Diabetes Bisa Berujung Amputasi, Dokter: Jangan Sepelekan Luka Kecil di Kaki

Luka kecil pada pengidap kaki diabetes bisa berujung amputasi dan disabilitas fisik jika tak segera ditangani.

Diterbitkan 27 Februari 2026, 10:46 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Diabetes bisa berujung pada amputasi dan disabilitas fisik. Salah satu komplikasi diabetes yang sering terjadi adalah kaki diabetes.

Kaki diabetes dipicu oleh tingginya kadar gula darah yang menyebabkan luka pada kaki jadi sangat mudah terinfeksi sehingga sulit sembuh. Dampak besar amputasi umumnya berawal dari luka kecil yang tidak ditangani.

“Kurang lebih 85 persen amputasi pada diabetes diawali dari luka kaki yang kecil,” kata dokter spesialis bedah subspesialis bedah vascular, Andrew Jackson Yang dalam temu media di Jakarta, Kamis (26/2/2026).

Dia menambahkan, gula darah yang tidak dikelola dengan baik dapat mengalami perburukan tanpa disadari. Pasalnya, gejalanya tidak kentara dan cenderung muncul secara perlahan. Maka dari itu, diabetes kerap disebut sebagai silent disease karena banyak penyandangnya tidak sadar memiliki kadar gula darah yang tinggi. Rendahnya deteksi dini dan keengganan untuk mengecek kesehatan menjadi salah satu alasan mengapa penyandang diabetes semakin bertambah setiap tahunnya di seluruh dunia.

Akibatnya, tidak sedikit orang yang baru mengetahui dirinya mengidap diabetes ketika sudah terjadi komplikasi pada tubuhnya. Berbagai komplikasi kesehatan akibat diabetes, seperti:

  • Hiperglikemia kronis hingga menyebabkan kerusakan endotel (lapisan pembuluh darah)
  • Percepatan proses aterosklerosis (penumpukan plak dan lemak pada pembuluh darah)
  • Penyempitan dan sumbatan arteri perifer
  • Gangguan mikrosirkulasi
  • Neuropati dengan infeksi yang memperburuk kondisi.

Guna menghindari komplikasi hingga amputasi, Andrew menyarankan penanganan yang tepat sejak dini.

“Pendekatan yang tepat dapat meningkatkan peluang penyembuhan luka dan menurunkan risiko amputasi,” kata dokter yang berpraktik di RS Pondok Indah-Puri Indah.

Mendiagnosis Kaki Diabetes

Untuk mendiagnosis kaki diabetes, pertama-tama dokter akan melakukan wawancara pasien (anamnesis) dan pemeriksaan fisik, meliputi:

  • Kaki yang terlalu panas, bengkak, dan nyeri
  • Kelainan bentuk kaki
  • Tulang yang menonjol (misalnya jempol kaki)
  • Titik-titik tekanan dan bahkan ulkus
  • Ketidaksejajaran tulang di pergelangan kaki
  • Sendi yang terkilir dan adanya pergeseran pada bagian tulang.

Diagnosis kaki diabetes ini juga meliputi pemeriksaan penunjang yang digunakan untuk menilai gangguan vaskular yang menyertai, seperti pemeriksaan Ankle-Brachial Index (ABI), USG Doppler, CT angiography, dan angiography.

Menangani Kaki Diabetes

Penanganan kaki diabetes melibatkan pendekatan multidisiplin yang bertujuan mencegah infeksi serius dan amputasi, meliputi:

  • Kontrol gula darah secara ketat
  • Pembersihan luka (debridement) secara rutin
  • Pengendalian infeksi termasuk penggunaan antibiotik
  • Evaluasi aliran darah
  • Revaskularisasi jika diperlukan
  • Melakukan perawatan luka lanjutan setelah tindakan
  • Mengurangi tekanan (offloading) pada area yang mengalami luka.

“Sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter jika penyandang diabetes mengalami luka sekecil apa pun agar mendapat penanganan yang cepat dan tepat.”

Salah satu metode utama pada kasus kaki diabetes adalah revaskularisasi, yaitu tindakan untuk mengembalikan aliran darah ke jaringan yang mengalami gangguan. Revaskularisasi dapat dilakukan melalui dua pendekatan utama, yaitu:

Teknik Endovaskular (Minimal Invasive)

Teknik ini dilakukan melalui pembuluh darah tanpa pembedahan besar, meliputi angioplasty balon, pemasangan stent, dan atherectomy.

Bedah Terbuka (Operasi Bypass Pembuluh Darah)

Prosedur ini dilakukan dengan membuat jalur baru (cangkok) menggunakan pembuluh darah pasien sendiri atau cangkok buatan untuk melewati pembuluh darah yang tersumbat.

Pemilihan metode revaskularisasi disesuaikan dengan kondisi klinis pasien, lokasi dan derajat sumbatan, serta ketersediaan fasilitas dan keahlian medis.