Sukses

Upaya Rumah Sakit Swasta Pertahankan Minat Pasien Berobat di Dalam Negeri

Liputan6.com, Jakarta Sebelum COVID-19 melanda dunia, beberapa pasien lebih memilih melakukan pengobatan penyakit di rumah sakit luar negeri seperti Singapura dan Malaysia.

Namun, saat COVID-19 menyerang, pasien-pasien yang biasa melakukan pengobatan di luar negeri tak dapat melakukan hal yang sama karena ada berbagai pembatasan. Mereka pun memilih untuk melakukan pengobatan di dalam negeri salah satunya di rumah sakit swasta.

Hal ini disampaikan Ketua Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) Drg. Susi Setiawaty, MARS dalam konferensi pers di Jakarta pada Rabu (3/8/2022).

Dari peristiwa tersebut timbul tanya, bagaimana cara membuat para pasien tetap melakukan pengobatan di dalam negeri meski COVID-19 sudah mereda atau bahkan usai di kemudian hari?

Susi pun menjawab dengan membandingkan terlebih dahulu pelayanan kesehatan di Indonesia dan di luar negeri.

Dari sisi sumber daya manusia yakni tenaga kesehatan terutama dokter, menurutnya kualitas dokter di Indonesia dan luar negeri sama-sama bagus.

“Kalau mutu pelayanan, saya rasa dokter sama-sama pintar, sama saja, sekarang rumah sakit Indonesia bagus-bagus, bahkan kamarnya lebih bagus di Indonesia yang berbeda adalah cara menerangkan dokter-dokter (ke pasien),” kata Susi menjawab pertanyaan Health Liputan6.com saat ditemui di Jakarta, Rabu (3/8/2022).

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Pertahankan Mutu Pelayanan

Sedangkan, untuk membuat pasien betah berobat di dalam negeri ketimbang luar negeri adalah mempertahankan mutu pelayanan yang aman.

“Mutu pelayanan, itu yang harus dipertahankan rumah sakit-rumah sakit kalau mau bersaing. Jadi mutu, kalau soal kamar saya rasa Indonesia lebih bagus, dokter sama-sama pintar.”

“Hanya saja, dokter di luar negeri lebih (biasa) menerangkan buruknya kondisi pasien, kalau di kita kalau dokter bicara jeleknya pasien pada lari.”

Selain itu, pelayanan rumah sakit di luar negeri juga dilengkapi hospital tourism. Seperti di Singapura, Malaysia, Thailand pasien dijemput dari bandara, diberi pelayanan, disediakan hotel, disuguhi pariwisatanya dan semuanya sudah terintegrasi dengan pihak rumah sakit.

“Jadi habis pengobatan, pulangnya jalan-jalan. Kalau di Indonesia masih sendiri-sendiri. Tidak ada yang mengoordinasikan.”

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Dr. Koesmedi Priharto mengatakan bahwa uang masyarakat Indonesia yang dipakai berobat ke luar negeri mencapai Rp 100 triliun per tahun.

 

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

3 dari 4 halaman

RS Indonesia Juga Bisa Menangani Semuanya

Koesmedi pun mengatakan, jika dibandingkan Singapura, jumlah dokter di Indonesia jauh lebih tinggi hingga sekitar 120 ribu dokter.

“Kemudian coba lihat, kalau mau dilihat Indahnya Indonesia seberapa sih indahnya Singapura kalau dibandingkan dengan tempat-tempat wisata Indonesia, enggak ada apa-apanya kan. Cuman ya itu tadi, orang itu selalu ‘wah si ini berobat ke Singapura aku juga mau berobat ke sana’.”

“Jadi enggak dilihat sebenarnya di Indonesia juga kita bisa menangani semuanya. Tapi kembali lagi, kalau masalah pelayanan dulu orang itu hanya butuh keramahan, tapi sekarang pasien itu butuh keterbukaan, kejelasan, menjelaskannya harus betul-betul jelas dan mengerti.”

Orang-orang di Singapura biasanya berobat sendiri-sendiri. Sedangkan, di Indonesia pasien acap kali diantar oleh keluarga yang datang bergantian.

“Si ini nanya begini, besok keluarga yang lain datang tanya lagi yang lain, jadi dianggapnya dokter kita enggak bisa menjelaskan padahal kita sudah segitu banyaknya menjelaskan pada mereka semua.”

“Nah itu memang sedang harus kita perbaiki, rumah sakit sadar tentang hal-hal itu, kita memang harus lebih bisa menjelaskan dengan keterbukaan.”

4 dari 4 halaman

Tak Harus ke Luar Negeri

Koesmedi juga menyampaikan bahwa Indonesia memiliki 3.100 rumah sakit di mana jumlah ini lebih banyak dari rumah sakit-rumah sakit yang dimiliki negara-negara tetangga.

“Harusnya kita lebih bangga, sama saja dengan kita beli sepatu, Pak Jokowi saja pakai sepatu buatan Indonesia tapi tetap nikmat jalan ke sana ke sini. Tapi pikiran sebagian orang beli sepatu harus buatan luar negeri, padahal enggak harus seperti itu.”

“Membutuhkan rasa kebangsaan tentunya untuk mengenal bagaimana sih produk anak-anak Indonesia sendiri (termasuk layanan rumah sakitnya). Cintailah negara kita sendiri, kita produknya juga banyak yang lebih hebat dari mereka.”

Sebagai salah satu upaya meningkatkan layanan kesehatan di Indonesia, pemerintah telah mencanangkan kebijakan transformasi sistem kesehatan.

Salah satu isu penting yang digencarkan adalah soal digitalisasi sistem kesehatan. Dalam hal ini, rumah sakit perlu ikut serta menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada. Berbagai rumah sakit termasuk rumah sakit swasta perlu belajar beradaptasi dengan sistem digital.

“Digitalisasi sangat-sangat penting karena bisa menghubungkan rumah sakit dengan pasien, pasien dengan rumah sakit, telekonferensi, dan telemedisin. Digitalisasi sendiri tidak hanya penting di masa COVID-19 tapi juga di masa-masa berikutnya,” ujar Susi.