Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni Jadi Senjata Pemkot Bandung Turunkan Kasus TBC

Program perbaikan rumah tidak layak huni (rutilahu) tengah dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung sebagai strategi untuk menurunkan jumlah penderita (prevalensi) tuberkulosis (TBC).

Diterbitkan 28 Januari 2026, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Bandung - Program perbaikan rumah tidak layak huni (rutilahu) tengah dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung sebagai strategi untuk menurunkan jumlah penderita (prevalensi) tuberkulosis (TBC) di wilayah rawan kesehatan.

Menurut Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, kondisi rumah yang lembap, gelap, dan tidak memenuhi standar kesehatan menjadi salah satu faktor utama penyebaran TBC.

"Rutilahu itu kuncian," kata Farhan saat menghadiri kegiatan Siskamling Siaga Bencana di Pasirwangi, Kecamatan Ujungberung ditulis Rabu, (28/1/2026).

"Kalau kita serius memperbaiki rumah tidak layak huni, insyaallah prevalensi TBC di Kota Bandung bisa turun signifikan," lanjutnya.

Farhan menyebut tahun ini otoritanya akan mengintensifkan program perbaikan rutilahu secara lebih masif, khususnya di RW yang memiliki kerentanan kesehatan tinggi. Program tersebut akan dikaitkan langsung dengan intervensi kesehatan masyarakat.

Selain rutilahu, Farhan juga menyoroti pentingnya penyediaan septic tank untuk mendukung target Open Defecation Free (ODF). Berdasarkan pemaparan kelurahan, masih terdapat kekurangan septic tank di RW 2, RW 3, dan RW 10 Pasirwangi, Kecamatan Ujungberung.

“Masalah sanitasi ini tidak bisa dipisahkan. BABS meningkatkan risiko diare, diare berkontribusi pada stunting, dan lingkungan tidak sehat memperbesar risiko TBC,” kata Farhan.

Kelurahan Pasirwangi, Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung, Jawa Barat merupakan salah satu wilayah yang masuk dalam kerentanan gangguan kesehatan, seperti penyakit TBC.

Untuk itu Lurah Pasirwangi Meli Susanti menyatakan kesiapannya menindaklanjuti arahan Wali Kota Bandung dengan melakukan pendataan dan pendampingan RW, termasuk percepatan survei rutilahu dan sanitasi.

"Kami akan langsung koordinasi dengan OPD terkait agar survei bisa segera dilakukan, terutama untuk RW yang sudah mengajukan," sebut Meli.

 

Tugas Utama Dinkes

Sebelumnya, pada pelantikan pejabat di Balai Kota Bandung, Rabu 3 September 2025, Farhan meminta kepada Kepala Dinas Kesehatan yang baru dilantik, Sony Adam, untuk menekan kasus terbesar sektor kesehatan Kota Bandung yakni tingginya prevalensi TBC.

Farhan meminta program Cek Kesehatan Gratis (CKG) diperluas untuk mendeteksi dini kasus TBC. Farhan ingin memastikan pasien yang terdeteksi langsung mendapatkan pengobatan.

"Tantangan terbesar yang harus dihadapi adalah tingginya prevalensi TBC di Kota Bandung. Bahkan termasuk yang salah satu tertinggi di Jawa Barat. Hal ini harus kita sikapi dengan layanan kesehatan yang tinggi dan luar biasa. Pengobatannya memang murah, tetapi konsistensi pasien menjalani pengobatan tidaklah mudah," sebut Farhan.

Selain itu, Farhan mengingatkan agar pelayanan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) ditingkatkan, terutama di wilayah padat penduduk dan blank spot. Akses kesehatan harus merata di seluruh pelosok Kota Bandung.

Tak hanya soal TBC, Farhan juga menyinggung peran tenaga kesehatan fungsional seperti bidan dan perawat yang menjadi garda terdepan pelayanan. Menurutnya, interaksi mereka dengan masyarakat sangat menentukan persepsi publik terhadap kualitas layanan pemerintah.

"Bagaimana perawat dan bidan melayani pasien akan mencerminkan kualitas layanan kesehatan Kota Bandung. Itu adalah wajah nyata pemerintahan," kata Farhan.

Farhan berharap, Kepala Dinas Kesehatan bersama jajarannya mampu membawa perubahan signifikan dalam meningkatkan kesehatan warga. Hal ini juga akan mendukung upaya pemerintah menurunkan prevalensi stunting dan penyakit degeneratif.

"Mari jadikan kesehatan sebagai prioritas, karena masyarakat yang sehat adalah fondasi bagi Bandung yang maju," ucap Farhan.

 

Kesadaran Masyarakat

Peningkatan kesadaran masyarakat terkait pencegahan dan pengobatan penyakit TBC menjadi peran kunci dalam upaya mewujudkan Kota Bandung yang bebas dari penyakit tersebut.

Dinas Kesehatan telah menggelar berbagai program untuk menekan angka penularan TBC. Salah satunya, melalui edukasi Tatap Muka Edukasi Manfaat dan Guna Terapi Pencegahan Tuberkulosis (Temu TPT) bekerjasama dengan USAID Prevent TB.

"Terdapat 6 lokasi yang tersebar di 4 kecamatan di Kota Bandung yang menjadi lokus (tempat) utama pelaksanaan Temu TPT. Setelah sebelumnya dilaksanakan di UPTD Puskesmas Sukahaji dan Babakan Tarogong, kini Temu TB dilaksanakan di UPTD Puskesmas Cibaduyut Kidul, Jumat 21 Juni 2024," sebut Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Kota Bandung, Agung.

Agung mengatakan berbagai upaya yang dilakukan pemerintah harus didukung dengan kesadaran masyarakat.

Melalui kegiatan edukasi dan sosialisasi Tatap Muka Edukasi Manfaat dan Guna Terapi Pencegahan Tuberkulosis (Temu TPT), diharapkan masyarakat dapat semakin memahami cara pencegahan dan pengobatan TBC.

"Memang kita butuh sosialisasi ke masyarakat agar masyarakat itu lebih paham tentang TBC seperti apa sehingga dia paham bahwa ketika ada keluarganya terkena TBC, saya harus melakukan pencegahan dengan TPT," kata Agung.

Agung menyebutkan, dengan masyarakat mengakses TPT maka akan mencegah TBC selama 5-7 tahun. Sehingga angka Orang Dengan TBC (ODTBC) akan turun, sampai akhirnya terwujud Kota Bandung yang bebas TBC.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Bandung, hingga Juni 2025 tercatat sebanyak 6.941 kasus TBC, sedangkan angka prevalensi stunting pada tahun 2024 tercatat masih berada di angka 12,4 persen.