Bak Mukjizat, Bocah Jerman Oliver Staub Berhasil Sembuh usai Alami Kecelakaan Fatal

Kejadian bermula saat mobil yang ditumpangi Oliver dan keluarganya ditabrak oleh truk besar, membuat kepala Oliver terpisah dari tulang belakangnya.

Diterbitkan 30 Oktober 2025, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kisah Oliver Staub merebak dari Jerman ke manca negara. Bocah dua tahun itu mengalami kecelakaan mengerikan saat berlibur di Meksiko.

Kejadian bermula saat mobil yang ditumpangi Oliver dan keluarganya ditabrak oleh truk besar — menyebabkan cedera fatal pada Oliver. Kepala Oliver terpisah dari tulang belakangnya. Dokter bahkan mengatakan luka yang dialaminya “tidak kompatibel dengan kehidupan.”

Bak sebuah keajaiban, dalam dua bulan, berkat operasi revolusioner yang dipimpin oleh Ketua Bedah Saraf di University of Chicago Medicine, Dr. Mohamad Bydon, Oliver kini perlahan bisa menggerakkan tangan dan kakinya.

Dr. Bydon menyebut pemulihan Oliver sebagai sesuatu yang “belum pernah terjadi sebelumnya,” seperti mengutip keterangan University of Chicago Medicine, Rabu (29/10/2025).

Kecelakaan itu terjadi pada 17 April ketika keluarga Staub sedang berkunjung ke keluarga sang ibu di Meksiko dari rumah mereka di Jerman. Mobil minivan mereka ditabrak oleh truk lapis baja.

Sang ibu, Laura Staub-Garcia, mengalami luka di kepala dan patah tulang lengan. Ayahnya, Stefan, menderita patah tulang rusuk. Kakak laki-lakinya, Sebastian (5), hanya mengalami luka ringan, sementara kembaran Sebastian, Julian, tidak terluka sama sekali. Sayangnya, kondisi Oliver jauh lebih parah. Ia ditemukan tak bernapas di kursi belakang dengan posisi kepala yang tak wajar.

“Saya yakin dia sudah meninggal,” kenang Stefan.

 

Sempat Dikira Hanya Bisa Bertahan Beberapa Hari

Bibi Oliver yang berada di mobil belakang langsung memberikan CPR dan membawanya ke rumah sakit. Di rumah sakit Meksiko City, dokter menyampaikan kabar pahit: Oliver diperkirakan hanya bertahan beberapa hari.

“Kami menangis dan berpelukan. Kami bahkan sudah membicarakan soal pemakamannya," kata Laura.

Ketika rumah sakit menanyakan apakah mereka ingin mendonorkan organ Oliver, Laura menjawab tanpa ragu. “Oliver adalah anak paling ceria di dunia. Kami tahu, jika dia bisa membantu orang lain, dia pasti akan senang.”

Namun keajaiban terjadi. Kondisi Oliver tiba-tiba membaik. Meski dokter memperkirakan ia akan lumpuh total seumur hidup, Oliver mulai menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Setelah 39 hari dirawat, ia diizinkan pulang dengan penyangga leher dan selang pernapasan.

“Dokter di Meksiko tampaknya sudah kehilangan harapan. Namun berkat ketelatenan orangtuanya, nyawa Oliver tetap bertahan," ujar Dr. Bydon.

 

Pantang Menyerah di Masa Sulit

Laura dan Stefan kemudian memutuskan untuk tinggal di rumah orangtua Laura di Michoacan, Meksiko. Mereka menjual rumah di Jerman untuk menutupi biaya medis yang terus membengkak.

“Kami datang hanya untuk liburan lima minggu, dan kami tidak pernah kembali," kata Stefan.

Keadaan yang kian sulit tak membuat Laura menyerah. Ia mencari dokter di seluruh dunia hingga menemukan nama Dr. Mohamad Bydon, yang dikenal dengan penelitian tentang pengobatan cedera tulang belakang menggunakan stem cell.

Ketika dihubungi, Dr. Bydon berkata jujur, “Saya tidak bisa menjanjikan apa pun. Tapi saya akan melihat apa yang bisa saya lakukan.”

Masalahnya, biaya perjalanan dan perawatan di Chicago mencapai lebih dari USD 300.000 (sekitar Rp 4,8 miliar). Namun nasib kembali berpihak pada mereka. Yayasan milik pesepak bola Jerman Toni Kroos bersedia menanggung seluruh biaya perjalanan dan operasi, yang akhirnya mencapai lebih dari USD 1 juta (sekitar Rp 16 miliar).

 

Dua Tahap Operasi Oliver

Pada 11 Juli, tim dokter yang dipimpin Dr. Bydon melakukan dua tahap operasi besar: menyambungkan kembali tengkorak Oliver dengan tulang belakang, serta merekonstruksi lapisan saraf tulang belakangnya. Operasi ini sangat berisiko karena pada anak sekecil Oliver, sedikit saja kehilangan darah bisa berakibat fatal.

Beberapa hari pascaoperasi, keajaiban kembali terjadi.

“Dia mulai menggerakkan tangan kanannya. Awalnya kami pikir itu hanya refleks. Tapi lalu dia mulai menggenggam jari orang tuanya. Lalu jari-jari lain, kaki, dan bahkan bisa bernapas tanpa ventilator untuk beberapa waktu," papar Dr. Bydon. Dr. Bydon menyebut pemulihan ini sebagai “keajaiban medis.”

“Biasanya, kami hanya berharap pasien bisa menstabilkan lehernya. Tapi Oliver tidak hanya itu — dia bisa menggerakkan tubuhnya dan mulai merasakan ketika harus buang air kecil. Ini belum pernah terjadi sebelumnya," ujarnya.

 

Simbol Harapan bagi Setiap Keluarga di Dunia

Kini, keluarga Staub tinggal di Michoacan. Oliver menunjukkan kemajuan luar biasa setiap hari. Ia bisa berbicara, bernyanyi, dan bahkan bercanda dengan keluarganya.

“Dia suka memakai kacamata hitam dan meniup ciuman (kiss bye) ke anjing-anjing tetangga,” kata Laura sambil tersenyum.

Oliver juga senang menyanyikan lagu favoritnya versi Jerman dari She’ll Be Coming ’Round the Mountain. “Setelah selesai bernyanyi, dia akan berkata ‘Bravo!’ untuk dirinya sendiri,” tambahnya.

Akun Instagram yang dikelola sang ayah kini memiliki lebih dari 100 ribu pengikut, banyak di antaranya terinspirasi oleh perjuangan si kecil Oliver.

Beberapa bulan lagi, dokter akan melepas penyangga lehernya. Orangtuanya berharap suatu hari Oliver bisa bernapas tanpa alat bantu — bahkan mungkin berjalan kembali.

“Dia sudah menentang semua kemungkinan. Anak ini terus membuktikan kami salah di setiap tahap. Langit adalah batasnya bagi Oliver," kata Dr. Bydon.

Kisah Oliver Staub bukan sekadar keajaiban medis — ini adalah bukti kekuatan cinta, harapan, dan tekad manusia.

Dari bayi yang “tidak mungkin hidup,” kini Oliver menjadi simbol harapan bagi keluarga di seluruh dunia yang berjuang menghadapi hal mustahil.