Strategi Kemenkes Capai Eliminasi HIV dan IMS pada 2030

Pada tahun 2025 diperkirakan terdapat sekitar 564.000 ODHIV, namun baru 63% yang mengetahui statusnya.

Diterbitkan 24 Juni 2025, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI kembali menegaskan komitmennya dalam mengeliminasi HIV dan Infeksi Menular Seksual (IMS) pada tahun 2030. Meski berbagai intervensi sudah dilakukan, beban kasus HIV di Indonesia masih cukup tinggi. Saat ini, Indonesia berada di peringkat ke-14 dunia dalam jumlah orang dengan HIV (ODHIV) dan peringkat ke-9 untuk jumlah infeksi baru.

Diperkirakan, pada tahun 2025 terdapat sekitar 564.000 ODHIV, namun baru 63% yang mengetahui statusnya. Dari angka tersebut, 67% telah menjalani terapi antiretroviral (ARV), dan hanya 55% yang berhasil mencapai viral load tersupresi—yang artinya virus tidak terdeteksi dalam tubuh dan risiko penularan menjadi sangat rendah.

Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, dr. Ina Agustina, menyebutkan bahwa 76% kasus HIV di Indonesia terkonsentrasi di 11 provinsi prioritas, seperti DKI Jakarta, Jawa Timur, Papua, dan Jawa Barat.

“Penyebaran kasus HIV secara nasional banyak terjadi di populasi kunci seperti laki-laki seks dengan laki-laki (LSL), waria, pekerja seks perempuan, dan pengguna napza suntik. Tapi di Papua, penularan sudah menyebar ke populasi umum,” ujarnya dalam temu media, Jumat (20/6).

IMS Meningkat, Remaja Makin Rentan

Di tengah stagnasi positivity rate HIV dalam tiga tahun terakhir, kasus IMS justru menunjukkan tren meningkat—terutama di kelompok usia muda. Tahun lalu, tercatat 23.347 kasus sifilis, mayoritas merupakan sifilis dini, dan 77 di antaranya adalah sifilis kongenital yang ditularkan dari ibu ke bayi. Gonore juga tercatat tinggi dengan 10.506 kasus, dominan di DKI Jakarta.

“IMS bukan hanya masalah kesehatan pribadi, ini masalah kesehatan masyarakat. IMS membuka pintu bagi penularan HIV, dan kasus terbanyak terjadi di usia produktif 25–49 tahun, bahkan kini mulai meningkat pada usia remaja 15–19 tahun,” tegas dr. Ina.

Ia juga menyoroti infeksi Human Papillomavirus (HPV) yang bisa memicu kanker serviks, terutama jika tidak terdeteksi sejak dini. HPV masih menjadi ancaman serius bagi perempuan di Indonesia.

 

Edukasi Seksualitas Jadi Kunci Pencegahan

Menurut dr. dr. Hanny Nilasari dari Departemen Dermatologi dan Venereologi FKUI-RSCM, edukasi kesehatan reproduksi yang menyeluruh sangat penting dalam upaya eliminasi HIV dan IMS. Banyak kasus IMS atau infeksi saluran reproduksi (ISR) yang tidak bergejala, khususnya pada perempuan, sehingga sering terlambat ditangani.

Jika tidak diobati, IMS dapat menimbulkan komplikasi serius seperti radang panggul, kehamilan ektopik, bahkan infertilitas. Bayi yang lahir dari ibu dengan IMS juga berisiko mengalami kematian neonatal, berat lahir rendah, atau lahir prematur.

“Tren kejadian IMS dari tahun ke tahun terus meningkat, dan usia penderita makin muda. Sudah banyak kasus IMS maupun kehamilan tidak diinginkan pada remaja, dan ini mendorong tingginya angka aborsi,” jelas dr. Hanny.

Gejala IMS antara lain berupa luka atau lenting di area genital, cairan abnormal dari vagina atau penis, nyeri saat buang air kecil, hingga pembengkakan kelenjar dan ruam.

Penularan bisa terjadi lewat kontak seksual (vaginal, anal, oral), pertukaran cairan tubuh, maupun dari ibu ke anak saat hamil atau menyusui.

 

Perluasan Layanan Jadi Strategi Utama

Untuk mengejar target eliminasi, Kemenkes terus memperluas layanan tes dan pengobatan. Hingga kini, layanan tes HIV telah tersedia di 514 kabupaten/kota, layanan IMS di 504 kabupaten/kota, dan pemeriksaan viral load di 192 kabupaten/kota.

Pemerintah juga menargetkan capaian 95-95-95 pada tahun 2030: 95% ODHIV mengetahui statusnya, 95% dari mereka menjalani pengobatan, dan 95% dari yang diobati berhasil menekan jumlah virus. Selain itu, target eliminasi sifilis dan gonore juga ditetapkan hingga 90%, serta triple elimination HIV, sifilis, dan hepatitis B dari ibu ke anak.

 

Kampanye “ABCDE” untuk Pencegahan

Dalam upaya preventif, Kemenkes terus menggiatkan kampanye edukatif melalui pendekatan “ABCDE”:

  • Abstinence: tidak berhubungan seksual sebelum menikah
  • Be faithful: setia pada satu pasangan
  • Condom: gunakan kondom bagi kelompok berisiko
  • Drugs: hindari penggunaan narkoba
  • Education: tingkatkan kesadaran dan pengetahuan

Langkah ini diyakini efektif untuk menurunkan risiko penularan dan memperkuat ketahanan kesehatan reproduksi, khususnya di kalangan remaja dan dewasa muda.