Ciri Mastitis pada Sapi Perah, Apa Dampaknya bagi Manusia?

Mastitis membuat dunia peternakan sapi perah menghadapi tantangan serius, ini dampaknya bagi manusia.

Diterbitkan 14 Juli 2025, 12:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Mastitis dikenal sebagai penyakit peradangan payudara yang umumnya dialami oleh ibu menyusui (busui).

Tak hanya pada manusia, mastitis juga bisa terjadi pada mamalia lain seperti sapi perah.

Dosen Fakultas Peternakan IPB University, Dr Iyep Komala, mengungkapkan bahwa mastitis membuat dunia peternakan sapi perah menghadapi tantangan serius. Penyakit ini tidak hanya berdampak pada kesehatan hewan, tetapi juga menimbulkan kerugian ekonomi besar bagi peternak serta menurunkan kualitas produksi susu.

Mastitis adalah peradangan pada jaringan ambing sapi yang umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri. Gejalanya meliputi pembengkakan, kemerahan, dan perubahan warna serta tekstur susu,” ucap Dr Iyep  mengutip laman IPB University, Senin (14/7/2025).

Ia menyebutkan bahwa penyebab utama mastitis adalah bakteri, yang sering kali berasal dari lingkungan peternakan yang tidak bersih. Selain itu, manajemen peternakan yang buruk juga turut andil. Seperti stres pada sapi, kesalahan dalam penanganan, pergantian pakan yang tidak tepat, perlakuan kasar dari peternak, serta kuku sapi yang panjang saat pemerahan yang dapat menyebabkan luka.

“Ketika sapi terkena mastitis, biasanya mereka menunjukkan tanda-tanda ketidaknyamanan, seperti menurunnya nafsu makan. Jika kondisi ini dibiarkan kronis, bisa menyebabkan kerusakan permanen pada ambing,” imbuhnya.

 

Turunkan Kualitas Susu Sapi Secara Drastis

Selain menurunkan produktivitas, mastitis juga menyebabkan penurunan kualitas susu secara drastis. Susu yang dihasilkan dapat mengandung bakteri patogen yang berbahaya jika dikonsumsi manusia.

Sebagai upaya pencegahan, Iyep menyarankan untuk menjaga sanitasi kandang dan menerapkan prinsip-prinsip pemerahan yang baik atau good milking practices.

Ia menjelaskan bahwa jika sapi sudah terinfeksi mastitis, pengobatan bisa dilakukan dengan dua metode, yakni menggunakan antibiotik atau bahan alami seperti herbal.

“Penggunaan antibiotik harus dilakukan secara hati-hati karena kesalahan dalam penggunaannya bisa menyebabkan residu antibiotik dalam susu,” ucapnya.

Alternatif lain yang juga digunakan dalam praktik peternakan rakyat adalah daun sirih.

“Yang terbaik tentu menggunakan ekstrak daun sirih. Namun jika tidak tersedia, peternak bisa merebus daun sirih untuk digunakan sebagai antiseptik alami,” jelasnya.

 

Metode Teat Dipping

Iyep juga menyarankan metode teat dipping, yaitu mencelupkan puting susu sapi ke dalam larutan antiseptik seperti tingtur yodium atau rebusan daun sirih setelah pemerahan.

Langkah ini bertujuan mencegah masuknya bakteri ke dalam saluran puting dan meminimalkan risiko mastitis.

Lebih lanjut, Iyep menjelaskan bahwa edukasi dan pendampingan kepada peternak sangat diperlukan untuk menekan angka kejadian mastitis di lapangan.

“Jika kita mampu menjaga kebersihan kandang, melakukan pemerahan secara higienis, serta rutin memeriksa kesehatan ambing, maka mastitis bisa diminimalkan. Hal ini diperlukan untuk menjaga keberlanjutan usaha peternakan rakyat dan kualitas gizi masyarakat,” pungkasnya.