Liputan6.com, Jakarta Banyak orang mungkin mengabaikan risiko diabetes karena tidak memiliki keluarga yang mengidap penyakit ini. Pada diabetes tipe 1 penyebabnya bukan genetik tapi kondisi autoimun seperti disampaikan dokter spesialis anak subspesialis endokrinologi Prof Aman Bhakti Pulungan.
“Kalau dikatakan keturunan, banyak sekali pasien kita yang 2.000 lebih itu orangtuanya tidak DM (Diabetes Mellitus) 1. Jadi pola diturunkannya itu berbeda,” ungkap Aman di acara Small Group Media Interview CDiC Diabetes Camp dan Novo Nordisk, pada Rabu, 10 September 2025.
“Karena dia autoimun, proses autoimun inilah yang menyebabkan terjadinya (diabetes tipe 1). Kenapa dia bisa? Salah satu infeksi virus pada saat pendemi COVID-19, diabetes kita meningkat. Virus-virus ini juga bisa mencetuskan pada diabetes,” jelas Aman.
Advertisement
Apa Itu Diabetes Tipe 1?
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/5345070/original/060447100_1757501949-amann.jpg)
Diabetes tipe 1 adalah kondisi dimana tubuh benar-benar berhenti untuk memproduksi insulin karena adanya kerusakan pada sel pankreas yang memproduksi insulin oleh sistem kekebalan tubuh.
Aman mengatakan gejala diabetes pada anak salah satunya anak yang telah lama berhenti ngompol kemudian balik lagi.
“Yang tadinya tidak ngompol, dia ngompol lagi. Yang terpikir pertama kali harus adalah diabetes. Nah ini yang harusnya memang kita komunikasikan. Jadi bahwa memang diabetes bisa pada anak,” jelasnya.
Selain itu, ia menyebutkan bahwa gejala klasik seperti sering buang air kecil, banyak makan, banyak minum, dan penurunan badan drastis perlu dicurigai penyakit diabetes tipe 1.
“Nah ada tipsnya apa? Ketika kita dapati anak banyak makan, banyak kencing, berat badan turun drastis, kayak pasien di Kupang itu. Terus yang tadinya tidak ngompol, ngompol lagi. Apalagi anak mulai loyo, yang pertama harus dipikirkan adalah diabetes,” tambah Aman.
Advertisement
Gejala Penyakit Ini Sering Diabaikan
Sayangnya, kebanyakan anak diabetes tipe 1 telat untuk didiagnosis. Ia menyebut kondisi karena kurang awareness.
Aman menyebut, penyebab kurangnya pemahaman terkait diabetes tipe 1 karena penyakit ini mungkin masih awam di kalangan masyarakat. Bukan hanya pada masyarakat, bahkan tenaga medis, pemahaman bahwa anak juga bisa terkena diabetes tipe 1 masih kurang.
“Jadi, ketika pasien masuk, susah. Pasien masuk sakit perut, engap-engapan, yang terfikir itu yang lain-lain. Secara emergency, jadi tidak pernah terpikir. Karena mungkin pada saat dia sekolah (tenaga medis), dia tidak pernah melihat kasusnya. Jadi akhirnya tidak memikirkan diabetes,” jelas Aman.
Kesalahan membaca tanda ini mengakibatkan banyak anak datang ke rumah sakit dalam kondisi sudah parah. Akhirnya, mereka baru mendapat diagnosis setelah mengalami komplikasi.
Sering Disalahpahami Sebagai Penyakit Lain
Selain itu, pada kenyataannya penyakit ini jauh lebih rumit. Banyak anak di Indonesia justru mengalami salah diagnosis karena gejalanya mirip penyakit lain.
“Ketidak-aware-an kita ini bukan hanya masyarakat, bahkan tenaga kesehatan telat melihat ini. Jadi datang itu bisa dianggap asma, bisa dianggap appendix atau usus buntu. Kalau sakit perut bisa dianggap pneumonia,” jelasnya.
Aman mengungkapkan bahwa diabetes tipe 1 bahkan pernah disangka penyakit usus buntu hingga pasien akhirnya dioperasi. Kondisi ini tidak hanya membahayakan pasien, tapi juga menunda penanganan yang seharusnya segera diberikan.
“Pernah ada kejadian di salah satu Rumah Sakit tipe A, sekarang gak kejadian lagi. Sampai dioperasi usus buntu, ternyata diabetik tipe 1,” ungkapnya.
Aman juga menyebut, bahwa sebanyak 70 persen pasiennya yang terkena diabetes tipe 1 telat terdiagnosis. Mereka datang ketika dalam keadaan yang parah yang dinamakan ketoasidosis diabetik (KAD).
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8672103/original/092674300_1782711428-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-29T123620.816.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8673310/original/025399100_1782713964-cek_fakta_purbaya_pensiunan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8668432/original/066093000_1782703201-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-29T101610.906.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471519/original/070085400_1782374653-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3882770/original/ACg8ocLbv7jla1PF_pi9eZ1BFXtQePWMmKXxkFDYi_MhcbTaTwECPA%3Ds200.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5299904/original/069038700_1753855246-boy-is-unhappy-doing-homework.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8633516/original/070380800_1782633001-photo-collage.png__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8674531/original/079790200_1782716407-AP26177104053905.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260382/original/054470700_1781590662-063_2281748273.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259253/original/099827400_1781493084-AP26165774269127.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4864218/original/041026400_1718404435-AP24166759629724.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263966/original/082388400_1782038241-000_B7RC3ZV.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5415752/original/060786800_1763419826-000_84BP8PA.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8525155/original/017274300_1782455154-AP26176798846634.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8452334/original/003376600_1782349228-ney.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259033/original/064642600_1781436681-000_B6Z637Y.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8668326/original/051794500_1782703035-AP26179791541483.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5420123/original/084579900_1763722576-Em_Yunir.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5558332/original/003196000_1776414243-em_yunir__2_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5325946/original/073963900_1756053723-71e9178f-a626-44cf-8651-bfbedd84312b.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257223/original/099863100_1781232068-less_sugar.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2702733/original/009326800_1547351030-20190113-Cek-Darah-CFD-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7267370/original/099930700_1780053279-___Medical_Educator_and_Influencer__dr._Diana_Suganda.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564048/original/028056900_1776924384-pekan_imunisasi_dunia.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6926137/original/053628500_1779696311-Wakil_Menteri_Kesehatan__Dante_Saksono_Harbuwono.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6911113/original/076495900_1779681542-55290040090_8779bb9e70_c.jpg)