Apa Saja Arti Tangisan Bayi? Kenali Bedanya Lapar, Kembung, atau Butuh Pelukan

Tangisan bayi punya arti berbeda, mulai dari lapar, kembung, hingga butuh pelukan. Pakar jelaskan cara mengenali dan menenangkannya agar orang tua tidak panik.

Diterbitkan 27 September 2025, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tangisan adalah bahasa pertama bayi. Karena belum bisa berbicara, bayi hanya bisa menyampaikan kebutuhan atau rasa tidak nyamannya lewat tangisan. Namun, tidak semua tangisan memiliki arti yang sama. Orang tua perlu memahami perbedaan tangisan bayi agar tidak salah menanggapi.

Dokter Spesialis Anak, dr. Dimple Nagrani, Sp.A, menjelaskan bahwa tangisan bayi merupakan hal normal dan tidak boleh langsung diartikan sebagai tanda manja. 

"Bayi belum bisa bicara, jadi salah satu cara mereka berkomunikasi adalah dengan menangis. Yang perlu kita lakukan sebagai orang tua adalah berusaha memahami tangisannya secara objektif, tidak stres berlebihan tapi juga tidak masa bodoh," katanya di acara Peluncuran Cussons Baby Cuddle Calm belum lama ini.

Selama sembilan bulan di dalam kandungan, bayi terbiasa berada di lingkungan hangat, gelap, sempit, dan seakan selalu dipeluk. Kondisi ini membuat mereka merasa aman. Namun, begitu lahir, bayi langsung dihadapkan dengan dunia luar yang terang, dingin, dan berisik.

"Tiba-tiba mereka lahir ke dunia ini dingin banget, berisik banget, terang banget. Perubahan ini bisa membuat bayi merasa overstimulasi, sehingga dia menangis lebih sering," tambah dr. Dimple.

 

Penyebab Tangisan Bayi

Orang tua perlu memahami bahwa tangisan bayi adalah bentuk komunikasi. Dengan begitu, mereka bisa memberikan respon yang tepat tanpa berlebihan.

Menurut dr. Dimple, ada beberapa alasan umum bayi menangis, di antaranya:

  • Lapar – salah satu penyebab paling sering bayi menangis.
  • Kembung – perut penuh udara bisa membuat bayi tidak nyaman.
  • Iritasi kulit – rasa gatal atau dingin dapat memicu tangisan.
  • Butuh sentuhan – bayi merasa tenang saat disentuh atau digendong.
  • Overstimulasi lingkungan – cahaya terlalu terang, suara bising, atau suasana ramai bisa membuat bayi rewel.

"Bayangkan bayi yang merasa gatal, dia kan belum bisa menggaruk sendiri. Jadi, dia menangis agar kita menyentuhnya. Dengan sentuhan orang tua, bayi bisa lebih tenang," kata dr. Dimple.

Kenapa Bayi Tenang Saat Digendong?

Banyak orang tua khawatir bayinya menjadi 'bau tangan' karena terlalu sering digendong. Namun, dr. Dimple menegaskan bahwa anggapan tersebut keliru.

"Bayi tidak bisa sendawa kalau dalam posisi tiduran. Kalau digendong, gravitasi membantu susu turun dan udara naik, sehingga bayi lebih mudah sendawa. Jadi, bukan karena bau tangan, tapi memang posisi gendong membuatnya nyaman," ujarnya.

Karena itu, bayi sering kali hanya bisa tenang ketika berada dalam pelukan orang tuanya. Bukan karena manja, melainkan karena tubuhnya lebih mudah melepaskan udara saat digendong.

Cara Membaca Tangisan Bayi

Setiap bayi memiliki pola tangisan yang berbeda. Orang tua bisa belajar mengenali arti tangisan si kecil seiring waktu. Ada tangisan yang menandakan lapar, ada yang menunjukkan ketidaknyamanan, ada juga tangisan yang hanya meminta pelukan.

"Orang tua boleh menggunakan insting untuk memahami tangisan anak. Dengan sering berinteraksi, lama-lama akan terbiasa membedakan mana tangisan karena lapar, mana tangisan karena kembung, atau karena butuh ditenangkan," kata dr. Dimple.