Luka Kaki Diabetes Sulit Sembuh, Dokter Ungkap 3 Penyebabnya

Ini tiga alasan kenapa kaki diabetes sulit sembuh dan cara penanganannya.

Diterbitkan 27 Februari 2026, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kaki diabetes adalah komplikasi pada kaki yang dialami oleh penyandang diabetes. Komplikasi ini dipicu oleh tingginya kadar gula darah yang menyebabkan luka pada kaki sangat mudah terinfeksi.

Rendahnya ketahanan dan kemampuan tubuh penyandang diabetes dalam proses penyembuhan luka dapat memperparah infeksi, bahkan hingga membuat penyandang diabetes harus menjalani amputasi kaki untuk memutus infeksi.

Menurut dokter spesialis bedah subspesialis bedah vascular, Andrew Jackson Yang, setidaknya ada tiga penyebab luka kaki diabetes sulit sembuh, yakni:

Iskemia

Iskemia merujuk pada aliran darah yang buruk. Kondisi kekurangan aliran darah ke jaringan atau organ tubuh akibat adanya gangguan atau penyumbatan pada pembuluh darah.

Akibatnya, jaringan atau organ tidak mendapatkan suplai oksigen dan nutrisi yang cukup, sehingga fungsinya terganggu dan berisiko mengalami kerusakan jika tidak segera ditangani.

Neuropati

Neuropati merujuk pada sensasi baal yang membuat luka tak terasa nyeri. Penyandang diabetes yang sudah mengalami komplikasi berupa neuropati sangat mungkin mengalami luka di kaki tanpa ia sadari.

“Hal ini terjadi karena saraf di kaki kehilangan kemampuan untuk merasakan nyeri, sehingga tidak sadar akan adanya luka,” kata dokter yang berpraktik di RS Pondok Indah-Puri Indah dalam temu media di Jakarta, Kamis (26/2/2026).

Mudah Terjadi Infeksi

Kadar gula darah tinggi yang berkepanjangan menyebabkan disfungsi sistem kekebalan tubuh dan fungsi sel perbaikan jaringan menjadi abnormal, sehingga meningkatkan risiko infeksi.

Selain karena beberapa faktor penyebab di atas, luka pada kaki penyandang diabetes sulit sembuh karena daya tahan tubuh cenderung melemah.

Penanganan Kaki Diabetes

Andrew menjelaskan, penanganan kaki diabetes harus dilakukan secara menyeluruh dan bertahap, guna mempercepat penyembuhan luka serta mencegah terjadinya komplikasi. Berikut adalah tahapan penanganannya:

  • Pendekatan multidisiplin (melibatkan tenaga kesehatan)
  • Kontrol gula darah secara optimal
  • Debridement luka, yaitu pembersihan jaringan yang mati atau terinfeksi Pengendalian infeksi, termasuk pemberian antibiotik sesuai indikasi
  • Evaluasi vaskular untuk menilai kelancaran aliran darah
  • Revaskularisasi jika diperlukan, guna memperbaiki sirkulasi darah
  • Perawatan luka lanjutan secara rutin dan terkontrol
  • Offloading, yaitu mengurangi tekanan pada area kaki yang mengalami luka.

Prosedur yang Paling Efektif

Penanganan komplikasi kaki diabetes dilakukan melalui evaluasi aliran darah, upaya penyelamatan jaringan, tindakan membuka kembali pembuluh darah yang tersumbat, serta pencegahan amputasi mayor. Penanganan ini bertujuan mengembalikan aliran darah ke kaki dan mencegah terjadinya infeksi.

Salah satu prosedur yang paling efektif untuk mencapai tujuan tersebut adalah revaskularisasi, yaitu tindakan untuk membuka kembali pembuluh darah yang tersumbat agar sirkulasi darah membaik dan proses penyembuhan luka dapat berlangsung optimal.

Prosedur revaskularisasi berperan penting sebagai kunci dalam proses penyembuhan luka pada kaki diabetes. Pada kasus kaki diabetes, revaskularisasi dapat dilakukan dengan berbagai teknik minimal invasive, seperti:

  • Angioplasty (balon) untuk membuka pembuluh darah yang menyempit
  • Pemasangan stent jika penyempitan cukup berat
  • Atherectomy, penggunaan alat khusus untuk mengikis plak dengan metode seperti "bor"

Selain itu, teknik revaskularisasi juga dapat dilakukan melalui operasi bypass pembuluh darah kaki, dengan metode pembedahan terbuka/konvensional. Prosedur ini dilakukan dengan membuat jalur baru (cangkok) agar darah dapat mengalir melewati bagian arteri yang tersumbat.

Setelah tindakan revaskularisasi, perawatan luka lanjutan menjadi langkah penting untuk mempercepat penyembuhan luka dan pencegahan komplikasi. Perawatan lanjutan ini meliputi pembersihan luka secara rutin dan terkontrol, penggantian balutan dengan teknik steril, kontrol infeksi, serta pemantauan tanda-tanda perbaikan jaringan.

Selain itu, strategi offloading atau pengurangan tekanan pada area kaki yang mengalami luka juga menjadi tahap yang penting untuk memastikan proses penyembuhan luka berlangsung optimal. Teknik pengurangan ini meliputi penggunaan sepatu khusus, gips, atau bahkan alat bantu seperti kursi roda.

Berkonsultasi dengan dokter spesialis bedah subspesialis bedah vaskular secara rutin juga tetap diperlukan untuk mengevaluasi aliran darah, melihat kondisi luka, serta menyesuaikan terapi jika diperlukan.

Evaluasi Vaskular pada Kaki Diabetes

Metode evaluasi pembuluh darah merupakan langkah awal yang penting untuk menilai kelancaran aliran darah ke kaki serta mengidentifikasi risiko terjadinya komplikasi kaki diabetes, kerusakan arteri perifer atau kerusakan saraf tepi. Dokter dapat melakukan beberapa pemeriksaan, seperti:

Ankle-Brachial Index

Pemeriksaan Ankle-Brachial Index (ABI) digunakan untuk menilai adanya penyakit arteri perifer pada penyandang diabetes dengan membandingkan tekanan darah di pergelangan kaki dan lengan.

USG Doppler

USG Doppler merupakan pemeriksaan non-invasive yang digunakan untuk mengevaluasi aliran darah pada pembuluh darah perifer dan mendeteksi adanya penyempitan atau sumbatan.

CT Angiography

CT Angiography adalah jenis pemeriksaan medis yang menggabungkan pemindaian CT-Scan dengan suntikan zat pewarna khusus untuk menghasilkan gambar pembuluh darah dan jaringan di bagian tubuh.

Angiography

Angiography merupakan prosedur medis yang dapat memvisualisasikan pembuluh darah secara langsung dan merupakan gold standard evaluasi sumbatan arteri perifer.

Diabetes merupakan kondisi kronis yang dapat dikelola dengan baik apabila terdiagnosis sejak dini dan ditangani secara tepat. Melalui penanganan yang sesuai, penerapan gaya hidup sehat, pengelolaan stres, serta pemantauan kadar gula darah secara rutin, penyandang diabetes dapat mencegah risiko komplikasi serius seperti amputasi dan tetap mempertahankan kualitas hidup yang optimal.