Sukses

Berisiko Jadi Korban Kekerasan Online, Anak Perlu Lingkungan Digital yang Aman Saat Berjejaring

Liputan6.com, Jakarta - Pada era digital saat ini, tak hanya orang dewasa yang mengenal dunia maya, anak-anak pun banyak menghabiskan waktu untuk melakukan aktivitas dalam jaringan (daring).

Dalam berjejaring, anak-anak memiliki risiko mendapat kekerasan online. Kekerasan ini dapat berupa pelecehan seksual termasuk pelecehan dengan pornografi. Serta orang-orang di dunia maya dengan dandanan tidak untuk konsumsi anak.

Selain itu, ada pula risiko agresi dan pelecehan dunia maya dalam bentuk cyberbullying, cyberstalking, peretasan, dan pencurian identitas.

“Anak-anak kita menghabiskan lebih banyak waktu online. Oleh karena itu, adalah tugas kita untuk membuat lingkungan online yang aman,” Direktur Departemen Penentu Sosial Kesehatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Etienne Krug dalam keterangan pers, Senin (5/12/2022).

Untuk itu, WHO meluncurkan laporan baru bertajuk “What Works to Prevent Online Violence Against Children.”

Laporan ini berfungsi mencegah kekerasan online terhadap anak-anak. Dan menyajikan cara-cara untuk mengatasi kekhawatiran yang semakin meningkat di seluruh dunia untuk menjaga agar anak-anak tetap aman saat online.

“Dokumen baru ini untuk pertama kalinya memberikan arahan yang jelas untuk tindakan oleh pemerintah, donor, dan mitra pembangunan lainnya, yang menunjukkan bahwa kita harus menangani kekerasan online dan offline secara bersama-sama jika ingin efektif,” tambah Krug.

laporan ini menampilkan strategi dan praktik terbaik untuk melindungi anak-anak dari kekerasan online dengan lebih baik.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Strategi Lindungi Anak dari Kekerasan Online

Untuk mencegah kekerasan online terhadap anak, laporan tersebut menyoroti pentingnya penerapan program pendidikan yang diarahkan pada anak dan orangtua.

Penelitian telah menunjukkan efektivitas program semacam itu dalam mengurangi tingkat viktimisasi kekerasan, pelaku dan perilaku berisiko terkait seperti penyalahgunaan alkohol dan narkoba.

Laporan tersebut merekomendasikan penerapan program pendidikan berbasis sekolah yang memiliki banyak sesi, mempromosikan interaksi di antara kaum muda dan melibatkan orangtua. Ini juga menggarisbawahi pentingnya melatih pemuda dalam keterampilan hidup tertentu seperti ketegasan, empati, pemecahan masalah, manajemen emosi dan pencarian bantuan.

Selain itu, program pendidikan lebih berhasil ketika menggunakan berbagai format penyampaian seperti video, game, poster, infografis, dan diskusi terpandu.

3 dari 4 halaman

Perlu Perbaikan di Beberapa Bidang

Laporan ini menyoroti perlunya perbaikan di beberapa bidang termasuk:

- Kebutuhan akan lebih banyak program pencegahan kekerasan yang mengintegrasikan konten tentang bahaya online dengan pencegahan kekerasan offline. Mengingat, kedua masalah ini cenderung tumpang tindih.

- Kurang penekanan pada bahaya orang asing meski orang asing bukanlah satu-satunya atau bahkan pelaku utama dalam kekerasan online terhadap anak-anak.

- Lebih menekankan pada pelaku kenalan dan teman sebaya, yang bertanggung jawab atas sebagian besar pelanggaran.

- Lebih banyak perhatian pada keterampilan hubungan yang sehat, karena romansa dan pencarian keintiman adalah sumber utama kerentanan terhadap kekerasan online.

4 dari 4 halaman

Pendidikan Seks Komprehensif

Laporan tersebut juga menunjukkan bukti bahwa bentuk pendidikan seks yang komprehensif dapat mengurangi agresi fisik dan seksual. Khususnya kekerasan dalam pacaran serta intimidasi homofobik.

Efektivitas pendidikan seks telah dikonfirmasi di negara-negara dari semua tingkat pendapatan.

Akses internet menawarkan banyak kemungkinan bagi anak-anak dan remaja, termasuk mendorong pembelajaran, mengembangkan keterampilan pribadi dan profesional. Tak terkecuali mengekspresikan kreativitas dan berpartisipasi dalam masyarakat. Maka dari itu, internet tak selamanya salah.

Maka dari itu, pemerintah perlu menemukan keseimbangan yang tepat antara mendorong peluang bagi kaum muda melalui lingkungan digital dan melindungi mereka dari bahayanya.

“WHO berkomitmen untuk berkontribusi pada upaya yang ada untuk lebih memahami semua bentuk kekerasan terhadap anak dan membantu memandu respons internasional.”

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS