5 Fakta tentang Chikungunya, Disebut WHO Bisa Jadi Epidemi Global

WHO mendesak semua pihak untuk segera bertindak mencegah penyebarannya chikungunya agar tak jadi epidemi global.

Diperbarui 26 Juli 2025, 21:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyatakan bahwa chikungunya bisa menyebabkan epidemi global.

"Sama seperti 20 tahun lalu, virus ini sekarang menyebar lebih jauh ke negara-negara lain seperti Madagaskar, Somalia, dan Kenya, dan juga terjadi penularan epidemi di Asia Tenggara - di India, Sri Lanka, Bangladesh, dan lainnya," kata Dr. Diana Rojas Alvarez, pemimpin WHO untuk arbovirus dalam briefing media di Jenewa pada Selasa, 22 Juli 2025 mengutip Health Policy Watch.

Oleh karena itu, WHO mendesak semua pihak untuk segera bertindak mencegah penyebarannya.

Terkait itu, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Prof. Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan lima fakta soal penyakit tersebut, yakni:

Nama Chikungunya Diambil dari Bahasa Tanzania

Pertama, penyakit chikungunya disebabkan oleh virus RNA (ribonucleic acid) CHIKV dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Penyakit ini pertama kali dilaporkan di Tanzania pada 1952, dan nama penyakit ini juga dari bahasa Tanzania Selatan yang artinya rasa sakit hebat, yang memang merupakan salah satu gejala utama penyakit ini.

Dilaporkan di 119 Negara

Kedua, kini chikungunya memang sudah dilaporkan di sekitar 119 negara, termasuk Indonesia.

“Tetapi yang penting kita ketahui bahwa ledakan kasus chikungunya di perkotaan (urban outbreaks) pertama-tama terjadi di negara tetangga kita Thailand pada 1967,” ujar Tjandra dalam keterangan tertulis.

Ada 220 Juta Kasus per 2025

Ketiga, sebagian besar kasusnya memang ringan. Tetapi pada sebagian kasus ada tiga hal yang mungkin saja timbul. Pertama, rasa nyeri hebat pada sebagian kasus dapat berkepanjangan sampai berbulan-bulan.

Kedua, pada sebagian kecil dapat terjadi komplikasi pada mata, jantung dan sistem syaraf. Ketiga, angka kematian sangat kecil, di bawah 1 persen. Data sejak awal 2025 menunjukkan ada 220.000 kasus di dunia dengan 80 kematian.

 

Tak Ada Obat Antivirus untuk Chikungunya

Keempat, tidak ada obat anti virus untuk chikungunya. Di sisi lain, beberapa negara sudah punya dua jenis vaksin untuk penyakit ini, dan Indonesia nampaknya belum ada. WHO position paper tentang vaksin chikungunya direncanakan baru akan dipublikasi pada 2026, walau informasinya Strategic Advisory Group of Experts (SAGE) on Immunization WHO dalam waktu dekat ini akan melakukan rapat tentang vaksin ini.

Epidemi Chikungunya Sudah Pernah Terjadi

Kelima, pada dua puluh tahun yang lalu sudah pernah terjadi epidemi chikungunya, dari 2004 sampai 2007. Utamanya di pulau-pulau Samudera Hindia, dengan ratusan ribu kasus.

“Inilah yang perlu kita antisipasi agar jangan sampai terjadi lagi,” ucapnya.

 

 

Situasi Chikungunya Menurut WHO

Sebelumnya, WHO memperingatkan pada hari Selasa (22/7) bahwa wabah virus chikungunya yang ditularkan melalui nyamuk, menyebar dengan cepat dari tiga pulau Samudra Hindia ke Afrika, sementara sebagian Asia Tenggara juga mengalami wabah.

Sekitar dua pertiga populasi pulau Reunion, Perancis, telah terinfeksi chikungunya selama setahun terakhir, dengan wabah besar lainnya di pulau Mayotte dan Mauritius.

Diana memperingatkan bahwa wabah global besar 20 tahun lalu yang memengaruhi sekitar setengah juta orang juga dimulai di pulau-pulau Samudra Hindia, dan mendesak pihak berwenang kesehatan untuk waspada. Sejak awal tahun, Reunion telah mengkonfirmasi 54.410 kasus chikungunya, dengan 2.860 kunjungan ke ruang gawat darurat, 578 rawat inap, dan 28 kematian, menurut laporan yang dikeluarkan oleh Pacific Community (SPC) pada hari Selasa.

Kasus baru-baru ini dilaporkan di Perancis dan Italia pada orang-orang yang tidak memiliki riwayat perjalanan ke pulau-pulau itu. Dan diagnosis di Eropa mungkin lambat, karena dokter memiliki sedikit pengalaman dengan penyakit tropis ini.