Dari Bersin hingga Bentol, Ini Sinyal Tubuh Alami Alergi

Pada sebagian orang paparan suatu zat atau hal tidak menyebabkan reaksi berlebihan tapi bila alergi maka bisa memicu bersin hingga bentol.

Diterbitkan 17 April 2026, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Alergi adalah respons berlebihan dari sistem kekebalan tubuh terhadap zat atau alergen yang sebenarnya tidak berbahaya bagi kebanyakan orang. Respons tersebut bisa dalam bentuk bersin, hidung gatal, hingga kulit kemerahan.

“Gejala alergi umumnya meliputi bersin, hidung tersumbat, serta gangguan pernapasan seperti sesak atau mengi. Pada kulit, alergi dapat muncul sebagai dermatitis atopik atau urtikaria dengan gejala gatal, ruam kemerahan, bentol, hingga kulit kering. Pemicunya beragam, mulai dari debu, serbuk sari, suhu dingin, hingga makanan dan bahan kimia tertentu,” kata dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr Mohammad Lukmanul Hakim Winugroho, SpTHT-BKL.

Dalam bidang otolaringologi (telinga, hidung, dan tenggorokan/THT), terdapat tiga jenis rinitis, yaitu rinitis alergi, nonalergi, dan infeksi. Lukman menjelaskan rinitis alergi merupakan reaksi hipersensitivitas imunologis terhadap zat asing, sedangkan rinitis non-alergi dipicu oleh faktor seperti iritan lingkungan, efek samping obat, dan gangguan hormonal. 

Sementara itu, rinitis infeksi disebabkan oleh virus, bakteri, atau jamur, dan biasanya disertai demam.

“Gejala alergi umumnya meliputi bersin, hidung tersumbat, serta gangguan pernapasan seperti sesak atau mengi. Pada kulit, alergi dapat muncul sebagai dermatitis atopik atau urtikaria dengan gejala gatal, ruam kemerahan, bentol, hingga kulit kering. Pemicunya beragam, mulai dari debu, serbuk sari, suhu dingin, hingga makanan dan bahan kimia tertentu,” urai Lukman dalam IPB Pedia di IPB TV.

Faktor Genetik Punya Peran

Lukma menyebut ada dua faktor yang memengaruhi risiko seseorang alami alergi yakni genetik dan lingkungan. Bila salah satu atau kedua orangtua miliki riwayat alergi maka ada kemungkinan anak mengalami hal yang sama. Selain itu, paparan debu, tungau, bulu hewan, polusi udara, asap rokok, hingga infeksi berulang pada masa anak-anak turut meningkatkan risiko.

Faktor lain seperti stres, gangguan barier mukosa, serta pola makan rendah antioksidan dan asam lemak omega-3 juga berperan. Meski belum dapat disembuhkan sepenuhnya, alergi dapat dikendalikan dengan baik.

Untuk menghadapi alergi,  langkah utama yang mesti dilakukan adalah mengidentifikasi dan menghindari pemicu, menjaga kebersihan lingkungan, serta meningkatkan daya tahan tubuh. 

“Dengan mengenali pemicu alergi dan menerapkan pola hidup sehat, kita tidak hanya mencegah alergi kambuh, tetapi juga menjaga tubuh tetap nyaman dan produktif,” kata Lukman.