Sukses

Presiden AS Joe Biden Alami Kasus Rebound Usai Terapi Paxlovid, Apa Itu?

Liputan6.com, Jakarta Bagi beberapa orang, pengobatan COVID-19 tak selalu berakhir dengan mulus. Ada beberapa yang kembali dinyatakan positif atau rebound bahkan setelah menjalani pengobatan dengan Paxlovid.

Salah satunya yakni Presiden Amerika Serikat Joe Biden. Ia kembali positif COVID-19 dengan gejala batuk ringan pada Sabtu (30 Juli), hanya beberapa hari setelah dinyatakan negatif COVID-19.

Presiden Biden menjalankan pengobatan dengan antivirus Paxlovid dengan harapan ini akan memungkinkan dia untuk pulih lebih cepat dan mengurangi risiko penyakit parah.

Paxlovid adalah pengobatan kombinasi yang menggunakan dua antivirus berbeda: Nirmatrelvir dan ritonavir. Nirmatrelvir bekerja untuk mencegah replikasi virus. Ini dilakukan dengan menghentikan enzim virus yang disebut protease.

Virus penyebab COVID-19, SARS-CoV-2, seperti banyak virus lain mengandalkan protease untuk kembali aktif. Tanpa protease, siklus replikasi virus tidak dapat diselesaikan dan virus tidak dapat aktif. Jadi, alih-alih membunuh virus, Nirmatrelvir cenderung menghentikan partikel virus aktif baru yang dibuat.

Sedangkan, Ritonavir adalah “agen penguat” yang mencegah metabolisme nirmatrelvir, yang berarti membuat Nirmatrelvir bertahan lebih lama di sistem tubuh.

Ritonavir telah digunakan dalam dosis rendah untuk meningkatkan efektivitas antivirus protease lainnya pada infeksi seperti HIV.

Pengobatan Paxlovid melibatkan penggunaan dua tablet Nirmatrelvir 150 mg dan satu tablet Ritonavir 100 mg, secara bersamaan, setiap 12 jam selama lima hari.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Mengenal Rebound

Seperti semua antivirus, penting untuk memulai pengobatan Paxlovid sesegera mungkin setelah diagnosis COVID. Ini harus dilakukan dalam waktu lima hari sejak timbulnya gejala, sehingga dapat mengurangi replikasi virus dan dengan demikian mengurangi penyebaran virus di dalam tubuh.

Dalam uji klinis, Paxlovid menunjukkan pengurangan 89 persen dalam risiko rawat inap dan kematian. Tidak ada kematian yang tercatat di antara mereka yang menerima perawatan.

Dibandingkan dengan orang dalam penelitian yang tidak menerima obat, pengobatan Paxlovid juga mengurangi viral load ketika diukur pada hari kelima penelitian.

Sedangkan, rebound adalah ketika seseorang tampaknya telah pulih dan bersih dari virus, yang berarti mereka dites negatif pada tes PCR yang sangat sensitif dan tidak memiliki gejala. Kemudian beberapa hari kemudian, mereka dites positif lagi atau gejalanya kembali.

Rebound tidak hanya terjadi pada orang yang telah menggunakan Paxlovid saja, tapi juga dapat terjadi pada orang lain dengan COVID-19 yang tidak menerima perawatan obat apa pun.

Sebuah penelitian yang belum ditinjau oleh ahli juga menemukan bahwa gejala dan viral load pasien dapat memburuk setelah periode awal perbaikan dalam beberapa kasus.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

3 dari 4 halaman

Peningkatan Laporan Efek Rebound

Sekarang ada peningkatan laporan efek rebound pada orang yang dirawat dengan Paxlovid, termasuk Presiden Biden. Biden menyelesaikan terapi lima hari Paxlovid dan dites negatif terhadap virus. Tiga hari kemudian, dia kembali dinyatakan positif.

Mengapa dan bagaimana rebound terjadi masih belum diketahui secara pasti. Apa yang telah diketahui adalah Paxlovid menghentikan virus dalam tubuh seseorang agar tidak bereplikasi.

Itu tidak membunuh virus yang sudah ada di sana. Untuk itu, setiap orang tetap membutuhkan sistem imun tubuh.

Menurut kepala peneliti virologi dan penyakit infeksi Griffith University, Lara Herrero, ada kemungkinan terapi lima hari tidak cukup lama untuk menekan replikasi virus untuk memungkinkan sistem kekebalan menyerang dan membunuh virus.

“Atau mungkin waktu kapan pengobatan dimulai mempengaruhi bagaimana sistem kekebalan bekerja,” kata Lara mengutip Channel News Asia, Jumat (5/8/2022).

Kemungkinan lain yang dapat menyebabkan timbulnya rebound setelah terapi Paxlovid adalah obat tidak diminum sesuai resep. Sementara, penelitian penyebab rebound Paxlovid sedang berlangsung.

4 dari 4 halaman

Rebound Setelah Paxlovid

Sebuah studi tentang rebound setelah Paxlovid yang dilakukan pada 11.000 orang menemukan bahwa tujuh hari setelah perawatan, 3,53 persen peserta memiliki tes PCR positif rebound dan 2,31 persen memiliki gejala rebound. Setelah 30 hari, 5,4 persen dinyatakan positif dan 5,87 persen memiliki gejala. Namun, studi ini belum ditinjau ulang oleh ahli lain.

“Jadi hanya karena Anda telah menerima pengobatan antivirus SARS-CoV-2, tidak secara otomatis berarti Anda sembuh.”

Sementara para ilmuwan dan dokter dalam tahap awal menyelidiki rebound Paxlovid, laporan awal menunjukkan rebound cenderung ringan. Gejala yang kembali biasanya adalah pilek, sakit tenggorokan atau batuk.

Ada sangat sedikit laporan kasus rebound parah yang memerlukan rawat inap dan sejauh ini tidak ada laporan rebound yang mengakibatkan kematian.

“Penting untuk diingat bahwa jika Anda masih memiliki gejala, Anda mungkin masih menularkan. Pedoman di seluruh Australia memperjelas jika Anda memiliki gejala yang berkelanjutan setelah masa isolasi Anda, Anda harus berhati-hati untuk tidak menyebarkan virus.”

Namun, seseorang yang pulih – bahkan jika mereka tanpa gejala – mungkin juga dapat menyebarkan virus. Jadi, apakah Paxlovid bekerja sesuai kebutuhan?

“Jika tujuan Anda adalah untuk mencegah penyakit parah, rawat inap, dan kematian pada orang yang berisiko tinggi, maka Paxlovid melakukan pekerjaan dengan baik. Namun, jika Anda ingin mempersingkat durasi gejala Anda, mungkin Paxlovid bukanlah obat ajaib yang diharapkan,” pungkas Lara.