Dokter Kulit Ungkap Cara Cerdas Memilih Suplemen agar Tidak Terjebak Produk Abal-abal

Begini cara cerdas memilih suplemen agar efektif, aman, dan tidak terjebak produk abal-abal di pasaran.

Diterbitkan 20 Desember 2025, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Suplemen kini menjadi salah satu tren dalam menjaga kesehatan kulit, rambut, dan daya tahan tubuh. Namun, Founder Clara Skin Clinic Raden Saleh, dr. Dani Djuanda, Sp.D.V.E, FINSDV, FAADV, mengingatkan pentingnya selektif sebelum mengonsumsi vitamin dan mineral yang dijual bebas.

Menurut Dani, suplemen sejatinya hanyalah pendukung kesehatan, bukan kebutuhan utama. Asupan gizi yang seimbang dari makanan sehari-hari tetap menjadi fondasi paling penting.

"Namanya saja suplemen, artinya tambahan. Kalau makan dan minum kita sudah sehat, cukup sayur dan buah, istilahnya empat sehat lima sempurna, sebenarnya tidak perlu suplemen," ujar Dani kepada Health Liputan6.com belum lama ini

Kapan harus minum suplemen? Dani menjelaskan suplemen sebaiknya dikonsumsi pada kondisi tertentu, misalnya saat seseorang sedang sakit atau mengalami kekurangan zat gizi. Contohnya, selama pandemi COVID-19, vitamin D banyak dianjurkan karena berperan meningkatkan imunitas.

"Yang betul sebenarnya kita cek dulu di laboratorium, berapa kadar vitamin D kita. Kalau kadarnya sudah di atas 30, itu tidak perlu minum vitamin D," ujarnya.

Namun, biaya pemeriksaan laboratorium yang tidak murah membuat sebagian orang mengonsumsi suplemen tanpa dasar medis. Hal ini berpotensi membuat konsumsi vitamin menjadi sia-sia.

Dalam praktik sehari-hari, Dani sering meresepkan vitamin D untuk pasien dengan penyakit autoimun dan alergi. Pemeriksaan menunjukkan banyak pasien memiliki kadar vitamin D rendah, sehingga asupan tambahan diperlukan.

 

Hati-hati Suplemen Kombinasi

 

"Pada pasien autoimun dan alergi, vitamin D-nya sering menurun. Maka kita berikan vitamin D, misalnya sampai 5.000 IU sesekali, untuk meningkatkan imunitas dan membantu perbaikan kondisi autoimun dan alerginya," ujarnya.

Pasar kini dipenuhi produk hair, skin, nail supplement yang mengklaim dapat menjaga kecantikan dan kesehatan rambut, kulit, dan kuku. Namun, Dani menekankan agar masyarakat tidak mudah tergiur suplemen kombinasi yang mengandung banyak vitamin sekaligus dengan dosis kecil.

"Vitamin tunggal itu sebenarnya lebih bagus dibandingkan vitamin yang isinya campur-campur dari A sampai Z, tapi dosisnya kecil-kecil," ujarnya.

Dia menambahkan bahwa suplemen kombinasi sering tidak efektif karena dosis tiap kandungan tidak mencapai batas minimal efektivitas. Bahkan, seseorang tetap sehat meski tidak mengonsumsi produk tersebut.

 

Pilih Suplemen yang Tepat

Menurut Dani, suplemen dengan kandungan tunggal seperti vitamin C, D, atau E memang lebih mahal dan ukuran kapsulnya lebih besar. Namun, efektivitasnya lebih jelas dan sesuai dengan fungsi tubuh.

"Vitamin C sendiri, vitamin D sendiri, vitamin E sendiri memang lebih mahal dan minumnya lebih susah, tapi lebih efektif," katanya.

Dani menegaskan bahwa kunci konsumsi suplemen adalah selektif dan cerdas, bukan sekadar mengikuti tren atau iklan yang beredar di media sosial maupun marketplace.

"Poinnya, kita harus selektif dan pintar-pintar memilih suplemen yang ditawarkan. Jangan asal ikut tren," pungkas Dani.