Sukses

Kebun Kopi Cikoneng Berpotensi Tembus Pasar Dunia, Direvitalisasi Guna Tingkatkan Produktivitas

Kebun Kopi Cikoneng mulai ditanami pohon kopi pada 2018 dan kini direvitalisasi untuk tingkatkan produktivitas hingga 120 persen.

Liputan6.com, Bogor - Kebun Kopi Cikoneng, Bogor memiliki potensi besar dalam menembus pasar internasional. Sayangnya, produktivitasnya selama ini belum banyak lantaran petani yang merupakan karyawan perkebunan teh belum sepenuhnya paham soal budi daya kopi.

Menurut Koorditator Penyuluh Pertanian Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (Distanhorbun) Kabupaten Bogor, Reza Septian wilayah Cikoneng mulai ditanami kopi sejak 2018.

“Awalnya 2018 itu kan ada program dari Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat ada pembagian lima juta bibit kopi arabika. Makanya, di sini rata-rata nanem mulai 2018,” ujar Reza saat ditemui di Kebun Kopi Cikoneng, Desa Tugu Utara, Bogor, Senin, 10 Juni 2024.

Lima juta bibit kopi disebarkan di seluruh Jawa Barat dan di Cikoneng sendiri masyarakat menanam kopi di lima hektar tanah.

Awalnya, lanjut Reza, para petani di desa ini menanam sayuran yang memiliki dampak kurang bagus terhadap lingkungan. Pasalnya, daerah lereng seperti ini riskan memicu erosi jika ditanami sayuran.

“Akhirnya beralih, diversifikasi komoditas jadi kopi. Karena kopi itu salah satu tanaman untuk konservasi karena akarnya itu saling berkaitan dan dapat mengikat tanah dan mempertahankan aliran permukaan,” jelals Reza.

Dengan demikian, warga Cikoneng memang tidak ada keterkaitan dengan budi daya kopi sebelumnya. Mayoritas warga adalah karyawan perkebunan teh, ada yang merawat hingga memetik daun teh. Di siang hari, mereka beralih mengurus tanaman sayuran.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 4 halaman

Tingkatkan Pengetahuan Petani Cikoneng Tentang Kopi

Hingga 2024, pohon kopi yang sudah ditanam di Cikoneng baru memasuki periode tanaman menghasilkan kedua (TM 2).

Dengan demikian, produksi biji kopi di Kebun Kopi Cikoneng memang masih rendah. Sehingga, pihak Reza berupaya melakukan revitalisasi guna meningkatkan produktivitas kebun hingga 120 persen.

“Tantangannya perawatan, karena awalnya petani itu memelihara sayuran, mereka belum punya pengetahuan budi daya tentang kopi. Jadi di sini kami dari dinas melakukan penyuluhan bagaimana cara membudidayakan kopi yang baik dan benar,” papar Reza.

Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan petani tentang kopi, pihak Reza mengupayakan sekolah lapang. Ini merupakan kegiatan pendidikan seperti kursus tentang kopi mulai memupuk, merawat, hingga memanen kopi.

3 dari 4 halaman

Kebun Kopi Cikoneng Jadi Sumber Pendapatan Petani

Revitalisasi Kebun Kopi Cikoneng juga merupakan program dari PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui payung Bakti BCA.

Bank tersebut bekerja sama dengan Yayasan Kopi Nasional (YKN) dan Distanhorbun Kabupaten Bogor dalam memberikan pembinaan dan penyuluhan. Pihak tersebut juga memberi bantuan sarana-prasarana kepada Kelompok Tani Cikoneng Lestari dan Kelompok Tani Lestari Maju Bersama.

“Kami memahami pentingnya keberadaan Kebun Kopi Cikoneng sebagai salah satu sumber pendapatan masyarakat di Desa Tugu Utara. Untuk meningkatkan produktivitas petani kopi di sana, Bakti BCA melaksanakan revitalisasi melalui rangkaian pembinaan, penyuluhan, dan berbagai bantuan teknis pertanian,” kata EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn saat ditemui di lokasi yang sama.

4 dari 4 halaman

Gunakan Pupuk Organik sebagai Upaya Jaga Lingkungan

Dalam revitalisasi ini, para petani didorong untuk menggunakan pupuk organik agar ramah lingkungan dan hemat. Pupuk yang digunakan disebut pupuk organik Doami. Ini adalah pupuk organik yang terdiri dari 100 persen bahan-bahan alami.

Pupuk diproses melalui fermentasi menggunakan mikroorganisme secara natural. Dan terdiri dari tiga jenis produk yaitu Pupuk Organik Padat Tanah, Pupuk Organik Cair Tanah, dan Pupuk Organik Cair Daun.

Menurut peneliti pupuk organik Doami, Profesor Muslimin Madjid, pupuk ini dapat menghemat penggunaan pupuk yang biasanya 15 kg menjadi 1 kg saja.

Peneliti yang akrab disapa Prof. Muslim mengatakan, penelitian untuk menghemat dari 15 menjadi 1 kg dilakukan dalam dua tahun.

Selama dua tahun itu, Muslim terus berinovasi dan melakukan berbagai percobaan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.

“Dan sekarang sebenarnya saya menuju hanya 500 gram saja,” kata Muslim saat ditemui di Kebun Kopi Cikoneng, Bogor, Senin, 10 Juni 2024.

Dia menegaskan, bahannya organik dan tak ada sedikit pun sentuhan kimia.

“Organik, saya enggak mau menyentuh kimia. Petani kita tidak butuh bahan kimia sebetulnya, organik cukup. Dari kotoran sapi dan tanaman apa saja, semua bisa ada ukurannya dan ada proses fermentasinya,” jelas Muslim kepada Health Liputan6.com.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.