Liputan6.com, Jakarta Syu'abul Iman merupakan salah satu konsep penting dalam Islam yang menunjukkan betapa luasnya cakupan iman dalam kehidupan seorang Muslim. Istilah Syu'abul Iman berasal dari bahasa Arab yang berarti cabang-cabang iman. Konsep ini menggambarkan bahwa iman tidak hanya sebatas keyakinan dalam hati, tetapi juga mencakup ucapan dan perbuatan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kitab Shu’ab al-Iman karya Imam Al-Baihaqi, menjelaskan bahwa iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang, yang paling tinggi adalah ucapan ‘Lā ilāha illallāh’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Hal ini menunjukkan bahwa setiap tindakan positif yang dilakukan dengan niat karena Allah, sekecil apa pun, bisa menjadi bagian dari iman. Syu'abul Iman tidak hanya meliputi ibadah ritual seperti sholat dan puasa, tetapi juga perilaku sosial, akhlak, dan sikap hati.
Sementara itu, menurut Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, menjelaskan bahwa cabang-cabang iman mencerminkan kesatuan antara aspek lahir dan batin seorang mukmin. Artinya, Syu'abul Iman menyatukan semua dimensi hidup seorang Muslim dalam satu kesatuan keimanan yang utuh. Dengan memahami jenis-jenisnya, umat Islam dapat lebih sadar bahwa keimanan bukanlah sesuatu yang pasif, melainkan harus diwujudkan secara aktif dalam perilaku dan sikap sehari-hari.
Advertisement
Berikut ini Liputan6.com ulas selengkapnya, Rabu (11/6/2025).
Mengenal Syu'abul Iman
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4307371/original/078684300_1675058811-silhouette-handsome-asian-man-praying.jpg)
Syu’abul Iman adalah istilah dalam Islam yang berarti cabang-cabang iman. Istilah ini berasal dari hadis Nabi Muhammad SAW yangbersabda:
“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh, bahkan sampai enam puluh cabang. Yang paling tinggi adalah ucapan ‘Lā ilāha illallāh’, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Secara terminologi, Syu’abul Iman merujuk pada segala bentuk keyakinan, ucapan, dan perbuatan yang menjadi manifestasi dari keimanan seseorang, baik dalam aspek hubungan dengan Allah (hablumminallah) maupun dengan sesama manusia (hablumminannas).
Konsep ini menunjukkan bahwa iman bukan hanya berkaitan dengan keyakinan dalam hati, tetapi harus diwujudkan dalam perbuatan nyata, seperti berkata jujur, menunaikan amanah, menjaga lisan, hingga menolong orang lain. Bahkan Imam Al-Baihaqi menulis sebuah karya bersejarah yang berjudul Shu’ab al-Iman, yang menghimpun berbagai hadis terkait cabang-cabang iman tersebut.
Dalam kitab Shu’ab al-Iman karya Imam Al-Baihaqi, Syu’abul Iman dibagi menjadi tiga kategori adalah sebagai berikut ini:
- Syu’abul Iman yang berkaitan dengan hati.
- Syu’abul Iman yang berkaitan dengan lisan atau perkataan.
- Syu’abul Iman yang berkaitan dengan anggota tubuh atau perbuatan.
Advertisement
Jenis Syu'abul Iman Berdasarkan Hati
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4324237/original/062137400_1676416680-masjid-pogung-dalangan-zcJIoMCFNwM-unsplash.jpg)
Jenis-jenis Syu’abul Iman yang pertama yaitu berdasarkan hati atau aqidah. Berikut jenis-jenis Syu’abul Iman berdasarkan hati atau aqidah, yakni:
- Iman kepada Allah SWT.
- Iman kepada malaikat Allah SWT.
- Iman kepada kitab-kitab Allah SWT.
- Iman kepada rasul-rasul Allah SWT.
- Iman kepada takdir baik dan takdir buruk Allah SWT.
- Iman kepada hari akhir.
- Iman kepada kebangkitan setelah kematian.
- Iman bahwa manusia akan dikumpulkan di Yaumul Mahsyar setelah hari kebangkitan.
- Iman bahwa orang mukmin akan tinggal di surga, dan orang kafir akan tinggal di neraka.
- Mencintai Allah SWT.
- Mencintai dan membenci karena Allah SWT.
- Mencintai Rasulullah SAW dan yang memuliakannya.
- Ikhlas, tidak riya dan menjauhi sifat munafik.
- Bertaubat, menyesal dan janji tidak akan mengulang suatu perbuatan dosa
- Takut kepada Allah SWT.
- Selalu mengharapkan rahmat Allah SWT.
- Tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT.
- Syukur nikmat.
- Menunaikan amanah.
- Sabar.
- Tawadu dan menghormati yang lebih tua.
- Kasih sayang termasuk mencintai anak-anak kecil.
- Rida dengan takdir Allah SWT.
- Tawakal.
- Meninggalkan sifat takabur dan menyombongkan diri.
- Tidak dengki dan iri hati.
- Rasa Malu.
- Tidak mudah marah.
- Tidak menipu, tidak su'uzon dan tidak merencanakan keburukan kepada siapa pun.
- Menanggalkan kecintaan kepada dunia, termasuk cinta harta dan jabatan
Jenis Syu'abul Iman Berdasarkan Perkataan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3901365/original/061613200_1641969114-rumman-amin-i1bfxi1cFBY-unsplash.jpg)
Jenis-jenis Syu’abul Iman yang kedua yaitu berdasarkan perkataan. Berikut jenis-jenis Syu’abul Iman berdasarkan perkataan:
- Membaca kalimat thayyibah (kalimat-kalimat yang baik)
- Membaca kitab suci Al-Qur`an
- Belajar dan menuntut ilmu
- Mengajarkan ilmu kepada orang lain
- Berdoa
- Zikir kepada Allah SWT termasuk istighfar
- Menghindari bacaan yang sia-sia.
Advertisement
Jenis Syu'abul Iman Berdasarkan Perbuatan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4268136/original/050274500_1671605810-pexels-mohammad-ramezani-12772601.jpg)
Jenis-jenis Syu’abul Iman yang ketiga yaitu berdasarkan perbuatan. Berikut jenis-jenis Syu’abul Iman berdasarkan perbuatan, yakni:
- Bersuci atau thaharah termasuk di dalamnya kesucian badan, pakaian dan tempat tinggal
- Menegakkan salat baik salat fardu, salat sunah maupun mengqada salat
- Bersedekah kepada fakir miskin dan anak yatim, membayar zakat fitrah dan zakat mal, memuliakan tamu serta membebaskan budak.
- Menjalankan puasa wajib dan sunah
- Melaksanakan haji bagi yang mampu
- Beri’tikaf di dalam masjid, termasuk di antaranya adalah mencari lailatul qadar
- Menjaga agama dan bersedia meninggalkan rumah untuk berhijrah beberapa waktu tertentu
- Menyempurnakan dan menunaikan nazar
- Menyempurnakan dan menunaikan sumpah
- Menyempurnakan dan menunaikan kafarat
- Menutup aurat ketika sedang salat maupun ketika tidak salat
- Melaksanakan kurban
- Mengurus perawatan jenazah
- Menunaikan dan membayar hutang
- Meluruskan muamalah dan menghindari riba
- Menjadi saksi yang adil dan tidak menutupi kebenaran
- Menikah untuk menghindarkan diri dari perbuatan keji dan haram
- Menunaikan hak keluarga, dan sanak kerabat, serta hak hamba sahaya
- Berbakti dan menunaikan hak orang tua
- Mendidik anak-anak dengan pola asuh dan pola didik yang baik
- Menjalin silaturahmi
- Taat dan patuh kepada orang tua atau yang dituakan dalam agama
- Menegakkan pemerintahan yang adil
- Mendukung seseorang yang bergerak dalam kebenaran
- Menaati hakim (pemerintah) dengan catatan tidak melanggar syariat
- Memperbaiki hubungan muamalah dengan sesama
- Menolong orang lain dalam kebaikan
- Amar ma’ruf nahi munkar
- Menegakkan hukum Islam
- Berjihad mempertahankan wilayah perbatasan
- Menunaikan amanah termasuk mengeluarkan 1/5 harta rampasan perang
- Memberi dan membayar hutang
- Memberikan hak-hak tetangga dan memuliakannya
- Mencari harta dengan cara yang halal
- Menyedekahkan harta, termasuk juga menghindari sifat boros dan kikir
- Memberi dan menjawab salam
- Mendoakan orang yang bersin
- Menghindari perbuatan yang merugikan dan menyusahkan orang lain
- Menghindari permainan dan senda gurau
- Menyingkirkan benda-benda yang mengganggu di jalan.
QnA tentang Syu'abul Iman
Q: Apa itu Syu'abul Iman?
A: Syu'abul Iman artinya adalah cabang-cabang dari iman. Istilah ini berasal dari hadis Nabi Muhammad ﷺ yang menjelaskan bahwa iman memiliki lebih dari 70 cabang, mulai dari ucapan "Lā ilāha illallāh" hingga menyingkirkan duri dari jalan.
Q: Siapa yang pertama kali menjelaskan konsep Syu'abul Iman secara rinci?
A: Imam Al-Baihaqi adalah ulama yang menghimpun dan menjelaskan konsep ini secara komprehensif dalam kitabnya Shu’ab al-Iman, yang berisi ratusan hadis berkaitan dengan cabang-cabang iman.
Q: Mengapa penting memahami Syu'abul Iman?
A: Karena dengan memahami Syu'abul Iman, seorang Muslim bisa menyadari bahwa iman tidak hanya ada di dalam hati, tetapi juga harus diwujudkan dalam ucapan dan perbuatan nyata, baik dalam ibadah maupun akhlak sehari-hari.
Q: Apakah Syu'abul Iman berkaitan dengan amal perbuatan?
A: Ya. Sebab Syu'abul Iman menekankan bahwa amal perbuatan adalah bagian tak terpisahkan dari iman, termasuk amal hati, lisan, dan anggota tubuh.
Q: Apakah semua orang harus mengamalkan seluruh cabang iman itu?
A: Idealnya, seorang Muslim berusaha mengamalkan sebanyak mungkin cabang iman sesuai kemampuannya. Meski tidak semua bisa dijalankan sekaligus, setiap cabang yang diamalkan menjadi bukti keimanan.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5575337/original/085582000_1778045275-cek_fakta_-_alat_pertanian_dan_bibit_ikan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7812129/original/049676700_1780629323-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-05T101248.112.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5515623/original/045243200_1772182225-dinas_perhubungan_-_klaim_facebook_cpns.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8336960/original/043977000_1782207955-cek_fakta_-_bibit_Ikan_lele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/2378469/original/055253400_1737413276-IMGE9883.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1715706/original/025798500_1505883734-islamic-newyear-quotes-2016.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1812256/original/019737900_1776314232-pexels-beyzaa-yurtkuran-279977530-17071110.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1860530/original/010220100_1777609466-pp.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262589/original/038165100_1781838673-AP26170082180731-Meksiko_vs_Korsel.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258678/original/086617800_1781400963-000_B6Z32RM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8397156/original/089293200_1782278283-AP26174690236290.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8380798/original/058541300_1782259430-Didier_Deschamps.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8393441/original/064092700_1782273896-IMG-20260624-WA0015.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8391143/original/089751400_1782271521-AP26174796770030.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8390580/original/090297700_1782270828-AP26174743606446.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8377926/original/005752900_1782255969-inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389880/original/043940700_1782270022-AP26174722689391.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8369442/original/037177900_1782246021-Portugal_s_Cristiano_Ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8359730/original/054220900_1782235074-063_2282965616.jpg)