Dokter Meninggal Karena Campak, Ternyata Penyakit Ini Bisa Lebih Berbahaya dari yang Dikira

Kasus dokter meninggal karena campak jadi pengingat risiko fatal. Kenali gejala dan cara pencegahan sejak dini.

Diterbitkan 29 Maret 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kasus dokter meninggal karena campak kembali membuka mata banyak orang bahwa penyakit ini tidak bisa dianggap sepele. Selama ini, campak kerap dikenal sebagai penyakit anak-anak dengan gejala ringan seperti demam dan ruam. Namun faktanya, campak bisa berkembang menjadi kondisi serius, bahkan berujung fatal.

Pendiri dan Ketua Health Collaborative Centre (HCC), Ray Wagiu Basrowi menegaskan bahwa anggapan tersebut perlu diluruskan.

"Banyak orang masih berpikir campak itu biasa. Padahal, campak adalah salah satu penyakit paling menular di dunia dan bisa menyebabkan komplikasi berat," ujarnya dikutip Health Liputan6.com dari unggahan di akun Instagram @hcc.indonesia pada Minggu, 29 Maret 2026.

Risiko Komplikasi Campak yang Mematikan

Infeksi virus campak tidak hanya menimbulkan gejala ringan. Dalam beberapa kasus, penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia, radang otak (ensefalitis), gagal napas, hingga kematian.

Kondisi ini umumnya terjadi pada individu dengan daya tahan tubuh yang lemah. Namun, bukan berarti orang dewasa yang terlihat sehat tidak berisiko.

"Campak bisa sangat berbahaya, terutama jika kondisi tubuh sedang tidak optimal," ujar Ray.

Dampak Tersembunyi dari Campak adalah Immune Amnesia

Salah satu fakta yang jarang diketahui adalah dampak campak terhadap sistem kekebalan tubuh. Setelah terinfeksi, tubuh dapat mengalami kondisi yang disebut immune amnesia.

Dalam kondisi ini, sistem imun seolah 'reset' dan kehilangan memori terhadap infeksi yang pernah dilawan sebelumnya. Akibatnya, seseorang menjadi lebih rentan terhadap berbagai penyakit lain setelah sembuh dari campak.

"Ini bukan hanya soal infeksi saat itu, tetapi juga dampak jangka panjang terhadap sistem imun," ujarnya.

Kondisi Tubuh Berperan Besar Melawan Campak

Ray juga menekankan bahwa keparahan campak tidak hanya ditentukan oleh virus, tapi juga kondisi tubuh seseorang.

Faktor seperti kelelahan, kurang tidur, stres kronis, hingga paparan virus yang tinggi dapat memperburuk kondisi pasien. Kombinasi ini membuat infeksi yang awalnya ringan menjadi lebih berat.

"Tubuh yang lelah dan imunitas yang menurun bisa membuat infeksi berkembang lebih cepat dan lebih parah," tambahnya.

Tenaga Kesehatan Termasuk Kelompok Rentan

Kasus ini juga menjadi perhatian karena melibatkan tenaga kesehatan, yang sebenarnya berada di garis depan pelayanan medis. Tingginya paparan pasien, jam kerja panjang, dan tekanan mental membuat kelompok ini lebih rentan terhadap infeksi.

"Paparan tinggi ditambah kondisi tubuh yang tidak optimal meningkatkan risiko secara signifikan," ujar Ray.

Pentingnya Vaksinasi dan Pencegahan

Sebagai langkah pencegahan, vaksinasi tetap menjadi perlindungan utama terhadap campak. Selain itu, menjaga kondisi tubuh juga tidak kalah penting, seperti cukup istirahat dan mengelola stres.

Masyarakat juga diimbau untuk mengenali gejala campak sejak dini, seperti demam tinggi, ruam merah, batuk atau pilek, serta mata merah.

 

 
 
 
View this post on Instagram

A post shared by Health Collaborative Center (HCC) (@hcc.indonesia)