Operasi Plastik Bukan Ancaman bagi Sistem Reproduksi, Ini yang Justru Perlu Diwaspadai

Operasi plastik aman untuk sistem reproduksi. Namun, diet ekstrem dan obat pemutih bisa ganggu hormon serta turunkan kesuburan.

Diterbitkan 14 November 2025, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tren operasi plastik terus meningkat di kalangan perempuan. Banyak yang memilih melakukan tindakan estetika seperti filler wajah, sedot lemak, hingga implan payudara demi tampil lebih percaya diri. Namun, muncul kekhawatiran di masyarakat, apakah prosedur kecantikan tersebut bisa berdampak pada sistem reproduksi perempuan?

Menurut dr. Ni Komang Yeni Dhana Sari, Sp.OG, MARS, MM, operasi plastik tidak memiliki pengaruh langsung terhadap organ reproduksi, selama dilakukan dengan prosedur yang tepat dan tidak melibatkan area reproduksi.

"Semua obat-obatan yang masuk ke tubuh kita tentu memiliki efek samping. Tapi kalau kita sudah mempelajari dengan baik tentang hal itu, tidak perlu ditakutkan juga," kata Yeni di sela-sela peluncuran buku The Beauty Being an Entrepreneur.

Dia menegaskan bahwa tindakan seperti filler atau implan payudara tidak akan mengganggu fungsi rahim, ovarium, maupun kesuburan. "Selama organ reproduksinya tidak diapa-apakan, maka tidak akan terpengaruh," ujarnya.

Namun, yang perlu diwaspadai justru gaya hidup ekstrem demi mengejar kecantikan. Banyak perempuan rela melakukan diet tidak seimbang atau mengonsumsi obat pelangsing dan pemutih agar tampil sempurna.

"Yang berpengaruh itu justru diet yang tidak seimbang. Pengen cantik, pengen kurus, pengen putih, lalu menggunakan obat yang menekan hormon biar tidak gemuk. Nah, itu yang bisa berpengaruh pada organ reproduksi," ujarnya.

 

Obat-Obat untuk Menekan Hormon

Obat-obatan yang menekan hormon bisa menyebabkan gangguan siklus haid hingga menurunkan peluang kehamilan. Oleh sebab itu, Yeni mengingatkan agar perempuan berhati-hati memilih produk dan metode perawatan tubuh.

Selain itu, dia juga menjelaskan bahwa perempuan masih bisa hamil selama masa perimenopause, periode menjelang menopause, selama masih mengalami menstruasi. "Kalau disebut menopause itu kalau sudah 12 bulan berturut-turut tidak haid. Tapi pada saat perimenopause, itu masih mungkin bisa terjadi kehamilan," tambahnya.

Dia menambahkan bahwa menopause baru bisa dinyatakan setelah 12 bulan berturut-turut tanpa menstruasi. Sebelum itu, meski frekuensi haid sudah tidak teratur, perempuan masih berpotensi hamil jika berhubungan seksual tanpa kontrasepsi.

Dengan demikian, perempuan di usia 40-an yang merasa sudah 'aman' dari kehamilan tetap disarankan untuk berhati-hati. "Pada saat perimenopause, itu masih mungkin bisa terjadi suatu kehamilan," kata Yeni.

 

Peluncuran Buku sebagai Edukasi

Peluncuran buku The Beauty Being an Entrepreneur yang dihadiri dr. Ni Komang Yeni Dhana Sari, Sp.OG, MARS, MM, menjadi momen istimewa bagi dunia estetika Indonesia.

Sebagai salah satu distributor Aesthetic Devices TOP 5 di Indonesia, Regenesis Indonesia dikenal bukan hanya karena teknologi dan produk inovatifnya, tapi juga karena value dan filosofi perusahaan yang menekankan kepercayaan, edukasi, serta nilai kemanusiaan.

Buku The Beauty Being an Entrepreneur ditulis Ir. Emmy Noviawati, President Director PT Regenesis Indonesia. Buku ini merekam perjalanan panjangnya dalam mendampingi para pemilik klinik kecantikan di Indonesia, serta mengungkap makna sejati menjadi entrepreneur yang tumbuh bersama manusia di balik bisnis.

"Buku ini saya tulis sebagai bentuk apresiasi dan rasa syukur kepada seluruh mitra Regenesis yang telah berjalan bersama kami. Karena bagi saya, menjadi entrepreneur bukan hanya tentang hasil, tapi tentang keberanian untuk bertumbuh, berbagi, dan memberi makna dalam setiap proses," kata Emmy.

Dengan pengalaman lebih dari dua dekade di dunia estetika dan kesehatan, serta kiprah internasionalnya di berbagai forum seperti IMCAS dan FACE, Emmy Noviawati terus menginspirasi generasi muda untuk membangun industri kecantikan yang beretika, sehat, dan manusiawi.