Ciri dan Cara Diet Prolonged Fasting: Turun 8 Kg tanpa Risiko Ekstrem

Ciri dan cara Diet Prolonged Fasting dari dokter gizi ini bisa bantu turunkan berat badan hingga 8 kg dalam seminggu secara aman dan tanpa risiko ekstrem.

Diperbarui 08 Juni 2025, 08:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Diet prolonged fasting menjanjikan penurunan berat badan hingga 5 s.d 10 persen dalam satu minggu, atau sekitar 4-8 kg bagi yang berat badannya 80 kg. 

Namun, bagaimana sebenarnya ciri dan cara menjalani diet ini agar tetap aman dan minim risiko? 

Spesialis Gizi Klinik dari Siloam Lippo Village,  dr. Mulianah Daya, M.Gizi, Sp.GK, AIFO-K, memberikan penjelasan lengkap tentang diet prolonged fasting serta tips penting agar diet ini tidak berbahaya bagi kesehatan.

Apa Itu Diet Prolonged Fasting?

Secara sederhana, prolonged fasting adalah metode puasa selama minimal 4 hari berturut-turut atau sekitar 100 jam tanpa asupan kalori. 

Selama periode ini, seseorang tidak makan maupun minum yang mengandung kalori. "Menurut definisi International Consensus, prolonged fasting dilakukan dengan puasa minimal 4 hari berturut-turut atau 100 jam," kata dr. Mulianah. 

Metode ini memang efektif menurunkan berat badan dengan sangat cepat. Namun, efeknya bukan hanya penurunan berat badan biasa, melainkan juga perubahan komposisi tubuh yang perlu diwaspadai.

Ciri-Ciri Diet Prolonged Fasting

Beberapa ciri khas diet prolonged fasting adalah:

1. Puasa tanpa kalori selama minimal 4 hari

Berbeda dengan puasa intermittent yang dilakukan dalam hitungan jam, prolonged fasting menuntut puasa penuh tanpa asupan kalori selama beberapa hari.

2. Penurunan berat badan drastis dalam waktu singkat

Berdasarkan penelitian, metode ini mampu menurunkan berat badan 5 s.d 10 persen dalam 1 minggu.

"Misalnya berat badan 80 kg bisa turun 4-8 kg dalam waktu 1 minggu," kata dr. Mulianah.

3. Munculnya rasa lapar yang sangat intens

Karena tidak ada asupan kalori sama sekali, rasa lapar menjadi salah satu tantangan utama yang harus dihadapi.

4. Risiko dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit

Tidak hanya cairan yang berkurang, tubuh juga bisa kekurangan elektrolit penting seperti natrium, kalium, dan klorida, yang berpotensi menyebabkan pusing, lemas, hingga gangguan kesadaran.

5. Perubahan komposisi tubuh

Selain penurunan lemak, massa otot juga bisa berkurang drastis. Padahal, massa otot penting untuk metabolisme dan daya tahan tubuh.

Cara Menjalani Diet Prolonged Fasting dengan Aman

Mengingat risiko yang cukup besar, berikut beberapa cara aman yang perlu diperhatikan jika ingin mencoba diet ini:

1. Konsultasi dengan Spesialis Gizi Klinik atau Dokter

"Sebaiknya diet ini dilakukan di bawah pengawasan tenaga medis profesional, agar penurunan berat badan tidak merusak kesehatan," tegas dr. Mulianah. 

2. Pantau Komposisi Tubuh Secara Berkala

Penurunan berat badan cepat harus dibarengi dengan pemantauan massa otot dan lemak agar tubuh tetap sehat. Biasanya pemeriksaan dilakukan setiap 2 minggu atau 1 bulan. 

3. Perhatikan Tanda-Tanda Dehidrasi dan Elektrolit

Minum cukup air dan, jika perlu, elektrolit sesuai anjuran dokter untuk mencegah dehidrasi yang parah. 

4. Persiapkan Mental dan Fisik Menghadapi Rasa Lapar

Karena rasa lapar bisa sangat kuat, perlu persiapan mental yang matang dan pemahaman bahwa efek tersebut adalah bagian dari proses. 

5. Jangan Gunakan Diet Ini untuk Jangka Panjang tanpa Istirahat

Diet prolonged fasting bukan metode diet harian. Gunakan sebagai metode jangka pendek yang diselingi pola makan sehat berkelanjutan.

Manfaat Tambahan: Autophagy dan Ketosis

Selain penurunan berat badan, prolonged fasting juga memicu produksi benda keton yang menjadi sumber energi alternatif saat glukosa berkurang. Proses ini dikenal sebagai ketosis.

"Ketosis membantu membakar cadangan lemak dan memicu autophagy, proses pembersihan sel dari komponen rusak, yang juga mengurangi inflamasi tubuh," ujar dr. Mulianah.

Diet prolonged fasting menawarkan hasil cepat dengan potensi penurunan berat badan hingga 8 kg dalam seminggu. 

Namun, metode ini bukan tanpa risiko dan harus dilakukan dengan pengawasan medis. dr. Mulianah Daya mengingatkan,"Carilah diet yang nyaman, sesuai kebutuhan, dan yang paling penting bisa dilakukan jangka panjang tanpa membahayakan kesehatan." 

Jadi, jika tertarik mencoba diet prolonged fasting, pastikan kamu sudah memahami ciri, risiko, dan cara menjalani diet ini dengan benar agar tetap sehat dan terhindar dari efek samping berbahaya.Â