Liputan6.com, Jakarta - Penyakit ginjal yang berujung pada cuci darah kini banyak dialami usia muda. Data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menunjukkan, biaya penanganan gagal ginjal mencapai Rp 13 triliun lebih pada 2025.
“Dan yang bikin miris, pasiennya sekarang makin banyak yang usia muda,” kata dokter spesialis penyakit dalam subspesialis ginjal dan hipertensi, Decsa Medika Hertanto, dalam unggahan Instagram, dikutip pada Senin (20/4/2026).
Desca bercerita, dirinya semakin sering bertemu pasien cuci darah usia 30 hingga 40 tahun, bahkan ada yang lebih muda. Dari peningkatan kasus ini, Decsa menyebutkan tiga penyebab utama, yakni:
Advertisement
- Hipertensi tidak terkontrol
- Diabetes atau gula darah sering tinggi
- Gaya hidup termasuk makan tak terkontrol, minim aktivitas, dan kurang tidur.
“Dan masalahnya, di awal penyakit ginjal ini hampir enggak ada gejala. Paling cuma gampang capek, bengkak di kaki, kencing berbusa, atau tekanan darah naik yang sering diabaikan.”
“Padahal kalau sudah terlambat, pasien harus hemodialisis atau cuci darah dua sampai tiga kali per minggu, masing-masing empat sampai lima jam per sesi. Dan kalau tanpa jaminan (BPJS) sekali tindakan cuci darah berkisar Rp 800 ribu hingga Rp 2 juta bahkan lebih,” katanya.
Desca menambahkan, sebetulnya pencegahan masalah ginjal terbilang sederhana. Mulai dari mengontrol tensi dan gula darah, minum cukup, jaga pola makan, rutin skrining, dan olahraga rutin.
“Jaga ginjalmu mulai sekarang karena mencegah selalu lebih baik dari pada menyesal di kemudian hari,” ujarnya.
Kenaikan Angka Cuci Darah Usia Muda di Filipina
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/5559988/original/022076400_1776655094-cuci_darah__2_.jpeg)
Kenaikan angka cuci darah pada usia muda tak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga negara Asia Tenggara lain seperti Filipina.
National Kidney and Transplant Institute (NKTI), institut ginjal dan transplantasi nasional Filipina, menyatakan bahwa semakin banyak orang dewasa muda menjalani dialisis karena penyakit yang berhubungan dengan gaya hidup, khususnya diabetes dan hipertensi.
“Kami melihat populasi yang menjalani dialisis sekarang lebih muda,” kata Konsultan Nefrologi Dewasa NKTI, Amor Patrice Socorro Estabillo, dalam konferensi pers di Quezon City, mengutip laman resmi pna.gov.ph.
Ia mencatat bahwa pilihan makanan yang buruk, seperti lebih memilih makanan asin dan manis, memicu peningkatan penyakit kronis yang berdampak pada kesehatan ginjal.
Mengutip Registri Ginjal Filipina yang telah dikelola NKTI sejak awal tahun 1990-an, Kepala Departemen Gawat Darurat NKTI, Anthony Russell Villanueva, mengatakan telah terjadi pergeseran pola penyakit dan dialisis di antara para pasien.
"Pada tahun 90-an hingga awal tahun 2000, penyebab utama penyakit ginjal stadium akhir adalah glomerulonefritis. Hal ini tidak terkait dengan nutrisi atau makanan," katanya.
Glomerulonefritis adalah gangguan yang ditandai dengan peradangan dan kerusakan pada glomeruli, unit penyaring kecil di ginjal. Gejalanya meliputi darah dan protein dalam urine, pembengkakan atau edema, tekanan darah tinggi, dan penurunan produksi urine.
Villanueva mengatakan penyebab utama penyakit ginjal stadium akhir bergeser ke diabetes pada tahun 2000. Hipertensi muncul sebagai penyebab sekunder penyakit ginjal.
“Saat itu, pola makan orang Filipina telah bergeser ke pola makan yang lebih barat. Kita tahu bahwa makanan cepat saji sudah meluas saat itu. Ini juga berkontribusi pada peningkatan jumlah pasien,” katanya.
Menurut NKTI, transplantasi ginjal memberikan kualitas hidup tertinggi dan kelangsungan hidup terpanjang bagi pasien ginjal stadium akhir meskipun tersedia dialisis.
Villanueva mengungkapkan bahwa NKTI dan pusat transplantasi lainnya di seluruh Filipina melayani 300 hingga 500 pasien transplantasi setiap tahunnya.
Seiring meningkatnya jumlah pasien dialisis usia muda, NKTI menekankan pentingnya nutrisi dan kesadaran akan penyakit kronis yang berkaitan dengan makanan untuk mencegah penyakit ginjal.
Pasien dengan penyakit ginjal kronis juga dapat memperoleh manfaat dari nutrisi yang tepat, karena dapat memperlambat perkembangan penyakit dan menunda kebutuhan dialisis.
Masyarakat disarankan untuk menghindari atau membatasi makanan yang tinggi sodium, kalium, fosfor, dan protein, serta alkohol dan makanan manis. Ini termasuk makanan kaleng, daging olahan, bumbu asin, dan buah-buahan tertentu yang tinggi gula.
Advertisement
Pilihan Terapi Selain Cuci Darah
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/5559989/original/030570600_1776655094-cuci_darah__4_.jpeg)
Dalam keterangan lain, Ketua Umum Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), Tony Richard Samosir menyampaikan data Indonesian Renal Registry (IRR) 2024. Data ini menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan–dari 136.793 pasien aktif dan 60.034 pasien baru, sekitar 98 persen pasien hanya menjalani hemodialisis (HD).
Sementara itu, terapi alternatif yang lebih mandiri seperti Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) hanya mencakup 2 persen, dan angka transplantasi ginjal—yang secara medis merupakan solusi terbaik—masih tertahan di bawah 1 persen.
“Di Indonesia, pasien gagal ginjal seolah digiring langsung ke mesin cuci darah tanpa penjelasan utuh mengenai opsi lain seperti CAPD atau transplantasi ginjal,” tegas Tony di Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Ia berharap, pemerintah membangun kebijakan yang mendorong diversifikasi terapi ginjal agar tak hanya fokus pada hemodialisis.
Menurutnya, ketergantungan hampir total pada mesin cuci darah membuat Indonesia bergerak menuju krisis layanan HD—pasien terus bertambah, kapasitas layanan tidak mampu mengejar, antrean pasien terapi semakin panjang, dan beban anggaran kesehatan berpotensi meledak.
Data BPJS Kesehatan tahun 2019, beban biaya penyakit ginjal mencapai Rp6,5 triliun dan melonjak tajam mencapai Rp11 triliun pada 2024. Angka ini menunjukkan bahwa jika tidak dilakukan perubahan strategi layanan ginjal nasional, tekanan terhadap sistem pembiayaan kesehatan berpotensi meningkat secara signifikan dalam 10–20 tahun ke depan.
Tidak hanya itu, dari sisi kualitas hidup, terapi HD juga diketahui memiliki tingkat kesejahteraan pasien yang lebih rendah dibandingkan terapi pengganti ginjal lainnya. Data Indonesian Renal Registry (IRR) menunjukkan angka kematian pasien HD masih sangat tinggi—lebih dari 90 ribu jiwa pada tahun 2023 dan sekitar 50 ribu jiwa pada tahun 2024.
Perlu Reformasi Sistem Layanan Ginjal Nasional
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/5559990/original/038897500_1776655094-cuci_darah__3_.jpeg)
Lebih lanjut, Tony mengatakan, jika kondisi ini terus dibiarkan, maka kebutuhan infrastruktur layanan juga akan meningkat secara signifikan.
Penambahan pasien gagal ginjal setiap tahun menuntut pula penambahan mesin HD, ruang layanan, dan tenaga kesehatan terlatih. Jika peningkatan jumlah pasien tidak dibarengi dengan peningkatan kapasitas layanan kesehatan serta tersedianya pilihan terapi bagi pasien, maka lagi dan lagi nyawa pasien akan menjadi taruhan.
“Selama bertahun-tahun ketimpangan informasi terapi pengganti ginjal sangat minim. Bahkan banyak pasien baru mengenal CAPD atau transplantasi dari sesama pasien di komunitas bukan dari tenaga medis atau sistem layanan kesehatan resmi,” ujarnya.
Tony meminta pemerintah segera melakukan reformasi sistem layanan ginjal nasional. Pemerintah dan tenaga kesehatan wajib memastikan setiap pasien mendapatkan edukasi lengkap mengenai seluruh pilihan terapi—HD, CAPD, maupun transplantasi ginjal—sebelum dialisis pertama dimulai.
“Di saat yang sama, akses transplantasi harus diperluas dan hambatan biaya diturunkan agar pasien memiliki peluang hidup yang lebih baik, bukan terjebak seumur hidup pada mesin cuci darah,” kata Tony.
Dia juga mendorong Home Dialysis untuk mengurangi tekanan pada fasilitas kesehatan dan beban anggaran negara. Pencegahan dan deteksi dini harus menjadi prioritas, mengingat 90 persen pasien tidak menyadari penyakitnya hingga stadium lanjut.
“Sistem layanan ginjal di Indonesia harus memberikan pilihan terapi yang adil bagi setiap pasien,” pungkasnya.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292184/original/051444300_1783587540-IMG-20260709-WA0008.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9304424/original/001872100_1784714454-Untitled_design__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303881/original/059826700_1784697557-cek_fakta_penipuan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5390489/original/006123400_1761278823-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__96_.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5559987/original/012280800_1776655094-cuci_darah.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299963/original/007789300_1784281017-mainoo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3104854/original/092516000_1587109605-000_1Q35MK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5535295/original/004219900_1773977617-gianni.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303609/original/094591200_1784672116-AP26200776667216.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303337/original/087011100_1784626958-063_2286813749.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302533/original/039508800_1784583892-spanyol.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301613/original/093079500_1784504537-000_C2LE74U.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9295937/original/029239400_1783995735-000_A6DQ92Z.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260740/original/033303400_1781654609-063_2281951293.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302475/original/037155000_1784555150-Argentina_s_Lionel_Messi__from_right__Rodrigo_De_Paul__Nicolas_Otamendi_and_Leandro_Paredes.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301812/original/034405000_1784520388-000_C2LJ6NA.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8707595/original/021851700_1782784915-55363999883_36c2ce3eea_w.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8465383/original/050312900_1782366651-Menteri_Kesehatan_Budi_Gunadi_Sadikin__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5303308/original/072080500_1754061236-pexels-karolina-grabowska-4506075.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8154678/original/008938600_1781008551-ginjal__5_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7276654/original/013763400_1780061752-IMG-20260529-WA0060_1__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569634/original/060988500_1777448843-WhatsApp_Image_2026-04-25_at_09.36.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5420909/original/057172200_1763824661-ginjal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5559990/original/038897500_1776655094-cuci_darah__3_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5559988/original/022076400_1776655094-cuci_darah__2_.jpeg)