Mengenal Syu'abul Iman, Ketahui Pengertian dan Jenis-Jenisnya

Macam-macam syu'abul iman dibagi menjadi tiga, yaitu iman berdasarkan hati atau aqidah, iman berdasarkan perkataan, dan iman berdasarkan perbuatan.

Diperbarui 11 Juni 2025, 09:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Syu'abul Iman merupakan salah satu konsep penting dalam Islam yang menunjukkan betapa luasnya cakupan iman dalam kehidupan seorang Muslim. Istilah Syu'abul Iman berasal dari bahasa Arab yang berarti cabang-cabang iman. Konsep ini menggambarkan bahwa iman tidak hanya sebatas keyakinan dalam hati, tetapi juga mencakup ucapan dan perbuatan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kitab Shu’ab al-Iman karya Imam Al-Baihaqi, menjelaskan bahwa iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang, yang paling tinggi adalah ucapan ‘Lā ilāha illallāh’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Hal ini menunjukkan bahwa setiap tindakan positif yang dilakukan dengan niat karena Allah, sekecil apa pun, bisa menjadi bagian dari iman. Syu'abul Iman tidak hanya meliputi ibadah ritual seperti sholat dan puasa, tetapi juga perilaku sosial, akhlak, dan sikap hati.

Sementara itu, menurut Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, menjelaskan bahwa cabang-cabang iman mencerminkan kesatuan antara aspek lahir dan batin seorang mukmin. Artinya, Syu'abul Iman menyatukan semua dimensi hidup seorang Muslim dalam satu kesatuan keimanan yang utuh. Dengan memahami jenis-jenisnya, umat Islam dapat lebih sadar bahwa keimanan bukanlah sesuatu yang pasif, melainkan harus diwujudkan secara aktif dalam perilaku dan sikap sehari-hari.

Berikut ini Liputan6.com ulas selengkapnya, Rabu (11/6/2025).

Mengenal Syu'abul Iman

Syu’abul Iman adalah istilah dalam Islam yang berarti cabang-cabang iman. Istilah ini berasal dari hadis Nabi Muhammad SAW yangbersabda:

“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh, bahkan sampai enam puluh cabang. Yang paling tinggi adalah ucapan ‘Lā ilāha illallāh’, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Secara terminologi, Syu’abul Iman merujuk pada segala bentuk keyakinan, ucapan, dan perbuatan yang menjadi manifestasi dari keimanan seseorang, baik dalam aspek hubungan dengan Allah (hablumminallah) maupun dengan sesama manusia (hablumminannas).

Konsep ini menunjukkan bahwa iman bukan hanya berkaitan dengan keyakinan dalam hati, tetapi harus diwujudkan dalam perbuatan nyata, seperti berkata jujur, menunaikan amanah, menjaga lisan, hingga menolong orang lain. Bahkan Imam Al-Baihaqi menulis sebuah karya bersejarah yang berjudul Shu’ab al-Iman, yang menghimpun berbagai hadis terkait cabang-cabang iman tersebut.

Dalam kitab Shu’ab al-Iman karya Imam Al-Baihaqi, Syu’abul Iman dibagi menjadi tiga kategori adalah sebagai berikut ini:

  1. Syu’abul Iman yang berkaitan dengan hati.
  2. Syu’abul Iman yang berkaitan dengan lisan atau perkataan. 
  3. Syu’abul Iman yang berkaitan dengan anggota tubuh atau perbuatan.

Jenis Syu'abul Iman Berdasarkan Hati

Jenis-jenis Syu’abul Iman yang pertama yaitu berdasarkan hati atau aqidah. Berikut jenis-jenis Syu’abul Iman berdasarkan hati atau aqidah, yakni:

  1. Iman kepada Allah SWT.
  2. Iman kepada malaikat Allah SWT.
  3. Iman kepada kitab-kitab Allah SWT.
  4. Iman kepada rasul-rasul Allah SWT.
  5. Iman kepada takdir baik dan takdir buruk Allah SWT.
  6. Iman kepada hari akhir.
  7. Iman kepada kebangkitan setelah kematian.
  8. Iman bahwa manusia akan dikumpulkan di Yaumul Mahsyar setelah hari kebangkitan.
  9. Iman bahwa orang mukmin akan tinggal di surga, dan orang kafir akan tinggal di neraka.
  10. Mencintai Allah SWT.
  11. Mencintai dan membenci karena Allah SWT.
  12. Mencintai Rasulullah SAW dan yang memuliakannya.
  13. Ikhlas, tidak riya dan menjauhi sifat munafik.
  14. Bertaubat, menyesal dan janji tidak akan mengulang suatu perbuatan dosa
  15. Takut kepada Allah SWT.
  16. Selalu mengharapkan rahmat Allah SWT.
  17. Tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT.
  18. Syukur nikmat.
  19. Menunaikan amanah.
  20. Sabar.
  21. Tawadu dan menghormati yang lebih tua.
  22. Kasih sayang termasuk mencintai anak-anak kecil.
  23. Rida dengan takdir Allah SWT.
  24. Tawakal.
  25. Meninggalkan sifat takabur dan menyombongkan diri.
  26. Tidak dengki dan iri hati.
  27. Rasa Malu.
  28. Tidak mudah marah.
  29. Tidak menipu, tidak su'uzon dan tidak merencanakan keburukan kepada siapa pun.
  30. Menanggalkan kecintaan kepada dunia, termasuk cinta harta dan jabatan

Jenis Syu'abul Iman Berdasarkan Perkataan

Jenis-jenis Syu’abul Iman yang kedua yaitu berdasarkan perkataan. Berikut jenis-jenis Syu’abul Iman berdasarkan perkataan:

  1. Membaca kalimat thayyibah (kalimat-kalimat yang baik)
  2. Membaca kitab suci Al-Qur`an
  3. Belajar dan menuntut ilmu
  4. Mengajarkan ilmu kepada orang lain
  5. Berdoa
  6. Zikir kepada Allah SWT termasuk istighfar
  7. Menghindari bacaan yang sia-sia.

Jenis Syu'abul Iman Berdasarkan Perbuatan

Jenis-jenis Syu’abul Iman yang ketiga yaitu berdasarkan perbuatan. Berikut jenis-jenis Syu’abul Iman berdasarkan perbuatan, yakni:

  1. Bersuci atau thaharah termasuk di dalamnya kesucian badan, pakaian dan tempat tinggal
  2. Menegakkan salat baik salat fardu, salat sunah maupun mengqada salat
  3. Bersedekah kepada fakir miskin dan anak yatim, membayar zakat fitrah dan zakat mal, memuliakan tamu serta membebaskan budak.
  4. Menjalankan puasa wajib dan sunah
  5. Melaksanakan haji bagi yang mampu
  6. Beri’tikaf di dalam masjid, termasuk di antaranya adalah mencari lailatul qadar
  7. Menjaga agama dan bersedia meninggalkan rumah untuk berhijrah beberapa waktu tertentu
  8. Menyempurnakan dan menunaikan nazar
  9. Menyempurnakan dan menunaikan sumpah
  10. Menyempurnakan dan menunaikan kafarat
  11. Menutup aurat ketika sedang salat maupun ketika tidak salat
  12. Melaksanakan kurban
  13. Mengurus perawatan jenazah
  14. Menunaikan dan membayar hutang
  15. Meluruskan muamalah dan menghindari riba
  16. Menjadi saksi yang adil dan tidak menutupi kebenaran
  17. Menikah untuk menghindarkan diri dari perbuatan keji dan haram
  18. Menunaikan hak keluarga, dan sanak kerabat, serta hak hamba sahaya
  19. Berbakti dan menunaikan hak orang tua
  20. Mendidik anak-anak dengan pola asuh dan pola didik yang baik
  21. Menjalin silaturahmi
  22. Taat dan patuh kepada orang tua atau yang dituakan dalam agama
  23. Menegakkan pemerintahan yang adil
  24. Mendukung seseorang yang bergerak dalam kebenaran
  25. Menaati hakim (pemerintah) dengan catatan tidak melanggar syariat
  26. Memperbaiki hubungan muamalah dengan sesama
  27. Menolong orang lain dalam kebaikan
  28. Amar ma’ruf nahi munkar
  29. Menegakkan hukum Islam
  30. Berjihad mempertahankan wilayah perbatasan
  31. Menunaikan amanah termasuk mengeluarkan 1/5 harta rampasan perang
  32. Memberi dan membayar hutang
  33. Memberikan hak-hak tetangga dan memuliakannya
  34. Mencari harta dengan cara yang halal
  35. Menyedekahkan harta, termasuk juga menghindari sifat boros dan kikir
  36. Memberi dan menjawab salam
  37. Mendoakan orang yang bersin
  38. Menghindari perbuatan yang merugikan dan menyusahkan orang lain
  39. Menghindari permainan dan senda gurau
  40. Menyingkirkan benda-benda yang mengganggu di jalan.

QnA tentang Syu'abul Iman

Q: Apa itu Syu'abul Iman?

A: Syu'abul Iman artinya adalah cabang-cabang dari iman. Istilah ini berasal dari hadis Nabi Muhammad ﷺ yang menjelaskan bahwa iman memiliki lebih dari 70 cabang, mulai dari ucapan "Lā ilāha illallāh" hingga menyingkirkan duri dari jalan.

Q: Siapa yang pertama kali menjelaskan konsep Syu'abul Iman secara rinci?

A: Imam Al-Baihaqi adalah ulama yang menghimpun dan menjelaskan konsep ini secara komprehensif dalam kitabnya Shu’ab al-Iman, yang berisi ratusan hadis berkaitan dengan cabang-cabang iman.

Q: Mengapa penting memahami Syu'abul Iman?

A: Karena dengan memahami Syu'abul Iman, seorang Muslim bisa menyadari bahwa iman tidak hanya ada di dalam hati, tetapi juga harus diwujudkan dalam ucapan dan perbuatan nyata, baik dalam ibadah maupun akhlak sehari-hari.

Q: Apakah Syu'abul Iman berkaitan dengan amal perbuatan?

A: Ya. Sebab Syu'abul Iman menekankan bahwa amal perbuatan adalah bagian tak terpisahkan dari iman, termasuk amal hati, lisan, dan anggota tubuh.

Q: Apakah semua orang harus mengamalkan seluruh cabang iman itu?

A: Idealnya, seorang Muslim berusaha mengamalkan sebanyak mungkin cabang iman sesuai kemampuannya. Meski tidak semua bisa dijalankan sekaligus, setiap cabang yang diamalkan menjadi bukti keimanan.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6