Melasma adalah Masalah Kulit Perempuan Asia: Kenali Penyebab hingga Cara Mengatasinya

Melasma adalah flek gelap pada wajah yang sering dialami perempuan Asia. Kenali penyebab, faktor hormon, dan cara mengatasinya dengan aman.

Diterbitkan 04 Januari 2026, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Melasma adalah kondisi hiperpigmentasi kulit yang ditandai dengan munculnya bercak gelap berwarna cokelat hingga keabu-abuan, terutama di area wajah seperti pipi, dahi, hidung, dan dagu. Meski tidak berbahaya, melasma kerap mengganggu penampilan dan menurunkan rasa percaya diri. Kondisi ini diketahui lebih sering dialami perempuan, khususnya di wilayah Asia, termasuk Asia Tenggara.

dr. Tanya Febrina, dokter di ERHA Ultimate Living World Pekanbaru, menjelaskan, melasma terjadi ketika sel melanosit memproduksi melanin secara berlebihan, baik di lapisan epidermis maupun dermis. Produksi pigmen yang meningkat ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari paparan sinar matahari berlebih, perubahan hormon, trauma kulit, penggunaan obat atau perawatan tertentu, hingga faktor genetik.

Berdasarkan laporan Australian Journal of General Practice Vol. 50, prevalensi melasma di Asia Tenggara mencapai sekitar 40 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan angka global yang berada di kisaran 1 persen.

Menurut Tanya, tingginya angka ini dipengaruhi oleh tipe kulit yang lebih rentan, yakni Fitzpatrick tipe III hingga V, intensitas sinar matahari yang tinggi, serta faktor hormonal yang lebih dominan pada perempuan.

"Perubahan hormon dan faktor genetik dapat membuat seseorang lebih sensitif terhadap rangsangan pigmentasi. Hormon estrogen dan progesteron berperan dalam peningkatan pigmentasi, biasanya sering terjadi pada kehamilan dan pengguna KB hormonal," ujarnya. 

 

Faktor Risiko dan Penanganan Melasma

Tanya, menambahkan, faktor genetik juga berperan penting. Risiko melasma meningkat jika ada anggota keluarga dengan riwayat serupa, terutama pada individu dengan warna kulit sawo matang hingga gelap. "Umumnya terjadi pada tipe kulit Fitzpatrick III–V," ujarnya.

Secara klinis, gejala melasma ditandai dengan bercak gelap berukuran cukup besar, berbentuk tidak teratur, dan warnanya bisa cokelat, keabu-abuan, hingga kebiruan. Karena mekanismenya kompleks dan dipengaruhi banyak faktor, penanganan melasma tidak bisa disamakan dengan jenis hiperpigmentasi lain.

Menurut Tanya, langkah pertama yang tepat adalah berkonsultasi dengan dokter kulit. Fokus utama terapi melasma adalah menekan produksi melanin sekaligus mencerahkan area kulit yang menggelap agar mendekati warna kulit normal.

Salah satu terapi yang paling banyak diteliti adalah penggunaan obat oles berbahan hydroquinone, baik sebagai bahan tunggal maupun dalam bentuk Triple Combination Cream (TCC) yang mengandung hydroquinone, tretinoin, dan kortikosteroid.

Kombinasi ini terbukti mampu memberikan perbaikan signifikan dalam beberapa bulan. Namun, penggunaannya harus di bawah pengawasan dokter karena berisiko menimbulkan iritasi jika tidak digunakan dengan benar.

"Untuk kulit sensitif, dokter bisa meresepkan alternatif yang lebih lembut seperti vitamin C, asam kojic, atau asam azelaic, serta mengatur terapi sebagai perawatan jangka panjang agar melasma tidak mudah kambuh," tambahnya.

 

Laser untuk Penanganan Melasma

Selain obat oles, perawatan klinis juga berperan penting dalam menangani melasma, terutama pada kasus yang sulit memudar. Salah satu pilihan yang banyak digunakan adalah terapi laser karena mampu menargetkan pigmen secara lebih spesifik.

Tanya, menjelaskan, tersedia dua jenis laser untuk mengatasi melasma. Salah satunya adalah laser Photorejuvenation Spectra yang berfungsi meratakan warna kulit, memudarkan flek hitam, serta menstimulasi produksi kolagen.

Perawatan ini juga dikenal memiliki down time minimal sehingga pasien dapat kembali beraktivitas dengan cepat.

Selain itu, Pico Laser yang bekerja memecah pigmen secara lebih halus, aman untuk kulit Asia, dan memiliki risiko kekambuhan yang lebih rendah.

"Biasanya, hasil terapi berbeda pada setiap orang, namun umumnya perbaikan mulai terlihat setelah tiga hingga empat kali tindakan laser, tergantung kedalaman flek dan respons kulit masing-masing pasien," pungkasnya.