika diubah menjadi bentuk jamaknya akan menjadi "ibu-ibu". Kata ulang tersebut menunjukkan bahwa tidak hanya satu ibu yang dimaksudkan, tetapi lebih dari satu ibu. Hal yang sama berlaku juga untuk kata-kata seperti makanan dan minuman. Jika dalam bentuk tunggalnya kita hanya menyebut "makanan" atau "minuman", saat mengubahnya menjadi bentuk jamak kita menggunakan kata ulang sehingga menjadi "makan-makanan" dan "minum-minuman".

Selain itu, ada juga beberapa kata lain seperti lauk, sayur, dan buah yang juga diubah menjadi jamak melalui penggunaan kata ulang. Kata lauk dalam bentuk jamak menjadi "lauk-pauk", sedangkan sayur dan buah dalam bentuk "sayur-mayur" dan "buah-buahan."

3. Perulangan menyatakan intensitas (penguatan makna)

Perulangan menyatakan intensitas adalah salah satu teknik penggunaan bahasa yang digunakan untuk memberikan penekanan atau penguatan pada suatu makna. Prosiding SEMANTIKS (2019) menjelaskan reduplikasi adaptor verba atau adjektiva (contoh: tertawa‑tertawa, membuka‑membuka) mencerminkan tindakan atau keadaan berulang, intens, atau berlangsung lama 

Dalam contoh-contoh di atas, perulangan kata-kata dalam bentuk tunggal atau bentuk ulang digunakan untuk memperkuat arti atau intensitas dari kata-kata tersebut.

Misalnya, dalam kalimat "Peganglah erat-erat!", perulangan kata "erat" digunakan untuk menekankan pentingnya agar seseorang menjaga pegangannya dengan kuat. Kata "erat-erat" memberikan kesan bahwa pegangan tersebut harus benar-benar kuat dan tidak boleh goyah sama sekali.

Hal serupa juga terlihat dalam kalimat "Pemuda-pemuda bergerak!" Di sini, perulangan kata "pemuda" menjadi simbolisasi dari banyaknya para pemuda yang bergerak secara aktif. Kalimat ini menggambarkan banyaknya pemuda yang melakukan aktivitas atau gerakan bersama-sama.

Kata ulang dwilingga yang menggunakan penuh pada bentuk dasarnya adalah salah satu bentuk kata ulang dalam bahasa Indonesia. Dalam pola ini, suku kata pertama dari kata dasar diulang dua kali tanpa ada perubahan. Contoh-contoh kata ulang dwilingga yang menggunakan penuh pada bentuk dasarnya antara lain "pagi-pagi", "anak-anak", "ibu-ibu", "baik-baik", "malam-malam", "pohon-pohon", dan "besar-besar".

Macam-Macam Kata Ulang dan Contohnya

Kata ulang merupakan salah satu bentuk perbendaharaan kata dalam bahasa Indonesia yang mengulang suatu kata untuk memberikan penekanan atau memperjelas makna. Dalam bahasa Indonesia terdapat berbagai macam jenis kata ulang yang digunakan dalam percakapan sehari-hari maupun dalam penulisan. Berikut ini beberapa contoh kata ulang beserta penjelasannya seperti dalam dalam penelitian Analisis Kontrastif Reduplikasi Bahasa Jawa Dengan Bahasa Indonesia di Arkhais: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia.

1. Kata ulang penuh atau murni (dwilingga)

Kata ulang penuh atau murni, juga dikenal sebagai dwilingga, adalah salah satu jenis kata ulang dalam bahasa Indonesia. Kata ulang ini terbentuk dengan mengulang seluruh suku kata dari kata dasar, tanpa adanya perubahan dalam bentuk atau makna kata tersebut. Contoh kata ulang utuh adalah kata "rumah" yang diulang menjadi "rumah-rumah".

Dalam pola ini, suku kata pertama dari kata dasar diulang dua kali tanpa ada perubahan. Contoh-contoh kata ulang dwilingga yang menggunakan penuh pada bentuk dasarnya antara lain "pagi-pagi", "anak-anak", "ibu-ibu", "baik-baik", "malam-malam", "pohon-pohon", dan "besar-besar".

Pola kata ulang ini digunakan untuk memberikan penekanan atau memperlihatkan intensitas suatu hal. Misalnya, dengan mengulang kata "pagi" menjadi "pagi-pagi" dapat memberikan gambaran bahwa itu adalah pagi yang sangat awal atau mereka bangun di pagi yang sangat dini. Begitu juga dengan contoh lain seperti, dengan mengulang kata "anak" menjadi "anak-anak" dapat menunjukkan bahwa ada banyak anak dalam situasi tersebut.

2. Kata ulang sebagian (dwipurwa)

Kata ulang dwipurwa adalah salah satu bentuk perulangan kata dalam bahasa Indonesia. Pengulangan ini terjadi pada suku kata awal sebuah kata, di mana vokal pada posisi tengah mengalami pelemahan menjadi pepet. Contoh-contoh yang diberikan menunjukkan bagaimana pengulangan ini terjadi. Misalnya, dalam kata "taman-taman", suku kata "tanaman" diulang dengan vokal pada posisi tengah yang pelemahan menjadi pepet, sehingga menjadi "tetanaman". Hal serupa juga terlihat pada contoh-contoh lain seperti "laki-lalaki" yang menjadi "lelaki", "luhur-luluhur" yang menjadi "leluhur", dan "tangga-tetangga" yang menjadi "tetangga".

Penggunaan kata ulang dwipurwa memberikan kesan keindahan dan ritme dalam bahasa Indonesia. Dengan mengulangi suku kata awal dengan pola tertentu, pembicara atau penulis dapat menciptakan irama yang khas dalam kalimat.

 

 

3. Kata ulang dwilingga saling suara

Kata ulang dwilingga saling suara merupakan sebuah bentuk perulangan yang menarik dalam bahasa Indonesia. Pada kata ulang ini, terdapat perubahan suara yang terjadi pada salah satu lingganya. Perubahan suara tersebut dapat merujuk pada perubahan fonem tunggal atau bahkan lebih dari satu fonem.

Contoh-contoh kata ulang dwilingga saling suara sangatlah beragam. Misalnya, kata "sayur" yang ketika dalam bentuk kata ulang dapat menjadi "sayur-mayur". Dalam pengulangan ini, terjadi perubahan suara dari "s" menjadi "m". Hal serupa juga terjadi pada kata "cerai", yang diulang menjadi "cerai-berai". Di sini, bunyi "c" mengalami perubahan menjadi bunyi geminate "b".

Fenomena perulangan dan perubahan suara dalam kata-kata seperti itu memberikan warna dan keunikan tersendiri bagi bahasa Indonesia. Selain itu, hal ini juga menunjukkan kekayaan kosakata serta keluwesan sistem bunyi dalam struktur bah

4. Kata ulang berimbuhan

Kata ulang berimbuhan adalah bentuk pengulangan kata yang menggunakan imbuhan atau afiks. Imbuhan yang digunakan dapat berupa awalan (prefiks) atau akhiran (sufiks). Misalnya, dalam kata "main" dapat diubah menjadi bentuk reduplikasi bermain-main", terdapat pengulangan kata "main" dengan imbuhan "ber".

Dengan adanya imbuhan tersebut, makna dari kata berubah menjadi "melakukan kegiatan main secara berulang-ulang". Contoh lainnya adalah kata "motor-motoran", dimana ada pengulangan kata "motor" dengan imbuhan "-an". Dalam hal ini, makna dari kata tersebut mengacu pada motor tapi bukan motor sungguhan tapi motor mainan.

Bentuk kata ulang berimbuhan ini digunakan untuk memberikan penekanan pada intensitas atau frekuensi dalam suatu tindakan atau kegiatan. Kata ulang semacam ini sering digunakan dalam bahasa sehari-hari untuk menyampaikan pemahaman yang lebih kuat tentang suatu aktivitas atau fenomena tertentu. Selain itu, penggunaan imbuhan

5. Kata ulang semu

Kata ulang semu sebenarnya bukan merupakan kata ulang yang terbentuk melalui proses morfologi reduplikasi. Kata ulang semu sebenarnya adalah kata dasar yang sejak awal memang berbentuk kata ulang. Contoh kata ulang semu antara lain adalah "agar-agar", "layang-layang", "cumi-cumi", "biri-biri", dan "laba-laba" dan sebagainya.

Pengertian Kata Ulang Menurut Ahli

Solichi (1996: 9)

Menurut Solichi, pengertian proses reduplikasi atau kata ulang adalah pengulangan satuan gramatikal, baik selurunya maupun sebagiannya, baik dengan variasi fonem maupun tidak. Hasil pengulangan disebut kata ulang, satuan yang diulang merupakan bentuk dasar.

Soepeno (1982: 20)

Pengertian kata ulang adalah kata hasil perulangan bentuk dasar baik seluruhnya maupun sebagian, baik dengan variasi fonem maupun tidak.

Keraf (1991:149)

Pengertian kata ulang adalah bentuk kata ulang sebagai sebuah bentuk gramatikal yang berwujud penggandaan sebagian atau seluruh bentuk dasar sebuah kata. Dalam bahasa Indonesia terdapat bermacam-macam bentuk kata ulang.

Soedjito (1995: 109)

Menurut Soedjito, pengertian pengulangan adalah proses pembentukan kata dengan mengulang bentuk dasar, baik secara utuh maupun sebagian, baik dengan variasi fonem maupun tidak.

Ramlan (1985: 57)

Menurut Ramlan, pengertian proses pengulangan atau reduplikasi adalah pengulangan satuan gramatik, baik seluruhnya maupun sebagiannya, baik dengan variasi fonem maupun tidak.

Muslich (1990:48)

Menurut Muslich, pengertian proses pengulangan adalah peristiwa pembentukan kata dengan jalan mengulang bentuk dasar, baik seluruhnya maupun sebagian, baik bervariasi fonem maupun tidak, baik berkombinasi dengan afiks maupun tidak.Advertisement

 

QnA Pertanyaan seputar Kata Ulang dalam Bahasa Indonesia

Q: Apa perbedaan antara kata ulang semu dan dwilingga?

A: Kata ulang semu terlihat berulang tetapi bukan hasil reduplikasi, misalnya kupu-kupu, sedangkan dwilingga adalah pengulangan utuh dari kata dasar, seperti anak-anak.

Q: Mengapa kata ulang berimbuhan penting dalam bahasa Indonesia?

A: Karena menggabungkan reduplikasi dengan afiksasi, memberikan peran tambahan seperti menjelaskan intensitas atau keberlanjutan, misalnya bercanda-candaan.

Q: Bagaimana kata ulang menunjukkan pengulangan tindakan?

A: Contoh tertawa-tawa atau berbicara-bicara mengindikasikan bahwa tindakan terjadi berulang kali atau berlangsung lama, bukan hanya sekali.

Q: Kapan kata ulang dapat menunjukkan makna jamak?

A: Saat digunakan pada nomina, seperti pohon-pohon atau buku-buku, kata ulang menunjukkan lebih dari satu objek sesuai bentuk plural semantik.

Q: Bisakah kata ulang membuat kata dasar berubah fungsi gramatikal?

A: Ya, misalnya pada kata sifat seperti merah-merahan, reduplikasi mengubahnya menjadi keterangan dengan nuansa ‘agak merah’.

 

 

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6