Menkes: Rutin Cek Tekanan Darah adalah Cara Mudah Cegah Stroke dan Jantung

Menkes Budi Gunadi Sadikin ingatkan pentingnya cek tekanan darah dan jaga BMI ideal sebagai cara cegah hipertensi, stroke, dan penyakit jantung.

Diterbitkan 08 Juni 2025, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, mengatakan, tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan serius yang banyak dialami masyarakat Indonesia. 

Menkes Budi menegaskan bahwa rutin mengukur tekanan darah adalah cara mudah dan sangat efektif untuk mencegah risiko stroke dan penyakit jantung yang mematikan. 

"Banyak orang yang mengira, 'Kok cuma diukur tensi saja?' Padahal ini ukuran yang sangat penting dan perlu kita ketahui,” ujar Menkes Budi Gunadi Sadikin, seperti dikutip dari unggahan video di akun Instagram pribadinya, @bgsadikin, baru-baru ini. 

Dalam video tersebut, Menkes mencontohkan hasil pengukuran tekanan darahnya yang masih dalam kondisi normal, yaitu 122/77 mmHg. 

Dia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan risiko tekanan darah tinggi yang bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani. 

Menurut Menkes, tekanan darah yang tidak terkontrol menjadi penyebab utama penyakit stroke dan jantung, dua penyakit yang mendominasi angka kematian di Indonesia. 

Hasil Cek Kesehatan Gratis: Banyak yang Tekanan Darah Tinggi

Data dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG) terhadap 7,5 juta orang menunjukkan fakta mengejutkan, yaitu lebih dari 50 persen penduduk berumur di atas 60 tahun mengalami tekanan darah tinggi. 

Sementara itu, sekitar 30 persen dari seluruh populasi Indonesia memiliki hipertensi. Angka ini menandakan bahwa hipertensi adalah masalah kesehatan masyarakat yang perlu segera mendapat perhatian. 

Tekanan darah normal idealnya berada di kisaran 120/80 mmHg. "Yuk, ukur tekanan darah kita dan jaga agar selalu di sekitar 120/80," kata Menkes. 

 
 
 
View this post on Instagram

A post shared by Budi Gunadi Sadikin (@bgsadikin)

Menkes Budi Overweight

Selain tekanan darah, Menkes Budi juga membagikan pengalamannya saat mengecek indeks massa tubuh (IMT) atau BMI pada program cek kesehatan gratis tersebut.

Dia terkejut karena berat badannya tercatat 74 kilogram. "Saya harus mengurangi berat badan saya," kata Menkes. 

Dalam keterangan video tersebut, Menkes menjelaskan bahwa BMI-nya saat ini berada di angka 25,9, yang berarti sudah melewati batas normal dan masuk kategori overweight

"Saya kira masih normal saja, ternyata kalau dihitung IMT-nya menjadi 25,9, yang berarti overweight," tulis Budi sebagai keterangan video yang diunggahnya. 

Meskipun secara kasatmata tubuhnya terlihat ideal, angka BMI membuktikan sebaliknya.

Menkes yang kini berusia 64 tahun menargetkan untuk menurunkan berat badan agar kembali ke kategori normal. 

"Batas maksimalnya 24. Jadi saya harus menurunkan berat badan, targetnya sampai 70 kilogram," lanjutnya. 

Menkes Budi Ingin Menurunkan Berat Badan

Dengan menurunkan berat badan sekitar 2 hingga 4 kilogram, BMI-nya diharapkan kembali ke rentang normal. 

Lebih lanjut, Menkes Budi menjelaskan bahwa BMI memiliki kaitan erat dengan penyakit kronis, terutama pada usia lanjut. 

BMI yang tinggi dapat memicu hipertensi dan diabetes, dua faktor utama penyebab stroke dan risiko jatuh. 

"Jangan lupa, indeks massa tubuh itu sangat berkorelasi dengan darah tinggi dan diabetes. Nah, itu adalah penyebab utama penyakit stroke dan jatuh," pungkasnya.