Tuberkulosis Tak Terdeteksi, TB Diam-Diam Menular di Masyarakat

Ada sekitar 200-300 ribu kasus tuberkulosis (TB) tak terdeteksi di Indonesia.

Diterbitkan 08 April 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebutkan bahwa setiap tahun ada sekitar satu juta kasus baru tuberkulosis (TB) di Indonesia. Namun, kasus yang terdiagnosis dan menjalani pengobatan baru sekitar 800 ribu di 2025.

Pasien yang belum terdiagnosis berpotensi besar menjadi sumber penularan baru. Hal ini menyebabkan jumlah kasus terus meningkat seperti disampaikan dokter spesialis anak konsultan respirologi, Rina Triasih dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM).

Rina melihat ada kenaikan kasus TB setelah pandemi COVID-19. Peningkatan ini, menurutnya, dapat disebabkan oleh dua hal, yakni bertambahnya jumlah kasus atau meningkatnya efektivitas pemerintah dalam menemukan kasus tersembunyi.

“Waktu COVID, jumlah kasus TBC yang ditemukan itu tidak banyak, tetapi pasca COVID itu justru meningkat,” kata Rina dalam keterangan tertulis di laman UGM.

Salah satu upaya untuk menemukan kasus tuberkulosis yakni lewat strategi active case finding (ACF). Program ACF diinisiasi oleh Zero TB Yogyakarta sejak 2020 di bawah naungan UGM, dilakukan dengan mendatangi langsung masyarakat menggunakan fasilitas X-Ray keliling untuk mendeteksi TBC, baik pada individu bergejala maupun tidak.

“Kita menjemput pasiennya dan bukan menunggu pasiennya ke rumah sakit atau puskesmas,” jelas Rina.

Rina mengatakan metode ini terbukti efektif dalam menemukan kasus-kasus yang sebelumnya tidak terdeteksi. Seiring waktu, program ini juga mulai mendapat dukungan dari pemerintah melalui penyediaan alat dan fasilitas yang lebih memadai.

Indonesia Sumbang 10 Persen Kasus TB Dunia

Indonesia termasuk negara dengan kasus TB yang tinggi di dunia. Menurut dokter Setiawan Jati Laksono dari WHO Indonesia, kasus TB di negara ini menyumbang sekitar 10% dari total kasus TB dunia. Untuk diketahui setiap tahun diprediksi ada 10,7 juta kasus tuberkulosis baru di dunia.

"Sama seperti di Indonesia, masih ada gap yang belum ketemu, pada global ada 2,4 juta," kata Setiawan dalam temu media pada peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia di Kantor Kemenkes Jakarta pada Senin, 6 April 2026.

Indonesia berada di peringkat kedua kasus terbanyak TB global di bawah India. Lalu, di posisi ketiga ada Filipina disusul China.

"Ya, China sudah turun bukan lagi posisi tiga tapi empat," tutur Setiawan.

Apa Itu Tuberkulosis?

Tuberkulosis atau TB atau TBC merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja dan organ tubuh yang diserang biasanya adalah paru-paru, tulang belakang, kulit, otak, kelenjar getah bening, dan jantung seperti mengutip laman Kemenkes.

Penularan atau infeksi terjadi saat kuman TB yang berada dan bertebaran di udara terhirup oleh orang lain. Saat penderita TB batuk atau bersin tanpa menutup mulut, bakteri akan tersebar ke udara dalam bentuk percikan dahak atau droplet.

Padahal sekali batuk dapat mengeluarkan 3000 percikan dahak yang mengandung sampai 3.500 kuman Mycobacterium tuberculosis.Sedangkan sekali bersin mengeluarkan 4500 - 1 juta kuman itu.

Bakteri masuk ke saluran pernapasan menuju paru-paru dan dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya. Reaksi daya tahan tubuh akan terjadi 6-14 minggu setelah infeksi.

Lesi umumnya sembuh total namun kuman dapat tetap hidup dalam lesi tersebut dalam keadaan dormant dan suatu saat dapat aktif kembali tergantung pada daya tahan tubuh.