Libur Lebaran Selesai lalu Muncul Perasaan Hampa dan Cemas, Kenali Post-Holiday Blues

Ada yang kembali energik usai libur Lebaran. Namun, sebagian ada yang merasakan post-holiday blues.

Diterbitkan 27 Maret 2026, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Libur Lebaran telah usai. Suasana berkumpul bersama keluarga, hidangan istimewa, hingga waktu yang terasa lebih longgar sebentar lagi bakal diisi dengan rutinitas harian.

Bagi sebagian orang, libur panjang bisa mengisi energi. Namun, tak sedikit orang justru merasakan hal yang berbeda setelah liburan berakhir. Diantaranya muncul perasaan hampa, kehilangan semangat, hingga kecemasan menghadapi aktivitas seperti biasa. Itu merupakan gejala post-holiday blues.

Post-holiday blues adalah reaksi emosional sementara yang muncul segera setelah berakhirnya waktu yang menyenangkan, seperti liburan panjang.

"Secara psikologi, kondisi ini termasuk dalam adjustment related emotional response, yaitu respons adaptasi terhadap perubahan situasi hidup," kata dokter spesialis kedokteran jiwa Lahargo Kembaren.

Orang dengan kondisi tersebut bukan berarti mengalami gangguan mental tapi proses psikologis.

"Ini terjadi karena otak sedang “menyesuaikan/mengatur ulang ritme kehidupan," tutur Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP PDSKJI) Bidang Pengabdian Masyarakat itu.

Meski bukan gangguan mental kondisi post-holiday blues tidak bisa dianggap remeh. Jika berlangsung lama dan berat, kondisi ini bisa berkembang menjadi stres kronis atau bahkan depresi ringan.

Kok Bisa Alami Post-Holiday Blues?

Lahargo mengatakan saat liburan, otak berada dalam kondisi reward rich environment. Dimana banyak aktivitas menyenangkan seperti makan enak, berkumpul, tertawa, mengunjungi tempat wisata. Lalu, minim tuntutan dan banyak hal baru dalam hidup.

"Semua ini meningkatkan aktivitas zat kimia dopamin di otak, yaitu neurotransmitter yang berperan dalam motivasi dan rasa senang," jelas Lahargo.

Ketika liburan usai, stimulus reward berkurang drastis. Lalu, otak mengalami dopamine withdrawal ringan. Di sini muncul rasa kosong, hampa, tidak bersemangat.

Bisa juga post-holiday blues terjadi karena ada role transition stress. Lahargo mengatakan saat menjalani liburan peran yang dimainkan adalah sebagai anak, saudara, bagian dari keluarga. Namun, setelah liburan usai kembali menjadi pekerja, mahasiswa, sosok profesional yang penu dengan tuntutan.

"Perubahan peran ini membutuhkan energi adaptasi. Menurut teori role transition, perubahan identitas sosial dapat memicu stres sementara," tutur Lahargo.

 

Strategi Mengatasi Post-Holiday Blues

Bila Anda merasa mengalami kondisi post-holiday blues maka ada beberapa hal yang bisa dilakukan.

1. Validasi Emosi

"Sadari bahwa ini normal ini bagian dari adaptasi. Menolak perasaan justru memperpanjang distres," katanya.

2. Transisi Bertahap

Lakukan transisi secara bertahap. Misalnya bagi pekerja mulai hari pertama dengan tugas ringan dan hindari overload. "Ini membantu sistem saraf beradaptasi kembali," pesannya.

3. Rebuild Dopamine secara Sehat

Bukan dengan scroll media sosial berlebihan. Namun, dengan olahraga, aktivitas bermakna, interaksi sosial sehat, menjalankan hobi yang menyenangkan.

4. Mencari Makna Ulang Liburan

Manusia lebih tahan terhadap stres jika mampu memberi makna. Maka tanyakan, apa yang saya dapatkan dan pelajari dari Lebaran/liburan? Nilai apa yang bisa saya bawa ke kehidupan sehari-hari?"

Liburan bukan sekadar kenangan, tapi sumber makna," katanya. 

5. Kurangi Social Comparison

Media sosial kerap menjadi perbandingan. Namun, sadari bias media sosial. Lebih baik fokus pada perjalanan pribadi

6. Bangun Tujuan Hidup

Menurut Ryff  dalam Journal of Personality and Social Psychology (1989) mengungkapkan kesejahteraan psikologis ditentukan oleh: tujuan hidup, pertumbuhan pribadi dan relasi yang bermakna.

Rutinitas menjadi ringan jika punya makna. Maka ingat-ingat lagi tujuan Anda bekerja atau kuliah. 

 

Kapan Harus Waspada?

Lahargo mengingatkan untuk segera mengevaluasi lebih lanjut jika post-holiday blues berlangsung lama.

Bila mengalami:

  • Sedih > 2 minggu
  • Kehilangan minat dan gairah yang semakin berat
  • Gangguan pola tidur dan selera makan
  • Tidak mampu berfungsi dan beraktivitas seperti biasa / performa menurun.

"Hal ini mengarah pada gejala depresi ringan," kata Lahargo.

Bila gejala di atas terjadi, segera hubungi profesional seperti psikolog atau psikiater untuk mendapatkan bantuan yang tepat.