Di Balik Gurihnya Kikil, Ketahui Fakta tentang Kandungan Gizi dan Batas Aman Konsumsi

Disebut kaya kolagen, tapi kikil juga memiliki kandungan purin yang tinggi. Bagi orang dengan kolesterol tinggi dan asam urat, penting diketahui batas aman.

Diterbitkan 22 Maret 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kikil merupakan lauk favorit bagi sebagian orang. Tekstur yang kenyil dengan rasa yang gurih membuat makanan ini cocok diolah menjadi gulai, oseng-oseng mercon, atau kari.

Kikil adalah bagian jaringan ikat sapi berupa tulang rawan yang membungkus tulang maupun jari-jari kaki sapi tanpa bulu yang menempel di atasnya seperti dijelaskan pakar gizi hasil ternak dari Fakultas Peternakan IPB University, Dr Astari Apriantini.

“Kikil memiliki rasa yang gurih dan mengandung gizi yang cukup tinggi, terutama protein. Protein pada kikil sebagian besar berbentuk kolagen,” kata Astari mengutip laman IPB University.

Sekitar 30 persen kandungan kolagen dapat ditemukan pada kikil hewan mamalia seperti sapi, kambing, dan kerbau. Lalu, dalam 100 gram kikil, kandungan protein dapat mencapai sekitar 96 persen, tidak mengandung karbohidrat, dan hanya sekitar empat persen lemak.

Meski kaya kolagen, Astari menjelaskan bahwa tubuh tidak dapat menyerap kolagen dari makanan dalam bentuk utuh. Kolagen harus dipecah terlebih dahulu menjadi peptida agar dapat diserap melalui usus.

“Peptida hasil pemecahan kolagen ini kemudian digunakan tubuh sebagai bahan penyusun protein, misalnya untuk membantu pembentukan kulit, rambut, dan kuku,” jelasnya.

Kolagen sendiri diketahui memiliki berbagai manfaat bagi tubuh, antara lain membantu menjaga elastisitas kulit, memperkuat tulang dan sendi, serta mendukung kesehatan rambut dan kuku. Selain itu, kolagen juga berpotensi membantu mempercepat penyembuhan luka dan menjaga kesehatan jaringan tubuh.

 

Selenium dan Zat Besi pada Kikil

Kikil juga mengandung sejumlah mineral penting seperti natrium, selenium, zat besi, kalium, dan kalsium. Selenium berperan penting dalam menjaga fungsi sistem kekebalan tubuh. Sementara itu, zat besi membantu mencegah anemia.

"Lalu, kalium berperan dalam menjaga fungsi saraf, kontraksi otot, serta detak jantung yang normal. Kalsium juga penting untuk menjaga kepadatan tulang dan kesehatan gigi,” urai Astari.

Menurutnya, kandungan kalori kikil juga relatif lebih rendah dibandingkan daging sapi karena komposisinya lebih banyak terdiri atas air dan kolagen.

“Kalori pada kikil sekitar 146 kalori per 100 gram, sedangkan pada daging sapi berkisar antara 174 hingga 273 kalori,” jelasnya.

Kikil Mengandung Purin, Hati-Hati Bagi Penderita Asam Urat

Kikil juga mengandung purin yang dapat diolah tubuh menjadi asam urat serta kolesterol sekitar 79 mg per 100 gram. Bila dibandingkan daging sapi, kandungan purin berkisar 65–90 mg.

Maka dari itu, bagi orang dewasa dengan kadar asam urat tinggi dan kolesterol disarankan untuk membatasi asupan kikil. 

"Sehingga konsumsinya sebaiknya dibatasi, terutama bagi orang dewasa, penderita asam urat, atau mereka yang memiliki riwayat penyakit metabolik,” katanya.

Porsi dan Cara Masak Kikil

Astari menyarankan untuk mengonsumsi satu porsi kikil sekitar 75 gram dalam sekali makan.Ia juga mengingatkan soal cara pengolahan kikil agar kandungan lemak, kolesterol, dan kalori tidak meningkat.

“Jika dikonsumsi dalam jumlah kecil dan diolah dengan cara yang lebih sehat, seperti direbus menjadi sop, soto, atau campuran bakso tanpa santan dan minyak berlebih, kikil masih aman untuk dinikmati sesekali,” pesan Astari.