Bukan Soal Seks Bebas, Ini Fakta Penting soal Vaksin HPV dan Kanker Serviks

Vaksin HPV bukan pemicu seks bebas. Edukasi yang tepat bantu cegah kanker serviks sejak dini dan lawan stigma yang masih banyak beredar di masyarakat.

Diterbitkan 26 Juni 2025, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kanker serviks merupakan salah satu penyebab utama kematian akibat kanker pada perempuan di Indonesia. Padahal, penyakit ini bisa dicegah dengan vaksinasi HPV (Human Papillomavirus) dan skrining dini. 

Sayangnya, masih banyak masyarakat yang keliru memahami vaksin HPV, bahkan menganggapnya sebagai pemicu perilaku seks bebas. Ini adalah miskonsepsi yang perlu diluruskan. 

Vaksin HPV dirancang untuk melindungi tubuh dari infeksi virus HPV, yang merupakan penyebab utama kanker serviks. Virus ini dapat menular melalui kontak kulit ke kulit, termasuk hubungan seksual. Namun, penting untuk diketahui bahwa infeksi bisa terjadi meski tanpa hubungan seksual penetratif. 

Vaksinasi HPV dianjurkan diberikan sejak usia 9 sampai 14 tahun atau sebelum seseorang aktif secara seksual. Hal ini justru menambah efektivitas perlindungan tubuh terhadap HPV di masa mendatang. 

"Vaksin HPV tidak ada kaitannya dengan perilaku seksual. Ini adalah perlindungan kesehatan, bukan promosi seks bebas," kata Prof. Dr. dr. Yudi Mulyana Hidayat, SpOG(K), Ketua Umum Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI). 

 

Pentingnya Edukasi Kesehatan Reproduksi Sejak Dini

Menurut Prof. Yudi, vaksinasi HPV adalah salah satu upaya pencegahan primer kanker serviks yang sangat penting dan terbukti efektif. 

Dia menambahkan bahwa mengaitkan vaksin HPV dengan seks bebas justru menghambat upaya penanggulangan penyakit yang bisa dicegah ini. 

Untuk melawan stigma dan miskonsepsi, edukasi publik menjadi sangat penting. Edukasi ini harus menyasar berbagai kelompok masyarakat, mulai dari remaja, orang tua, guru, hingga tokoh agama.

Bahasa yang digunakan juga harus sederhana, mudah dimengerti, dan disesuaikan dengan tingkat pemahaman masing-masing kelompok. 

Materi edukasi harus mencakup penjelasan apa itu HPV, bagaimana virus ini menyebar, serta bagaimana vaksin HPV bekerja.

Selain itu, penting untuk secara langsung membantah mitos yang berkembang, seperti anggapan bahwa vaksin menyebabkan infertilitas atau hanya diperlukan oleh mereka yang aktif secara seksual. 

Sosialisasi juga perlu dilakukan melalui berbagai media seperti media sosial, brosur, seminar, hingga kampanye daring.

Dukungan dari figur publik dan tokoh masyarakat juga dapat membantu menyebarkan informasi yang benar dan memperkuat pesan kampanye kesehatan. 

Akses Vaksinasi dan Skrining Harus Merata

Selain edukasi, hal krusial lainnya adalah akses terhadap layanan vaksinasi dan skrining yang merata dan terjangkau.

Pemerintah telah mulai memasukkan vaksin HPV ke dalam program imunisasi nasional bagi anak sekolah dasar kelas 5 dan 6.

Ini langkah maju. Namun, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan agar cakupan vaksinasi merata di seluruh wilayah. 

Upaya ini perlu melibatkan berbagai pihak, termasuk tenaga kesehatan, sekolah, dan organisasi masyarakat.

Layanan vaksinasi juga harus mudah dijangkau secara geografis dan finansial, terutama bagi keluarga dengan keterbatasan akses. Tak hanya vaksinasi, skrining dini melalui tes Pap smear atau IVA juga harus digalakkan.

Dengan deteksi dini, risiko kanker serviks bisa ditekan secara signifikan.Â