Ayam Bahagia Hasilkan Telur Fungsional, Pakar: Lebih Efektif Cegah Stunting

Disebut telur fungsional karena zat besi yang dikandungnya lebih mudah diserap ketimbang telur ayam biasa.

Diterbitkan 14 Agustus 2025, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ada jenis telur ayam khusus yang kandungan protein dan zat besinya lebih cepat diserap tubuh sehingga diyakini lebih efektif mencegah stunting dan memperbaiki status gizi anak.

Telur tersebut dikenal dengan nama telur fungsional yang dihasilkan oleh ayam bahagia.

Disebut telur fungsional karena zat besi yang dikandungnya lebih mudah diserap ketimbang telur ayam biasa atau zat besi yang berasal dari tanaman.

Sekitar 15–35 persen zat besi hewani (heme) dari telur fungsional yang dikonsumsi akan langsung diserap dan dimanfaatkan dalam metabolisme tubuh.

Sedangkan pada zat besi nonheme (yang berasal dari tumbuhan/sayuran) penyerapannya lebih rendah, hanya sekitar 2–20 persen saja dan sisanya terbuang.

Hal tersebut dipaparkan spesialis keperawatan komunitas dari Universitas Respati Yogyakarta, Ns. Muflih, dalam kegiatan Diseminasi Hasil Kajian Pengasuhan Seribu Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) Dalam Rangka Percepatan Penurunan Stunting Daerah Istimewa Yogyakarta.

Hasil penelitian Muflih menunjukkan bahwa konsumsi 1 butir telur fungsional setiap hari selama 42 hari memberikan peningkatan signifikan kadar hemoglobin sebesar 2,8 g/dL dibandingkan kelompok kontrol (0,7 g/dL), serta berdampak pada peningkatan tinggi badan anak.

“Telur fungsional mengandung zat besi heme yang mudah diserap tubuh. Temuan kami menegaskan bahwa intervensi sederhana dan terjangkau seperti ini dapat membantu mempercepat penurunan anemia dan stunting pada anak,” ujar Muflih saat menjelaskan efektivitas telur fungsional dalam meningkatkan kadar hemoglobin pada anak balita anemia, mengutip keterangan pers Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Rabu (13/8/2025).

 

Ayam Bahagia Hasilkan Telur Fungsional

Telur ayam fungsional dihasilkan dari ayam bahagia, yaitu ayam yang diberikan fasilitas kandang bebas sangkar.

Ayam tidak lagi dikurung dalam kandang sempit sehingga bebas bergerak dan berperilaku seperti naluri alamiah ayam, misalnya mengais-ngais mencari makan, bergerak bebas, dan bertengger. Ayam menjadi bebas stres dan bahagia.

Pakan nabati yang diberikan dibuat dengan teknologi khusus yang bebas bahan kimia serta antibiotik. Dengan pakan dan perlakuan khusus tersebut ayam akan menghasilkan telur dan daging berkualitas tinggi.

 

Penelitian Soal Telur Ayam Bahagia

Penelitian tentang telur ayam bahagia di Indonesia dirintis sejak 2018 oleh Profesor Ali Agus, Guru Besar Ilmu Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Ali Agus mengembangkan konsep telur fungsional dari ayam yang dipelihara dengan prinsip animal welfare, yaitu ayam bahagia—dilepasliarkan (cage-free/free-range), tanpa antibiotik, dan dengan pakan khusus untuk meningkatkan nilai gizi telur. Penelitian Ali Agus merupakan respons terhadap pelarangan penggunaan antibiotic growth promoter (AGP) di Indonesia.

 

Kolaborasi Susun Kebijakan Berbasis Bukti

Rektor Universitas Respati Yogyakarta, Prof. dr. Hari Kusnanto, Dr.PH, Sp.KKLP, dalam sesi diskusi menyampaikan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam menyusun kebijakan berbasis bukti.

“Kegiatan seperti ini tidak hanya memberikan data, tetapi juga arah strategis dalam membangun kualitas pengasuhan yang berdampak jangka panjang terhadap pembangunan SDM,” ujarnya.

Sementara, Gubernur DIY dalam sambutan yang dibacakan Wakil Gubernur KGPAA Paku Alam X menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang menginisiasi kegiatan ini. Sedangkan Kepala Perwakilan BKKBN DIY, Iqbal Apriansyah, menyampaikan harapannya agar program pengasuhan 1000 HPK diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan terarah. Sehingga mampu berkontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Seribu Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) yang dimulai sejak terjadinya pembuahan sampai anak berusia 24 bulan merupakan periode krusial yang menentukan masa depan anak. Kualitas pengasuhan pada periode ini berperan penting dalam mencegah stunting, sebuah kondisi yang berdampak jangka panjang pada kesehatan dan perkembangan anak.