Suplemen Tak Selalu Wajib, Dokter Ini Beberkan Fakta yang Jarang Diketahui

Dokter kulit ini memberi tips memilih suplemen yang tepat dan efektif, jangan asal konsumsi vitamin.

Diterbitkan 21 Desember 2025, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah maraknya iklan suplemen untuk kulit, rambut, dan kesehatan tubuh, banyak orang merasa konsumsi vitamin dan mineral adalah suatu keharusan. Namun, Founder Clara Skin Clinic Raden Saleh, dr. Dani Djuanda, Sp.D.V.E, FINSDV, FAADV, mengingatkan tidak semua orang memerlukan suplemen, apalagi jika pola makan sehari-hari sudah seimbang.

Menurut Dani, suplemen sejatinya hanyalah pendukung, bukan kebutuhan pokok. Asupan gizi dari makanan sehat tetap menjadi fondasi utama untuk menjaga kesehatan kulit dan tubuh. "Namanya saja suplemen, artinya tambahan. Kalau makan dan minum kita sudah sehat, cukup sayur dan buah, istilahnya empat sehat lima sempurna, sebenarnya tidak perlu suplemen," ujar Dani kepada Health Liputan6.com dalam sebuah kesempatan.

Kapan harus minum suplemen? Dani, menjelaskan, suplemen dibutuhkan dalam kondisi tertentu, misalnya saat seseorang sedang sakit atau kekurangan nutrisi spesifik. Contoh paling populer adalah vitamin D, yang sempat dianjurkan selama pandemi COVID-19 karena perannya dalam meningkatkan imunitas tubuh.

"Yang betul sebenarnya kita cek dulu di laboratorium, berapa kadar vitamin D kita. Kalau kadarnya sudah di atas 30, itu tidak perlu minum vitamin D," kata Dani.

Sayangnya, tidak semua orang mau atau mampu melakukan pemeriksaan laboratorium karena biaya bisa cukup tinggi. Akibatnya, banyak orang mengonsumsi suplemen tanpa dasar yang jelas, yang kadang tidak efektif.

 

Vitamin D untuk Pasien Autoimun dan Alergi

Dalam praktik sehari-hari, Dani banyak meresepkan vitamin D untuk pasien dengan kondisi autoimun atau alergi. Pemeriksaan laboratorium sering menunjukkan kadar vitamin D yang rendah pada pasien tersebut.

"Pada pasien autoimun dan alergi, vitamin D-nya sering menurun. Maka kita berikan vitamin D, misalnya sampai 5.000 IU sesekali, untuk meningkatkan imunitas dan membantu perbaikan kondisi autoimun dan alerginya," ujarnya.

Ini menunjukkan penggunaan suplemen harus tepat sasaran, bukan hanya karena tren atau iklan.

 

Waspadai Suplemen Kombinasi

Dani juga menekankan agar masyarakat tidak mudah tergiur suplemen kombinasi yang mengandung banyak vitamin dan mineral dalam satu tablet. Menurutnya, vitamin tunggal cenderung lebih efektif dibandingkan produk kombinasi yang dosisnya kecil-kecil.

"Kalau satu tablet kecil isinya berbagai macam vitamin dan mineral, dosisnya kecil-kecil, itu hampir tidak ada artinya. Bahkan, tidak minum pun kita tetap sehat," ujar Dani.

Vitamin tunggal seperti vitamin C, D, dan E memang lebih mahal dan ukuran kapsulnya lebih besar, tetapi efektivitasnya lebih jelas. "Vitamin C sendiri, vitamin D sendiri, vitamin E sendiri memang lebih mahal dan minumnya lebih susah, tapi lebih efektif," tambahnya.

 

Bijak Memilih Suplemen

Poin penting yang selalu ditekankan Dani adalah selektif dan cerdas dalam memilih suplemen. Tidak semua produk yang populer atau banyak diiklankan memberikan manfaat nyata.

"Poinnya, kita harus selektif dan pintar-pintar memilih suplemen yang ditawarkan. Jangan asal ikut tren," pungkasnya.

Intinya, kata Dani, suplemen bukan pengganti pola makan sehat. Bagi yang sehat, cukup konsumsi makanan bergizi seimbang sudah lebih dari cukup.

Suplemen menjadi tambahan yang tepat hanya jika ada kebutuhan medis atau kekurangan gizi tertentu yang terukur.